Aku menatap alen yang duduk dihadapanku untuk meminta penjelasan atas tindakannya barusan. Namun dia hanya diam sambil memainkan benda yang menggantung di tasku.
"Saya sedang bicara" Kataku sambil menyingkirkan gantungan yang dipegangnya.
Alen menatapku sebentar lalu menunduk, ia meraih tasku lagi dan memainkan gantungannya.
"Alen" Panggilku tegas, dia menoleh dan menatapku sebentar lalu beralih lagi pada gantungan yang dari tadi dimainkannya. "Jangan membuang waktumu, kamu ada pelajaran kan ?" Lanjutku.
"Aku sedang dihukum" Katanya tanpa menoleh, lagi-lagi hanya memainkan gantungan tasku.
"Siapa yang menghukummu ? Kamu melakukan kesalahan apa ?" Tanya ku.
"Anggap saja saya sedang menerima hukuman karena memeluk anda" Katanya tanpa ada beban.
Aku ternganga mendengarnya, "Saya ga menghukum kamu. Cuma bertanya, kenapa tiba-tiba kamu memeluk saya ? Saya ini kan guru kamu. Tidak pantas kalo dilihat orang, nanti dikiranya saya ada apa-apa sama kamu"
"Saya ga masalah kalo mereka mengira saya ada apa-apa dengan anda" Katanya mencoba untuk sopan dengan memanggilku anda.
"Ishhh, kamu ga masalah tapi bermasalah buat saya" Kataku gemas, "Alen kamu itu kenapa ? Apa sikap kamu memang seperti ini ke semua guru ?" tanyaku masih mencoba sabar.
Alen menggeleng, "Ga miss, miss boleh saya bertanya ?" Tanyanya tiba-tiba.
"Boleh, dengan syarat setelah ini kamu kembali ke kelas!!" Kataku tegas.
Alen mengangguk, "Ini lucu miss, beli dimana ?" Tanya nya sambil memegang gantungan tas ku.
Aku memutar bola mataku, kirain mau bertanya apa. "Ini aku temukan di tas lamaku, dipakai karna masih bagus" Jawabku.
"Hanya itu ?" Tanya alen seperti kurang puas dengan jawabanku.
Aku pun mengangguk, aku melihat wajah alen berubah sendu.
"kenapa ?"
"Apa benda ini ga ada artinya buat miss ? Kalo emang begitu boleh ini buat saya ? Saya menyukainya" Pintanya datar.
Aku memandang gantungan itu, lalu menyimpannya. "Maaf alen, saya ga tau kenapa tapi sepertinya benda ini penting buat saya hanya saja saya belum mengingatnya"
Alen menatapku setelah mendengarnya, matanya berbinar seperti bahagia. "Kenapa miss merasa seperti itu ?" tanyanya penasaran.
"Saya juga ga tau, setiap menyentuhnya hati saya merasa tenang tapi juga sedih seperti mengingatkan akan sesuatu, sesuatu yang penting namun terlupakan" Kataku sambil menyentuh gantungan itu.
Alen tersenyum, entah kenapa dia mengangguk tapi tak mengatakan apapun.
"Saya sudah menjawab pertanyaan kamu, silahkan kembali ke kelas" Kataku.
Alen mengangguk, "Baik miss, terima kasih sudah menjawab pertanyaan saya" Katanya sambil melangkah pergi.
Sepeninggal alen, aku masih merasakan perasaan itu. Perasaan sedih entah dari mana datangnya, padahal itu hanya gantungan usang yang aku temukan di tas yang aku pakai ketika aku tinggal dirumah eyang.
Aku menyibukkan diriku dengan membuka laptop dan mengerjakan tugas kuliahku, lumayan bisa mengisi waktu senggang. Sebagai guru BK, aku hanya perlu mendisiplinkan anak-anak yang bermasalah. Sejauh ini aman, anak-anak tidak ada yang membuat onar.
Baru beberapa menit mengerjakan tugas tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruanganku, seorang siswi dan seorang guru datang dan duduk di depan ku. Dengan segera aku menunda mengerjakan tugas kuliah.
"Ada apa ?" Tanyaku, aku melihat ada yang tidak beres dengan anak perempuan itu, anak itu terlihat pucat dan seperti ketakutan akan sesuatu.
"Miss saya bu dian, ini anak murid saya namanya rima. Sudah beberapa hari ini saya perhatikan sepertinya ada yang tidak biasa dengannya. Akhir-akhir ini dia tampak murung dan menarik diri. Ditanya juga seperti orang linglung, tolong bantu dia miss. Saya khawatir" Kata bu dian, wali kelas rima.
Aku mengangguk dan memegang tangan rima, namun rima menarik tangan nya kuat-kuat dan dia berlari jongkok di pojok ruangan menangis meringkuk. Aku dan bu dian sangat terkejut dan saling melempar pandangan.
"Saya baru melihatnya miss, biasanya dia cuma diem kaya patung ga pernah bereaksi apa-apa" Ujar bu dian nampak shok melihat rima.
Aku mengangguk menenangkan bu dian menepuk-nepuk bahunya, "Bu saya akan bicara dengannya, maaf bisa tinggalkan saya berdua dengan rima ?" Kataku. Aku tidak ingin bu dian shok lebih banyak dari ini, lagian sepertinya rima butuh penanganan khusus dan aku perlu berbicara empat mata dengannya.
Bu dian mengangguk dan pergi meninggalkan aku berdua dengan rima. Aku dekati dia perlahan, berjongkok dihadapannya dan menepuk-meluk bahunya. Berharap hal ini dapat memberinya sedikit ketenangan, dan sepertinya berhasil. Rima sedikit-sedikit mulai mengangkat wajahnya menatapku. Aku memberanikan diri merengkuhnya, memeluk rima yang kini terisak.
"Apa kamu perlu teman cerita ? Saya siap mendengarkan cerita mu" Ujarku sambil mengusap-usap punggungnya. Rima masih menangis dalam pelukanku, dan aku membiarkannya.
"Miss.. Aku hamil" Katanya lirih.
Aku melepaskan pelukannya dan menatap matanya, terkejut dengan apa yang baru saja kudengar.
"Aku harus bagaimana miss ? Aku bingung" Lanjutnya sambil terisak.
Aku sendiri juga sebenarnya bingung, ini kasus pertamaku. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus membantunya.
"Dengan siapa ? Siapa ayah bayi ini ?" Tanya ku pelan, takut menyinggung perasaannya.
Dia menangis lagi, kali ini tangisnya tertahan. Ia menangis tanpa suara membuat aku benar-benar merasa iba.
"Miss.. " Panggilnya lirih.
Aku mengangguk dan meyakinkannya kalo semua akan baik-baik saja. Akhirnya rima membuka diri, ia menceritakan semua tentang dirinya sambil sesekali terisak.
Rima merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, adiknya laki-laki baru kelas 2 SD. Semua berawal ketika ibu nya rima mendadak harus pulang kampung karena neneknya sakit dan butuh orang untuk mengurusnya. Terpaksa ibunya dan adiknya harus pulang kampung untuk menemani neneknya.
Keluarga rima bukan keluarga yang harmonis, ayahnya temperamental suka memukul ibunya jika sudah bertengkar. Karena itulah rima mengizinkan ibunya untuk sementara tinggal dikampung menemani neneknya. Rima tidak tahan melihat ibu nya sering dipukuli oleh ayahnya.
"Kamu ga ikut ibu nak ?" Tanya ibunya sebelum berangkat.
"Ga bu, rima harus sekolah. Sebentar lagi kenaikan kelas, rima takut ketinggalan pelajaran" Jawab rima.
"Jaga diri kamu ya nak, kalo ayah sedang marah menjauhlah" Kata ibunya mengingatkan rima.
"Iya ibu, ayah ga pernah mukulin anaknya kan. Insya Allah aku aman, aku hanya perlu menjauh kalo ayah kumat marahnya" Kata rima sambil tersenyum agar ibu nya tidak cemas.
Beberapa hari sepeninggal ibunya, tidak ada masalah. Rima baik-baik saja dengan ayah, kadang ayahnya pun ikut ngobrol dengan ibu ketika video call.
Namun malam itu, sudah terlampau malam ayahnya belum pulang. Dengan cemas rima menunggu di ruang tamu sambil menonton televisi. Sesekali rima melirik jam sudah pukul 2 malam namun ayah belum pulang juga. Sampai akhirnya rima ketiduran menunggu ayahnya di ruang tivi.
Rima terbangun ketika mendengar suara orang hendak membuka pintu. Diliriknya jam didinding, sudah pukul 4. Rima segera mengintip dari jendela ternyata ayahnya baru pulang. Rima pun membuka pintu dan mendapati ayahnya yang kelimpungan.
"Ayah" Panggil rima sambil menahan badan ayahnya yang hampir ambruk, dengan susah payah rima menutup pintu dan menguncinya.
Rima membantu ayah duduk di sofa, melepas kan jaket dan sepatu ayahnya. Rima mencium bau alkohol menyengat ketika membantu ayah melepaskan jaketnya.
Tanpa diduga ayahnya malah menarik rima ke dalam pelukannya, mencium rima dengan kasar dan membanting tubuh rima ke sofa panjang.
Rima meronta-ronta, memohon kepada ayahnya untuk berhenti. Namun sang ayah yang sedang dikuasai alkohol tidak mengindahkan permohonan rima. Rima menangis Sejadi-jadinya.
Ketika ayahnya melepaskan pakaiannya, rima mengambil kesempatan itu untuk berlari kabur dari ayahnya namun ayahnya berhasil menangkapnya dan malah menggendong rima dan membawanya ke kamar ibunya.
Ayahnya membanting tubuh rima ditempat tidur dan menindih tubuhnya, melucuti satu persatu pakaian rima sampai tak ada satu benang pun yang tersisa.
Rima terus meronta-ronta namun apa daya, rima begitu lemah menghadapi ayahnya yang sedang dikuasai setan.
Akhirnya malam itu rima kehilangan mahkota nya yang paling berharga, direbut dan diambil paksa oleh ayahnya. Rima menangis pilu, tempat tidur yang biasanya tempat b******u orang tuanya, menjadi tempat ia digagahi oleh ayah kandungnya sendiri.
Rima bangkit berdiri, merasakan ngilu disekujur tubuhnya, terutama bagian bawahnya. Ia melihat ayahnya masih tertidur dengan berselimut dan ada noda darah di sampingnya.
Rima menangis dibawah siraman air yang mengguyur tubuhnya, ia merasa kotor, ia merasa rendah, rima merasa hina. Entah sudah berapa lama rima di dalam kamar mandi ketika ia keluar ia mendapati ayahnya sudah bangun dan makan di ruang tivi.
"Rima sini duduk" Ujar ayah.
Rima menghampiri ayahnya dan duduk dengan menjaga jarak. Rima menjadi sangat membenci ayahnya sampai tak kuasa untuk melihat wajahnya.
"Maafkan ayah, semalam ayah mabuk. Ayah diajak makan-makan dengan teman ayah, tapi berakhir dengan minum-minum" Ujarnya, ada sedikit sesal disana.
Namun rima yang sudah terlanjur membenci tak kuasa untuk menahan amarahnya, "Ayah keterlaluan, aku anak ayah, darah daging ayah bagaimana bisa ayah melakukan itu padaku ?" Ujar nya sambil menangis.
"Ayah khilaf, ayah bener-bener ga sadar rima. Maafkan ayah" Kata ayah.
Rima yang sudah terlanjur emosi menggeleng kan kepalanya, "Aku akan bilang ibu tentang perbuatan ayah dan melaporkan ayah ke polisi biar ayah dipenjara" Ujarnya teriak penuh emosi.
Ucapan rima membuat ayahnya tersulut emosi, ayahnya mendekati rima dan menampar wajahnya lalu membopong tubuh rima ke kamar ibunya lagi.
"Ayah lepaskan" Teriak rima meronta-ronta.
Ayahnya membanting tubuh rima ke tempat tidur dan melucuti pakaian rima kembali sampai ia tidak mengenakan apa pun.
"Ayah mohon, ampun ayah" Pinta rima lirih.
"Padahal ayah sudah minta maaf, ayah menyesal melakukannya. Tapi kamu malah tidak menghargai ayah, percuma saja ayah menyesal. Lebih baik ayah menikmati lagi, ayah masih ingat bagaimana masih rapatnya milikmu dan membuat ayah jadi ingin mencobanya lagi. Kamu yang memancing ayah kali ini, jangan menyesal" Kata ayah.
Setelah ayah mengatakan itu, ia mengulangi perbuatannya berkali-kali sampai rima merasakan mati rasa di sekujur tubuhnya. Tak hanya itu, rima juga dikurung di kamarnya tidak boleh kemana-mana, barang-barangnya disita, hape laptop dan lainnya.
Parahnya sekarang ayahnya berani mengagahinya jika ingin, tak kenal siang ataupun malam. Ayahnya mendatanginya ke kamar dan memintanya untuk melayani layaknya suami istri. Jika rima menolak, ayahnya memukul dan menamparnya tanpa ampun dalam keadaan lemas sekalipun setelah dipukuli ayahnya tetap melakukan aksi bejadnya berkali-berkali.
"Ayah" Panggil rima setelah melihat ayahnya tersungkur disampingnya karena kelelahan.
"Jangan menyesal, jangan bilang ibu apalagi lapor polisi jika kamu mau ibu dan adikmu aman" Ancamnya.
"Aku mau sekolah, aku akan menutup mulutku. Rima janji" Katanya lirih.
Ayahnya menatap rima dengan perasaan iba, dipeluknya rima. "Maafkan ayah, asal kamu menepati janjimu semua baik-baik saja" Ujar ayahnya sambil mengecup bibir rima.
Rima mengangguk lalu beranjak bangun menuju kamar mandi namun tiba-tiba ayahnya menarik selimut yang menutupi tubuh rima sampai terlepas dari tubuh rima.
"Tapi ayah sudah ketagihan, bisakah kamu menggantikan peran ibumu disini ?" Kata ayah sambil menepuk-nepuk kasur.
Rima paham maksud nya, ia pun terpaksa mengangguk. Begitulah akhirnya ia bisa sekolah lagi, tapi rima jadi menarik diri dari pergaulan teman-temannya. Ia memilih untuk sendiri.
Setelah mendengar cerita rima aku memeluknya erat, hatiku sakit. Bagaimana mungkin seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi anaknya malah menghancurkan anaknya sendiri. Ku peluk erat rima yang masih menangis dipelukanku, aku pun menangis dalam diam tak ingin diketahui rima.
Aku meminta rima untuk kembali kekelasnya, rima memohon kepadaku untuk menolongnya dari jeratan ayah.
"Miss tolong saya dan keluarga saya, saya tidak ingin ibu masih bersama laki-laki seperti itu" Pintanya sebelum meninggalkan ruangan.
Aku pun mengangguk, sepeninggal rima aku menangis terduduk. Hatiku sakit, air mataku tak henti-hentinya keluar. Padahal jam pelajaran sudah lewat, sekolah pun sudah mulai sepi. Tapi aku masih terisak sendiri disini, menahan perihnya hatiku setelah mendengar cerita rima.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruanganku, ku lihat alen berdiri dan menatapku. Dia menghampiriku dan merengkuhku ke dalam pelukannya. Bukannya merasa tenang, aku malah terisak sejadi-jadinya pelukannya membuatku bisa mengeluarkan emosi yang dari tadi kutahan di depan rima.
Alen hanya menepuk-nepuk pundakku, sambil terus memeluk untuk menenangkanku. Ketika dirasa aku mulai tenang, alen mengusap air mataku.
"Aku anter pulang" Katanya.
"Ga usah, aku bawa mobil"
"Ga baik berkendara dalam kondisi seperti ini" Katanya lembut sambil membantuku berdiri dan membawakan tasku.
"Terima kasih, tapi saya bisa sendiri" Kataku sesampainya di parkiran.
"Yakin ?" Katanya memastikan.
Aku mengangguk, lalu mengambil tasku yang dipegang alen.
"Hati-hati" Katanya.
Aku pun segera melajukan kendaraan ku, pulang ke rumah. Saat ini aku hanya ingin istirahat.