"Ibu," bisikku sambil menyentuh lengannya, ia masih diam terpaku bibirnya berat untuk mengucap kata, sedangkan hati ini penasaran siapakah pria itu hingga membuat ibu tercengang bukan main. "Adnan, dia adalah ayah kandungmu yang dahulu meninggalkan kita demi wanita lain, dia yang membuat hidup kita susah bertahun-tahun lamanya," ucap ibu bergetar. Bagai petir yang menyambar, tubuhku diam mendadak kaku tak mampu menatap siapapun selain lantai rumah ini, ternyata ayahku masih hidup di muka bumi ini, ia belum terkubur dalam bumi seperti yang dikatakan ibu tempo hari. "Ratna, di-dia ... anak kita?" tanya lelaki itu berjongkok di hadapan ibu. Sungguh aku tak mampu berada di dekatnya, goresan luka yang ia sayat begitu dalam hingga membuatku kehilangan kasih sayang sebagai seorang anak terhad

