Nasib Haura

1391 Kata

Dengan lutut yang lemas kuhampiri ibu, wajahnya terlihat sangat pucat, saat melihat kedatanganku ia sedikit terperanjat. "Bu, ayo kita pulang bareng." Kutarik pergelangan tangan ibu. "Dan Anda! Jangan coba-coba menyakiti hati ibu saya!" tegasku pada perempuan yang mengenakkan lipstik merah cetar itu, ia langsung menciut kala jari telunjukku berada di hadapan wajahnya. Di dalam mobil ibu masih diam, sekali-kali memandangku dengan tatapan aneh. "Apa Ibu mau mengatakan sesuatu?" tanyaku dengan pandangan lurus ke depan. "Apa kamu dengar ucapan wanita tadi?" tanya ibu lagi, aku hanya menganggukkan kepala, beberapa detik kemudian terdengar suara helaan napasnya. "Dia itu salah sangka, Adnan, Ibu ga pernah jadi perebut suami siapapun," jawab Ibu lemah. Entahlah, itu cerita masa lalu dan sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN