Hujan yang tadi nya sempat berhenti, kini malah turun deras kembali. Genta segera menepikan motor nya ke salah satu halte pemberhentian bus. Ruby seketika langsung berlari dan berdiri di bawah atap halte. Tubuh nya yang di lindungi jaket kulit membuat seragam nya tidak basah. Tapi rambut nya setengah basah akibat tidak memakai helm.
Genta menyusul Ruby setelah menaruh motor nya di tepi trotoar. Dia mengusap rambut nya yang sedikit basah, seraya membuka jaket kulit yang membaluti tubuh juga basah. Selagi Genta mengibas-ngibaskan jaket, Ruby duduk di bangku halte. Menatap rintik hujan yang deras. Seperti dulu, suasana hujan seperti ini selalu di tunggu-tunggu nya, suasana dingin dan menenangkan.
Sekarang tepat pukul 6 sore, kondisi yang hujan membuat langit mendung dan menciptakan kegelapan yang lebih cepat. Genta ikut mendudukkan b****g nya di bangku samping Ruby, menatap malas hujan yang tak kunjung berhenti.
"Tau gini mending gue naik taksi." seru Ruby tanpa menoleh pada lawan bicara nya.
"Ya mana gue tau, kalau bakal hujan lagi. Gue juga berharap nya gak hujan." balas Genta.
Ruby menghela nafas nya perlahan. Dan melepas jaket kulit nya yang basah. Genta memperhatikan gerakan Ruby. Dia sedikit heran dengan gadis di samping nya itu. Pasal nya, sudah dua kali dia bersama dengan Ruby dalam keadaan hujan. Tapi sekali pun dia tidak pernah mendegar gadis itu mengeluh, tidak seperti gadis-gadis manja yang akan berteriak becek-becek tidak jelas.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?" tanya Ruby dengan suara dingin, tapi lagi-lagi tanpa menoleh. Dia seakan tau bahwa sedang di perhatikan.
Genta tersentak kaget, dan mengalihkan pandangan nya ke depan. "Enggak! Gue cuman mau nanya lo laper gak?"
Ruby untuk pertama kali nya menoleh. "Bukan gitu! Gue cuman nanya kok. Soal nya gue laper banget nih." seru Genta lagi saat hanya mendapati tatapan datar dari Ruby. Di sertai dengan dia yang memegang perut dan menyengir.
"Gak ada tempat di sini yang bisa ngasih lo makan." respon Ruby.
Genta menatap sekeliling nya. Memang tidak ada resto atau cafe di sekitar sini. Tapi mata nya langsung berbinar saat melihat tidak jauh dari mereka berteduh, ada warung dengan tulisan Nasi Goreng.
"Nah! Itu ada tuh!" seru nya heboh, dan menepuk-neluk pundak Ruby.
Ruby mengerutkan dahi nya. "Apa an sih lo heboh banget. Ngelihat warung doang." kesal nya, karna pundak nya yang menjadi sasaran kehebohan cowok itu.
"Makan yuk! Gue laper nih! Gue juga tau pasti lo laper kan?" seru Genta cepat seraya menatap Ruby.
Ruby diam untuk beberapa saat, Genta terus menunggu jawaban. Dia menghela nafas nya. "Lo gak liat masih hujan deras gini! Gimana kita kesana." kata Ruby menatap warung yang lumayan jauh itu.
Genta tampak berpikir sejenak. "Ya elah. Gara-gara hujan nih, gue harus nahan laper." untuk kesekian kali nya dia mengeluh.
"Eh- lo bisa gak. Gak usah ngeluh terus, cuman karna hujan?" Ruby mulai gerah dengan Genta yang terus mengeluh dan menyahlakn hujan.
Genta menatap heran saat Ruby bangkit dari dusuk nya. "Ngapain lo?" tanya nya heran.
Ruby menatap datar Genta. "Lo mau makan gak sih?" cowok itu mengangguk. "Ya udah buruan! Lo pikir gue gak laper apa."
"Gimana cara nya?"
Ruby mendesah, dan merebut jaket kulit Genta. Genta yang mengerti maksud Ruby, sekarang ikut bangkit berdiri.
"Lo dorong motor! Biar gue yang pegang jaket!"
Genta hanya mengikuti intruksi Ruby. Gadis itu mulai mengembangkan jaket di atas kepala menjadikan nya payung seperti saat mereka menembus hujan di rumah pohon kemarin. Genta memarkirkan motor nya di depan warung nasi goreng itu, dan mengambil alih jaket di tangan Ruby.
"Gue tau lo lebih pendek dari gue." seru Genta santai.
Ruby mendengus. "Gue sampai dagu lo ya! Enak banget tu mulut ngomong." balas nya ketus, sedangkan Genta terkekeh pelan.
Mereka mengambil duduk di bagian dekat jendela. Sebenarnya itu pilihan Ruby. "Kok disini sih? Sana aja!" protes Genta dan menunjuk meja bagian tengah.
"Ya udah. Lo sana! Gue sini!" jawab Ruby simpel dan duduk di meja pilihan nya.
Sedangkan Genta pasrah, dan berjalan memesan nasi goreng mereka. Lalu kembali duduk berhadapan dengan Ruby yang tampak menatap keluar.
"Jadi lo mau lihat hujan, maka nya milih meja ini?" tanya Genta menatap Ruby.
"Setiap orang punya apa yang dia suka kan?" Ruby membalas tatapan Genta.
Genta menyeringai tipis. "Iya sih. Tapi gue gak nyangka aja, cewek kayak lo suka sama hujan."
"Kayak gimana maksud lo?" kali ini Ruby menegakkan duduk nya, masih menatap Genta dengan datar.
"Ya lo kan di sekolah di kenal keras banget. Jadi gak bakal ada yang nyangka dong kalau lo suka hujan. Hujan kan sering di defenisi kan sebagai suasana mellow."
"Trus? Orang yang suka hujan, berarti mellow?" Genta mengangkat bahu nya. "Bagus banget hipotesa lo." Ruby kembali menyandarkan punggung nya pada bangku.
Ruby terdiam, dan Genta tidak lagi membuka suara. Suasana di meja mereka mendadak hening, hanya terdengar rintikan hujan di luar yang amat deras. Entah apa yang terjadi dengan perasaan Ruby sekarang, dia merasa lebih tenang dan seakan sedikit beban nya mulai terlepas, setelah mengeluarkan sedikit emosional nya saat di taman belakang sekolah tadi.
Mata Ruby beralih pada Genta yang sibuk memainkan sendok di depan nya. Apa benar jika selama ini dia hanya butuh sedikit melepaskan unek-unek dalam d**a nya? Tapi kenapa, harus di depan cowok ini dia merasa lemah, dan terlihat sangat tidak berdaya? Bahkan di depan Ralin pun, dia tidak pernah menangis, dan memperlihatkan sisi lemah nya.
Takdir. Apa lagi yang di persiapkan Tuhan untuk nya?
"Silahkan di nikmati, mas! Mbak!"
Lamunan Ruby terhenti, saat suara orang yang mengantarkan pesanan mereka terdengar.
"Makasih Mbak." Sahut Genta, dan langsung menyantap makanan nya. Sedangkan Ruby masih diam, memperhatikan gerakan makan Genta yang seperti orang tidak makan 4 hari.
☔☔☔☔☔
Tepat pukul 8 motor sport Genta berhenti tepat di depan rumah besar keluarga Alexander. Ruby turun dari motor tersebut, namun dia tidak langsung melangkah memasuki perkarangan rumah, saat di lihat nya sebuah mobil jeeps terparkir di sana. Mobil yang amat di kenal nya. Dan seketika, perasaan nya tak karuan.
Genta ikut turun dari motor nya, dan menatap Ruby yang hanya diam, dengan pandangan lurus ke depan. "By! Lo kenapa? Gak masuk?" Genta bertanya.
Ruby masih bergeming, mendadak dia ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah. Kaki nya seakan berat untuk di langkah kan.
Genta mengerutkan dahi nya, melihat reaksi Ruby. Namun, belum sempat dia membuka suara lagi. Suara Ruby sudah lebih dulu mengintruksikan nya. "Lo balik aja sekarang!" Seru gadis itu sarat akan perintah.
"Tap---"
Ucapan Genta terhenti, gadis itu tiba-tiba berjalan masuk dan memerintahkan satpam rumah untuk menutup pagar. Genta masih mematung di tempat nya. Apa yang terjadi dengan gadis itu?
Sementara Genta yang bingung akan sikap nya. Ruby justru tengah mengontrol detak jantung nya agar lebih beraturan. Kaki nya perlahan memasuki rumah, mempertahankan ekspresi datar dan dingin nya.
Baru selangkah kaki nya melewati pintu. Semua pandangan orang yang ada di sana teralihkan ke arah nya, menatap nya dengan tatapan yabg sulit di artikan, terlebih Alex. Mendadak suasana di ruangan itu tegang, dan Ruby dapat merasakan itu.
Ruby masih memilih untuk tetap berdiri di ambang pintu, sampai suara Alex mengintruksikan nya untuk mendekat. "Papi butuh bicara sama kamu!" Seru pria paruh baya itu dengan suara dingin nan tegas.
Tanpa berniat menolak, Ruby berjalan mendekat dan duduk di sofa panjang yang di duduki oleh Ralin dan----Nichol. Yap, pemilik mobil jeeps di luar adalah Nichol.
Tatapan Ruby masih datar ke arah Alex, tidak memerdulikan kehadiran yang lain nya. Baik itu Ralin, Liana, Dirga, Digta, atau bahkan Nichol. Walau mereka semua menatap nya, penuh ke khawatiran. Dia tau, malam ini akan menjadi malam yang sulit untuk nya, seperti sepanjang hari nya hari ini.
"Kamu yang mulai? Atau papi yang mulai?" Suara dingin Alex kembali terdengar, dia masih menatap datar pada anak bungsu nya itu.
Ruby bergeming, tidak merespon apa pun.
"Oke! Kalau kamu gak mulai. Biar papi yang mulai." Alex menarik nafas nya perlahan, dan menghembuskan nya. "Bullyan ke berapa tadi siang? Sudah berapa lama kamu mengulangi hal itu?"
Itu lah jawaban dari keraguan dari langkah nya tadi. Pertanyaan itu lah yang sudah di prediksi nya sedaritadi, yang pasti akan di keluarkan oleh Alex.
Masih dengan wajah datar dan dingin nya. "Itu bukan urusan papi." jawab nya datar.
Jawaban Ruby lantas mengundang kemarahan bagi Alex.
Brak..
"APA PUN YANG KAMU LAKUKAN ITU URUSAN PAPI!" teriak Alex dengan kemarahan yang memuncak.
Semua yang ada di ruangan itu kaget luar biasa sekaligus takut. Pasal nya, ini pertama kali nya Alex mengeluarkan kemarahan dan bentakan. Bahkan memukul meja dengan kuat. Tapi tidak dengan Ruby, gadis itu masih terlihat tenang, seakan tidak takut sama sekali.
"MAU KAMU ITU APA HAH? KAMU TERLAHIR DALAM KELUARGA INI, DAN KAMU HARUS MENGIKUTI SEGALA ATURAN DAN LARANGAN DI RUMAH INI!!" Alex masih mengeluarkan bentakan kemarahan nya. "KAMU PIKIR PAPI GAK MALU APA?!! PAPI MALU!! SETIAP HARI SELALU DI REPOTKAN DENGAN ADUAN SEMUA GURU DI SEKOLAH ITU!!"
Ruby menoleh untuk pertama kali nya pada Alex. Mata nya kini lebih tajam. "Aku gak pernah minta di lahirkan!"
PLAK..
"Ruby!!"
Ralin berteriak histeris saat tangan besar Alex mendarat sempurna di pipi saudara nya. Air mata nya seketika mengalir melihat Ruby yang langsung tersandar saat menerima tamparan itu. Rambut gadis itu menutupi setengah wajah nya. Bukan hanya Ralin. Digta, dan Dirga tak kalah terkejut nya. Begitupun dengan Nichol. Sedangkan Liana, mematung melihat anak nya yang menerima tamparan dari suami nya itu, hati nya bergetar, dan mata nya memanas.
Nafas Ruby memburu, wajah nya masih berpaling ke arah kanan, karna pipi kiri nya lah yang menjadi sasaran tangan Alex. Dia merasakan perih luar biasa di pipi nya. Emosional nya memuncak, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di sini.
Dengan mata yang berkilat, dia menatap Alex yang tampak mengatur nafas nya, karna amarah yang keluar. Tatapan mereka sama-sama terlihat tajam.
"Gak usah nampar! Bunuh aku sekalian! Papi pikir aku mintak di lahirkan di keluarga ini?" Ruby menggelengkan kepala nya. "Kalau aku bisa memilih. Aku bahkan gak ingin di lahirkan. AKU GAK MAU LAHIR KE MUKA BUMI INI!" Untuk pertama kalinnya, Ruby berteriak di sertai dengan air mata yang mengalir. Air mata yang tak di undang.
"Dan kalau papi malu! Gak usah urus aku lagi! Anggap aku udah mati! Atau bukan bagian dari keluarga ini!" Seru Ruby, kali ini dengan suara lirih nya. Di hapus nya dengan kasar air mata nya, bahkan tidak memerdulikan rasa perih yang si akibatkan oleh tamparan tadi.
Ruby bangkit dari duduk nya, sebelum dia berlalu ke kamar dia sempat bersitatap dengan Ralin, yang menangis. Lalu beralih pada Liana yang menatap nya lembut, walau dengan air mata yang amat deras. Detik kemudian dia berlalu dengan setengah berlari ke arah tangga, menuju kamar nya. Setelah sempat juga, melirik sebentar pada Genta yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu. Bukan hanya Genta, tetapi juga ada Regan.
Kedua nya, sama-sama mematung, menyaksikan segala nya.
Alex mematung di tempat nya, tangan yang tadi nya menampar Ruby bergetar hebat.
"Dan kalau papi malu! Gak usah urus aku lagi! Anggap aku udah mati! Atau bukan bagian dari keluarga ini!"
Mata Alex memanas, seiring dengan mengalir nya air mata nya. Bodoh nya dia yang tidak bisa mengendalikan amarah nya. Sehingga mengakibatkan, dia lepas control dan malah menampar anak nya sendiri. Tatapan Ruby tadi, sarat akan kekecewaan luar biasa, dia tau itu.
"Apa yang papi rasain? Puas?" Bahkan suara Ralin pun masih membuat Alex mematung di tempat nya, dengan tangan bergetar hebat.
"Ruby gak salah!" Suara Ralin parau, karna kembali menangis. "Ruby gak pernah salah! Ruby gak salah!" Usara Ralin tercekar oleh air mata yang semakin deras, bahkan gadis itu terisak dan terus bergumam bahwa saudara nya tidak salah. Liana ikut terisak mendengar hal itu.
Nichol termangu melihat Ralin, tangan nya merengkuh gadis itu dan memeluk nya. Memberikan ketenangan. Mata nya menatap lurus ke arah pintu kamar Ruby. Dan tanpa sadar dia bergumam.
"Maaf."
Seharus nya gue ada, saat lo berada di titik terlemah hidup lo By. Batin Nichol.
Untuk kedua kali nya. Genta melihat air mata Ruby. Dan untuk kedua kali nya, dia melihat sorotan kekecewaan di mata dingin gadis itu. Bagi nya, hidup Ruby adalah misteri.
Regan mematung, tubuh nya kaku, kaki nya kelu. Dan nyawa nya seakan terbang dari raga nya. Diri nya juga ambil andil dari perubahan Ruby selama ini. Dan jika ada yang harus bertanggung jawab besar di sini. Itu adalah diri nya. Regan Alexander.
☔☔☔☔☔
Sudah pukul 12 malam, namun mata Regan masih enggan untuk terlelap dalam tidur. Entah apa yang terjadi pada nya. Sejak kejadian pertengkaran Ruby dan Alex. Otak nya selalu memutar ulang kejadian itu, membuat perasaan nya tak karuan.
Regan bangkit dari posisi tiduran nya, lalu berjalan keluar kamar, baru saja selangkah dia berjalan, mata nya langsung saja menangkap pintu kamar yang tak jauh dari posisi kamar nya. Kaki nya tanpa di perintah melangkah ke sana, hati nya menuntun nya untuk membuka pintu tersebut.
Regan membuka pintu itu dengan perlahan, agar tidak menciptakan bunyi yang mengusik sang pemilik kamar yang tengah tertidur. Mata nya langsung saja menatap Ruby yang tengah terlelap dalam tidur, tanpa balutan selimut.
Regan mendekat ke arah ranjang adik nya itu, menatap sendu mata yang tengah terpejam itu. Tidak ada lagi aura dingin dan datar yang selalu di tampilkan Ruby. Begitupun dengan nya, tak ada lagi tatapan cuek yang di berikan nya. Tangan Regan perlahan menyelimuti Ruby. Lalu dia duduk di tepi ranjang, dengan mata yang masih setia menatap Ruby.
Pipi kiri gadis itu terlihat memerah, dia tau itu karna tamparan Alex. Tangan Regan bergetar, saat akan menyentuh pipi bekas tamparan itu. Mengusap nya perlahan, dan sangat lembut.
Cowok berjaket kulit hitam itu terus memacu motor nya dengan kecepatan tinggi di tengah malam yang sudah terlihat sepi. Tidak ada yang di ingin kan Regan, selain melampiaskan rasa marah nya, kecewa dan segala perasaan yang bergejolak dalam diri nya.
Dia marah pada diri nya sendiri.
Dia kecewa pada diri nya sendiri.
Dan dia benci luar biasa pada diri nya sendiri.
Emosional nya yang tak lagi terkontrol, membuat mata nya berkabut, menciptakan air mata yang perlahan mulai menetes, mengalir di pipi nya. Di balik helm itu, dia menumpahkan air mata yang sedari tadi berusaha di tahan nya mati-matian. Tangan nya terus mencengkram stang motor, dan terus menambah laju motor nya.
Hingga tiba di sebuah persimpangan. Persimpangan yang menjadi saksi segala nya. Saat kejadian naas itu terjadi.
Tittt....
Citt...
Brakk...
Mercedes bent hitam itu, sukses banting stir, dan menabrak pohon.
Regan menghentikan laju motor nya, menoleh ke belakang, dan terlihat lah di sana, mobil yang menjadi korban atas keugal-ugalan nya malam ini. Regan terpaku, tangan nya bergetar, nafas nya memburu, dan tubuh nya panas dingin. Ketakutan luar biasa menguasai diri nya. Dengan keberanian yang masih ada, dia berjalan ke arah mobil tersebut. Dalam keadaan masih memakai helm nya. Dan melihat orang yang ada di dalam sana. Dan seketika, pertahanan nya runtuh. Dunia seakan berakhir seketika.
Dan teriakan seseorang membuat Regan seakan mati rasa.
Cairan bening itu tanpa di minta oleh nya, mengalir membasahi pipi nya. Pundak nya bergetar hebat. Di sertai dengan tangan nya yang berhenti mengusap pipi Ruby. Sesaat bayangan-bayangan dosa itu kembali menghantui diri nya. Setiap kali dia menatap Ruby, bayangan kejaran dosa itu selalu menghantui nya, seakan mengejar nya setiap dia melangkah.
Semua ketentraman hidup nya hancur sudah, sejak beberapa tahun lalu dia melakukan dua kali kebodohan berturut. Yang membuat nya, harus hidup dalam dosa, dan rasa bersalah.
Andai semua bisa di ulang nya. Regan tak ingin melakukan semua kebodohan nya itu. Kebodohan yang di picu oleh diri nya yang tidak bisa menahan amarah. Dan ujung nya, menjelma menjadi penderitaan tanpa akhir.
Bukan Ruby, bukan keluarga Regan Tuhan! Tapi hukum Regan. Ratapan batinnya.
☔☔☔☔☔