RUBY DAN NICHOL

2992 Kata
Pagi ini, seperti biasa nya keluarga Alexander melaksanakan sarapan bersama di meja makan. Namun kali ini, lebih dengan suasana hening. Dan tanpa kehadiran Regan dan Ruby. Regan, cowok itu sudah berangkat sedaritadi ke kampus. Entah dengan tujuan apa, padahal biasa nya dia lah orang terakhir yang akan meninggalkan rumah. Dan Ruby, gadis itu masih berada di rumah, namun tak kunjung keluar dari kamar nya sejak tadi. Jujur, Liana khawatir, jika nanti Ruby benar-benar enggan keluar dan tidak ingin bertemu dengan siapa pun, karna kejadian tadi malam itu. Dia amat sangat mengkhawatirkan Ruby. Ting Tong... Suasana hening di meja makan terpecahkan saat mendengar bunyi bel rumah berbunyi. Mereka menghentikan aktivitas makan, bersamaan dengan Bi Iyem yang setengah berlari untuk membuka pintu. "Siapa Bi?" Tanya Liana. Bi Iyem mempersilahkan sang tamu masuk. Tampak lah di sana, Nesya yang di ketahui semua nya salah satu anggota genk yang di ketuai oleh Ruby. Nesya tersenyum tipis, ke arah semua orang yang ada di sana. Gadis itu memakai jaket kulit yang sama seperti yang sering di pakai oleh Ruby. "Pagi tante! Om! Semua nya!" Sapa Nesya ramah. Liana tersenyum. "Pagi sayang." Balas nya, sedangkan yang lain hanya mengangguk, termasuk Alex. "Lo mau jemput Ruby Nesy?" Tanya Ralin, menatap anggota genk BlackHeart itu. Anggota genk yang tak kalah dingin dari Ruby, bahkan walaupun dia sudah tersenyum tipis atau berbicara ramah, aura dingin gadis itu tak hilang. Nesya mengangguk. "Perintah leader." Jawab nya simpel. "Ya udah Nesya, kamu ikut sarapan dulu yuk! Sekalian nunggu Ruby keluar." Seru Liana. "Eh gak usah tante. Aku udah sarapan kok." tolak Nesya cepat. "Gak papa Nesya, ikut aja yuk!" Untuk pertama kali Alex bersuara. "Gak---" Ucapan Nesya terhenti saat langkah seseorang menuruni tangga terdengar. Semua mata beralih pada Ruby yang tampak menuruni tangga, dengan seragam yang di baluti jaket kulit Blackheart dan tangan yang menenteng tas. "Sarapan Ruby?" Sahut Liana, menatap Ruby. Ruby menggeleng samar, dan berjalan melewati meja makan. Enggan untuk bersitatap dengan penghuni meja makan. Terutama dengan Alex. Bukan benci karna kejadian malam itu, tapi hanya kemarahan dalam diri nya masih belum terkendali. Sedangkan Alex menatap nanar putri bungsu nya itu. Dia tau, Ruby marah atau bahkan kecewa dengan nya. Dia mengerti akan itu. Tapi bohong, jika dia tidak menyesal karna telah melakukan itu. Karna Dia amat sangat menyesal setelah itu. "Cabut!" Desis Ruby pelan, saat melewati Nesya, lalu berlalu keluar rumah lebih dulu. Nesya memperhatikan Ruby sekilas, sebelum menoleh pada keluarga Alexander. "Nesya pamit semua nya!" Seru nya dan di anggukan yang lain. Nesya segera berlalu keluar rumah, menyusul sang leader yang sudah lebih dulu memasuki mobil. "Ralin!" Ralin menoleh pada Liana yang menatap nya sendu. Seakan meminta nya untuk melakukan sesuatu. "Mami tenang ya! Dia pasti baik-baik aja. Kan sama Nesya." Seru nya lembut meyakinkan Liana. "Tapi lo tetap liatin dia ya! Gue takut, dia ngelakuin hal aneh." Tambah Digta dan di anggukan oleh Dirga. Ralin tersenyum, menatap satu persatu orang yang ada di sekitar. "Gak ada yang lebih tau dia. Kecuali gue." kata nya pelan. ☔☔☔☔☔ Nesya dan Ruby berjalan memasuki gedung sekolah dengan langkah beriringan. Orang-orang yang tengah lalu lalang, langsung saja memberikan jalan kepada mereka untuk melewati koridor. Cukup dengan melihat tatapan datar kedua anggota genk BlackHeart itu saja sudah membuat nyali siapa pun akan menciut. Terlebih kemarin, baru saja memakan korban baru atas bullyan mereka, lebih tepat nya korban bullyan Ruby. SMA Saga pagi ini cukup di hebohkan dengan hot news atas keluar nya Siska dari sekolah itu. Sebenarnya semua sudah dapat menebak, bahkan buka hanya siswa siswi, tetapi guru-guru juga tau apa motif keluar nya Siska dari sekolah. Apa lagi kalau bukan karna kejadian bully yang di terima gadis itu kemarin. Sudah tidak heran lagi, jika siswa yang menjadi korban bullyan BlackHeart akan pindah sekolah. Tapi yang membuat berita itu semakin panas, saat ada beberapa info dari mulut kemulut bahwa kaki Siska yang di tendang Ruby kemarin mengalami kepatahan. Nesya Dan Ruby memasuki kelas XII IPA 3 yang seketika langsung hening saat mereka masuk. Kedatangan Ruby dan Nesya langsung saja mengalihkan perhatian ketiga teman mereka yang lain. "Akhir nya lo datang juga By." Seru Ranaya, seakan bernafas lega. Ruby menatap datar ke arah Ranaya, lalu beralih kepada Stefi dan Yuma yang tampak tegang. "Kalian kenapa sih? Tegang gitu." Nesya bertanya heran. Tak biasa nya ketiga teman nya itu seperti ini. "By! Lo harus tau kalau karna bullyan kemarin itu. Siska pindah sekolah dan kaki nya patah tau gak." Seru Ranaya sarat akan kekhawatiran. "Trus? Udah biasakan?" Balas Ruby santai. Stefi mendesah. "Masalah nya bukan itu aja Ruby!" "Maksud lo?" Tanya Nesya, meminta Stefi agar berbicara lebih detail. Yuma tampak mengotak atik ponsel nya, seakan mencari sesuatu, lalu setelah itu dia mengarahkan layar ponsel itu kepda Ruby. Ruby meraih ponsel tersebut, dan menatap apa yang di tampilkan oleh layar touchscreen tersebut. Begitupun dengan Nesya. "Jadi---" Nesya menatap Ranaya, Stefi dan Yuma bergantian. Mereka bertiga serempak mengangguk. "Iya. Siska dan Jean, mereka sepupuan." Kata Ranaya. "Feeling Stefi waktu itu benar. Kalau cairan kimia itu emang sengaja di tumpahin Siska ke tangan Ruby. Karna dia di suruh Jean, buat ngelakuin itu. Dan jadi mata-mata kedekatan Ruby dan Genta." Kali ini Yuma yang berbicara, wajah gadis itu tampak serius. "Itu sebab nya, Jean tau, kalau Genta lagi berusaha ngedekitin lo." tambah Stefi. Ruby masih diam, dengan tangan yang mencengkram ponsel Yuma. "Jean cuman punya satu tujuan selama ini Ruby. Yaitu, menghancurkan lo, dengan alasan yang sama---" Ranaya menggantung ucapan nya, sebelum kembali melanjutkan nya. "---Dafa. Dafa masih menjadi alasan dendam nya Jean." "Dan dengan cidera nya Siska kayak gini. Dia semakin punya alasan, untuk melancarkan semua kelicikan nya." Tambah Nesya dengan suara lebih tenang. Tangan Ruby semakin mencengkram kuat ponsel tersebut, seiring dengan semakin bersuara nya teman-teman nya. Rahang nya seketika mengeras, amarah nya seakan memuncak. Bayangan-bayangan masa lalu, kembali berputar di otak nya. "Bukan dia yang seharusnnya dendam. Tapi gue yang seharus nya, mengantarkan dia ke neraka!" Gumam Ruby sarat akan kegeraman. BlackHeart dapat merasakan kobaran kemarahan sang leader. "Jadi? Kita serang dia malam ini?" Stefi bersuara. Nesya menggeleng. "Kita tunggu dia yang mengibarkan bendera perang." "Mau sampai kapan? Gue udah gak sabar pingin ngirim dia ke neraka tau gak?" Kobaran kemarahan juga mulai ada dalam diri Stefi yang notabene memang tempramen. "Kita gak boleh lengah loh. Sekali aja kita lengah, kita akan hancur." Kata Ranaya, menatap satu persatu teman nya. Drttt...ting...ting.... Bunyi ponsel Ruby menghentikan percakapan mereka. Meraka sama-sama memperhatikan Ruby yang membuka pesan notifikasi di ponsel tersebut. Seketika mereka heran, saat melihat seringain devil muncul di wajah Ruby. ☔☔☔☔☔ Disaat semua siswa siswi yang tengah istirahat makan siang. Ruby justru harus duduk seorang diri di ruangan guru, melaksanakan ulangan susulan. Hanya ada Bu Emy yang mengawasi nya, dan pandangan guru itu tak pernah lepas dari nya, seakan-akan dia adalah murid bodoh yang akan membuat contekan. Bagi Ruby, mau ulangan bersama-sama, atau ulangan susulan, hasil nya akan tetap sama, tidak ada kesulitan untuk itu. Dan nilai nya pun, akan tetap bagus. "Ya elah buk, kayak ngawasin siapa aja sih." Gumam Ruby datar tanpa beralih dari soal matematika nya. "Iya saya tau kamu gak akan nyontek." balas Bu Emy dengan nada geli nya. Seharus nya hari ini Ruby ulangan susulan bersama Genta. Tapi berhubungan cowok itu ada rapat osis di jam istirahat ini, alhasil Genta harus ulangan susulan lebih dulu. 15 menit kemudian, Ruby sudah selesai dengan ulangan nya. Setelah di berikan nya kepada Buk Emy, dia berjalan dengan santai keluar ruangan. Baru saja selangkah kaki nya keluar ruangan, dia di kejutkan dengan suara seseorang. "Gimana ulangan nya?" Ruby menoleh kepada asal suara, telah berdiri Genta yang tengah menatap nya dengan alis yang di naik turun kan. Tanpa menjawab Ruby melongos pergi. Tapi bukan Genta nama nya yang akan kecut jika di cuekin dengan Ruby. Karna sudah menjadi makanan nya sehari-hari. Dia sudah sangat hafal dengan tabiat gadis itu. Genta mengikuti Ruby dari belakang, dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana. Ruby tau, Genta mengikuti nya dari belakang. Dia berdecak geram, dan mendadak memutar tubuh nya, berhadapan dengan Genta. Cowok itu juga ikut berhenti. Dan mereka saling tatap. Sorot dingin Ruby dengan sorot teduh milik Genta. "Lo gak ada kejaan lain apa?" Ruby berseru datar. Genta mengangkat bahu nya cuek. "Gue udah selesai rapat osis." "Kalau gitu cari kerjaan di tempat lain! Jangan ngikutin gue!" Ruby kembali berbalik, dan berniat melangkah, saat tangan kekar Genta menahan nya. Ruby menarik nafas nya perlahan, dan menghembuskan nya. Dia berusaha menekan kuat-kuat kegeraman nya terhadap cowok yang tengah memegang nya ini. Dia sendiri benar-benar tidak mengerti apa mau nya Genta. "Apa sih? Lo bisa gak, berhenti ngerecokin gue?!" Ruby habis kesabaran, dia berbalik dengan wajah kesal nya. Genta mngerutkan dahi nya. "Lo kenapa sih? Salah gue mau dekat sebagai teman sama lo?" Tanya nya. Genta seakan heran dengan sikap Ruby yang berubah-ubah. Kadang gadis itu bisa ngobrol santai dengan nya, kadang seakan anti berdekatan dengan nya. Ruby menghela nafas lelah nya. Entah kenapa setiap berdekatan dengan Genta, seakan tenaga nya hilang dan sisi kejam nya sedikit memudar. Padahal, biasa nya jangankan orang yang selalu mengikuti, orang yang sedikit saja menyenggol nya, sudah pasti akan di bully nya habis-habisan. "Kasih gue satu alasan, kenapa lo kekeh bersikap kayak gini?" Tanya Ruby dengan suara dingin nya. Jam istirahat sudah berakhir sekitar 5 menit yang lau. Jadi, di koridor itu hanya tersisa mereka. Genta diam. Dia tidak menjawab, hanya menatap ke arah Ruby. "Gue udah berulang kali kan bilang sama lo. Gue bukan orang baik. Dan lo sendiri udah liat itu pakai mata kepala lo sendiri. Gue ngebully orang tanpa pandang bulu." Ruby kembali bersuara. "Dan lo juga udah liat malam itu, gimana keras nya gue." Lanjut Ruby kali ini lebih memelan. Gadis itu tak lagi melihat kepada Genta, melainkan mengarahkan pandang nya ke arah lain. Genta tau, ingatan gadis di depan nya ini pasti tertuju pada malam pertengkaran itu. "Justru karna gue udah ngelihat semua nya." Cowok itu bersuara dengan masih menatap lekat pada Ruby. "Sekarang giliran gue yang nanya." Genta berhenti sejenak, seblum akhir nya kembali bersuara. "Apa yang membuat lo begitu enggan hanya sekedar nerima gue di samping lo? Sebagai seorang teman." Ruby tidak mengeluarkan suara nya untuk beberapa saat. Dia mengalihkan pandang nya pada Genta, gadis itu sedikit mendongak agar tatapan nya sejajar dengan cowok itu. Genta terlihat lebih serius, daripada yang tadi. Lagi dan lagi, Ruby tersihir dengan sorotan teduh milik mata Genta. Sorotan mata yang selalu membuat nya tidak ingin berkontak langsung dengan cowok itu. Karna entah sejak kapan, mata Genta selalu membuat pertahan nya runtuh, membuat nya selalu mengingat hal yang ingin di lupakan nya. Tangan Ruby bergetar dan terkepal kuat di bawah sana, tanpa di sadari oleh Genta. Dia berusaha mati-matian menahan emosional nya di depan cowok itu. Cukup, dua kali, Genta melihat sisi lemah nya, tapi tidak untuk sekarang. "Lo gak perlu tanya kenapa gue gak nerima lo sebagai teman. Karna pada kenyataan nya, gue gak pernah ingin membiarkan orang baru masuk dalam hidup gue begitu mudah." Jawab Ruby datar dan sangat dingin. "Jadi berhenti melakukan hal yang membuang-buang waktu lo. Karna sampai kapan pun, gue akan tetap ngusir lo! Dan gak akan pernah buka pintu masuk, agar lo bisa menjelajahi hidup gue." Lanjut Ruby, kali ini lebih penuh penekanan. Genta tertegun, mematung di tempat nya. Setiap kata-kata Ruby tadi, benar-benar menusuk hati nya, dan menginjak harga diri nya. Dia benar-benar seperti orang bodoh, mengharapkan Ruby, gadis kejam yang tidak punya hati, atau bahkan bisa di bilang iblis. Mata Genta mengikuti kepergian langkah Ruby. Menatap punggung itu yang menjauh. Sebenarnya apa yang dilalukan nya sekarang? Apa benar hanya sebuah rasa pensaran terhadap Ruby? Atau justru ada perasaan dan keinginan yang lain? Seperti Cinta? Apa Genta dalam keadaan sadar saat ini? ☔☔☔☔☔ Ruby memasuki kelas nya XII IPA 3, bukan untuk melanjutkan proses belajar mengajar. Melainkan hanya untuk mengambil tas nya. Di dalam sana sudah ada Pak Dadang yang tengah menerangkan pelajaran, namun kegiatan guru itu terhenti saat Ruby tiba-tiba masuk tanpa mengucapkan kata permisi. Seisi kelas langsung menatap ke arah datang nya Ruby, namun seperti biasa nya, hanya berani secara diam-diam. Ruby memasuki kelas dengan wajah datar nya, dan langsung menuju bangku nya yang ada di samping Nesya. Lalu meraih taa tersebut, dan kembali menuju keluar kelas. "Mau kemana kamu Ruby?" Tanya Pak Dadang, menatap Ruby yang selangkah lagi akan keluar kelas. Ruby hanya berhenti sejenak, tidak menjawab, dan kembali melanjutkan langkah nya keluar kelas. Dan Pak Dadang tak dapat lagi menahan. "Mari kita lanjutkan!" Seisi kelas langsung kembali fokus pada Pak Dadang, yang mulai mencatat di papan tulis. Beda hal nya dengan BlackHeart, mereka justru saling melempar pandang satu sama lain. Stefi memutar tubuh nya ke belakang, menghadap ketiga teman nya. "Kenapa lagi Ruby?" Tanya nya pelan. Ranaya dan Yuma langsung menggeleng tidak tau. Sedangkan Nesya menghela nafas nya. "Paling juga ada yang ngusik emosi nya lagi. Dan ngancurin mood nya." Jawab gadis itu santai, seraya kembali mencatat. Sedangkan di luar ruangan XII IPA3 itu. Ruby tengah berjalan di koridor, niatan awal nya adalah cabut dari sekolah. Entah karna apa. Yang jelas, Ruby hanya ingin tempat yang sepi, tempat di mana hanya ada diri nya sendiri. Langkah Ruby harus terhenti saat seseorang telah berdiri di depan nya, dengan jarak yang begitu dekat. Tanpa mendongak pun, Ruby tau siapa pemilik wangi parfum tersebut. Kali ini bukan Genta, dia yakin akan hal itu. Tanpa berniat menatap orang tersebut, Ruby menggeser tubuh nya agar berjalan di samping kanan orang tersebut. "Mau kemana lo?" Pertanyaan dingin itu keluar bersamaan dengan di cekal nya tangan mungil Ruby oleh tangan kekar milik cowok itu. "Bukan urusan lo!" Respon Ruby dingin, masih enggan melihat lawan bicara nya. "Apa pun urusan lo juga akan jadi urusan gue!" Ujar Nichol penuh penekanan. Nichol, adalah pemilik tangan kekar yang menahan Ruby. Ruby seketika tersenyum sinis mendengar perkataan cowok yang tengah menahan nya ini. Dan untuk pertama kali nya dia beralih menatap Nichol. "Oya? Urusan gue adalah urusan lo?" Ruby mengulangi ucapan Nichol, dengan nada bertanya. Lalu seketika dia tertawa sinis, tawa yang sangat merendahkan lawan bcara. "Gak usah Bullshit! Gak usah acting! Dan gak usah sok peduli!" kata Ruby dingin. Nichol benar-benar tidak mengerti dengan sosok yang ada di depan nya ini. Kenapa perubahan Ruby begitu drastis. Mungkin awal nya dia bisa terima, sikap Ruby yang dingin pada nya karna faktor kemarahan yang ada dalam diri gadis itu, dan dia tau itu karna salah nya. Tapi semakin kesini, sikap Ruby semakin tidak bisa di lihat nya pakai logika. Gadis itu kejam, bahkan amat kejam, dan sangat keras. Bahkan dengan orang tua nya sendiri. Nichol menatap Ruby tidak percaya, dan sarat akan kekecewaan. Dia seakan benar-benar kehilangan sosok sahabat yang dulu nya seperti malaikat. "Kenapa sih By? Kenapa lo berubah sejauh ini?" Tanya nya lirih. Ruby sudah tak lagi menatap Nichol. Gadis itu menatap lurus ke depan, pergelangan tangan nya juga mulai terlepas dari cowok itu. Karna pegangan Nichol melonggar seiring dengan keluar nya kata-kata lirih itu. "Lo seakan asing buat gue By! Lo seakan bukan Ruby yang gue kenal! Lo---" "Cukup!" Seru Ruby datar memotong ucapan Nichol. Tapi cowok itu tidak berhenti, dia terua mengeluarkan kata-kata yang sama sekai tidak ingin di dengar oleh nya. "Apa segitu besar kesalahan gue sampai pengaruh nya juga besar buat lo? By andai gue bisa ngulang waktu, gue juga gak ingin kita hancur kayak gini! Gue juga gak ingin Dafa pergi!" "GUE BILANG CUKUP YA CUKUP!" Ruby tiba-tiba berteriak berang, di sertai dengan mata nya yang berkilat marah, menatap tajam ke arah Nichol. "Cukup gue bilang! Cukup!" Tekan Ruby dengan bibir yang bergetar. Nichol menatap mata Ruby yang memerah, dia tau itu bukan hanya karna amarah, tetapi dia yakin bahwa ada air mata yang di tahan di sana. "Jangan ngomong masalah peduli kali ini Nichol! Jangan ngomong seakan-akan lo emang peduli! Gue udah kubur semua harapan kepedulian itu, sejak lo pergi tanpa memerdulikan gue yang di ambang kehancuran saat itu!" "Di saat gue lagi butuh! Lo gak ada! Dan sekarang lo berbicara soal peduli! SEMUA UDAH GAK ADA ARTI NYA LAGI BUAT GUE!" Bentak Ruby sarat akan kemarahan. Namun kali ini Nichol di buat tertegun, dengan air mata yang turun di pelupuk mata gadis itu. Air mata kekecewaan. "Kita bisa selesaiin ini By. Kita bisa mulai lagi! Walau memang tanpa Dafa!" "JANGAN SEBUT NAMA ITU!!" Teriak Ruby histeris. Dan sukses membuat Nichol berjengkit kaget. "Jangan pernah sekali-sekali lo sebut nama itu!" Ujar Ruby penuh kegeraman, dengan air mata yang masih membasahi wajah nya. Ruby melangkah mendekat pada Nichol, menatap tajam cowok itu. "Satu lagi yang harus lo cam-min. Jangan berbicara tentang yang dulu. Karna apa pun tentang yang dulu, udah mati! Bukan hanya nama itu. Tapi juga Ruby. Ruby yang dulu, udah mati!" Kata-kata penuh penekanan itu berputar hebat di kepala Nichol, sukses membuat dunia nya seakan jungkir balik. Mata nya tanpa sadar memanas, menatap kecewa pada gadis yang tampak mengontrol nafas nya yang memburu, akibat amarah. "Jadi semua benar-benar udah hancur?" Tanya Nichol dengan bibir bergetar. "Trus untuk apa gue balik? Satu-satu nya alasan gue ke sini, karna lo. Karna gue ingin memperbaiki segala nya. Tapi ekspektasi gue salah, ternyata semua sudah berubah begitu jauh." Lanjut cowok itu dengan suara lirih, dan tercekat dengan air mata yang mulai mengalir. Ini adalah pertama kali nya, Nichol menangis di depan nya. Apa sesakit itu kah goresan luka yang di berikan nya? Lalu apa kabar dengan luka yang di rasakan nya selama ini? Apa Nichol peduli? "Jalanin hidup lo! Tanpa embel-embel masa lalu. Anggap gue emang gak pernah hadir dalam hidup lo!" Suara Ruby kali ini lebih terdengar tenang. Gadis itu mengusap eajah nya, dan berlaku menibggaljan Nichol yang mematung di tempat nya. Nichol menatap nanar kepergian Ruby. Dia lah yang telah merubah sahabat nya menjadi seperti itu. Andai dulu dia tidak pergi, dan tidak mengikuti keegoisan nya, mungkin semua tidak sehancur ini. Tapi semua telah terjadi, dalam takdir Tuhan. ☔☔☔☔☔
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN