Prinsip Tanpa Hati
Malam itu, di ruang bawah tanah markas Bratva Sokolov, udara terasa pekat bercampur bau besi karatan, darah, dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Cahaya lampu neon berkedip-kedip lemah, seolah enggan menerangi kenyataan kelam yang terjadi di sana.
Di tengah ruangan, Mikhail Romanovich Sokolov berdiri tegak dengan setelan hitam yang tetap rapi meski ujung sepatunya sudah terendam genangan darah. Wajahnya datar dan dingin, tak ada sedikit pun emosi yang tergambar di balik matanya yang abu-abu dan tajam.
Di hadapannya, seorang pria berusia sekitar 50 tahun terikat erat pada kursi besi yang kokoh. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka sayatan; darah terus mengalir dari lengan, d**a, dan pipinya. Pria itu menggigil hebat, bukan semata karena dingin, melainkan karena rasa sakit yang menyayat setiap serabut tubuhnya. Namanya Alexei Smirnov.
Di sisi kanan ruangan berdiri Dmitri Vladimirov, sepupu sekaligus tangan kanan Mikhail. Pria berambut cokelat keemasan dengan rahang tegas itu hanya diam menyaksikan, tangannya terlipat di d**a tanpa ekspresi apa pun.
"Sepuluh tahun kau bekerja untukku…" suara Mikhail terdengar rendah dan datar, namun setajam pisau kecil yang ia putar di jari-jarinya. "…dan sepuluh detik saja sudah cukup untuk menghancurkan semuanya."
Alexei mengerang, suaranya serak dan bergetar hebat. "Mikha… aku… aku tidak bermaksud—"
SRAAAT!
Pisau itu melesat cepat dan membelah kulit bahunya tanpa ragu sedikit pun. Jeritan Alexei menggema memenuhi ruang bawah tanah yang sunyi.
Mikhail tak berkedip sedikit pun. "Jangan panggil aku Mikha. Kau sudah tidak punya hak untuk itu."
Dmitri melirik sekilas, lalu kembali diam. Ia sudah terbiasa melihat sisi paling gelap sepupunya. Mikhail Romanovich Sokolov bukan pemimpin biasa, juga bukan sekadar bos mafia. Ia adalah gabungan antara api yang membakar dan badai yang menghancurkan dalam satu tubuh. Hidup telah mengajarkannya untuk tidak menggunakan hati, sebab baginya, hati adalah titik lemah yang paling mematikan.
"Kau menjual data pelabuhan Timur," lanjut Mikhail dengan nada tenang, seolah sedang membaca laporan rutin. "Data rute pengiriman senjata langka, lokasi penyimpanan misil jarak pendek, serta catatan transaksi dengan mitra di Asia."
Ia menunduk mendekat, menatap tepat ke mata Alexei yang sudah dipenuhi ketakutan. "Semua itu kau berikan pada Klan Volkov Bratva. Klan yang berani menembak mati dua puluh orang anak buahku, membakar gudang penyimpanan di utara, dan berambisi merebut wilayah Sankt Peterburg."
Mikhail mengusap darah yang menempel di bilah pisau dengan ibu jarinya, lalu menyentuh pipi Alexei perlahan dengan ujung senjatanya itu — gerakan yang terasa seperti belaian, namun justru membuat bulu kuduk merinding.
"Kau kira aku tidak akan tahu?"
Alexei menangis tersedu, tubuhnya bergetar tak terkendali. "Aku… aku tidak punya pilihan… Mereka mengancam keluargaku… Istri dan anakku…"
SRAAAT!
Pisau itu kembali turun, kali ini meluncur dari d**a hingga ke perut. Jeritan kesakitan Alexei kembali memecah keheningan.
"Keluargamu?" Mikhail mendekatkan wajahnya, suaranya berubah menjadi bisikan yang sedingin es. "Dan kau rela menukar nyawa dua puluh orang yang sudah mempercayaimu… demi keselamatan keluarga kecilmu sendiri?" Ia menyeringai tipis, tanpa sedikit pun rasa iba. "Lalu kau pikir keluargamu akan tetap hidup setelah pengkhianatan ini kau lakukan?"
Tangisan Alexei terhenti seketika. Matanya membulat terkejut. Pada detik itu juga ia sadar: ia bukan hanya akan mati, namun orang-orang yang dicintainya pun sudah dicoret dari daftar kehidupan.
Dmitri akhirnya bersuara pelan, memecah suasana yang mencekam. "Mikha… cukup."
Mikhail hanya menoleh sekilas menatap sepupunya. "Belum."
Satu kata itu saja sudah cukup membuat hawa ruangan kembali terasa membeku.
Tanpa peringatan, ia menyayat lengan Alexei, lalu menarik pisau itu turun secara perlahan. Setiap sentimeter dibuat terasa menyiksa, setiap gerakan dihitung agar rasa sakitnya mencapai puncaknya. Saat pisau berhenti, tubuh Alexei sudah sepenuhnya berlumuran darah, napasnya tersengal-sengal, dan kesadarannya mulai melayang.
Namun Mikhail belum selesai.
"Sirami dengan air garam," perintahnya dengan nada datar dan dingin.
Dua orang anak buah masuk membawa ember besar berisi cairan itu. Alexei meronta lemah sambil menangis, ketakutan tergambar jelas di seluruh wajahnya. "Jangan… tolong… ampun…"
Segera setelah itu, seember air garam dituangkan membasahi seluruh luka di tubuhnya. Jeritan kesakitannya memantul berulang kali di dinding beton yang keras.
Saat Alexei akhirnya lemas dan nyaris pingsan, Mikhail melangkah mundur, lalu menyerahkan pisau berdarah itu kepada salah satu anak buahnya. Ia melepas sarung tangan kulitnya dan melemparkannya begitu saja ke lantai yang basah.
"Di rumah ini tidak ada tempat untuk tikus pengkhianat," ujarnya sambil menatap tubuh Alexei tanpa belas kasihan. "Masukkan ke dalam peti."
Dua orang lainnya mengangkat tubuh Alexei yang hampir tak bernyawa itu dan memasukkannya ke dalam peti kayu yang panjang. Mikhail mendekat sekali lagi, menatapnya untuk terakhir kalinya.
"Kirimkan ke markas Klan Volkov Bratva. Letakkan petinya tepat di depan pintu utama mereka."
Anak buahnya mengangguk patuh. Peti itu ditutup dengan bunyi BRAK yang keras, lalu dibawa keluar ruangan.
Dmitri menatap sepupunya. "Apakah kau sudah puas?"
Mikhail menatap noda darah yang melebar di lantai. "Belum."
Ia berjalan menuju pintu keluar. "Ini baru permulaan."
Sesaat kemudian, ia masuk ke dalam lift yang akan membawanya naik ke ruang kerja utama di lantai atas.
Pintu ruang kerja terbuka, menampakkan ruangan luas yang menjadi pusat kendali seluruh kekaisaran gelap milik Bratva Sokolov. Ruangan itu diterangi cahaya kebiruan yang memancar dari puluhan monitor besar yang terpasang rapi di dinding. Layar-layar itu memantau segala aktivitas: dari gudang penyimpanan senjata, pelabuhan, hingga pabrik pengolahan logam tempat mereka memodifikasi persenjataan agar lebih mematikan. Termasuk pula jalur kereta barang yang mengangkut logistik ke berbagai kota.
Di sisi lain ruangan, deretan monitor khusus menampilkan arus perputaran uang yang mengalir melalui perusahaan pelabuhan, klub malam, kasino, hingga jaringan ekspedisi yang mereka gunakan untuk menyamarkan asal kekayaan mereka.
Mikhail berjalan menuju kursi besar di ujung ruangan, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan lelah. Ia menghela napas panjang, lalu meraih gelas berisi wiski bourbon yang sudah tersedia di atas meja.
Setiap kali ia selesai berurusan dengan pengkhianat, pikirannya selalu ditarik kembali ke satu hari yang tak pernah bisa ia hapus dari ingatan. Hari yang menanamkan prinsip keras yang sampai saat ini masih ia pegang teguh.
Mikhail memejamkan matanya. Dan seperti biasa, kenangan masa lalu itu datang menghampiri tanpa perlu dipanggil.
**~ Flashback ON ~**
Saat itu ia baru saja pulang sekolah. Mikhail kecil berlari melewati halaman depan mansion Bratva Sokolov dengan langkah penuh semangat seperti biasa.
"Mommy, aku pulang," panggilnya sambil membuka pintu depan.
Tidak ada jawaban.
"Mommy?" panggilnya lagi.
"Daddy?"
Ia menunggu, tapi tetap tidak ada suara yang menyahut.
Mikhail kecil melangkah lebih dalam. Ia melewati ruang tamu, melongok ke ruang keluarga, lalu menengok ke ruang makan. Namun tak ada seorang pun yang terlihat. Bahkan para pelayan yang biasanya sibuk berlalu-lalang pun lenyap.
Mansion yang biasanya terasa hidup dan hangat, kini terasa seperti rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
Ia menelan ludah. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menjalar perlahan di dadanya.
"Mommy..." suaranya mulai bergetar. "Daddy... aku pulang..."
Ia terus memanggil sambil menyusuri koridor panjang dan membuka setiap pintu ruangan yang dilewatinya.
Hingga akhirnya langkah kakinya terhenti di depan pintu ruang kerja ayahnya. Biasanya pintu itu tertutup rapat, bahkan sering terkunci. Namun kali ini, pintu itu terbuka sedikit, menyisakan celah gelap.
Mikhail mengangkat tangan kecilnya, mendorong pintu itu perlahan sambil kembali memanggil, "Daddy...?"
Pintu bergeser terbuka.
Dan pada detik itu, seluruh dunia masa kecilnya hancur berkeping-keping.
Lantai marmer di depan meja kerja besar itu dipenuhi genangan darah. Ibunya tergeletak bersimbah darah, gaun cantiknya robek di beberapa bagian, dan tubuhnya dipenuhi bekas luka tembak. Mata yang biasanya memancarkan kelembutan dan kehangatan itu kini menatap kosong ke langit-langit ruangan.
"Mommy..." suara Mikhail pecah seketika.
Di samping tubuh ibunya, terbaring pula orang kepercayaan ayahnya—pria yang sering ia panggil Paman. Mikhail sangat mengenalnya. Lelaki itu yang dulu mengajari ia bela diri, cara menembak, hingga memanah. Orang yang pernah tertawa dan bermain bersamanya di halaman belakang rumah.
Kini tubuh pria itu terkapar tak bergerak, dan kepalanya yang seharusnya menempel di leher sudah tidak berada pada tempatnya lagi.
Mikhail membeku di tempat. Lututnya terasa lemas seketika. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan atau kendalikan.
Dengan susah payah, ia mengangkat wajah dan menatap ke balik meja kerja. Di sana, ayahnya duduk tegak di kursi besar. Roman Petrovich Sokolov.
Wajah Roman terlihat pucat pasi, matanya kosong dan hampa, seolah seluruh jiwanya sudah ikut mati bersama orang-orang yang tergeletak di lantai itu.
Mikhail menyeret kakinya mendekat sambil menahan isak tangis yang ingin meledak.
"Daddy..." suaranya serak, kecil, dan nyaris tak terdengar. "Mommy kenapa...?"
Roman menoleh perlahan, menatap putra semata wayangnya. Ada sesuatu yang hancur di balik tatapan itu—sesuatu yang bahkan Mikhail kecil bisa rasakan, meski belum sepenuhnya mengerti maknanya.
Lelaki itu berdiri perlahan.
Langkahnya terasa berat saat melangkah mendekat, lalu berlutut tepat di hadapan putranya.
"Mikhail..." suara Roman terdengar pelan dan parau. "Ibumu telah mengkhianatiku. Bersama orang yang paling aku percayai sekalipun."
Mikhail menggeleng keras, air matanya jatuh semakin deras membasahi pipi.
"Tidak... Mommy tidak mungkin melakukan itu, Daddy..."
"Aku sangat mencintainya," lanjut Roman seolah tidak mendengar bantahan putranya. "Aku berikan segalanya untuknya: rumah ini, perlindungan, kekuasaan, dan apapun yang ia inginkan. Tapi dia..." Ia menarik napas panjang sambil melirik sekilas ke arah tubuh istrinya. "Dia memanfaatkan kepercayaanku. Dia menjual informasi rahasia kepada musuhku, dan melakukannya bersama orang kepercayaanku sendiri."
Mikhail belum sepenuhnya paham apa arti kata-kata ayahnya. Ia hanya memegang erat ujung kemeja Roman, suaranya bergetar hebat. "Daddy... hentikan... jangan bicara begitu... Mommy orang yang baik..."
Roman mengusap puncak kepala putranya dengan lembut. Sentuhannya terasa halus, namun tatapan matanya tetap dingin dan kosong.
"Dengarkan baik-baik, Mikhail."
"Tidak..." Mikhail menggeleng lagi, kali ini lebih keras. "Aku tidak mau dengar..."
"Mulai hari ini," suara Roman mendadak menajam dan tegas, memotong kalimat anaknya, "jangan pernah gunakan hatimu dalam mengambil keputusan. Sekali saja kau membiarkan perasaan memimpin, maka kau akan hancur persis seperti aku sekarang."
Mikhail terisak keras. "Daddy..."
"Jangan percaya pada wanita. Jangan percaya pada siapa pun. Manusia tidak akan pernah merasa puas. Aku sudah memberikan segalanya pada ibumu, tapi lihatlah akhirnya. Dia tetap berkhianat, merusak kepercayaanku... dan menghancurkan segalanya."
Roman berdiri kembali. Tangannya terulur meraih pistol yang tergeletak di atas meja. Mikhail menatap dengan bingung dan ketakutan, namun kakinya terasa terpaku tak sanggup bergerak.
Pistol itu diangkat perlahan, dan moncongnya diarahkan tepat ke pelipis kepala Roman sendiri.
"Daddy..." kali ini suara Mikhail nyaris tidak keluar dari tenggorokannya.
Roman menatap putranya, dan untuk sesaat, terlihat sisa kehangatan yang tersisa di matanya—sebuah bayangan lembut seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya, meski caranya terasa keliru dan menyakitkan.
"Daddy menyayangimu, Mikhail." Senyumnya terukir tipis, namun terasa begitu getir dan menyedihkan. "Suatu hari nanti, kau akan menjadi pemimpin yang jauh lebih kuat dariku. Tapi ingat satu hal: jangan pernah membiarkan hatimu menguasaimu. Jika tidak, kau hanya akan menjadi orang bodoh sepertiku."
Lalu...
DORR!
Suara tembakan keras menggema memenuhi seluruh ruangan.
Tubuh Roman terjatuh lemas ke lantai, berguling di antara genangan darah yang sudah ada.
Mikhail menjerit histeris. Ia terjatuh berlutut, kedua tangannya buru-buru menutup telinga.
Ia ingin bangun, ingin lari menjauh. Namun tubuhnya terasa lumpuh. Ia hanya bisa duduk terisak di tengah ruangan yang kini penuh dengan bau kematian dan kesedihan.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerja terbuka perlahan. Seorang pria tua melangkah masuk.
Nikolai Sokolov.
Kakeknya.
Ia melirik sekilas ke arah tubuh anak dan menantunya tanpa menampakkan ekspresi apa pun. Lalu pandangannya jatuh pada sosok kecil yang menggigil ketakutan di tengah ruangan.
Mikhail.
Tanpa banyak bicara, Nikolai melangkah mendekat, lalu mengangkat tubuh cucunya yang basah oleh air mata dan keringat. Mikhail meronta lemah, tangannya masih berusaha meraih tubuh ayah dan ibunya yang tergeletak tak bernyawa.
"Mommy... Daddy..."
"Jangan dilihat lagi," suara Nikolai terdengar datar dan dingin. "Kau sudah melihat cukup banyak hal untuk usiamu."
Ia menggendong Mikhail keluar dari ruangan itu. Pintu ruang kerja Roman tertutup perlahan di belakang mereka, menelan seluruh jejak darah, suara tangis, serta kehangatan terakhir yang pernah dimiliki keluarga Sokolov.
**~ Flashback Off ~**
Mikhail kembali membuka matanya, lalu mengembuskan napas panjang. Ia meneguk sisa minuman Bourbon di gelasnya hingga tandas tak tersisa setetes pun.
“Jangan gunakan hatimu."
Kalimat itu terus berputar dan berdengung keras di dalam kepalanya. Satu-satunya pesan yang melekat, sekaligus warisan paling utuh yang pernah ia terima dari ayahnya.