#10 Kenyataan Yang Mengejutkan

826 Kata
Mereka diam seribu bahasa. berusaha mencerna informasi yang diberikan oleh dokter. Sebuah berita mengejutkan dan tidak dapat dipercaya, namun nyata. "Ma..ma..maksudnya dokter?" dengan terbata Sean bertanya kembali, memastkan kalau pendengarannya salah. "Kecurigaan saya ada tumor di lambungnya, namun saya baru bisa memastikan hal itu besok setelah hasil CT Scan selesai. Mudah-mudahan hanya lemak saja yang dapat larut jika mengkonsumsi obat dengan teratur." kembali dokter menjelaskan. "Baiklah dokter, terima kasih atas waktunya" ujar Handoko dan mengajak Sean keluar ruangan. Mereka duduk di cafe shop untuk membahas mengenai langkah selanjutnya sekaligus menenangkan diri sebelum bertemu Shiela. "Sean, apakah kamu serius mencintai Shiela?" tetiba Handoko bertanya. Dipandang sepasang mata Sean dalam dalam, dia hanya ingin memastikan agar dapat memutuskan yang terbaik untuk putrinya. "Jika diminta untuk menikahi Shiela saat ini Sean bersedia om" jawab Sean dengan tegas. Memang demikan adanya, Sean sungguh sungguh mencintai Shiela. "Saya mencintai Shiela dengan segenap jiwa dan raga saya. Dan Sean berjanji akan membahagiakannya sampai maut memisahkan kami om." lanjut Sean. Kalimat yang menyentuh setiap hati yang mendengarnya. "Baiklah, cukup mendengar kesungguhan kamu. Saya tidak memaksakan Shiela menikah dengan siapa. Saya serahkan keputusan ini ditangannya. Namun alangkah baik jika calon suami Shiela adalah kamu." Ucap Handoko sambil menepuk pundak Sean puas. "Yuk, kita kembali ke kamar. Shiela pasti resah menunggu kita. Tapi sebaiknya ucapan dokter tadi kita simpan dulu sampai ada informasi yang pasti." Sean mengangguk, dia pun setuju dengan keputusan Handoko. dijawab Sepanjang hari itu, Sean tetap di rumah sakit menemani Shiela. Dipandangi wajah Shiela yang tertidur lelap. Sepertinya Shiela kelelahan karena dari tadi banyak teman teman kantor menjenguknya. Termasuk Mila. Sean mulai merasa risih dengan perlakuan Mila kepadanya, apalagi jika ada Shiela bersama mereka. Entah itu menyapanya dengan "Sayang", atau memeluk lengannya dengan manja. Sesekali Sean melirik wanitanya, wajah Sheila datar tanpa ekspresi dan itu menandakan jika Shiela sudah pada titik tidak perduli. Suatu pertanda tidak baik. Sean berjanji pada dirinya sendiri untuk mengutarakan keberatannya pada Mila begitu ada kesempatan. "Sean" panggil Handoko ketika dilihat Sean baru saja masuk ke kamar Shiela. Menjelang sore hari dia baru dapat menemani Sheila kembali setelah seharian menghadiri pertemuan dan menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang tertunda. Handoko memberi isyarat untuk mengikutinya keluar kamar. Setelah menyapa Shiela sebentar, diikuti langkah pria setengah baya itu ke cafe shop. Sepertinya ada hal yang penting yang ingin dibicarakan Handoka padanya. "Dokter tadi sudah menjelaskan mengenai hasil CT Scan Shiela. 80% sepertinya ada tumor bersarang di lambung Shiela. Kira kira 2 cm besarnya. Dokter menyarankan untuk menunggu dan melihat beberapa bulan kedepan. Jika ukuran tumor membesar harus dilakukan tindakan" Handoko menceritakan hasil yang baru dijelaskan oleh dokter. Setelah selesai, dia menarik napas panjang lalu menghirup kopi hangat dari cangkirnya. Sean tertunduk lemas mendengar berita buruk tersebut, sejak kemarin dia berharap kalau dokter telah salah mendiagnosa "Apakah Shiela sudah tahu om?" tanyanya. Handoko menggelengkan kepalanya. "Om belum menceritakan ke siapapun selain kamu. Om masih menimbang langkah yang sebaiknya ditempuh" "Sebaiknya kita jangan beritahu Shiela om" saran Sean. "Hal ini akan menambah beban pikirannya, tidak baik bagi kesehatan Shiela." tambah Sean. Handoko menganggukan kepalanya tanda setuju. "Yah, memang benar. Saat ini kesehatan Shiela lebih penting." gumamnya. "Baiklah, keputusan sementara seperti ini dulu saja, kita lihat perkembangan selanjutnya. Mari kita balik ke kamar dulu, Shiela pasti mencari kamu" ajak Handoko. Dokter memberikan ijin kepada Shiela untuk dirawat di rumah asalkan Shiela banyak istirahat dan makan dan minum teratur sambil menunggu jadwal test selanjutnya. Sementara Shiela hanya diperbolehkan makan makanan yang lunak dan tidak berlemak karena lambungnya masih belum sembuh total. Ya, kadang Shiela masih merasakan nyeri diperutnya seperti dipukul rasanya bahkan jika sedang kambuh, Shiela tidak bisa bangun dari ranjang dan merintih sepanjang hari. Hampir setiap hari Sean membesuk Shiela sepulang kerja. Seperti hari ini, dibawanya seikat bunga Lily kesukaan wanita itu. Selum masuk kamar Shiela, Sean sudah meminta Tante Tini vas bunga untuk meletakan bunga itu didalam kamar Shiela. Perlahan Sean membuka perlahan pintu kamar Shiela. Dilihatnya Shiela duduk di depan kaca, rupanya baru selesai mandi. Shiela menyisir rambutnya sambil tersenyum melihat siapa yang datang. "Cantik sekali bunganya?" ucap Shiela sambil bangun dan mendekati Sean. "Lebih cantik kamu dibanding dengan bunga ini sayang." ujar Sean sambil mencium kening Shiela. Beberapa hari ini Sean memang selalu bicara penuh dengan kelembutan seakan mereka sudah resmi pacaran saja. Padahal sampai detik ini Shiela belum memberikan jawabannya. Tetapi, hati Sean sudah dapat memastikan jika Shiela masih mencintainya namun ragu dan takut untuk mengutarakan perasaan hatinya. "Ah...gombal kamu Sean." kata Shiela sambil mencium bunga Lily dan meletakan bunga itu dimeja dekat televisi. "Sean" panggil Shiela. "Sini, duduk disampingku" sambil menepuk sofa disebelahnya, wajahnya berubah menjadi serius."Barusan Mila meneleponku. Dia memintaku untuk melepasmu atau Mila akan mengulangi perbuatannya setahun yang lalu." ucap Shiela, perlahan namun cukup membuat Sean terkesiap. "Boleh aku tahu apa yang terjadi?" Sean menatap ragu padanya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menambah beban pikiran Shiela. Dan, dia geram dengan Mila yang dengan lancang meminta hal itu pada wanita ini, disaat dia tengah berjuang untuk hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN