Sean terkejut mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Shiela. Memang dia tidak bermaksud untuk merahasiakan kejadian yang dialami Mila setahun yang lalu, tapi sekarang bukan saatnya. Sekarang adalah waktunya berkonsentrasi menyembuhkan penyakit Shiela.
Shiela tidak boleh banyak pikiran dan stress, karena hal itu akan memicu tumor di lambungnya, itu saran dari dokter. Namun sekarang Mila mulai meneror Shiela untuk meninggalkan Sean bahkan sampai mengancam akan mengulangi kejadian setahun yang silam.
"Hmm..apakah kamu benar benar mau tau? Itu...sebenarnya tidak penting untukmu Shiel, sekarang yang terpenting kamu harus cepat sembuh." bujuk Sean dengan harapan Shiela berubah pikiran.
"Aku sudah lebih baik Sean, rasanya aku akan sanggup mendengarnya sekarang." ucap Shiela tetap pada keinginannya."Iam Listening now." Diselip rambutnya kebelakang telinga dan menegakkan duduknya.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk tidak terpengaruh dan kembali menjauhiku. Promise?" tanya Sean. Dia tidak mau Shiela kembali menghilang seperti tiga tahun lalu. Keraguan mulai menyergapnya, dia sangat mengenal Shiela dengan baik. Wanita itu rela berkorban demi orang lain. Dan, sifat itulah yang sekarang dimanfaatkan oleh Mila.
Shiela hanya diam dan menunggu tidak ada niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Sean.. dia merasa perlu mengetahuinya sebelum mengambil keputusan. Sebenarnya Shiela sudah tahu penyakitnya ketika tidak sengaja mencuri dengar obrolan kedua orang tuanya. Awalnya dia sudah dapat menduga, penyakitnya bukanlah penyakit biasa mengingat dia harus menjalani serangkaian test di rumah sakit.Memiliki Tumor di lambung Tumor di lambung seakan menyiman bom waktu di dalam tubuhnya. Sewaktu waktu bisa meledak dan tamatlah riwayat hidupnya. Pengobatan yang ada hanyalah kemoterapi atau operasi pengangkatan. Dimana kedua pilihan itu sama sama memiliki resiko yang besar.
Sean menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Kira kira setahun yang lalu, Mila mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan satu botol obat tidur. Untungnya Mila cepat ditemukan dan nyawanya tertolong. Fisiknya mungkin sudah sembuh, tapi secara psikis tidak. Beberapa kali dia melakukan percobaan bunuh diri." cerita Sean dengan tatapan tetap pada wajah cantik Shiela. "Mila meninggalkan surat wasiat untukku sebelum melakukan percobaan bunuh diri pertama kali, isinya mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpaku dan akan mengakhiri hidupnya jika aku tidak bersamanya."
"Selama ini aku berusaha semampuku menjadi teman, sahabat atau sejenisnya. Mila tidak pernah minta lebih, ehem...maksudku meminta aku sebagai kekasihnya. Dia hanya kesepian karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja." kata Sean. "Semenjak Mila bekerja, sikapnya berubah menjadi lebih baik. Mungkin dengan kesibukannya dikantor membuat Mila tidak terlalu memikirkan obsesinya padaku. Mila tidak terlalu sering lagi mengganggu ku dengan telepon teleponnya dimalam hari dan merengek untuk ditemani ketika weekend, sepertinya dia sudah cukup banyak teman yang menemaninya."
Lama Sean menunggu komentar Shiela sambil menerka apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Shiela membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahami perasaannya ketika mendengar cerita dari Sean. Di satu sisi dia menaruh rasa kasihan pada Mila, disisi lain Shiela dengan egonya merasa benci dengan Mila karena selalu mencari gara gara dengannya. "Hm.. begitu toh ceritanya" gumam Shiela. "Lalu sekarang apa yang yang akan kau lakukan Sean?" tanya Shiela, lembut namun tegas.
Sean menggelengkan kepalanya, "Aku belum tahu Shiela, menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Shiela sangat mengerti posisi Sean yang serba salah. Pada dasarnya Sean adalah seorang pria yang lembut. Dia tidak suka keributan, menurutnya semua masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin. Apalagi jika menyangkut nyawa sesorang,
"Apakah pernah terbesit dalam pikiranmu untuk menjadikan Mila kekasihmu?" raut wajah Shiela berubah serius.
"Tentu tidak pernah Shiel!" seru Sean, "Tidak pernah sedetik waktu dalam hidup ini memikirkan hal itu. Selama ini aku hanya membantu Mila murni sebagai teman, sahabat. Sejak kamu menghilang tiga tahun yang lalu, aku terus berharap kamu akan kembali, seperti sekarang ini." jelas Sean. Benar saja dugaan pria itu, Shiela salah paham dengan kebaikannya pada Mila. Dia harus meluruskan
Sean meraih tangan Shiela dan menggenggamnya erat, "Percayalah Shiel, aku mencintaimu. Jangan pernah meragukan hal itu." matanya menatap Shiela dalam dalam.
"Benarkah? Bisakah kau menjamin tidak akan mengecewakanku? Setia padaku dengan masa lalu diriku yang kelam?" nada suara Shiela penuh penekanan.
"Aku bersumpah, hanya kebahagiaan yang akan kuberikan untukmu."
Shiela mencoba mencari keraguan dalam manik mata pria yang telah berkali kali menyatakan cintanya. Pria yang telah sabar menunggu jawaban Shiela yang tak kunjung datang. Sekian detik mereka saling beradu pandang, tatapan menyelidiki Shiela kini perlahan mulai sirna. Sesungguhnya dia sudah lama meraskan kesungguhan hati Sean, merasakan betapa pria itu mencintainya, tetapi Shiela merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya yang dia sendiripun tidak tahu apa alasannya.
"Sean, aku percaya dengan semua ucapanmu. Tetapi, apakah kamu yakin setelah ini kita bisa tetap bersama? Penyakit ini...."
"Sstt...asalkan disini" Sean menyentuh pelipisnya lalu turun menepuk dadanya "dan disini" Sean tersenyum hangat "selalu yakin akan sembuh, maka Tuhan akan membantu kamu melewati cobaan ini."
Sean memeluk tubuh mungil Shiela lalu menghirup wangi rambut perempuan yang selalu mengisi hatinya "Aku cinta kamu Sheila...dan apakah kamu juga mencintaiku hmm..." Dia mengurai pelukan mereka lalu menatap Shiela. Sean butuh kepastian yang keluar dari bibir Shiela walaupun hati kecilnya sudah yakin jika wanita ini juga mencintai dirinya.
"Aku mencintaimu Sean...sejak kita bersama dulu, tidak berkurang hingga sekarang" ucap Shiela dan disambut dengan ciuman lembut pada bibirnya.
Berlalu sudah dua bulan dan tiba saatnya Shiela untuk melakukan pemeriksaan kembali akan tumornya. Hari ini, dengan ditemani kedua orang tuanya dan Sean tentu saja, mereka bertemu dengan Dokter Roni untuk mendengar hasil CT Scan terbaru Shiela.
"Bagaimana kabarmu hari ini Shiela?" tanya Dokter Roni membuka pembicaraan.
"Baik Dokter, hanya kadang suka kambuh, seperti dililit perut ini" jelas Shiela sambil menunjukkan sisi perutnya bagian samping.
"Apakah obat kamu dimakan secara teratur?" tanya Dokter lagi. Dijawab dengan anggukan Shiela.
"Baiklah, nanti kita cek kondisi kamu. Mari kita lihat apa hasil CT Scan kemarin."
Dokter membuka amplop hasi CT Scan dan mulai membaca. Dahinya berkerut, menandakan tengah berpikir. Harapan untuk mendengar kabar gembira sedikit demi sedikit hilang, Shiela mengeratkan genggaman tangannya pada Sean.
"Maaf kan saya, dari hasil CT Scan ditemukan perkembangan tumor di lambung Shiela. Selama 2 bulan ini tumor itu tumbuh membesar, sekarang ukurannya kurang lebih 2,3 cm."
Shiela terlihat begitu tegar mendengarnya. "Lalu menurut Dokter Roni, pengobatan apa yang harus saja jalankan untuk mengalahkan tumor ini? tanya Shiela.
"Hm..saya bisa merekomendasikan kamu ke Dokter Onkologis di Singapura. Dokter Mathew adalah dokter yang berpengalaman menangani penyakit ini. Sudah banyak pasien yang sembuh ditangannya. Apalagi tumor kamu masih tahap awal. Have faith Shiela."ujar Dokter Roni.
Tanpa menunggu persetujuan kedua orang tuanya, Shiela mengangguk menyetujui rekomendasi Dokter Roni. Kemudian Dokter Roni menulis surat pengantar. Diserahkan surat itu ke tangan Shiela "Dokter Mathew sudah beberapa kali berhasil menyembuhkan penyakit yang sama sepertimu, oleh karena itu saya merekomendasikan beliau."
Shiela mengangguk, "Terima kasih Dokter, kami akan segera mengatur jadwal untuk menemuinya". Dia telah bertekat untuk melawan hingga titik darah pengabisan. Shiela memiliki harapan untuk dapat menua bersama Sean dan melihat anak anak mereka tumbuh dewasa.
Mila sudah mengetahui kabar Shiela dan penyakitnya. Terbesit rasa kasihan, tentu saja Mila masih memiliki perasaan empati. Tetapi tidak dapat dihindari jika ia merasa senang dan berharap dirinya memiliki waktu untuk meraih hati Sean yang terasa semakin jauh. Harapan dan cintanya pada lelaki itu semakin lama semakin besar.
Sementara itu Amy dan Joni sangat sedih dan khawatir dengan kesehatan sahabat mereka. Minggu pagi, mereka berdua datang berkunjung ke rumah Shiela sekedar menemani sahabat mereka Sudah lebih dari dua jam mereka sedang berbincang bincang di taman belakang, menikmati sinar matahari pagi yang hangat dan camilan yang disuguhkan Mami Shiela.
"Shiel...." panggil Amy. "I'm so sorry ..." tak sanggup melanjutkan kalimatnya.."Ahh...gue sayang banger sama lo Shiel...apa yang bisa gue bantu buat meringankan beban lo?" tanya Amy dalam hati.
"It's ok Amy..."sahut Shiela. "I'm Ok, I will survive, just pray for me" pinta Shiela.
"Off course lahh Shiela, kita bedua pasti doain lo supaya bisa memenangkan perang ini. Gak perlu diminta kok... Sukarela..."canda Joni. Mereka tertawa dan berbincang bincang sampai tiba tiba ada tamu tidak diundang datang menjenguknya.
Ternyata pagi itu Mila datang bersama Sean. Amy dan Joni tampak terkejut, tak disangka Sean tega dan tidak berperasaan dengan membawa Mila menjenguk Shiela.
"Hallo Shiela...kelihatannya kamu baik baik saja yah.." uar Mila sambil memberikan sekeranjan buah buahan kepada Shiela. "Cepat sembuh yah...makan makanan yang bergizi dan buah-buahan ini." lanjutnya.
"Terima kasih Mila, silahkan duduk" Shiela mempersilahkan Mila duduk. "Sini Sean, duduk disampingku" ajak Mila dengan suara manjanya. Shiela hanya tersenyum saja menanggapi tingkah Mila....saat ini dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawannya. Namun dia percaya jika Sean adalah miliknya.