Jangan Manjakan Istrimu!
Krukkkkh...
Terdengar bunyi khas dari perutku. Aku tersadar, hari telah menjelang siang. Aku belum juga makan.
Astaga, ini berbahaya untuk janin di perutku. Aku meninggalkan adonan kue yang sudah kukerjakan sedari pagi.
Berjalan menuju rak piring. Mengambil satu dan mulai mengisinya dengan nasi.
Kubuka tudung.
Hmm ...!
Harum semerbak aroma kari ayam menggugah seleraku.
"Kiara, karii yang ini buat Megan, Kiara!. Kau tahu, Megan caoek kerja. Sebentar lagi dia akan pulang. Pasti lapar. Kan kasihan." Tutur Bu Farah sembari menarik kembali kari ayam itu dari hadapanku, lalu menyimpannya ke dalam lemari.
Astaga...
Pupus sudah harapanku untuk makan kari ayam yang menggugah seleraku tadi.
Aku menelan ludah.
Seketika selera makanku hilang. Menyaksikan lauk yang tersisa hanyalah sisa lauk kemarin.
"Nasib, nasib. Nasib menumpang hidup di rumah mertua." Aku membatin.
Dengan langkah lunglai aku menuju kamar. Membaringkan tubuh dan memejamkan mata, berharap lupa akan kari ayam tadi.
Ku elus perutku yang membesar.
"Maafkan Ibu Nak! Jikalau kau tak mendapat kebahagiaan semasa di perut, semoga saja kau bisa hidup nyaman dan layak seusai terlahir ke dunia," aku berharap.
"Kiara...!"
Berteriak lagi tuh mulut Bu Farah.
"Adonan kue belum selesai. Ingat, Kiara. Kalau bekerja itu jangan setengah-setengah. Selesaikan dulu satu-satu, baru kerjakan yang lain. Ini boro-boro. Malah tiduran. Hamil itu jangan terlalu di manja. Semua wanita juga pernah hamil kok. Tapi tidak segitu juga manjanya."
Kebiasaan. Kalau mengomel, Bu Farah tidak tanggung-tanggung. Berderet-deret panjang hingga seperti gerbong kereta api.
"Maaf, Bu. Saya kecapean. Mau istirahat sebentar." Jawabku.
Krieet...
Pintu kamarku terbuka.
"Ck... ck ... ck ...! Ini rupanya. Tiduran..! santai sekali kerjaanmu. Lihat sana, kerjaanmu belum selesai sama sekali," ocehnya lagi.
"Maaf, Bu. Aku juga butuh istirahat. Benar-benar capek aku, Bu."
"Memangnya capek ngapain ajah? Baru mengolah adonan segitu. Udah ngelu aja kerjaannya.
Tin... Tin...
Terdengar suara klakson sepeda Motor Mas Galih pulang kerja.
Buru-buru Bu Fatiah keluar.
Tidak kupedulikan Mas Galih. Aku tetap berbaring. Tubuh ini benar-benar penat dan letih.
Sebentar kemudian, Mas Galih muncul.
"Istirahat, Dek?" Tanyanya.
"Iya, Mas. Aku capek." Jawabku.
Syukurnya mulut Mas Galih tudak menurunkan sifat sang Ibu.
"Ya, istirahatlah. Mungkin Adek memang kecapean. Lagian pula, untuk kesehatan bayi kita juga. Wanita hamil memang jarus cukup beristirahat," ujarnya.
Mertuaku yang berdiri di ambang pintu nampak bersungut-sungut.
Aku tidak tahu apakah Mas Galih sadar akan arti sungut Bu Farah atau tidak, ketika kudengar suara Mas Galih berujar, "Tidak apa-apa, Bu. Sesekali Kiara tidur siang. Kan penting juga buat wanita hamil," ucap Mas Galih lagi.
Tanpa bicara, Bu Farah melangkah keluar dengan wajah suram.
***
"Galih, entah berapa kali ibu harus bilang sama kamu, Kiara itu jangan terlalu dimanja. Ngelunjak dia nanti. Lihat! Coba kau lihat! Itu pekerjaan ibu," Bu Farah menunjuk ke arah adonan-adonan kue yang tadi di kerjakan oleh Kiara.
Perlahan Bu Farah mendekati adonan kue dan mengulek-ulek. Padahal sedari pagi itu adalah pekerjaan Kiara.
"Sedari pagi ibu bekerja, bersusah payah. Membuat kue sendiri. Agar apa? Agar busa berhemat. Supaya bisa menghemat uang untuk acara pernikahan Cindi nanti," ucap Bu Farah.
"Sedangkan istrimu, kau tahu? Sedari pagi tiduran mulu kerjaannya. Tidak mau untuk sekedar membantu ibu di dapur," sambung Bu Farah lagi.
"Mungkin Kiara sedang capek, Bu. Namanya saja wanita hamil." Balas Mas Galih lagi.
"Apaa?"
"Nah itu dia kesalahanmu. Mau apa saja yang Kiara lakukan, kau selalu saja membelanya. Mengulur-ulur semua kelakuannya. Padahal istrimu itu sangat tidak menghargai ibu," tutur Bu Farah dengan raut muka masam.
"Maaf, Bu. Bukan maksud saya untuk mengulur-ulurkan kelakuannya dan tidak pula untuk memanjakannya," ujar Galih memberi tanggapan.
"Lalu apa tujuanmu coba? Selalu saja membela dia dari ibu? Padahal kau tahu aku ini ibu kandungmu. Ibu yang telah melahirkanmu,"
"Sekarang kau berani membantah ibu hanya karena perempuan d***u itu? Wanita yang baru saja kau nikahi kemarin sore? Terlalu naif apabila kau berpikir tingkahmu itu benar," ujar Bu Farah lagi dengat sungut wajahnya yang semakin membenci.
Fyuuuuh...
Galih menghembuskan nafas lelah. Ia merasa lelah dan serba salah menimbang antara istri dan ibunya. Perkataan ibu ada benarnya juga, ucapan istri juga demikian.
"Ibu sarankan agar kamu berhati-hati, Nak. Siapa tahu kau telah memakan ramuan pemikat yang dibuat oleh istrimu. Kau tidak sadar Galih? Sekarang kamu lebih tunduk dan patuh pada istrimu daripada sama ibumu ini," ucap Bu Farah berusaha menghasut hati anak lelakinya agar membenci istri sendiri.
"Padahal kau tahu, surga seorang anak lelaki ada pada ridho ibu. Sedangkan ridho istri terletak pada suami. Nak, kembalikan kodratmu sebagai suami. Jangan mau di injak-injak sama istri. Apalagi hidup di kendalikan oleh istri. Istri seperti Kiara lagi. Mana manja, cengeng lagi. Salahmu dulu memilih perempuan itu," lanjut Bu Farah.
"Padahal sebelumnya ibu sudah bilang, kalau wanita itu tidak akan bisa membawa kebahagiaan. Hidup susah, manja, sekolah cuma tamatan SMA, pengangguran pula. Lengkap sudah kekurangan Kiara. Apa kau rela dikuasai wanita seperti dia?" Bu Farah semakin emosi.
"Bu, tadi kan masalahnya tidak kearah sana, Bu. Tapi cuma sebatas Kiara ingin beristirahat. Kok sekarang bicara Ibu merambat kemana-mana?" Galih bicara dengan raut muka yang kurang berkenan.
"Ibu bukan bermaksud merambat-rambat. Tapi apa yang ibu ucapkan sungguh memang kenyataan. Bukan mengada-ada. Kamu yang ajah yang b*doh. Mau saja di manfaatkan wanita seperti itu, seharusnya kau sadar, Galih, Kiara cuma mau uangmu saja," Bu Farah berujar dengan muka masam.
"Kiara bukannya mau memanfaatkan Galih, Bu. Tapi kalau uang jatah dia, itu memang pantas ia terima. Jumlahnya juga tidak seberapa dibanding sama uang yang kuberikan sama Ibu." Jawab Galih.
"Apaa ...? Kau bilang pantas? Pantas darimananya? Wanita penjilat seperti dia kau bela mati-matian? Dan menentang ibumu yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan kamu ke dunia ini? Ck ck ck... Hebat kamu sekarang, Galih. Hebaat ...! Berani berucap kasar sama ibu! Rupanya Kiara telah berhasil menundukkan hatimu." Bu Farah nampak sangar dan marah.
"Awas saja Kiara...!" Langkah kaki Bu Farah menuju ke kamar Kiara.
Melihat hal itu, cepat-cepat Galih mencegat langkah ibunya.
"Bu, tolong jangan ganggu tidur Kiara!" Galih menggenggam tangan ibunya.
Bu Farah menghembuskan nafas panjang.
"Galih, kau begitu takut ibu mengganggu tidur istrimu! Sedangkan kau tidak mengatakan apa-apa ketika istrimu memperlakukan ibu seperti ini. Sedari tadi kerjaan istrimu cuma tidur saja. Sedangkan ibu bersusah payah bekerja sedari pagi ...! Apakah kelakuan istrimu itu mencerminkan menantu sempurna?"
Galih terdiam.