Kemelut Hati

1620 Kata

Malam menjelang, keduanya telah tiba di rumah dan kembali beristirahat di kamar masing-masing, setelah menghabiskan banyak makanan. Namun sayang, Raden tak dapat memejamkan mata seperti Sena yang malah sudah bermimpi jauh di awan terindah. Ingin merasa seperti sebelum ada wanita itu di rumahnya, Raden melangkah keluar dan menampakkan kaki yang dialasi sendal jepit sederhana di atas trotoar. Sunyi, sepi, tetapi seperti inilah memang kehidupannya setelah mampu melihat dunia indah dengan berbagai kupu-kupu (Wanita) beraneka rupa dan warna. Daun-daun pada pohon rindang yang ditanam di pinggir jalan, bergerak seiring semilir angin yang sesekali terasa menggelitiknya. Menikah, satu kata ini masih menjadi penyakit kronis di dalam dirinya. Bukan tanpa sebab, wanita itu bukanlah gadis yang ia ing

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN