Dukungan Untuk Sena

2005 Kata
Hidup itu lucu, bagi mereka yang masih bisa tertawa. Sebab terkadang keadaan bisa membuat seseorang terbang setinggi-tingginya karena bahagia. Hidup ini juga bisa membuat pemeran di dalamnya tertawa sampai terpingkal-pingkal karena selera humor nan tinggi. Namun di sisi gelap lainnya, seseorang bisa tenggelam sedalam-dalamnya dalam lautan kesedihan. Di dalam ketidaksadaran, pria yang terkenal dingin dan pendiam itu terus terkekeh kecil bersama sukmanya. Kelakuan Sena sebelumnya, terus terbayang pada manik mata Raden Wibowo. Sangking lucunya, air bening keluar dari sana, seolah memperlihatkan reaksi pada tatapannya. Setelah punggung Senandung Arimbi tidak tampak lagi, Raden menepuk kepalanya sendiri agar segera tersadarkan. 'Agh,' gumamnya sambil menutup pintu kamar sangat kuat karena ingin terlihat sedang marah. 'Bagaimana aku bisa tertawa karena dia?' Tanyanya tanpa suara, seakan hati yang keras itu sulit untuk dikendalikan. "Bukankah aku harus meneruskan amarahku?" Raden kembali ke sisi tempat tidur dan mengambil telepon genggam miliknya. Setelah berada pada mode snow, Raden menelepon orangtuanya agar bisa sesegera mungkin datang ke kediamannya. Ia berharap, papa dan mamanya akan berpihak kepada dirinya, tetapi ia lupa sesuatu yaitu mungkin hal kebalikannyalah yang malah akan terjadi. Panggilan pertama dan kedua tidak diangkat. Merasa kesal, sifat kekanak-kanakan Raden Wibowo muncul dan menjebaknya dalam tingkah konyol yang membingungkan. Tanpa sengaja, ia meneruskan usahanya untuk menghubungi kedua orangtuanya, meskipun tidak direspon seperti biasanya. Raden mendongak, memperhatikan jam dinding bulat di dalam kamarnya. "Nggak mungkin kan, mama dan papa sudah tidur?" tanyanya dalam gumaman penuh kekesalan. "Baru jam segini juga," gerutunya ketika menatap jarum jam yang menunjukkan pukul 19.45 WIB. Sementara di dalam kamarnya, Sena yang baru pertama kali melihat otot pria dewasa, masih terdiam dengan gangguan otak yang cukup kuat. Semua itu membuatnya termenung dan terus terdiam dalam posisi duduk di atas tempat tidurnya. Semua ini bukan hanya soal seseorang yang tak berbusana di hadapannya, melainkan ada percikan rasa nan tercipta diantara kebingungan dan tanda tanya yang terus berputar-putar di kepalanya. Satu hal yang ia sadari, tanpa diduga, diam-diam hatinya telah menerima Raden Wibowo sebagai pendamping hidupnya. Entah kapan awal mula semua ini terjadi, mungkin ketika ia mengetahui bahwa sang suami adalah seorang dosen dan banyak orang mengaguminya. Wanita cantik ini kehilangan selera makan, rasanya hanya dengan melihat pria yang tak menyukainya itu saja, perutnya sudah terasa penuh. Meskipun ia hanya mendapatkan bentakan dan tatapan menyebalkan, tetapi ia malah merasa semakin terpesona. 'Hm ... seandainya dia normal.' Kata Senandung Arimbi di dalam hati, sembari menghela napas panjang. 'Maksudku, hubungan ini. Mungkin kami bisa berteman dan berbagi ilmu pengetahuan.' Sesalnya tanpa suara. Sekitar pukul 22.00 WIB, terdengar suara bel ramah dari luar pintu utama kediaman Raden Wibowo. Sena pun bergegas keluar dari kamarnya untuk mengintip dan membukanya. Namun baru saja tiba di anak tangga nomor dua dari atas, ia melihat Raden sudah membukakan pintu tersebut. "Ada apa sih, Raden?" tanya nyonya Mila yang tampak lelah dan masih mengenakan pakaian mahal nan modern, berikut dengan perhiasannya. "Mama sama Papa kan sedang ke acara teman sosialita yang akan menikahkan putri mereka besok," oceh sang mama tanpa jeda. "Sena, dia membuatku marah dan kesal," timpal Raden tanpa basa-basi di dalam kalimatnya. Tuan Wibowo melipat dahi, mencoba tetap berada di sisi Sena untuk melindunginya. "Apa lagi?" tanya tuan Wibowo. "Paling dia masak kurang enak atau tidak sempat membersihkan rumah. Makanya sejak awal Papa dan Mama kamu bilang, ajak bibi!" "Iya, nih. Ada-ada aja," sambung nyonya Mila yang juga memihak pada Sena. "Duduk dulu deh, Pa, Ma!" pinta Raden, sesaat setengah mengomel ketika menyambut kedua orangtuanya. Sena menelan air liur yang terasa berat, ia seperti melihat kematian di hadapannya. Padahal apa pun yang terjadi, kedua orang tua suaminya ini akan tetap membela dirinya, kecuali jika terjadi kesalahan fatal seperti perselingkuhan ataupun hal-hal yang tak patut untuk dimaafkan. Raden duduk di kursi pendek yang berhadapan dengan papa dan juga mamanya. Pada saat yang bersamaan, pria dan wanita baya ini menyadari sesuatu yaitu tangan putra kesayangan mereka berada dalam masalah. Perban putih yang masih menutupi bagian telapak tangan Raden, membuat fokus kedua orangtuanya buyar begitu saja. Di dalam hati mereka berkata, tentang sebesar apa kesalahan yang Sena lakukan hingga membuat anak mereka terluka. Tuan dan nyonya Wibowo saling menatap dalam, melihat kondisi Raden, keduanya memutuskan untuk diam dan memberi kesempatan kepada putranya untuk menceritakan permasalahan ini. Walau bagaimanapun, dia adalah putra mereka dan hati kedua manusia itu tak dapat menepis rasa marah dan sakit hati, seandainya Raden Wibowo terluka. "Sena, dia sangat keterlaluan," kata Raden membuka percakapan diantara mereka, dengan ekspresi marah luar biasa. Mendengar suara tinggi dari suaminya, Sena memutuskan untuk mundur teratur dan bersembunyi di sisi anak tangga yang berbentuk jeruji. Di sisi lain, ia begitu takut akan suara keras Raden Wibowo, tetapi di lain pihak ia mau mendengar percakapan yang menakutkan tersebut. "Apa yang sudah Sena lakukan?" tanya nyonya Mila dan sesekali arah tatapannya tertuju pada tangan putranya. "Tunggu sebentar, Ma!" potong tuan Wibowo. "Kita tidak bisa hanya mendengar dari satu pihak saja. Sebaiknya, panggil Sena supaya dia juga bisa membela diri!" saran tuan Wibowo yang terkenal bijak dan penyayang. Setelah mendengar perkataan dari bibir mertuanya, Senandung Arimbi berdiri perlahan dan menyiapkan mental untuk menghadapi keluarga Wibowo seorang diri. "Sena di sini, Pa," katanya sambil memperlihatkan wajah pucatnya. Tuan Wibowo menengadahkan kepalanya, lalu memperhatikan Senandung Arimbi dari bawah. "Kemarilah, jangan takut!" katanya sambil memaksakan senyum. "Ayo!" ajaknya seraya mengulurkan tangan kanan. Sikap tuan Wibowo ini, seperti seorang ayah yang melindungi putranya. Nyonya Mila pun demikian, meskipun melihat putranya terluka, tetapi beliau tidak terburu-buru menghakimi Senandung Arimbi. Apalagi beliau belum mendengarkan masalah utama dari bibir Raden Wibowo. Sena yang masih mengenakan pakaian yang sama, menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi hatinya berkata pada dirinya, bahwa ia hanya perlu berkata jujur dengan semua yang baru saja terjadi. "Selamat malam, Pa, Ma," sapa Sena dengan kepala tertunduk dan kedua tangan yang saling menggenggam. "Duduklah!" ucap nyonya Mila bersama senyum simpul dan tampak penuh tanya. "Sini, sama Mama!" "Iya, Ma." "Jangan memperlakukan dia seperti bayi, Ma!" Raden menyela sikap kedua orangtuanya. "Dia itu sudah besar dan menyebalkan," gerutu Raden seakan cemburu, hal ini juga ia lakukan ketika mamanya lebih memperhatikan adiknya dari pada dirinya. "Sekarang ... siapa yang kekanak-kanakan, Pa?" nyonya Mila menatap suaminya. Tuan Wibowo tersenyum simpul, dan napas hangat yang keluar dari lubang hidungnya, mengisyaratkan bahwa ia percaya bahwa Sena tidak bersalah. Nyonya Mila mengambil alih pimpinan. -"Baik, kita semua sudah berkumpul di sini. Raden, katakan! Apa masalahnya?" Raden menekuk dahi, hingga kedua alisnya menukik tajam. "Dia melakukan hal yang membuatku marah malam ini." "Hm," gumam yuan Wibowo sambil terus memperhatikan. "Dari pagi, pergi tanpa pamit dan pulang sudah malam. Perempuan apa'an itu?" beber Raden yang mulai membaca kesalahan Sena. "Terus?" "Yang lebih parahnya lagi, Ma. Dia masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk, tanpa minta izin," ucapnya geram. "Padahal Raden baru selesai mandi dan dalam kondisi polos." Tuan dan nyonya Wibowo kembali saling menatap dan tersenyum simpul. "Lalu, apa masalahnya? Mamamu juga tak pernah meminta izin untuk masuk ke dalam kamar tidur kami. Papa pun sama sekali tidak keberatan jika mamamu melihat badan Papa tanpa apa-apa." Tuan Wibowo mengulum senyumnya. "Yang ada malah, Papa suka. Soalnya bisa langsung menggoda dan melanjutkannya dengan bercinta." "Papa ih ... malu didengar anak-anak," timpal nyonya Mila yang ikut menahan senyumnya. "Kalian kan sekamar, wajar saja kalau Sena melakukan hal semacam itu. Apa masalahnya?" tanya sang mama yang kini sudah beralih pandang kepada putranya. "A!" Raden ingin membantah, tapi tersadarkan dan segera menahan diri. 'Tidak! Aku malah bisa membuka rencanaku sendiri.' Kata Raden tanpa suara karena menyadari permintaannya agar Sena dan dirinya berpisah kamar. 'Sialan, aku terlalu marah. Semua ini membuatku terperangkap.' Raden terus berdiskusi pada diri sendiri. Nyonya Mila memegang tangan Senandung Arimbi. "Sena, kamu baik-baik aja, kan?" tanya wanita baya ini karena menyadari sikap putranya yang masih kasar terhadap anak menantunya. "Kamu sama sekali nggak salah kok. Jadi ... jangan khawatir! Sebagai seorang istri, kamu berhak atas suamimu. Mulai dari jiwa, sampai raganya. Ingat itu!" Sena menundukkan kepala, demi menyembunyikan semua perasaannya. "Lalu, apa yang terjadi pada tanganmu?" "Ini ... hanya luka ringan, Ma," jawab Raden yang sudah menahan amarahnya karena takut membocorkan rahasianya sendiri. "Terjadi karena kelalaianku sendiri," jelasnya yang memang tidak suka berbohong untuk memanfaatkan situasi. "Sudah memanggil dokter?" "Sudah kok, Pa. Sena yang melakukannya" sahut Raden karena kenyataannya memang demikian. "Iya, seharusnya memang seperti itu. Kalian kan sudah dewasa dan menikah, seharusnya masalah yang bisa diatasi sendiri ya jangan melibatkan orang lain. Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dihilangkan. Coba lihat Papa dan juga mamamu, Raden! Kami juga memiliki kendala dan terkadang menjadi cek-cok, seolah tidak sejalan. Namun karena cinta, dan rasa tanggung jawab yang tinggi, semua dapat kembali. Kalian juga harus begitu, walaupun dipertemukan dengan cara perjodohan. Ingat, Raden! Rezeki, jodoh, maut, semua ada di tangan Tuhan. Jika saat ini kalian bersama, itu berarti kalian berjodoh." Ketika mendengar kata-kata tersebut, hati Raden berguncang. Ia benar-benar tak menginginkan Sena, tetapi pada kenyataannya dia memang telah bersumpah untuk menikah dengan wanita bernama Senandung Arimbi tersebut. Raden tak mampu melanjutkan amarah dan rencananya untuk mengadukan sikap Sena yang ia anggap salah, serta buruk di matanya. Sebab di mata kedua orangtuanya, wanita ini benar dan ia berhak atas diri Raden yang masih belum menyentuhnya sama sekali, hingga detik ini. "Papa rada cukup. Kita harus pulang, Ma!" "Iya, Pa." Nyonya Mila berdiri dan masih menggandeng Sena. Lalu ia berjalan, dan menantunya itu mengikuti di sampingnya. Tak lama, setelah Raden dan papanya melangkah lebih dulu, sang mama mendekatkan bibirnya di telinga Sena. "Makasih ya, Sayang. Mama tunggu kabar baiknya," bisik wanita baya tersebut dan ia sudah salah sangka. Beliau pikir, Sena dan Raden sudah lebih terbuka satu sama lain dan sikap putranya malam ini hanya pelampiasan dari rasa malu karena menelan air liurnya sendiri, akibat penolak yang selalu ia lakukan kepada Sena. "Tapi, Ma ... ." Sena ingin menepis pikiran Mama mertuanya itu. Nyonya Mila menepuk lembut pundak Sena. "Ayo diaminkan, Sayang!" Melihat harapan yang begitu besar di dalam manik mata wanita baya itu, Sena tak mampu menorehkan kekecewaan di sana. Sambil tersenyum kecil, ia menganggukkan kepala dan menerima setiap pembicaraan tersebut dengan baik. "Mama pamit ya? Dan jangan bertengkar lagi, Raden!" pinta sang mama sambil memeluk putranya, sesaat setelah memberi pelukan hangat kepada anak menantunya. Raden membalas pelukan nyonya Mila dengan sentuhan penuh kasih sayang. Saat melihat keduanya, Sena bisa merasakan kehangatan seorang Raden Wibowo yang tak pernah ia rasa. Mata bulat itu pun terus memperhatikan gerak gerik suaminya. Tanpa sadar hati wanita ini berdoa, agar Tuhan melunakkan Raden supaya bisa menerima dirinya sebagai istri. "Papa pulang ya? Kalian baik-baik!" "Ya, Pa." Raden memaksa senyumnya. Kemudian masuk ke dalam rumah, tanpa berkata sepatah kata pun kepada Sena. Sena ingin mencairkan suasana dan meminta maaf atas sikapnya. Ia pun mengejar Raden yang sudah masuk terlebih dahulu. "Mas," panggilnya dengan suara lunak. "Apa lagi? Masih ingin menikmati bokongku?" Spontan, Sena menundukkan kepalanya dan telinga wanita itu pun kembali memerah. "Tidak!" jawabnya cepat. "Maaf soal tadi. Aku ... aku benar-benar tidak bisa bergerak. Ini pertama kalinya aku melihat itu." Raden memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Itu apa?" tanyanya yang tiba-tiba tergoda untuk membuat telinga Sena kian memerah. Sena mengangkat kepalanya untuk menilai ekspresi wajah Raden, lalu secepat kilat menunduk kembali. Ya pokoknya itu ... ," timpalnya yang semakin tertunduk malu. "Jangan bilang kalau kamu itu masih suci! Zaman sekarang, mana ada yang seperti itu," prediksi Raden yang menilai bahwa tidak ada lagi perawan di muka bumi ini, jika si wanita sudah berusia dewasa. Sena melipat dahi. "Aku masih perawan kok, Mas." Telinga Sena kian merona, berikut dengan pipinya. "Heh!" Raden yang tak percaya, langsung melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar. Sebenarnya Sena ingin sekali mempertahankan argumentasinya. Tetapi ini sudah terlalu malam untuk berdebat. Lagipula, semuanya sama sekali tidak penting. Untuk itu, ia memutuskan untuk menghentikan percakapan tersebut, dan melakukan sesuatu yang lebih bisa membuat hubungan mereka berdua membaik. Wanita cantik ini pun memutuskan untuk membuat menu makan malam sederhana karena ia tahu bahwa Raden, termasuk dirinya sendiri, belum memasukkan apa pun ke dalam mulut mereka malam ini. Bukan tanpa sebab, ia tak ingin suaminya minum obat tanpa makan terlebih dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN