Senyum Pertama

2610 Kata
Senandung Arimbi memilih untuk tetap tenang seperti biasanya. Di dapur, ia mulai mengolah bahan makanan apa saja yang masih tersedia. Sebab, dirinya memang tak memiliki uang lebih untuk membeli daging ataupun ikan. Di sisi lain, dirinya juga merasa tidak enak jika harus meminta kepada suaminya. Wanita cantik pemilik bibir penuh itu, memutuskan untuk membuat capcay goreng, dan telur dadar dengan rasa pedas, serta topping bawang goreng di atasnya. Walaupun tidak mengetahui makanan kesukaan Raden Wibowo, tetapi ia mencoba begitu keras agar bisa menyajikan makanan spesial dengan bahan seadanya. Bagi Senandung Arimbi, meskipun suaminya itu tidak bersedia menerima dan bisa membuang dirinya kapan saja, tetapi sebelum waktu itu terjadi, Sena musti melakukan sesuatu yang berharga. Ia pun bersumpah untuk membuang keluhan-keluhan akan sikap Raden terhadap dirinya dan berusaha demi mendapatkan sedikit perhatian yang akan membawanya pada hubungan sehat, serta lebih indah. "Baiklah, tinggal dicicipi," kata Sena sambil tersenyum dan menilai hasil dari masakannya. "Pas!" gumamnya semakin melebarkan senyuman. 'Sena, kamu tidak sendirian. Lihatlah! Papa dan mama, mereka sangat menyayangi dan mendukungmu.' Ucap Sena di dalam hatinya, sesaat setelah membayangkan bahwa Raden akan membuang semua makanan yang sudah susah payah ia buat. 'Huh, jangan begitu ... fighting!' Sena kembali memompa semangatnya. Setelah merasa masakan yang ia buat sempurna, Senandung Arimbi menata nasi dan juga dua menu lainnya di atas baki kayu ukuran sedang. Perlahan, ia membawakan aneka makanan tersebut hingga ke depan pintu kamar suaminya. "Hmmm ... huuuh." Sena menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Setelah tenang, ia langsung mengetuk pintu dan mengatakan tujuan kedatangannya. "Mas ... aku membawakanmu makanan," kata Sena yang terus berusaha untuk merasakan kehadiran suaminya di sisi pintu kamar. 'Tidak mungkin dia sudah tidur.' Sena kembali memperhatikan bagian bawah pintu dan terdapat bayangan di sana. 'Itu dia, mengintip?' Sena menyadari bahwa Raden masih bangun. "Baiklah, aku akan meletakkannya di kursi saja. Kalau kamu masih bangun dan mendengarku, jangan lupa untuk makan sebelum minum obat!" saran Sena yang terus mengintip jejak bayang dari bawah pintu. "Selamat malam, Mas!" Sena meninggalkan makanannya dan kembali ke kamar dengan menu yang sama. Setibanya di dalam kamar sendiri, wanita cantik itu kembali termenung untuk beberapa saat. Ia seperti kebingungan seorang diri, walau hidup di dalam sangkar emas. Rasanya, situasi ini jauh lebih buruk dari pada apa yang telah ia lewati selama ini. Cita-cita dan keinginan pun kian kandas, bersama waktu dalam keadaan pernikahan palsu. "Hah, cukup!" Sena memukul lamunannya sendiri agar segera tersadarkan. "Selamat makan ... ," ucapnya pada diri sendiri. Sementara di dalam kamarnya, Raden Wibowo masih berdiri di balik pintu dan hidungnya nan tinggi masih mengendus makanan beraroma gurih yang diletakkan tak jauh dari sisi pintu. Perutnya yang terus keroncongan, membuat suasana semakin mendesaknya untuk keluar dan mengindahkan tawaran Sena. Perlahan, Raden membuka pintu kamar dan mengeluarkan sedikit bagian kepalanya di sela sudut yang telah dibuka. Merasa tidak ada yang menguntitnya, ia memutuskan untuk segera keluar dan mengambil paket makanan buatan Sena tersebut, lalu menikmatinya. Suapan pertama dengan gaya ragu-ragu, berhasil tertepis dengan sendirinya. Bahkan pria itu terlihat suka dan antusias dengan apa yang disajikan untuknya. Meskipun awalnya menolak dengan gaya angkuhnya, tetapi di dalam hati ia mengakui kepiawaian Senandung Arimbi yang satu ini. 'Rupanya dia memang bisa memasak.' Raden mulai berceloteh, dengan mulut yang terisi penuh dan terus mengunyah. Pagi harinya, setelah tetesan embun berubah menjadi air biasa, Senandung Arimbi terbangun dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kampus. Wanita pekerja keras yang satu ini, sudah biasa dengan pekerjaan apa pun. Jadi, semua ini sama sekali tidak sulit baginya. Apalagi hanya sekedar membersihkan rumah, ia pun bergerak cepat bak robot pembantu yang terampil. Setelah seluruh bagian ruangan wangi dan tampak rapi, Sena memasuki areal dapur dan di sana ia tidak menemukan piring saji yang sebelumnya telah disiapkan untuk Raden. Hanya ada dua kemungkinan menurutnya. Yang pertama piring dan mangkuk tersebut masih berada di dalam kamar Raden. Atau yang kedua, pria itu sudah membersihkannya. Sena memilih untuk mencari tahu kebenaran pada pikirannya yang kedua. Seraya menahan kegelisahannya, ia menekan tombol pembuka tutup tempat sampah dengan kaki kanannya guna memastikan makanan atau mungkin sisa makanan dari menu yang ia sajikan. Namun setelah wanita cantik itu melakukannya, ia sama sekali tidak melihat sisa nasi ataupun lauk pauk yang terbuang. 'Rasanya, masih ada harapan untuk dihargai. Mungkin memang masih berada di dalam kamarnya.' Kata Sena tanpa suara karena saat melewati kamar Raden, menjelang tiba di lantai dasar, ia sama sekali tidak melihat baki dan peralatan makanan sebelumnya, di atas kursi di depan kamar suaminya. Sena tersenyum penuh harap, lalu tanpa sengaja ia melihat westafel pencuci piring. Di lubang penyaringan, Sena melihat seiris cabe besar berwarna merah yang ia gunakan untuk menambahkan rasa pedas pada masakannya. Ia pun terpancing untuk tersenyum karena mengira bahwa hanya itulah jejak sisa dari makanan yang ia suguhkan dan Sena sama sekali tidak salah. Malam tadi, Raden makan sangat lahap. Ia suka semua masakan yang dibuat oleh tangan sendiri. Meskipun anggota keluarganya lebih hobi menikmati menu restoran, tetapi tidak dengan Raden. Tanpa diketahui oleh banyak orang, pria yang satu ini lebih mencintai masakan rumahan dari pada tempat lain. 'Jadi ... dia memakannya?' Tanya Sena, sambil menatap puas. 'Syukurlah.' Matanya tampak berkaca-kaca. Setelah mengetahui hal sederhana yang membahagiakan hati, Sena bergegas untuk membuatkan pancake pisang dengan topping madu di atasnya. Aroma kue dadakan itu hingga ke kamar Raden dan memancingnya untuk keluar. Raden mendekati meja makan bundar dengan empat kursi yang melengkapinya. Lalu ia memperhatikan Senandung Arimbi dari belakang, dan tiba-tiba tersenyum simpul tanpa sadar. 'Heh, apa yang terjadi? Kenapa aku tersenyum kepada punggungnya?' Raden mulai bingung pada dirinya sendiri. Sena tersadar, kehadiran Raden terbaca olehnya. "Mas!" sapanya sambil berbalik arah. "Jangan lupa sarapan dulu, sebelum minum obatnya!" Sena hanya melihat Raden menatap dirinya, tanpa merespon. Tak ingin kecewa, ia kembali berbalik arah dan menyelesaikan acara masaknya. "Kenapa kamu masih di sini? Membuat makanan untukku, dan berdiri di hadapanku? Padahal kamu sudah tahu, aku tidak akan pernah membuka pintu hatiku untukmu," ungkap Raden dengan suara yang dingin hingga membelikan suasana pagi nan terlanjur dingin. "Kamu masih muda, layak untuk bahagia." Sena memutar putaran aktif pada kompor gas ke kiri. "Sejak awal, aku selalu tidak memiliki pilihan. Dan sekarang, aku sudah terjebak." "Kamu bisa pergi, kapan pun kamu mau. Jangan memikirkan orang lain! Mama dan papaku, mereka akan baik-baik saja." Raden menimpali ucapan Sena yang terdengar sama frustasinya dengan dia. "Sekarang belum terlambat, kamu bebas menentukan pilihan dan jalan hidupmu!" Senandung Arimbi menatap jauh ke depan, dari kaca jendela ukuran besar yang berada tepat di hadapannya. Ia tidak menyangka bahwa percakapan seperti ini akan terjadi, tapi hal tersebut lebih baik dari pada terabaikan. Sena menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dan menantang mata Raden untuk yang pertama kalinya. "Saat ini, ketika aku harus memilih antara bertahan dan melepaskan, maka aku akan dengarkan logikaku." Sena mengatur kalimatnya dengan tenang. "Karena aku percaya, jika hubungan ini dijalani dengan tulus, maka hati tidak akan pernah mampu memberikan pilihan. Bagiku, ketika namaku sudah kamu sebut dalam sebuah janji pernikahan, maka tidak ada kata melepas, kecuali Tuhan memerintahkannya." "Hubungan ini, semuanya tak adil untuk kita. Sama seperti kamu, aku juga tidak menginginkannya." "Tapi maaf, aku tidak selemah itu. Setidaknya, aku akan terus berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu, Mas. Tentang kamu, aku tidak akan menuntut," kata Sena sambil menggenggam kedua tangannya. "Pikirkan!" titah Raden sembari menipiskan bibirnya. Sebab hanya Sena sajalah yang bisa memutuskan hubungan ini. Jika dirinya yang maju, mama dan papanya tidak akan setuju dan terus menyalahkan sikapnya itu. "Permisi," ucap Sena dengan suara yang jelas, tenang, dan tegas, hingga membuat suasana yang semula selalu menyudutkan dirinya menjadi dingin membeku. 'Selama ini, aku sudah gagal menjadi anak dan saudara yang hebat. Iya ... mereka mengatakannya semua secara terang-terangan. Sekarang, aku tidak ingin kembali gagal menjadi seorang istri. Untuk itu, aku bertahan dan berjuang untuk mendapatkan hatimu, Mas.' Kata Sena tanpa suara, seraya melangkah ke kamarnya. Untuk pertama kalinya, ia berani membenturkan lengannya pada lengan Raden Wibowo dan tubuh mungil itu sama sekali tidak goyah. "Apa?" Mulut Raden Wibowo menganga, membentuk huruf 'O' besar, sangking terkejutnya. Sepertinya ia tak menyangka, bahwa kalimat bijak akan keluar dari bibir merah muda wanita yang hampir tidak pernah mewarnai bibirnya tersebut. 'Dia ... .' Spontan, pada tahap ini, Raden memberi penilaian lain terhadap Senandung Arimbi. Kecerdasan yang selama ini papanya utarakan, terpampang nyata tanpa debat. Hal ini membuat Raden terhenyak, tak mampu membalas kata seperti biasanya. Raden tertunduk, menghela napas yang dipenuhi dengan kelelahan. Hingga detik ini, yang ia inginkan hanyalah gadis matahari yang telah menerangi dan merubah hidupnya. Satu-satunya wanita yang berhak dan pantas untuk mendapatkan semua perhatian dan juga cinta kasih dari hatinya. Sena menangis di dalam kesendirian. Ia merasa tidak berharga dan semakin rendah. Namun, hatinya kembali berbisik agar ia kuat. Lagipula Sena sudah memutuskan untuk maju, mana mungkin mundur kembali. Sejak awal, dia adalah gadis pejuang. Jadi, tidak boleh menyerah begitu saja. "Cukup!" Senandung Arimbi menyeka bulir-bulir air matanya. "Aku harus bersiap untuk ke kampus!" Kemudian wanita cantik ini membersihkan dan merapikan diri, secepat kilat. Tanpa meminta izin, seperti biasanya, Sena meninggalkan kediaman Raden begitu saja. Rasa kesal dan amarah yang menyelimuti, membuat hati itu kecewa. Ia tahu bahwa semua ini tidak boleh berlarut-larut, tetapi batinnya benar-benar terkoyak karena merasa tak diinginkan di mana pun ia berada. Pada saat yang bersamaan, Raden juga keluar dari dalam kamarnya. Ia juga berniat untuk ke kampus, sebelum kontrol ke rumah sakit. Sembari menutup pintu, mata Raden melirik ke arah kamar Sena. Ia seperti ingin tahu, tentang apa yang wanita itu lakukan di dalam kamar. Kaki kanan Raden melangkah ke arah ruangan Sena. "Heh ... ," keluhnya. "Bukan urusanku!" gumam Raden yang kembali dikuasai oleh bagian lain dari dirinya. Pria tampan itu memutuskan untuk ke kampus dan menjalankan tugas yang sudah dua hari ini ia lewatkan. Dengan gaya jalan bak fotomodel profesional, ia menyapa satpam yang baru saja dipindah tugaskan dari kediaman tuan Wibowo ke rumahnya. "Kunci Raden letakkan di tempat biasanya ya, Pak. Kalau perempuan itu bingung saat mencarinya, arahkan saja!" "Mbak Sena?" tanya satpam sambil merendahkan pundaknya. "Iya, siapa lagi?" "Loh, Tuan. Tapi mbaknya sudah pergi lebih dulu," tukas petugas keamanan tersebut dengan kepala tertunduk. Raden melipat dahi, memperhatikan pintu rumah yang sudah cukup jauh tertinggal. 'Kemana dia? Selalu saja menghilang sejak pagi.' "Bapak amankan saja kuncinya!" "Siap, Tuan," jawab laki-laki yang merupakan salah satu orang kepercayaan tuan Wibowo. 'Jangan-jangan ... dia kembali bekerja sebagai kuli panggul di pasar?' Tanya Raden sambil menggenggam setir mobil dengan tangan kirinya. 'Apa karena aku tidak memberikannya uang beberapa hari terakhir ini? Heh, menyusahkan saja. Bagaimana kalau papa dan mama tahu? Sial banget!' Raden menekan pedal mobilnya dan bergerak cepat untuk mencari keberadaan Sena di pasar yang pernah sang papa gambarkan sebelumnya. Cukup lama berputar-putar di sekitar gudang beras dan tempat di mana kuli angkut berkumpul, tetapi Raden belum juga menemukan sosok Senandung Arimbi. Kehilangan banyak waktu dan tak bisa membiarkannya berlalu begitu saja, Raden memutuskan untuk melanjutkan langkah ke arah kampus. Sebelumnya beranjak pergi, ia menelepon satpam yang berjaga di rumah agar bisa mencari keberadaan Sena. Ia tidak ingin menjadi pusat kesalahan dan mendapat cercaan dari kedua orangtuanya, kembali. Hati Raden terasa penuh dan sesak. Ia merasa kesal akan sikap dan tindakan Sena, jika benar ia kembali bekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Raden, bila Sena membutuhkan uang, seharusnya ia meminta saja langsung kepada dirinya. Kalau seperti ini, sama dengan mencoreng wajah pria itu dengan gaya sok mandiri dan angkuh milik Sena. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit, Raden tiba di kampus dan langsung memasuki ruangan agar tidak benar-benar terlambat. Rupanya, dosen pengganti sudah berada di dalam kelas dan Raden memutuskan untuk menunggu jam berikutnya. Kebetulan sekali, materi pembelajaran di bawah asuhannya akan memenuhi ruangan hingga siang. Selama di ruangan khusus dosen, beberapa rekan mendatangi Raden dan mempertanyakan kondisinya. Mereka terlihat simpati dan turut mendoakan kesembuhan pria pemilik jembatan hidung yang tinggi dan kokoh ini. "Thanks," ucap Raden bersama senyum dan ia tampak sangat tampan, jika sedang melengkungkan bibir seperti itu. Tias mendekat dengan gaya dan senyum manja nan menggoda. "Kemarin, saya sudah mengisi materi di kelas Anda. Itu full loh dari pagi hingga sore. Saya harap ... usaha saya bisa membantu Anda, Raden." Raden memaksakan senyumnya. "Iya, terima kasih untuk bantuan Anda. Saya juga tidak menyangka akan mendapatkan penyakit seperti ini." "Oke," kata Tias sambil menundukkan sedikit punggungnya untuk memperlihatkan belahan dadanya yang dalam. "Oh iya, bagaimana kalau kita makan malam?" Raden memperlihatkan tangannya yang masih diperban. "Bahkan untuk memegang sendok saja, saya kesulitan," elaknya secara halus agar lebih santun. "Mungkin lain kali saja, bagaimana?" tawar Tias sekali lagi, demi kelancaran niatnya. "Atau kita bisa menghabiskan waktu bersama, di apartemen saya? Di sana, pemandangannya sangat indah saat malam hari." "Kita lihat saja nanti, permisi!" Raden yang sebenarnya masih ingin duduk santai di belakang meja kerjanya, memutuskan untuk berdiri dan keluar dari ruangan khusus dosen. Tiba-tiba, ia merasa mual dan tidak baik-baik saja. Mungkin karena sikap Tias yang terlalu terobsesi kepada dirinya. 'Untung Sena tidak seperti itu.' Puji Raden spontan, di dalam hatinya. Raden memutuskan untuk ke perpustakaan demi menghabiskan waktu beberapa menit, sebelum jam pelajarannya dimulai. Namun tanpa diduga, dosen yang menggantikan dirinya malah keluar dari kelas dan menyapa. "Anda, oke?" tanyanya sambil memperhatikan perban di tangan Raden Wibowo. "Ya, ini lebih baik. Terima kasih untuk waktunya," kata Raden sambil menatap ke dalam ruangan. "Tidak masalah, kita memang harus saling membantu. Sama siapa ke kampusnya?" "Sendiri saja, seperti biasa." "Bisa dengan kondisi seperti ini?" "Iya, Pak. Tidak masalah, rasa sakitnya sudah sangat berkurang." "Jangan kena air dulu!" "Iya, dokter juga bilang begitu. Setelah dari kampus, saya ingin kontrol sebentar. Mana tahu sudah bisa dilepas ini, perbannya." "Hm, nggak nyaman ya?" "Hahaha. Kita laki-laki, tidak sesabar kaum hawa," timpal Raden dalam tawa. "Hahaha, benar juga itu. Oh iya, kalau ingin masuk sekarang, silakan saja!" "Oke, saya memang menginginkannya." "Apa Anda menghindari sesuatu?" "Emh ... itu. Eh, tidak juga." "Oke-oke, mari!" ajak dosen pengganti yang melangkah bersama ke dalam ruang kelas, di mana Senandung Arimbi berada. "Anak-anak, para mahasiswa mahasiswi sekalian. Berhubung dosen kalian sudah masuk dan ready untuk memberi materi, saya undur diri dulu. Silakan bergabung, Pak!" "Thanks." Raden menepuk lembut lengan tangan rekannya. Sepanjang langkah Raden Wibowo, suara teriakan dan tepuk tangan terdengar memenuhi ruang kelas. Terutama pada mahasiswi, mereka terlihat antusias dalam menyambut kehadiran dosen tampan yang sejak dua hari yang lalu, mereka cari. "Selamat pagi, semuanya!" sapa Raden sambil duduk dan membuka daftar hadir. "Kita absen dulu ya?" "Iya, Pak," jawab para mahasiswa, terdengar kompak. "Dan saya akan mencoba untuk mengingat nama-nama kalian semuanya dalam waktu yang singkat." "Sisilia, Pak!" goda salah satu mahasiswi sambil tersenyum manis, sambil mengangkat tangan kanan, dengan posisi duduk yang gelisah. Raden tersenyum demi mengimbangi semua orang. Pada saat yang bersamaan, Sena dapat melihat betapa tampannya sang suami jika bibirnya mengembang sempurna. Bahkan mata pria itu juga itu senyum, dengan bubaran hangat nan menyenangkan. 'Itu ... senyum kamu, Mas?' Tanya Sena yang baru pertama kalinya melihat Raden dalam mode bahagia. "Dasar genit!" cerca mahasiswi dan mahasiswa lainnya, sesaat setelah mendengar kalimat dan gaya yang keluar dari bibir gadis berambut keriting sosis tersebut. "Sisil memang paling centil," timpal yang lainnya. "Sudah-sudah! Kalau begini, kita tunda dulu saja perkenalannya!" Raden mengambil keputusan yang tepat agar tidak terjadi keributan. Di samping Senandung Arimbi, Lio tampak kaku dan terus memperhatikan Raden yang rasanya tidak asing. Namun ia masih belum sadar, bahwa laki-laki yang menjadi dosen barunya tersebut adalah suami dari wanita yang ia kejar hingga detik ini. Sementara Sena, ia masih tampak kaku seperti sebelumnya. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dan merasa sangat serba salah. Baginya, dunia ini begitu kecil hingga bisa-bisanya ia kembali bertemu dan bersama pria yang sama. Detik ini, hanya doa yang bisa ia panjatkan agar semuanya baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN