Raden Wibowo yang terlihat sempurna, melangkah meninggalkan kelas untuk kembali ke ruang dosen. Tangan kanannya masih dijaga dengan baik agar tidak berbenturan dengan apa pun, sementara tangan kirinya menggenggam tas kulit berwarna coklat tua nan elegan, hingga menambahkan kesan mewah dan kharismanya.
Sepanjang koridor menuju ke ruangannya, Raden Wibowo mendapatkan tatapan tajam dari wajah suka yang terus mengikuti arah langkahnya. Banyak wanita terpesona akan ketampanan pria berkulit putih dengan style rambut kekinian, dan tubuh atletis bak binaragawan ini. Dia memang seperti raja di dalam dongeng modern yang sedang menjelajahi waktu untuk menemukan cinta sejatinya.
Biasanya para mahasiswa merasa tidak nyaman jika melihat dosen mereka memberi tatapan kaku tanpa senyum, dengan dahi yang dilipat. Tetapi lain halnya dengan Raden Wibowo, hanya dengan lirikannya saja mampu menghancurkan jantung dan membuat para wanita meleleh seperti mentega di atas panggangan.
Suara bisik-bisik kembali menghujani pria pemilik pundak bidang tersebut, namun sayangnya tak tampak reaksi nyata dan manis darinya. Seakan semua pujian hanyalah angin lalu dan tak berarti sedikit pun. Seumur hidup, Raden Wibowo memang selalu merasa hampa seperti ini. Entah mengapa, tak ada satu pun wanita yang mampu membuatnya hanyut ataupun melayang.
Dalam pencariannya, terkadang Raden merasa sangat lelah dan ingin menyerah saja. Namun tiba-tiba, ketika malam datang, bayangan gadis mataharinya datang dengan untaian air mata yang panjang. Semua itu membuatnya tidak bisa tidur tenang dan layak, sebagaimana mestinya. Menurutnya, tak ada satu pun manusia di atas dunia ini yang mampu memahami isi hatinya. Bahkan kedua orangtuanya sendiri, menganggap dia gagal dan kelainan.
Angin bertiup sepoi-sepoi, menerbangkan jas berwarna hitam yang Raden kenakan. Ujung kain mewah itu berkibar bak bendera karena menyambut udara dingin bersama keperkasaannya. Raden bertambah spesial di mata orang-orang yang terus memperhatikannya baik dari dekat maupun kejauhan.
Setibanya di pintu masuk ruang dosen, Raden di sapa oleh salah seorang dosen senior yang bekerja sudah sangat lama di universitas ini. "Bagaimana hari Anda? Sudah menemukan sosok yang bisa diandalkan, seperti milik saya?"
"Sosok yang bisa diandalkan?" gumam Raden seraya menarik kursi kerjanya. "Seperti apa misalnya?"
"Asisten atau apa pun namanya," timpal dosen yang terkenal killer, dan tak suka banyak bicara itu. Namun karena ingin mengatakan bahwa salah satu mahasiswi Raden adalah asistennya, beliau terpaksa membuka percakapan lebih dulu.
"Saya rasa, tidak memerlukannya. Lagi pula, mana ada yang seperti itu, Pak." Raden memaksakan senyumnya, dan terlihat tak nyaman akan percakapan ini.
"Di kelas itu, ada seorang mahasiswi yang cerdas dan sudah saya percaya untuk menjadi kaki tangan saya. Namanya Sena dan saya harap dia bisa mengikuti mata kuliah Anda," kata dosen senior tersebut, terlihat sudah tidak bersedia basa basi lagi.
Spontan, kelopak mata Raden terangkat seketika nama panggilan istrinya disebut. Namun, ia masih menekan pikirannya itu karena beranggapan tak mungkin Senandung Arimbi adalah orang yang dimaksud oleh dosen yang sangat sulit untuk didekati tersebut. Lagipula, nama Sena bukanlah satu-satunya di dunia ini.
Tidak ingin melanjutkan percakapan yang terkesan kaku ini, Raden hanya tersenyum dengan satu anggukan. Sama seperti rekan-rekan dosen yang lainnya, mereka merasa tidak nyaman jika pak Alex mulai mengangkat mulutnya. Bahkan beliau terkenal dengan sebutan lain, seperti dosen mayat.
Melihat Raden sudah tak nyaman, dosen lain memotong percakapan diantara keduanya. "Anda ingin pergi sekarang atau nanti, Pak Alex?"
"Lima menit lagi," jawab pria baya tersebut seraya menaikkan kacamatanya. "Saya harus mengurutkan daftar materi ini, demi mempermudah Sena. Hari ini sampai lusa, gadis itulah yang akan berdiri di muka panggung untuk menggantikan saya!"
"Seperti biasanya," timpal dosen lainnya, seolah hal ini sudah biasa terjadi dan mereka percaya kepada mahasiswi yang satu itu.
Untuk sesaat, Raden terdiam sejenak sembari memperhatikan beberapa dosen yang terlihat antusias dengan nama tak asing di telinganya tersebut. Meski begitu, ia sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu tentang pemilik nama itu, seakan-seakan dunianya hanya memerlukan satu wanita yaitu gadis mataharinya.
Bagi orang yang memahami keadaan hati dan pikiran Raden Wibowo, pasti akan memuji dengan segenap perasaan yang ada. Sebab di zaman edan saat sekarang ini, mana ada lagi pria seperti Raden karena teguh pada pendirian dan janji, serta harapan dari masa masa lalu.
'Seharusnya aku bisa keluar untuk mencari Sena di jam istirahat! Nama itu lagi ... hm perempuan jenis ini sangat merepotkan.' Omel Raden yang mulai dapat merasakan kekesalannya kembali, kepada Senandung Arimbi karena merasa direpotkan.
Setelah lebih dari empat puluh menit tak mampu bergerak bebas, Raden kembali ke dalam kelas untuk melanjutkan tugasnya. Sambil memberi penjelasan, pria mapan ini berdiri di muka kelas, tanpa memperdulikan ekspresi wajah kagum dan terpesona dari para mahasiswinya.
Bahkan, ia lebih banyak buang muka dan terlihat sangat jauh dari kata familiar hingga membuat Senandung Arimbi menyadari betapa suaminya tidak ramah terhadap para wanita. Bukan tanpa alasan, jika berhadapan dengan mahasiswa, Raden lebih tampak antusias, fleksibel, dan murah tersenyum.
Waktu berlalu begitu lambat bagi Sena. Kini tibalah saatnya jam pelajaran di kampus berakhir untuknya yang selalu bersembunyi di balik punggung rekan lain. Sejak tadi, Lio pun tampak terus memperhatikan dirinya, ingin bertanya tetapi khawatir dan dia tak ingin mencari masalah terhadap wanita yang baru saja didapatkan senyumnya.
Sekali lagi, Raden kembali ke ruangan dosen dan menyiapkan beberapa barang untuk dibawa pulang. Saat ini, ia sempat terdiam lagi dan memutuskan untuk menelepon satpam di rumahnya untuk menanyakan apakah Sena sudah pulang. Namun lagi-lagi, jawaban yang tak diharapkan terdengar melalui telepon genggamnya dan Raden meminta bantuan kepada pria baya tersebut untuk menyusuri pasar tradisional dan gudang beras sekali lagi.
Di dalam kekesalan hati, Raden memutuskan untuk segera pulang demi turut mencari keberadaan Sena. Sebab jika pikirannya itu benar, ia akan berada dalam masalah besar di hadapan kedua orangtuanya.
Sembari menyusuri lorong dari ruang dosen ke arah luar gedung kampus, setengah jam setelah tugasnya berakhir, langkah Raden melambat. Ia mendengar suara tegas dengan intonasi yang bagus, tengah memberi penjelasan atas pertanyaannya dari salah satu mahasiswa. Bukan itu saja, rasa percaya diri nan tinggi dari getaran suara tersebut, menarik perhatiannya untuk tahu mengenai sosok wanita di balik ruangan pada lantai dasar tersebut.
Bukan tanpa alasan, wanita model seperti ini adalah impian seorang Raden Wibowo. Cerdas, tegas, penuh gairah dalam ilmu pendidikan, dan terdengar cakap dengan apa yang ia tularkan kepada para mahasiswanya. Semakin dekat ia dengan ruang kelas tersebut, langkahnya pun terlihat kian melambat.
'Suaranya begitu berenergi, energi yang positif. Dia seperti Srikandi modern yang aku kagumi.' Kata Raden tanpa suara.
Sangking terpana, pria yang sama sekali tak peduli akan dunia di sekitarnya itu, memilih untuk menoleh dan melihat gambaran nyata sosok yang telah mampu memanggil jiwanya untuk melirik. Ketika matanya menembus kaca ukuran besar dan mampu menangkap layar tentang wajah wanita di dalamnya, langkah Raden terhenti, dan ia tertegun dalam puji.
Mata yang selama ini selalu tampak marah, dengan kedua alis yang menukik tajam, mengembang dan wajah itu menjadi sangat ramah. 'Sena ... .' Panggilnya ketika melihat istrinya adalah tokoh di balik tembok yang sejak tadi ia puji tanpa sadar.
Raden Wibowo mundur beberapa langkah dan menepi di ujung kelas antara ruangan lainnya. Seandainya bisa, ia ingin menyusut agar dapat menyelinap masuk ke sana untuk mendengarkan lebih puas lagi. Seperti menyaksikan sosok idola di layar kaca, mata Raden berbinar-binar dan hatinya merasa bangga.
Tanpa sengaja, pada saat yang bersamaan Senandung Arimbi tergoda untuk memperhatikan ke luar kaca. Ia pun menangkap wajah suaminya yang tengah memperhatikan dirinya. Ketika mata mereka bertemu, ada rasa yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Akan tetapi Sena tahu, itu bukanlah sebuah ketakutan.
Selalu ingin menghargai Raden Wibowo dan memberikan tempat khusus untuk suaminya, Senandung Arimbi memutuskan untuk memberi jeda pada materi yang tengah ia sampaikan. Kemudian ia meninggalkan para mahasiswa untuk menemui sang suami terlebih dahulu. Pria itu pun merasa begitu dihargai, hingga hatinya tiba-tiba merasa bahagia tanpa ia duga.
Sena mendekati Raden tanpa senyum, wajahnya selalu saja tegang jika berada di hadapan laki-laki yang selalu memandangnya remeh dan sebelah mata. Entah perasaannya itu benar atau tidak, yang jelas begitulah reaksi tubuh Sena terhadap Raden Wibowo.
Raden pun mendekat, menatap dalam dengan jarak yang lebih singkat dari pada biasanya. "Aku mencarimu sejak tadi pagi, ternyata kamu ada di sini."
Senandung Arimbi, menurunkan volume suaranya, tak seperti ketika di muka kelas. "Maaf, Mas!" pintanya dengan wajah tertunduk, seolah siap untuk menerima penghinaan ataupun amarah dari suaminya, lagi dan lagi. "Aku ... ."
"Kita selesaikan ini di rumah," tukas Raden dengan suara yang lebih lembut dan rendah, dibandingkan Sena.
Tanpa sadar, Sena mengangkat wajah dan matanya terbuka lebar. Rasanya, hati itu begitu damai dan sejuk sesaat setelah mendengar suara pria yang begitu ia hargai, juga menghargai dirinya. Inilah yang Sena harapkan ketika berada di hadapan Raden Wibowo, sebuah alur dua arah yang manis.
Raden tergugah untuk bercanda. "Kenapa? Mata kamu besar sekali, aku bukan setan!" Raden menyadarkan Sena bahwa apa yang ia lihat dan dengar saat ini adalah nyata. "Hei!" panggilnya sembari melambaikan tangan di hadapan wanita cantik yang tampil sederhana itu.
"Eh itu ... aku ... ," jawab Sena yang langsung kehilangan kendali atas otaknya, jika sudah berhadapan dengan suaminya.
'Ternyata kamu memang dia.' Kata Raden di dalam hati, ketika mendapati wanita yang berada di hadapannya berbicara dengan gaya terbata-bata, seperti biasanya. 'Dia memang Senandung Arimbi.'
"Aku akan menunggumu di kantor," ucap Raden yang berpikir untuk pulang bersama-sama. "Kalau sudah selesai, segera menyusul!" titahnya, namun lebih terdengar seperti rayuan di rongga telinga Senandung Arimbi.
"A-apa ... ." Sena terpaku karena terpukau, ia tak menyangka bahwa hal langka seperti ini akan terjadi.
Melihat reaksi kaku dari Sena, Raden paham artinya. Ia pun segera berbalik arah dan meninggalkan wanita ini sendirian. Namun, jauh di dalam hatinya, ia begitu ingin tinggal untuk menyaksikan kemampuan istrinya ketika di muka kelas. Sayangnya, ia harus menjaga sikap agar tak mampu ditebak oleh siapa pun termasuk Sena.
Setelah punggung suaminya tidak tampak lagi, Sena memutuskan untuk kembali ke dalam kelas. Hatinya yang berbunga-bunga, membuat bibir itu mengembang dengan sendirinya. Wajah lelah dan pucat itu pun berubah jadi merah. Seperti bunga mawar indah di taman yang baru saja merekah.
'Katakan ini bukan mimpi!' Kata Sena sambil membayangkan setiap kalimat manis dari bibir Raden Wibowo. 'Dia, apa benar akan menungguku dan kami akan pulang bersama?' Sena masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Mimpi apa aku semalam?" gumamnya seakan tak lupa bahwa suaminya itu adalah pria dingin dan menyebalkan.
Sementara di sisi Raden sendiri, ia juga tidak mengerti tentang apa yang sudah terjadi. Sebab secara mendadak hatinya luluh dan bibirnya sulit untuk mengeluarkan kalimat kasar bersama nada membentak, seperti sebelumnya. Tubuh dan belahan hati itu seakan menekan egonya, hingga tandas ke dasar jiwa.
'Aku seperti bukan diriku sore ini.' Kata Raden sambil memainkan pulpen mahalan miliknya dengan jari-jari yang mempunyai urat besar yang tampak menyembul di kulitnya. 'Apa Akau harus kembali memasang wajah dan sikap ganas?'
Pada saat yang bersamaan, kebanggaannya terhadap Senandung Arimbi tak mampu terbantahkan. Ia pun kembali berpikir untuk berdamai dengan wanita itu, dan menganggapnya sebagai saudara perempuan. Pemikiran ini juga pernah terlintas sebelumnya dan ia mungkin memang akan melakukannya.
Namun, Raden melupakan sesuatu tentang reaksi bagian dari tubuhnya yang lain (Area sensitif). Seolah ingin menerima kedekatan seperti layaknya sepasang suami istri, bukan saudara dan saudari.