Kebingungan Pertama

1431 Kata
Setelah kesibukan berakhir dan Senandung Arimbi siap meninggalkan kampus, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ternyata Radenlah yang menghubunginya. Terkejut berat, sampai-sampai kedua tangan Sena bergetar bersama gerakan cepat dari telepon genggam miliknya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa pria dingin itu akhirnya menelepon, meskipun Sena sama sekali tidak mengetahui alasannya. Sambil memperhatikan sekitar, dan mengatur napasnya, wanita cantik pemilik bibir penuh tersebut mengangkat panggilan dari suaminya. Suaranya yang ragu-ragu, terdengar jelas di telinga Raden Wibowo dan membuat pria itu sadar akan sikap dinginnya selama ini. "Kamu ... ." Raden menghentikan ucapannya. "Di mana?" tanyanya sesaat setelah menghela napas panjang. "Baru keluar dari ruangan, Mas. Maaf!" "Kenapa?" "Aku cuma kaget aja, nggak nyangka kalau kamu menyimpan nomorku." "Aku tunggu di mobil," kata Raden tanpa menjawab kalimat heran yang keluar begitu saja dari bibir istrinya. "A ... iya, oke," sahut Senandung Arimbi, terbata-bata. Raden menutup panggilan telepon dan menunggu Sena di salam mobilnya. Karena dosen baru, tak banyak mahasiswa yang mengetahui mobil mewah berwarna putih itu milik siapa. Tetapi di belakang bayang, Lio terus memperhatikan dan menguntit Sena yang bersikap tidak biasa sejak Raden masuk ke dalam kelas mereka. Tampaknya pemuda ini semakin curiga, tapi tak banyak bicara karena sangsi pada pemikirannya sendiri. Tak ingin mengulur waktu, Sena melangkah cepat ke areal parkiran. Gerakan kedua kakinya sangat cepat, hingga rambut indahnya melambai bersama angin. Ketika tiba di ujung koridor untuk menuruni anak tangga, Raden pun memperhatikan istrinya yang ternyata sangat jelita. Bukan hanya wajahnya saja yang luar biasa cantik, tetapi juga tubuhnya. Heran, Raden memfokuskan pandangannya. Ia bingung pada kedua matanya yang selama ini tak bisa melihat kelebihan Senandung Arimbi. Anehnya, detik ini dirinya bagai tersihir hingga semua perhatian teralihkan pada perempuan yang dinikahinya dengan berjuta penolakan. Entah sejak kapan ia seperti ini, yang jelas Raden sendiri tidak mengetahui jawabannya. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, Sena kembali dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering berulang. Konsentrasi wanita itu pecah dan ia memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. 'Siapa lagi ini? Aneh sekali.' Gumam Sena karena memang ponselnya tersebut sepi panggilan selama ini. Senandung Arimbi menghentikan langkah, menepi dan mengobrol tampak asik dengan lawan bicaranya itu. Berkali-kali, Sena terlihat menarik kedua sisi bibirnya sama rata, seolah orang yang meneleponnya tersebut adalah ia yang diharapkan. Kebahagiaan dan juga keceriaan, tampak jelas di mata orang yang memperhatikan dirinya. Di dalam mobil, Raden terlihat menekuk wajah secara tiba-tiba karena selain merasa diabaikan, ada sesuatu yang sulit untuk ia gambarkan dan terjadi begitu saja. Di sini, di dalam dadanya, ada rasa sembilu yang menyentil sanubari. Karena perasaan ini baru muncul sekali seumur hidupnya, Raden sama sekali tidak mengetahui itu tentang apa. Hanya saja, perasaannya menjadi tak nyaman dan gairahnya untuk tersenyum, memudar. "Hmmm." Raden membuang napas hangat dari hidungnya dan menyandarkan punggung pada kursi kemudi, ia menjadi malah akan segalanya. Setelah selesai dengan obrolan kecil, Senandung Arimbi kembali melanjutkan langkah ke sisi Raden Wibowo. Dengan lembut, ia menyapa dan tersenyum hangat. Sayangnya, Raden sudah terlanjur malas untuk membalas dan memilih kembali tak peduli kepada Sena. Suasana yang semula sudah terada nyaman, kini kembali kaku. Wanita ini pun terlihat bingung, akibat perubahan sikap suaminya yang terjadi secara mendadak. 'Dia ... kenapa?' Tanya Sena seraya menggenggam kedua tangannya, erat. 'Wajahnya kembali ke pengaturan semula. Apa aku melakukan kesalahan atau sesaat tadi sudah salah sangka dan berpikir kalau mas Raden tersenyum hangat kepadaku.' Sena yang semula bersemangat, kini melemah dan merasa ciut. Sebenarnya, Raden ingin memulai obrolannya dengan Sena. Semua sudah dirancang sejak ia mengajak perempuan tersebut untuk pulang bersama. Tetapi, semua rencana buyar begitu saja, semua karena perasaan sakit yang ia rasa. Sayang, Raden tidak dapat mengontrol diri dan mencoba untuk bertanya tentang apa atau siapa sosok yang menelepon istrinya. Malahan, ia menepis niat baik nan muncul dan membuangnya jauh. Empat puluh menit berlalu tanpa kata. Setibanya di kediaman mereka pun, Raden masih bungkam karena kesal. Kemudian dia turun lebih dulu, menghentak pintu mobil tanda tidak suka, dan melangkah seorang diri tanpa memperdulikan Sena. "Ketemu di mana, Tuan?" tanya satpam yang langsung menyapa dan berlari ke arah Raden. Seperti biasanya, jika sedang marah, ia langsung tak ingin diganggu. Kemudian meninggalkan semua orang dengan wajah kecut dan raut wajah kaku. "A ... ." Satpam menahan pertanyaan selanjutnya yang hampir keluar dari mulutnya. "Ah ... apa saya melakukan kesalahan?" gumamnya dalam tanya. "Pak," ucap Sena dengan suara tenang, walaupun tahu kondisinya tengah terjepit. "Mbak ... ." Satpam kini berlari ke arah Sena. "Ketemu di mana sama Tuan? Kita nyariin loh sejak pagi." Sena terkejut, wajahnya menegang. "Apa?" "Iya, Mbak. Saya aja baru pulang juga ini, rupanya tuan dan si mbaknya sudah ketemu," ujar pria baya tersebut hingga membuat Sena bingung seorang diri. "Emh ... ." Sena menundukkan kepala untuk berpikir sejenak. "Kalau gitu Sena ke dalam dulu ya, Pa." "Iya, Mbak. Silakan ... ." 'Mas Raden mencariku? Ada apa ya?' Tanya wanita cantik ini semakin bingung. 'Tidak, aku tak boleh seperti ini! Sebaiknya aku menemui doa dan menerima wajah jelek itu, supaya teka teki tekukan wajahnya itu bisa terpecahkan.' Ketangguhan Senandung Arimbi muncul, bersama kemajuan sikap Raden terhadap dirinya, meskipun semua masih abu-abu dan tersembunyi. Sena mengatur napas berulang, berdiri di muka pintu Raden dan membuat pola pertanyaan untuk disampaikan. Meskipun takut, tetapi bagian lain dari hati itu memaksanya agar berani dan maju tanpa khawatir. Dengan berat tangan, Sena mengetuk pintu kayu yang terbuat dari pohon jati, sembari mengabaikan semua hal negatif di dalam asanya. "Mas ... ." Sena memanggil berulang, hingga ia berhasil. Raden membuka pintu kamar, lalu kembali memasang wajah ganas. "Ada apa lagi?" Sena gugup, spontan saja air liur terasa berat dan menggumpal di kerongkongannya. "Aku," timpalnya dengan suara tercekat, kemudian melanjutkan upayanya untuk menelan air liur yang terasa berat. "Kamu ... a ... ." Raden memalingkan wajah sejenak, ia benar-benar terlihat kesal. "Emh ... ." Sena kembali terbata-bata, terlihat cacat secara tak sengaja. "Aku tidak suka pada wanita yang tak mampu menghargaiku," tukas Raden dengan rahang yang mengeras. "Sebaiknya, lain kali. Kamu mengutamakanku dan menepis urusan dengan orang lain, termasuk telepon genggam milikmu itu!" Raden mengatakan semua ini, seakan ia tidak pernah bersalah dan sudah bersikap baik terhadap Senandung Arimbi. "Apa?" Sena teringat kembali akan sikapnya yang membiarkan Raden beberapa menit karena mengangkat panggilan mendadak dari nyonya Mila. "Apa? Emh? Ha?" Raden mengejek Sena. "Kenapa kamu selalu terlihat cacat di hadapanku? Apa yang salah? Apa ada masalah?" tanya pria ini tanpa henti dan ia benar-benar menjadi cerewet. "Bagaimana aku bisa bicara, kalau tatapanmu terus saja mengintimidasiku, Mas?" kata Sena berusaha untuk jujur dan apa adanya. "Apa?" Radenlah kini yang terkejut karena ia merasa tak pernah menghukum Sena dengan tatapan matanya. Sena menghela napas panjang. "Tadi itu ... mama Mila yang menelepon, Mas." Raden membuang napas kecil, seolah menolak dan tak percaya akan alasan yang Sena berikan. "Mama memintaku untuk menemani makan malam di acara pesta anak rekan beliau, Mas. Soalnya, papa akan datang terlambat dan mama tak ingin sendirian." Raden menatap tajam, menilai ucapan istrinya. Tak lama, sang mama juga menelepon putranya. Beliau juga mengatakan hal yang sama dan meminta Raden untuk ikut bersamanya. Nyonya Mila juga mengatakan kalau dirinya sudah menghubungi Sena dan mendapatkan persetujuan darinya. Sebentar lagi, Sena akan dijemput untuk mempercantik diri ke butik dan salon. Raden melirik ke arah istrinya, merasa bersalah sekaligus lega karena pikirannya salah terhadap Sena. Rupanya wanita itu tak berniat untuk mengabaikan dan bersikap buruk terhadap dirinya. Namun karena angkuh, Raden pura-pura masih marah demi mempertahankan egonya. "Tidak, Ma. Raden tidak ingin pergi. Mama saja dengan dia." "Tapi, Sayang ... ," ucap sang mama, terdengar kecil tapi cukup jelas di telinga Senandung Arimbi. "Mama aja ... bye!" Raden menutup teleponnya dan kembali menatap Sena dalam-dalam. "Tunggu saja di depan! Sebentar lagi, mama akan menjemputmu." Nada suara Raden terdengar begitu dingin dan mencekam. "Kenapa tidak ikut saja, Mas?" "Tidak! Aku tak suka pesta," tukasnya dengan ekspresi datar. "Lagipula, sejak awal yang diajak itu kan kamu. Dan ... kamu juga tidak meminta izin kepadaku. Lalu apa?" Raden berkata sembari menaikkan kedua alis matanya secara bersamaan. "Bukan gitu, Mas. Tapi mama bilang, beliaulah yang akan meminta izin kepadamu." "Dan mama sudah melakukannya, kan? So, good bye!" Raden menutup pintu kamarnya, tapi tidak dengan cara yang kasar seperti biasanya. Detik ini, hatinya berkecambuk dan jiwanya berada pada fase kebingungan. Bingung akan dirinya sendiri yang yang tiba-tiba merasa galau. "Mas ... ." Sena masih berusaha mengetuk dan memanggil dari luar. Raden menunduk, wajahnya dipenuhi awan ketidaknyamanan. Ia benar-benar bingung akan rasa yang tercipta sore ini. Seperti ingin sekali dibujuk dan dirayu, dengan berbagai cara oleh Sena. Sayangnya, perempuan itu masih canggung dan sangat takut untuk berdekatan dengan dirinya. Sebab sejak awal, Raden seperti sangat membenci dan menolak kehadirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN