bab 17. menyindir

1022 Kata
Setiap langkah Ze membuat Arif mundur selangkah, menghalangi pintu kamar yang tertutup rapat. Ze bisa merasakan keberadaan Fira di balik pintu itu. Mungkin sedang bersembunyi di balik lemari atau di bawah kolong tempat tidur dengan napas tertahan. "Mas kok keringatan banget? AC di kamar mati ya?" tanya Ze sambil mengulurkan tangan, berpura-pura ingin mengusap dahi Arif. Arif menghindar dengan canggung. "Enggak, Sayang, cuma kegerahan aja. Oh ya, kamu ... kamu sudah berapa lama di depan pintu tadi?" Pertanyaan itu adalah jebakan kepanikan. Arif ingin tahu apakah Ze mendengar rahasianya. Ze tersenyum lebar, senyum yang paling manis yang pernah ia miliki. "Baru aja sampai, Mas. Begitu masuk langsung teriak panggil Ibu, soalnya aku buru-buru. Kenapa, Mas? Mas kok kelihatannya tegang banget?" Arif mengembuskan napas yang terdengar seperti embusan napas orang yang lolos dari lubang jarum. "Enggak, enggak apa-apa. Kaget saja tiba-tiba kamu teriak." "Ibu mana, Mas?" tanya Ze lagi, matanya melirik ke arah celah pintu kamar yang tidak tertutup sempurna. "Ibu masih arisan. Belum pulang," jawab Arif pendek. "Oalah, ya sudah. Aku ambil dokumen dulu ya di kamar," Ze hendak melangkah maju, mendorong bahu Arif dengan lembut. "EH! JANGAN!" Arif berteriak, refleks memegang kedua bahu Ze. Ze mengernyitkan dahi. "Kenapa, Mas? Itu kamarku juga, kan?" "Itu ... itu ... kamarnya berantakan banget, Ze. Tadi aku habis bongkar-bongkar lemari cari obat, nanti kamu malah telat kalau harus beresin dulu. Biar aku yang ambilkan, ya? Kamu tunggu di sini aja," ujar Arif merajuk dengan nada memohon yang menjijikkan bagi Ze. Ze menatap suaminya lama. Ia ingin sekali tertawa keras dan menunjuk ke arah pintu, mengatakan bahwa ia tahu ada wanita hamil yang sedang gemetar di dalam sana. Tapi ia menahan diri. Belum saatnya panggung sandiwara ini runtuh. "Ya udah kalau Mas mau ambilkan. Di atas meja kerja ya, map warna biru," ucap Ze akhirnya. “Oh iya sama lipstikku juga, Mas. Yang kamu beliin bulan lalu.” “Kamu mau apa bawa-bawa lipstik?” tanya Arif tegang. “Ya emang kenapa? Wanita kan emang gitu, Mas. Kalau aku usai makan, aku bisa gunakan lipstik lagi agar nggak pucat amat.” “Kamu nggak selingkuh kan, Ze?” tanya Arif. Ze tertawa dalam hati, ternyata Arif takut juga kalau dia selingkuh, entah cemburu atau takut jika Ze pergi meninggalkannya. “Nggak, Mas. Ngapain selingkuh sih, selingkuh itu nggak bagus loh, Mas, nggak nyaman juga, apa-apa harus disembunyiin gitu, harus resah dan gelisah, dosa juga, dan itu perbuatan tercela juga, Allah itu nggak suka sama orang yang suka selingkuh, kotor dan … menjijikkan,” ujar Ze sengaja menyindir dan menekan kata-kata menjijikkan. Arif jadi keringatan, ia lebih baik menghentikan pertanyaan itu dulu agar Fira tidak ketahuan di dalam sana. “Ya udah. Aku ambilin dulu ya,” ujar Arif. Arif masuk kembali ke kamar dengan cepat, menutup pintu dengan bunyi klik yang keras. Ze berdiri di luar, mendengarkan bisik-bisik panik yang sangat pelan. Ia tahu Arif sedang memberi kode pada Fira untuk tetap diam. Beberapa saat kemudian, Arif keluar membawa map biru itu. Ia menyerahkannya pada Ze dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Ini. Hati-hati di jalan ya, Ze. Jangan sampai telat makannya," ucap Arif, seolah-olah mengusir Ze sehalus mungkin. Ze menerima map itu. Ia menatap Arif lurus-lurus ke matanya. "Makasih ya, Mas. Oh ya, Mas, tadi kayaknya aku dengar suara tawa di dalam kamar. Suara siapa ya? Mas lagi teleponan atau nonton video lucu?" Arif terdiam, tenggorokannya seperti tersumbat. "Oh ... itu ... tadi aku lagi nonton YouTube. Video komedi. Memang lucu banget, makanya aku tertawa." "Ooh, video komedi ya. Kirain suara siapa," ucap Ze tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat merdu namun mematikan. “Iya, Sayang, video komedi.” "Ya sudah, aku berangkat dulu. Mas istirahat yang bener ya, jangan sampai kegerahan lagi. Mas kayak orang selingkuh aja ih," kekeh Ze sengaja menyindir. Ze berbalik, berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang mantap. Begitu ia sampai di taksi dan menutup pintu, barulah pertahanannya runtuh. Ze memukul tempat duduk taksi berkali-kali tanpa suara. Napasnya tersengal-sengal. "Binatang," bisik Ze di sela tangisnya. Ia melihat ke arah jendela lantai atas, tempat kamarnya berada. Ia tahu Arif dan Fira pasti sedang mengintip dari balik tirai, memastikan taksi yang ia tumpangi benar-benar pergi. Arif menjanjikan rumah ini untuk Fira. Rumah yang setiap sudutnya adalah hasil kerja Ze. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi Lili. Ze menyuruh supir taksi untuk jalan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sorot mata yang penuh dengan rencana pembalasan. "Kamu mau rumah ini, Arif? Silakan ambil. Tapi kamu akan ambil rumah ini bersama semua hutang, kehancuran, dan kutukan yang aku tinggalkan di dalamnya," batin Ze. Ze meninggalkan rumahnya, ia tidak pergi ke kantor. Ia menyuruh supir taksi agar menuju sebuah kantor hukum yang alamatnya sudah ia simpan sejak minggu lalu. Ze tidak akan menunggu lagi. Ia sudah mendengar desahan itu, ia sudah mendengar janji pengkhianatan itu. Sekarang, saatnya Ze menulis akhir dari cerita ini dengan tangannya sendiri, dan ia akan mencari bukti yang dibutuhkan. Di dalam rumah, Arif terduduk lemas di lantai setelah memastikan taksi yang Ze tumpangi menghilang dari pandangan. Fira keluar dari persembunyiannya di balik lemari, wajahnya merah karena panas dan ketakutan. "Mas, Bu Ze beneran nggak tahu, ‘kan?" tanya Fira lirih. Arif menarik napas panjang. "Dia nggak tahu. Dia cuma buru-buru tadi. Tapi Fir, kita harus lebih hati-hati. Ze mulai beda. Senyumnya tadi ... aku nggak suka lihatnya." Fira memeluk Arif dari belakang, mengusap perutnya yang mulai membuncit. "Yang penting janji Mas tadi beneran ya? Rumah ini buat aku dan anak kita." Arif mengangguk, namun pikirannya masih tertuju pada tatapan Ze yang dingin tadi. Ia tidak tahu, bahwa hari itu adalah terakhir kalinya Ze menatapnya sebagai seorang istri. Hari esok, Ze akan menatapnya sebagai musuh yang paling berbahaya. “Oh iya, Mas. Kenapa tadi kamu nanya Ze selingkuh atau nggak?” tanya Fira. “Emang kenapa, Fir?” “Ya kan nggak usah di tanya, kalau dia selingkuh juga mah bagus, jadi kamu punya alasan untuk ambil rumah ini.” “Aku mikirin Lili, Fir.” “Lili? Aku bisa ngasih anak ke kamu kok, kan aku lagi hamil, Lili biarin di kasih ke ibunya aja deh.” Fira begitu egois.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN