Mata Sean bergerak-gerak hanya dia tak bisa membuka mulutnya, tak bisa bersuara. Dia melihat wajah penuh air mata putrinya yang cantik, tangan halus itu melingkar di lengan seorang pria yang juga menatapnya dengan pandangan khawatir. Syukurlah, hati Sean merasa sangat nyaman. Matanya menutup lagi. 5 tahun yang lalu, Sudah larut malam saat Sean pulang ke rumah dengan hati gusar, bajunya kusut dia juga minum sangat banyak. Dilihatnya istrinya, Fyllea menunggu sambil menangis, Sean sedang tidak ingin dinasehati. Dia terlalu kalut. Begitu Fyllea mendekat dia langsung mengamuk. Padahal Fyllea tidak salah apa-apa, hanya saja Sean terlalu marah sangat marah dengan apa yang terjadi. Kapalnya tenggelam saat menuju Amerika, padahal Sean telah menghabiskan semua sumber daya untuk pengir

