Seline memeluk pinggangnya dari belakang saat dia akan berganti pakaian. Tangannya terasa hangat di kulit Arya yang dingin setelah mandi. Arya menelan salivanya, pengendalian diri Arya dari dulu memang sangat luar biasa.
Arya membalikkan tubuhnya, Seline telah berpakaian lengkap dia akan ke kampus. Blazer hijau satu stel dengan celana panjangnya. Arya membelai rambut Seline, memberinya morning kiss.
Ya sentuhan mereka selama ini baru tahap cium bibir dan berpelukan. Bukannya Arya tak mau, tapi dia cuma tak ingin memaksa Seline. Sedikit demi sedikit Arya menyadari benih cinta mulai tumbuh di hatinya.
"Uhh dingin," kata Seline saat bibir Arya melumat bibirnya.
"Nanti siang aku mau antar makanan ke kantor."
"Memang tidak ada kuliah?"
"Selesai jam setengah dua belas."
Hari itu Seline tidak mau di antar ke kampus karena mata kuliah pertama jam setengah sembilan jadi kalau Arya mengantarnya dia akan terlambat. Seline akan naik taxi saja ke kampus. Arya memandang wajah Seline, cantik dan semakin cantik. Bahkan Sean tidak mengizinkan Seline menyetir mobil sendiri karena itu mobil Seline terparkir begitu saja di pekarangan rumah mereka.
Arya tak sabar menunggu jam makan siang karena Seline berkata akan ke kantor. Ternyata Arya menanti-nantikan kehadiran istri kecilnya itu.
Pintu ruangannya terbuka. "Sayang." Arya menoleh tapi bukan Seline yang ada di sana.
"Gaya?" Kenapa wanita ini bisa masuk? pikir Arya.
Gaya dengan seenaknya duduk di sofa ruangannya. Padahal dia memakai rok ketat di atas paha, sehingga mempertontonkan kakinya yang jenjang.
"Sedang apa di sini?" Gawat tiba-tiba Arya ingat Seline akan datang.
"Santai saja sih, Arya." Kata Gaya. "Kau tidak merindukan aku?"
"Gaya, hubungan kita telah lama berakhir."
"Bagiku belum, Lagipula aku sudah tau siapa istrimu."
"Gaya bisa pergi?"
"Ayolah Arya, dia anak Pak Sean bukan? Pemilik perusahaan ini. Orang yang selalu kau puja sebagai abang angkatmu." Gaya bangun dan merangkul leher Arya dengan kedua tangannya.
Arya mecengkram tangan Gaya, "Hentikan Gaya, aku sudah menikah."
"Well, apa kau mencintainya?"
"Ya."
Gaya terdiam mendengar kata-kata Arya itu. Dia menurunkan tangannya, saat itulah Arya melihat Seline sedang berdiri terpaku di pintu.
"Seline." Hati Arya tercubit melihat wajah Seline yang pucat.
Seline meneteskan air mata seketika melihat Arya dan Gaya, dia terpaku di pintu masuk. Arya berjalan ke arahnya, jangan sampai Seline berlari keluar. Tapi tak disangka Seline malah berjalan cepat ke arah Gaya kemudian mendorong Gaya.
"Heiii!" Gaya berteriak gusar.
Gaya mengangkat tangannya seperti ingin memukul Seline, Arya dengan cekatan menghentikan.
"Pergilah Gaya, dia istriku."
Gaya mengeram saking kesalnya, ketika melewati Seline dia berkata, "Kamu bukan lawanku anak ingusan!"
Setelah Gaya pergi, Arya dengan cepat menutup pintu ruangannya jangan sampai kejadian itu menjadi tontonan karyawannya.
Arya melihat Seline yang berdiri gemetar, dengan cepat memeluk Seline. Seline meronta dalam dekapan Arya, "Lepasin, lepasin."
Arya senang, dalam hatinya dia pikir Seline akan berlari pergi saat melihat Gaya tapi dia melawan seakan menjaga miliknya dari wanita lain. Ya menjaga suaminya, Arya bahagia.
Arya memperat pelukannya pada Seline hingga Seline terkulai lemah di pelukannya. Arya menciuminya dan membaringkannya di sofa. Wajahnya yang memerah dan matanya yang basah sangat indah. Arya mencium leher Seline dan turun ke dadanya. Seline mulai merintih.
"Pak." Panggil Miya sembari masuk ke ruangan. Sialan! Dengus Arya. Miya salah tingkah melihat posisi Arya yang sedang menindih Seline di sofa.
"Ee-ehh maaf Pak, bu."
Arya segera bangun sedangkan Seline memalingkan wajahnya, malu karena tepergok.
"Ada apa?"
"Dokumen untuk persetujuan, Nanti saja kalau bapak sibuk."
"Sudahlah, mana?"
Arya menandatangani berkas yang dibawa oleh Miya. Kemudian Miya pamit keluar. Pintu ruangan Arya memang tak pernah diketok apabila ada staf yang ingin masuk, itu kebiasaannya sejak dulu. Arya tak pernah bersikap sebagai bos di kantor. Kalau dia sedang tidak bisa diganggu maka dia akan mengunci pintu ruangan dari dalam, hanya saja tadi dia seperti terhipnotis pada Seline. Jadi lupa mengunci pintu ruangannya.
Seline marah dan tak mau melihat Arya, tapi Arya semakin lucu melihat tingkah Seline itu belum lagi tadi entah bagaimana Seline memiliki kekuatan untuk mendorong Gaya. Seline selalu melebihi ekspektasi Arya.
"Ayo makan, udah cape-cape datang ke sini." Arya membuka kantong yang dibawa oleh Seline. Itu adalah cumi telur asin kesukaan Arya.
"Aaa ...." kata Arya menggoda Seline. Seline menoleh juga, melihat bagaimana Arya selalu menyuapi Seline terlebih dulu sebelum dia sendiri maka membuat hati Seline luluh. Dia memakan suapan dari Arya itu.
"Jangan cemburu lagi," kata Arya.
Seline menatapnya dengan mata yang jernih dan bening. "Habisnya."
"Dia datang sendiri. Bukan aku yang mengundangnya, hubungan kami sudah lama berakhir." Arya pikir dia perlu menjelaskan agar tidak ada salah paham diantara mereka. Seline istrinya, dia tak ingin gadis itu sakit hati.
"J-jangan selingkuh." Air mata Seline mengalir lagi, dia sudah bertahan untuk tidak bersikap cengeng. "Sekalipun Om Arya menikahi aku karena papa, aku ... aku nggak mau diduakan."
Arya menatapnya lembut, dia mendekat ke arah Seline.
"Jangan khawatir. Aku berjanji tidak akan mengkhianati kamu. Jadi kamu harus percaya."
Seline tersedu di d**a Arya, Arya membelai rambutnya lembut. Dia percaya Om Aryanya seorang lelaki yang baik, tapi gadis-gadis yang mengelilingi dia? Apa Seline yakin Arya akan bertahan? Tidak terjebak dengan itu semua.
Arya membimbing Seline ke kamarnya di kantor. Bersebelahan dengan ruangannya. Arya sedari dulu hidup sendiri hanya Seanlah keluarganya, jadi dia memiliki kamar di kantor untuk dia beristirahat dan menginap.
Seline melihat sekeliling ruangan itu, ukurannya kecil hanya 3x3 meter. Ada tempat tidur single dengan seprai bewarna putih dan juga nakas kecil di atasnya terletak sebuah bingkai yang juga mungil. Oh! Itu foto Seline. Seline menoleh ke Arya.
"Mau istirahat di sini? Pulang kantor kita jalan-jalan?"
Seline mengangguk. Kenapa dia baru tahu ada kamar ini? Tunggu sebentar.
"Siapa yang membersihkan kamar ini?" tanya Seline khawatir. Apa sekretaris Arya yang cantik itu?
Seperti mengetahui arah pertanyaan Seline, Arya berdehem.
"Cuma aku dan ayahmu yang pernah masuk kamar ini. Dan sekarang bertambah kamu, istriku."
Wajah Seline merona melihat senyum simpul Arya. Arya mengecup pipi Seline sebelum meninggalkannya. Tahu begitu Seline tadi akan membawa pakaian ganti dan lain-lain. Seline duduk di atas tempat tidur tercium aroma wangi dari kamar ini. Sangat nyaman, Seline membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil itu dan dia pun tertidur.
Uh nyaman sekali, dan wangi. Seline seakan tak ingin membuka matanya. Hidungnya menyentuh sesuatu, malas-malasan Seline membuka matanya. Wajahnya tertutup sesuatu. Om Arya! Suaminya sedang berbaring di sampingnya, bahkan memeluk Seline. Mereka berbagi ranjang kecil itu.
"O-Om Arya." Uh kenapa Seline sulit sekali menghilangkan embel-embelnya.
"Sudah bangun?" Dia bertanya. "Padahal aku mau ikut tidur di sini."
Seline di mana-mana selalu tidur, pasti begitu pendapat Arya mengenai dirinya.
"Jam berapa sekarang?" Seline beringsut bangun, udara sejuk dari Ac menghembus kulitnya.
"Jam empat."
"Apa sudah boleh pulang?"
"Hmm." Arya segera duduk dengan malas, tempat tidur itu sekarang sangat menggoda. Bukan karena seprainya yang berwarna polos tapi karena ada Seline di sana.
"Om Arya mau mengajakku ke mana?" tanya Seline dengan mata redup.
Melihat wajah itu Arya tertawa, Seline langsung menangkupkan kedua tangannya di pipi. Jangan-jangan wajahku kusut? Pikir Seline.
Seline segera melompat berdiri dan menuju kamar mandi, meninggalkan Arya yang spontan kaget karena sikapnya.
Seline mematut-matut parasnya di cermin. Tidak terlalu parah, dia toh hanya tertidur beberapa jam. Seline menepuk-nepuk pipinya dengan air. Uh! Dia ingin jalan-jalan tapi kenapa dia merasa penampilannya kurang meyakinkan sih.
Seline berjalan keluar dengan malas, Arya telah menunggunya. Suaminya terlihat keren, kemeja rapi, rambut tertata, wajah segar. Seharusnya sudah sesore ini dia sedikit lecek, tapi ternyata tidak.
"Kenapa?" Suaranya lembut namun berkharisma.
"Tidak jadi pergi," kata Seline ragu.
Arya mendekati Seline bertanya apa dia masih marah karena ada Gaya tadi?
"K-kita santai di rumah saja." Lanjut Seline, "Beli makanan dan makan di rumah." Seline telah memutuskan.
"Oke." Arya selalu mengikuti keinginan Seline, tapi akhir-akhir ini entah kenapa Seline merasa takut kalau Arya tidak mencintai dia. Berdasarkan novel ataupun film yang dia baca biasanya pasangan suami istri yang baru menikah kerap bertengkar dan itu tidak terjadi pada mereka. Seline merasa hatinya mengkerut.
Arya membereskan barang-barangnya, dia menggandeng tangan Seline saat ke luar.
"Miya aku pulang." Kata Arya kepada sekretarisnya.
"Baik pak."
Seline berjalan canggung melewati kubikel karyawan lain. Mereka menatap bosnya dengan tatapan penasaran. Seline sudah beberapa kali datang ke kantor Arya tapi masih mengundang kekagetan di wajah mereka. Bos mereka Arya yang dulu selalu lembur dan sering menginap di kantor beberapa bulan terakhir mulai pulang cepat, bahkan sering senyum-senyum sendiri. Kekuatan cinta begitulah pikir mereka.
***