Seline sangat mengantuk di kampus hari itu, semalam dia tidur di kamar Arya. Tapi dia nggak bisa memejamkan mata, suaminya menciuminya banyak sekali seharian, mereka berkencan dan saling bersentuhan. Tapi sampai malam berakhir Arya tidak meminta haknya sebagai suami. Seline merasa terpukul apa dia sebegitu tidak menarik di mata Arya.
Sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Seline mengangkat wajah dari meja. Justin. Pria itu membawakan minuman dingin untuk Seline. Justin bertubuh kekar, tinggi juga berwajah menarik dengan rahang tegas. Berbeda tipe dengan Arya, tapi Om Arya jauh lebih tampan dan lebih menarik.
"Mengantuk?" Dia bertanya. Seline enggan menjawabnya. "Hei mau nge-date nanti malam?"
Sudah berapa kali Justin mengajaknya kencan. Tapi dia tentu tidak mengindahkan ajakan Justin itu.
"Berhenti berusaha Justin." Jawab Seline tegas. Hal itu membuat Justin tertawa.
"Kau tahu itu tak mungkin."
Seline cemberut, suaminya saja sangat susah menunjukkan ketertarikan seperti yang dilakukan Justin padanya saat ini.
Seline memainkan handphonenya. Tidak ada pesan maupun telepon dari Arya. Laki-laki itu! Seline menarik nafas keras.
"Kenapa sih suntuk gitu?" Seline lupa kalau Justin masih di depannya. Memandangi terang-terangan.
"Hush! Justin pergi sih aku mau nelpon lelakiku." Usir Seline.
Justin memicingkan matanya terlihat tidak suka. "Memang kenapa kalau aku dengar? Apa ada percakapan intim?" Ejek Justin.
"Ini privacy."
Justin beringsut malas lalu duduk di bangku yang juga tak jauh. Seline menelpon Arya tapi tidak diangkat. Dia mencoba tiga kali.
"Yah dicuekin." Ejek Justin lagi.
Seline memandang ke arahnya kesal. Om Arya apa arti kehadiranku bagimu? Seline nyaris menangis, dia menangkupkan lagi kepalanya ke meja. Justin berdiri, mendekati Seline lagi, tangannya terangkat mencoba menyentuh rambut Seline.
"Hei!" Hardik Nadine. Justin menganga entah kapan perempuan ini muncul. Justin menyingkir malas.
"Seline kamu dijemput?" Tanya Nadine. Seline melihat Nadine lesu. Dia menggeleng.
"Malam ini kita nginap di rumah Sandra yuk, besokkan libur. Tapi tanya om Arya dulu."
Seline menyipitkan matanya. Tiba-tiba tebersit sebuah ide.
Tiga misscall dari Seline ada apa? Arya harus menyelesaikan pekerjaan hari itu dia pulang kantor sekitar pukul 7 malam. Arya bergegas memencet lift apartemen. Tak sabar bertemu istri cantiknya, dia ingin memeluknya erat menciumi aroma manis dan menghilangkan semua kelelahannya.
Sudah 5 bulan mereka menikah, dan Arya menyadari kalau dia telah jatuh cinta sepenuhnya pada Seline. Sudah bertahun-tahun mengenal Seline, dia menyimpan begitu banyak misteri, perlahan-lahan Arya mengetahuinya. Arya tersenyum simpul, tadi dia telah membelikan cake kesukaan Seline. Arya tahu Seline akan memeluknya dan balas menciumnya, uh ciuman Seline menggetarkan tubuh Arya.
Kalau dia terbawa nafsu sudah dimilikinya diri Seline sejak lama, namun Arya menunggu Seline, menunggu Seline jatuh cinta padanya. Menunggu Seline siap. Arya membuka pintu apartemen. Gelap?
"Seline." Arya meletakkan cake di meja, Arya menghidupkan lampu. Biasanya Selina akan menyambutnya saat dia pulang. "Seline."
Arya mendadak cemas, dia tak menemukan Seline dimanapun. Arya buru-buru menelponnya. Mati? Handphone Seline mati. Dia lalu melepon bibi Suri tapi Seline tak di sana bahkan Bang Sean tidak tahu kemana dia. Arya mulai panik, dia bergegas turun ke bawah tanpa mengganti pakaiannya, bertanya pada security apa Seline pulang. Security berkata Seline memang sempat pulang siang tadi.
Arya menelpon Nadine dan Sandra tapi tak ada yang mengangkat, dia juga kehilangan GPS yang diinstalnya di handphone Seline. Kemana dia? Jangan-jangan? Arya mulai takut mengingat keluarga ibu Seline. Seline cuma tahu kalau keluarga ibunya sering datang minta uang, dia tak pernah tahu kalau mereka dulu bersikap sangat keji terhadap mama Seline. Ya Bang Sean memutuskan tidak memberitahu Seline agar Seline tidak trauma dan masih bisa berhubungan baik dengan sepupunya.
Arya akan mencari ke rumah Sandra dan Nadine dulu sebelum menelpon Fynn, itu adalah hal terakhir yang akan dia lakukan.
Arya mengetuk pintu rumah Sandra, terlihat seorang wanita membuka pintu rumah itu.
"Siapa ya?"
"Saya mencari Seline."
Wanita itu tersenyum kemudian membuka pintu, mempersilahkan Arya masuk. Arya duduk di sofa saat wanita itu masuk ke dalam. Tubuh Arya merasa lega, Seline kenapa tidak bilang kalau kamu di sini?
Seline keluar menemui Arya, tadinya Arya ingin memarahi dia sedikit karena itu. Tapi melihat Seline yang lesu, kegundahan Arya segera sirna.
"Seline." Bisiknya lirih. Seline malas-malasan memandang wajah Arya. Oh sungguh Seline berharap pria itu marah kemudian menyeretnya pulang, lebih bagus kalau Arya menghukumnya dengan ciuman kasar.
Arya berdiri meraih tangan Seline lembut, Arya menatapnya sedih. Apa kamu sangat menderita tinggal denganku? Jadi kamu menginap di sini tanpa berkata apapun?
"Seline kenapa nggak ngomong kalau menginap di sini?" Tanya Arya pelan dan hati-hati takut melukai perasaan gadis kecil itu. Seline diam saja.
"Seline." panggil Arya lagi. Arya menghela nafas. Arya menarik Seline ke pelukannya. "Ya sudah besok pagi aku jemput ya." Besok hari libur, setelah itu kita akan kencan. Pikir Arya. Seline mengangguk pelan. Pertemuan itu diakhiri dengan sebuah kecupan di kening Seline.
Seline kembali ke kamar Sandra dengan lunglai. Tak ada perasaan, Arya tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Seline terisak.
Sandra dan Nadine kaget melihat Seline yang menangis pelan, nyaris tidak bersuara tapi air mata mengalir di pipinya. Nadine dan Sandra membiarkan Seline menangis hingga tertidur.
Arya terbangun, semalam sulit tidur sudah beberapa bulan terakhir dia selalu tertidur dengan pelukan Seline di tubuhnya dan terbangun dengan kecupan di pipinya. Uh kamarnya terasa kosong. Arya beranjak dari tempat tidur, dia menuju dapur. Setiap hari Seline akan membuatkan sarapan. Kadang Arya tak mengerti bagaimana Seline bisa melakukan itu. Dia tidak terbiasa dilayani dan sekarang Seline melayaninya.
Arya mengambil smartphonenya, tidak ada satu pesan pun dari Seline. Hati Arya terasa hampa. Arya berjalan menuju dapur, kosong. Lagi-lagi dia teringat Seline. Astaga betapa kuat pengaruh Seline dalam kehidupannya saat ini. Dia bahkan tidak pernah membuat sarapan sendiri lagi. Arya buru-buru mandi, tak sabar ingin menjemput Seline. Hari ini hari libur, Arya akan mengajak Seline bersantai di rumah saja. Berdiskusi tentang film yang nanti akan mereka pilih untuk ditonton. Kemudian Arya akan memangku juga memeluk gadis itu merapatkan hidungnya, menciumi aroma tubuh Seline. Pastilah dia tak ingin hari cepat berlalu.
Usai mandi Arya melihat lagi ponselnya, siapa tahu Seline menelpon. Yang ada malah misscall dari Bang Sean. Arya menelpon balik Bang Sean. Bang Sean meminta Arya mentransfer lagi sejumlah uang ke rekening Fynn. Untuk biaya kuliah anak Fynn, Feli. Nama anak Fynn. Usianya kira-kira setahun lebih tua dari Seline, seingat Arya tahun lalu Feli berkuliah karena saat itu Arya yang diminta mengurus administrasi dan biaya masuknya.
Arya tersenyum sumringah saat menuju rumah Sandra. Dia mampir membeli cake untuk keluarga Sandra. Arya ingat sekali bagaimana dulu saat dia dan anak-anak di panti asuhan begitu gembira kalau ada tamu yang membawa cake atau semacamnya, karena itu Arya tak pernah lepas dari kebiasaan ini.
Mama Sandra menerima cake itu dengan gembira, memang cake itu cukup punya nama rasanya sangat enak. Pukul 8 pagi, kepagian memang, tapi Arya sudah tak sabar bertemu Seline. Apalagi lusa kemungkinan Arya akan berangkat ke Bali selama seminggu. Sejak menikah Arya selalu menghindari bepergian ke luar kota, tapi kali ini memang Arya yang harus pergi. Rencana mengembangkan perusahaan di Bali dan calon investor hanya mau bertemu dengan Arya.
"Om Aryaaa..." Nadine memanggilnya manja. Arya tersenyum, Seline dan teman-temannya selalu manja dengannya. Eits nanti dulu, itu sebelum dia menikah dengan Seline. Sekarang agak dikurang-kurangi panggilan dengan nada manja itu ya.
"Jemput Seline ya? Masih molor om." Nadine tertawa terkikik.
"Biar saja, om tunggu sampai dia bangun ya."
Sandra mencubit Nadine, sepertinya Nadine lupa kalau Seline telah menikah dengan Om Arya. Masa dia bilang Seline masih tidur jam segini sih. Ops! Nadine tersadar dan menutup mulutnya. Arya tersenyum saja, dia sudah terbiasa menghadapi tingkah gadis-gadis itu sejak mereka remaja.
Nadine juga Sandra meninggalkan Arya di ruang tamu. 20 menit kemudian barulah Seline muncul, rambutnya basah. Wajahnya juga terlihat lelah. Arya berpamitan pada mama Sandra, juga Nadine dan Sandra. Kening Arya berkerut melihat wajah Seline yang ditekuk.
Seline melanjutkan aksi diamnya sampai apartemen, dia hanya menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan Arya. Bahkan Seline langsung masuk ke kamar tamu, bukan kamar Arya. Padahal Seline belakangan selalu tidur di kamar Arya.
"Seline." Arya memanggilnya bingung.
Seline masuk dan menutup pintu. Arya yang kebingungan dengan sikap Seline berpikir apalagi pms ya? Akhirnya Arya memutuskan untuk tidak mengganggu Seline, dia memesan makanan untuk makan siang. Karena hari libur ART tidak datang, dan tampaknya Seline tidak akan masak.
Menjelang makan siang Arya mengetuk pintu, terdengar suara Seline sedang menelpon. Arya membuka handle pintu.
"Seline, makan yuk." Arya melihat Seline segera mematikan ponselnya. Perasaan Arya sedikit terganggu.
"Telponan dengan siapa?" Kaget juga Arya mendengar pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Bukankah selama ini dia menjaga untuk tidak mengganggu Seline dengan hal-hal itu.
"Teman di kampus." Jawab Seline pendek.
Laki-lakikah? Seketika ingatan Arya melayang pada pemuda itu. Kata Seline lelaki itu menyukainya, hatinya tercubit. Apa Seline berkencan dengan lelaki itu? Dia bosan menjalani kehidupan pernikahan denganku? Duh Arya apa yang kau harapkan? Arya mendadak lesu.
Seline mengikutinya, mereka makan dengan diam. Padahal itu menu favorit Seline. Seline tetap membereskan piring-piring mereka dan mencucinya. Arya mati kutu dibuatnya. Seline memasang aksi diam, selama ini tidak pernah. Arya jadi bingung harus bersikap apa. Arya mengajaknya nonton tapi Seline menggeleng dia segera kembali ke kamarnya.