Arya duduk di ruang televisi dan Seline tidak keluar sejak tadi, Arya mulai khawatir.
Aku harus memaksanya bicara, seandainya dia bilang dia tersiksa setidaknya aku harus tahu. Tapi bagaimana kalau dia mengatakan itu? Sanggupkah aku saat ini berpisah dengannya? Rasanya tidak!
Arya membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk, terdengar suara isakan lembut. Ya Tuhan, benarkan Seline sedang menangis.
Tubuhnya yang bergetar membelakangi Arya, tubuh mungil dan indah dengan lekukan yang menggairahkan. Bahkan dalam suasana seperti itupun Arya memuji keindahan wujud Seline.
"Seline," bisiknya pelan. Dia memutar tubuh Seline, mata Seline terpejam basah oleh air mata. "Seline bilanglah, ada apa?"
Seline menggeleng kuat, masih tak membuka matanya. Arya mengecup mata Seline yang basah. "Maafkan aku, ya?"
Kenapa Arya minta maaf? Pastilah karena dia sadar dia ternyata tak bisa mencintai aku, pikir gadis itu lagi dengan sedih.
"Om Arya tinggalin aja Seline," ujar Seline lirih dalam isaknya. Arya menatap gadis itu terdiam.
"Kamu ingin sendiri?" tanya Arya lembut.
"A-aku ...." Seline tercekat. "Om Arya ingin berpisah dengan Seline?" Akhirnya kata-kata itu diucapkan oleh bibirnya yang mungil.
Arya bingung mendengar pertanyaan itu? Kenapa aku ingin berpisah dengannya? Sebentar, apa maksudnya ini?
"Coba katakan lagi." Arya memegang dagu Seline.
"P-pasti bersama denganku membosankan bukan?"
Arya berusaha mencerna ucapan Seline, oh gadis ini ingin meninggalkan aku dengan kata-kata yang lembut. Begitukah? Dia tak ingin menjadi orang yang mengakhiri, apalagi ini desakan papanya. Dia ingin Arya yang mengatakan terlebih dahulu. Seline ingin berpisah dengannya? Oh pastilah kenapa dia bisa begitu gembira dengan segala kelembutan gadis itu padanya selama ini.
Arya memejamkan mata, aku ...."Seline apa kamu ingin berpisah?"
Mata gadis itu membulat, b-bukankah itu keinginan Arya?
"Seline." Arya menelan ludahnya. "Seline, apa tak ada kesempatan untukku?"
Maksudnya? Hati Seline tersentak.
Seline memandang wajah Arya yang terlihat frustasi menjambak rambutnya. Tampan sekali. Hati Seline menggelepar kuat. Seline ingin menubrukkan tubuhnya ke dadanya yang liat, tapi dia takut ....
"Kalau kamu ingin berpisah katakan saja, nanti aku akan bilang pada papamu." Arya menghela nafas.
Tuh kan! Seline meneteskan air mata lagi.
Arya memeluk Seline, "Sudah jangan menangis, kamu gadis yang cantik, baik. Aku memang tak pantas untukmu Seline. Kamu harusnya bersama lelaki sebayamu, orang yang juga kamu cintai."
Tunggu. Ini aneh? pikir Seline. Kenapa kata-kata Om Arya aneh?
"Kamu tahu tidak selama lima bulan ini hatiku terus-terusan merindukanmu. Aku mencintai kamu Seline, tapi aku lebih ingin kamu bahagia."
Tunggu! Seline mendorong Arya keras. Memandang mata pria itu yang tampak nelangsa.
"A-apa yang O-Arya katakan?"
Arya membelai pipi Seline lembut, "Sudahlah aku mengerti, kamu ingin berpisah bukan?"
"Kke-kenapa Seline yang ingin berpisah?" tanya Seline.
"Sudahlah aku mengerti, kamu tidak usah menjelaskan apa-apa lagi."
"S..Seline rasa Arya salah paham." Seline merasa sangat aneh.
"Jadi kenapa kamu bersikap seperti ini? Selama ini aku berharap kamu tidak terlalu tertekan hidup bersamaku Seline. Aku cuma berharap kamu bisa mencintai aku juga."
"K-katakan yang Arya katakan tadi." Pipi Seline berubah warna menjadi merah merona.
"Soal apa?"
"Yang tadi." Seline terengah. "Selama lima bulan terus yang barusan."
"Mencintaimu? Ya aku mencintaimu Seline."
Seline tercekat. Lalu kenapa? Bukankah Seline sering membaca nafsu lelaki itu sangat besar, apalagi mereka telah menikah, setiap malam Seline selalu menempel pada om Aryanya. Jadi bagaimana mungkin?
"Itu nggak mungkin," ujar Seline.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Ka-kalau begitu kenapa Arya tidak pernah menyentuh Seline?" Seline memalingkan wajahnya, malu sekali mengucapkan kata itu. Jantungnya berdebar sangat kencang.
"Aku sangat ingin. Tapi mana mungkin aku memaksamu."
Seline menatap wajahnya, masa?
"Bohong."
"Kenapa bohong?"
"Soalnya Arya seperti tidak tertarik, apalagi ... mantan Arya dia sexy, cantik ... Se ... Seline ...
Arya menatap lekat wajahnya. "Apa maksudnya Seline?"
"Om Arya bodoh!" Seline berteriak kesal.
Apa sih yang dimaksud Seline ini? Sungguh Arya bingung dibuatnya.
"S-seline ... uh." Kenapa sih sulit sekali mengatakannya? "Seline, Seline cinta Arya." Akhirnya Seline mengucapkannya.
Wajah Arya terperangah? Tunggu. Arya menarik tubuh Seline lagi mendekat.
"Kamu ... Seline tidak menderita dengan pernikahan ini?"
"Kenapa harus menderita? Seline ingin menjadi istri ... Om Arya." Wajah Seline tersipu, benar-benar panas.
"Katakan lagi."
"Ih malu ... " Seline memberengut.
"Aku pikir ...."
"Tapi Seline sedih, Seline kecewa. Karena Om Arya ...."
"Kenapa? Katakan semuanya sayang." Bisik Arya, suara lembut Seline yang menyatakan isi hatinya membuat hati Arya membuncah.
"Om Arya nggsk pernah marah, bahkan nggak cemburu sama Seline. Seline pikir Om Arya nggak suka Seline. Om ... Om Arya juga tidak mengajak Seline ... uh ...."
Arya melotot, mulai memahami perkataan Seline yang sejak tadi tidak dimengertinya.
"Belum mengajak Seline b******a," kata gadis itu sangat pelan.
Seandainya tidak ada atap di ruangan itu pastilah Arya merasakan langit runtuh menimpanya.
"Seline, maksudnya kamu lesu bukan karena kamu menderita menjadi istriku?"
Seline menggeleng.
"Bukan karena kamu tertarik sama teman kampusmu, dan kamu bingung karena sekarang menjadi istriku?"
Seline menggeleng lagi keras.
Arya menahan nafas, "Tapi karena aku tidak menyentuhmu, kamu pikir aku tidak tertarik padamu?"
Seline mengangguk, wajahnya benar- benar merah saat ini.
Ya Tuhan. Arya mencium bibir Seline kemudian melumatnya, beban di dadanya seketika menghilang. Arya tak peduli sekalipun nanti Seline akan menyesali sikapnya itu. Yang pasti saat ini Arya sangat ingin memeluknya hingga Seline tak bisa bernafas.
"Kenapa kamu nggak bilang?" bisik Arya pelan, "Selama ini aku pikir ...."
Seline memukul bahu Arya. Ih mana mungkin dia bilang, itu memalukan. Dasar Arya saja, suami apa ini tidak peka! Seline cemberut. Arya melonggarkan pelukannya, wajahnya mendekati wajah Seline. Terasa nafas Seline membelai.
"Malam ini tidur di sebelah." Bisik Arya dengan suara berat. Jantung Seline berdetak kencang sekali, suara ajakan yang berbeda. Seline menggigit bibir bawahnya.
"Sekarang ayo makan. Perut kamu bunyi." Ledek Arya. Seline memukulnya lagi, mengelak kalau perutnya berbunyi.
Seline mengenakan piyama terusan berbahan satin lembut, beberapa kali Seline melihat lingerie yang lucu tapi dia tak pernah membelinya. Apa pikiran Arya nanti kalau Seline mengenakan lingerie yang sexy?
Seline memejamkan mata dan memeluk guling kuat-kuat. Wajahnya terbenam di guling bewarna polos itu, abu-abu muda. Tubuh Seline meremang, dia mendengar langkah Arya mendekat. Uh Seline ngeri, bukankah tadi siang dia yang membuat Om Arya berkata seperti itu. Sekarang dia malah takut.
Arya tersenyum simpul melihat Seline, dia menyadari kalau Seline pastilah gugup saat itu. Bahu Seline bergerak pelan karena helaan nafasnya, belum lagi kaki dan tangan yang melingkari guling secara kaku.
Arya merayap naik ke tempat tidur, mencium paha Seline yang mulus. Seline meresakan gelenyar aneh di dadanya. Pertama kali Arya mengecup wilayah itu. Pelan-pelan dia menoleh, Om Arya telah shirtless, tubuhnya uh menggetarkan seluruh nadi Seline.
"Seline."
"Uh."
"Kamu yakin malam ini aku boleh meminta hakku sebagai suamimu?" tanya Arya lagi. Seline menggangguk lemah. "Kalau aku terlalu kasar, kamu bilang ya."
Duh suaminya ini, terlalu penyayang. "K-kamu tidak perlu lembut," sahut Seline.
Arya tersenyum, jawaban Seline selalu di luar perkiraannya. Arya memeluk tubuh istri mungilnya itu. Menyatukan dirinya dengan Seline. Membuat malam itu menjadi malam tak terlupakan dan pertama bagi mereka berdua.
Seline terbangun, tubuhnya berada di atas tubuh Arya. Aw...perih, Seline mengernyit. Dibelainya tubuh bidang Arya. Seline malu. Berbeda, Seline sering terbangun di pelukan Arya tapi kali ini berbeda. Mereka berpelukan dengan seluruh kulit terbuka. Seline menggigit bibir bawahnya.
Semalam pastilah Arya menahan diri, dia berusaha sangat lembut agar Seline tidak terlalu sakit. Oh betapa beruntungnya dia memiliki suami seperti Arya ini.
Arya membuka matanya dan tersenyum, aw Seline menarik selimut menutupi tubuhnya. Arya menarik selimut itu.
"Kenapa?" ledek Arya.
"Malu."
"Kenapa malu? Semalam saja Seline berteriak keras sekali."
Seline memukuli Arya dengan bertubi-tubi. Arya tertawa memeluk Seline dan membalut tubuh mereka dengan selimut.
"Kita di tempat tidur saja seharian," bisik Arya sambil menggigit telinga Seline lembut.
"Memang nggak kerja?"
"Izin dulu."
"Tapi kuliah?" Rengek Seline.
"Bolos dulu."
Seline menggelitik bulu mata Arya dan mengangguk. "Sarapannya?"
"Kita pesan saja."
"Iya Seline lelah ... ups." pipi Seline memerah.
"Lelah kenapa? Semalaman aku yang bekerja keras." Arya menyeringai.
"Aww ... Genit." Seline meronta tapi pelukan Arya terlalu kuat belum lagi selimut menggulung tubuh mereka.
Seline mencium bibir Arya, menggigiti lembut bibir bawahnya.
"Memangnya sejak kapan Seline suka aku?" Bisik Arya.
"Siapa bilang?" sahut Seline.
"Jadi nggak?"
"Nggak adil."
"Kenapa?"
"Karena Seline duluan suka sama Arya, harusnya Seline yang dikejar-kejar."
Hmm ... Arya gemas sekali melihat wajah Seline yang cemberut itu.
"Bagaimana ya? Seline seperti seorang ratu, aku kan hanya rakyat jelata. Mana bisa aku mengejar Seline."
"Huh boong."
"Beneran."
"Tapi Arya punya pacar?"
"Ya kan aku lelaki normal masa nggak boleh."
"Ja-jadi siapa yang pertama?" Tanya Seline lugas.
"Pertama apa?" Kening Arya berkerut.
"Uh pura-pura nggak paham."
Arya tertawa, mengerti arah pertanyaan Seline. Dirinya semakin geli melihat wajah Seline yang kesal.
"Kamu serius mau mendengar ini?" Goda Arya. Seline mengalihkan pandangannya. "Aku penganut no s*x before marriage sayang."
Mata Seline mengerjap dan berbinar. "Serius?"
"Hmm." Arya membungkam bibir Seline dengan ciuman, ah menyenangkan ciuman penuh penerimaan. Seline membalasnya dengan bersemangat.