BAB 1 Pernikahan Pengganti
Maya berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas. Gaun putih berenda membalut tubuh mungilnya, membuatnya tampak seperti pengantin yang sempurna. Tapi tidak ada kebahagiaan di matanya. Yang ada hanya ketakutan.
"Kamu harus lakukan ini, Maya," desak Mama dengan suara bergetar, tangan wanita paruh baya itu gemetar saat memperbaiki veil di kepala Maya. "Maira kabur. Kalau kamu tidak naik ke altar, keluarga kita hancur."
Maya menggigit bibir bawahnya, menahan isak. Kakaknya, Maira—yang seharusnya menikah hari ini dengan Arka Mahendra, CEO muda paling berkuasa di kota itu—hilang entah ke mana. Dan sekarang, keluarga mereka menuntutnya untuk menggantikan posisi itu.
"Mama, aku... aku tidak bisa," bisik Maya, suaranya hampir tak terdengar.
"Kamu harus bisa!" bentak Ayah keras. "Semua ini demi kehormatan keluarga kita! Lagipula, kau dan Maira kembar identik. Dengan veil menutupi wajah, Arka takkan sadar!"
Maya memejamkan mata rapat-rapat.
Ini salah.
Semuanya salah.
Namun, tatapan putus asa Mama dan Ayah menusuk hatinya. Dia tahu, bisnis keluarga mereka terancam bangkrut jika pernikahan ini batal. Mereka butuh koneksi Arka untuk bertahan.
Dengan langkah gontai, Maya mengikuti Ayah menuju pelaminan. Musik pernikahan mulai mengalun, dan semua mata tertuju padanya. Di ujung altar, Arka berdiri dengan setelan jas hitam sempurna, wajahnya tampan namun dingin bagai patung marmer.
Saat Maya melangkah mendekat, hatinya berdegup tak beraturan. Ini bukan hanya pernikahan palsu. Ini jebakan.
Tangannya bergetar saat Arka menyambutnya, menautkan tangan mereka. Maya menunduk, berusaha menghindari tatapan tajam pria itu.
Prosesi berlangsung cepat.
Sumpah diucapkan.
Cincin melingkar di jari mereka.
"Mulai saat ini, kalian adalah suami-istri yang sah di mata hukum," ucap penghulu.
Tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan, tapi Maya hanya merasakan kehampaan.
Begitu mereka berbalik menghadap tamu, Maya merasakan genggaman Arka mengencang—terlalu kuat, terlalu dingin. Ada sesuatu di matanya saat melirik Maya sekilas.
Kecurigaan.
Dan Maya tahu, cepat atau lambat, Arka akan menyadari bahwa wanita di sampingnya bukan Maira.
---
Malam harinya, di kamar pengantin yang mewah, ketegangan menebal di udara.
Maya duduk di tepi ranjang, menggenggam gaun malam sutranya erat-erat. Ia mendengar suara langkah berat Arka mendekat. Degup jantungnya berdentum di telinga.
"Siapa kau?" tanya Arka dengan suara rendah, penuh bahaya.
Maya mengangkat wajah perlahan. Jantungnya mencelos saat bertemu dengan tatapan dingin itu. Arka berdiri beberapa langkah darinya, matanya menyipit meneliti.
"A... aku Maira," jawab Maya dengan suara bergetar.
Sebuah senyum mengejek muncul di wajah Arka. "Jangan bohong padaku."
Maya menahan napas. Tangannya mengepal di atas pangkuannya.
"Aku tidak bohong," katanya lagi, lebih lirih.
Arka mendekat. Sekali tarikan tangan, ia membuka veil yang masih menutupi sebagian wajah Maya. Matanya membelalak sesaat—hanya sepersekian detik—sebelum kembali keras.
"Dia... lari, kan?" desak Arka, suaranya menahan amarah.
Maya hanya bisa menunduk, lidahnya kelu.
"Hahaha..." Arka tertawa hambar. Tawanya dingin seperti musim dingin yang membekukan. "Bagus. Sangat bagus."
Ia berbalik, berjalan ke arah pintu kamar.
"Mulai malam ini," katanya tanpa menoleh, "kau hanyalah istri atas kertas. Jangan harap lebih."
Pintu kamar dibanting keras di belakangnya, meninggalkan Maya yang terisak dalam diam.
Dalam hatinya, Maya tahu: malam ini hanyalah awal dari mimpi buruk panjang yang harus ia jalani.
Dan rahasia malam itu... akan mengubah hidup mereka selamanya.