BAB 7 Malam Bertopeng

323 Kata
Maya berdiri di depan jendela kamar, memandangi hujan yang turun perlahan di luar. Tetes-tetes air mengalir di kaca, seperti memantulkan bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul di benaknya. Malam itu kembali hadir — malam pesta topeng setahun lalu. Malam yang selama ini ia simpan rapat-rapat dalam ingatan, karena terlalu indah… dan terlalu menyakitkan. --- Pesta malam itu berlangsung megah di sebuah hotel bintang lima. Maya datang menggantikan teman sekamarnya yang sakit. Ia tak mengenal siapa pun, tapi ia mengenakan gaun hitam sederhana dan topeng perak yang menutupi setengah wajahnya. Ia hanya ingin menikmati malam… tanpa tekanan, tanpa harapan. Di tengah keramaian, ia bertemu seseorang. Seorang pria tinggi dalam setelan jas hitam elegan, dengan topeng hitam yang membuat sorot matanya terlihat semakin misterius. Mereka berdansa. Tanpa kata. Tanpa nama. Ada kehangatan aneh di antara mereka, seolah dunia luar menghilang. “Namamu?” tanya pria itu lirih di telinganya. Maya hanya tersenyum dan menggeleng. “Rahasia.” Pria itu tertawa pelan. “Baiklah. Tapi kau membuatku penasaran.” Maya tidak tahu siapa pria itu, dan ia tidak pernah bertanya. Ia hanya tahu… pelukan pria itu membuatnya merasa aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dan malam itu… Mereka menghabiskan waktu di kamar hotel yang sama. Tanpa banyak bicara. Tanpa banyak alasan. Hanya dua jiwa yang saling tertarik di tengah topeng dan cahaya samar lilin. Pagi harinya, Maya bangun sendirian. Pria itu telah pergi — seperti dongeng yang berakhir sebelum pagi. Ia menyimpan malam itu sebagai rahasia… sebagai kenangan yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Tapi ternyata, malam itu… adalah awal dari segalanya. --- Kini, Maya menutup matanya. Tangannya mengepal. Karena kini ia tahu siapa pria itu. Kini ia tahu siapa sosok bertopeng yang menyentuh hatinya malam itu. Arka Mahendra. Suaminya. Lelaki yang sekarang membencinya mati-matian… Tanpa tahu bahwa dulu… mereka pernah saling menggenggam dalam gelap. Di bab berikutnya, Arka mulai merasa curiga — karena ada sesuatu dalam sorot mata Maya yang seperti pernah ia lihat sebelumnya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN