Berhari-hari setelah pemakaman Deeka, aku terus mengurung diri di kamar. Aku tidak mau menemui siapa pun, karena aku benar-benar merasa sudah hancur. Aku bahkan tidak bisa lagi menangis. Air mataku sepertinya sudah habis, saking seringnya aku menangis. "Nara, gue boleh masuk?" Itu suara Roni. "Gue punya sesuatu buat lo, dari Deeka." Aku akhirnya berjalan dan membuka pintu. Aku melihat Roni membawa sebuah kotak biru muda berukuran sedang. "Apa itu?" tanyaku penasaran. "Surat-surat terakhir Deeka." Roni tersenyum miris. "Gue boleh masuk dan ngobrol sama lo, nggak?" Aku mengangguk, dan membiarkannya masuk. Kami berdua duduk bersila di lantai, sambil bersandar di lemari pakaianku. Kamarku tidak terlalu luas. "Deeka nulis surat-surat ini, sejak lama. Sejak dia tahu, kalau dia sakit ataksi

