7: Dia punya masalah

547 Kata
Pernah dengar kalimat, 'Orang yang paling ceria, sebenarnya adalah orang yang paling memendam luka'? Aku rasa, itu benar. Selama ini, aku terus menganggap Deeka adalah lelaki tanpa masalah, beban, apalagi kesedihan. Dia selalu bahagia, setidaknya... di depan semua orang. Saat jam istirahat, aku melihat Deeka langsung berlari keluar dari kelas. Aku sangat penasaran, jadi aku mengikutinya. Aku terkejut sekali ketika melihat Deeka terdiam di pinggir lapangan sekolah dengan napas terengah. Sepertinya dia habis berlari mengelilingi lapangan. Aku sangat ingin menghampirinya. Dia kenapa? Ada apa? Dia lalu duduk dan termenung. Sungguh, sikapnya membuatku penasaran. Kemudian, tiba-tiba dia menoleh ke arahku, dan menatapku penuh tanya. Mungkin dia bingung, karena aku terlihat seperti memperhatikannya. "Beruang, lo ngapain berdiri di situ? Sini!" Deeka memanggilku, dan kalian tahu? Dia tersenyum sangat lebar. Padahal... beberapa detik yang lalu, aku melihatnya sedang sedih. Secepat itu dia mengubah ekspresinya. Aku berjalan mendekatinya. "Lo yang lagi ngapain? Ngapain ke lapangan sepi gini? Yang lain ke kantin." "Gue... baik-baik aja." "Such a liar." Aku mendengus dan duduk di sebelahnya. Dia hanya terkekeh pelan, lalu terdiam beberapa detik sebelum bertanya, "Menurut lo, gue kayak gimana?" Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Tidak menyangka pertanyaan semacam itu bisa keluar dari mulutnya. Dia terkenal narsistik, lalu untuk apa dia tahu pendapatku? "Hah? Hmm, lo menyebalkan, jelek, dan... aneh." "Ohh, oke." Dia sedikit terkekeh. "Wait! Kenapa lo nanya gitu ke gue? What's wrong?" Dia tersenyum tipis, tapi terlihat ada kesedihan di balik senyumannya. "Gue cuma penasaran, lo akan mengenang gue kayak gimana." "Hah? Mengenang?" "Yep. Ternyata, gue ini jelek banget di mata lo, ya. Dasar beruang!" Dia mengacak rambut hitamku yang panjang. "Eh? Iya! Lo jelek banget! Aduh, rambut gue jadi berantakan!" Walau aku kesal, kata-kata Deeka sungguh membuatku tidak bisa berhenti berpikir. Mengenang? Apa maksudnya? Kenapa aku harus mengenangnya?             Beberapa waltu berlalu, kami masih duduk bersebelahan di lapangan, dan saat ini aku jadi memikirkan sesuatu. Menurut kalian, bagaimana reaksi Deeka jika dia mengetahui perasaanku? Sebenarnya aku sering bertanya-tanya soal itu pada diriku sendiri. "Apa yang terjadi, seandainya Deeka tahu perasaanku?" Lalu, aku akan membayangkan, bagaimana reaksi Deeka. Ada tiga kemungkinan. Pertama, dia akan menjauh dariku karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Kedua, dia akan menertawakanku, karena dia tidak menyangka, cewek aneh yang sering dia hina ternyata takluk juga dengan paras tampannya. Dia itu super narsis! Ketiga, dia akan membalas perasaanku. Seandainya... kemungkinan ketiga itu yang terjadi, mungkin aku akan sangat amat bahagia. Tapi, aku tidak yakin kemungkinan ketiga itu yang akan terjadi. Hey! Ini Deeka! Dia itu begitu sulit ditebak. Aku harus bagaimana? Saat ini, jalan terbaik yang aku ambil adalah menjaga rahasia ini rapat-rapat. Jangan sampai Deeka tahu, kalau aku menyukainya. Jangan! "Beruaaaanggg." "Apa?" Aku otomatis menoleh. Namun, bukannya menjawab, dia malah tertawa puas. Aku mengernyit bingung. "What?!" "Lo baru aja mengakui, kalau nama lo itu BERUANG. Ngapain nengok? Biasanya juga, langsung ngomel-ngomel." Aku memutar bola mata. "Serius, gue lagi nggak mau berantem sama lo." "Kenapa? Apa gue udah mulai nggak seru buat diajak berantem?” "Apaan, sih? Udah, sana lo!" Aku mengusirnya, entah kenapa. "Oke, gue pergi! Tapi, gue cuma mau ngasih permen ke lo. Nih!" Dia memberiku permen yang cukup terkenal dengan tulisan di belakangnya. "Thanks." Aku menghela napas lalu melihat tulisan di belakang permen itu. "Sialan." Tulisannya adalah: Diet dong! Deeka tertawa, dan langsung kabur. Dia tahu, aku pasti akan menjambak rambut halusnya itu! Dasar nyebelin! See? Dia itu menyebalkan. Kenapa aku harus jatuh cinta sama orang yang kayak gitu, sih?!   Aku menyesal, karena tidak menjambakmu saat itu. Sumpah, kamu ngeselin banget. Tapi, sekarang aku kangen kamu, Dee....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN