Serius, Deeka memang menyebalkan. Aku sering berkata ‘benci’ padanya, dan dia sering berkata ‘bodo amat’ padaku. Hubungan kami aneh.
Teman? Kami merasa lebih dekat dari teman. Sahabat? Tidak! Kami tidak sedekat itu, dan kami tidak pernah berjanji akan bersahabat hingga tua. Pacar? Tidak, tentu saja tidak. Dia hanya senang mengejekku. Dan kalian sudah tahu, kalau perempuan yang menyukainya begitu banyak. Jika dia mau pacar, tinggal tunjuk saja. Tapi, aku yakin, dia tidak akan pernah menunjukku. Musuh? Awalnya aku menganggapnya musuh. Tapi, lama-lama... mana ada musuh yang baik mau ngompresin dahi musuhnya? Tidak, ternyata kami tidak musuhan.
Lalu? Apa status kami? Yang pasti, kami teman sekelas sejak kelas sepuluh. Itu saja yang aku tahu. Rasanya aneh, berawal dari benci bisa menjadi cinta. Klasik, dan awalnya aku tidak percaya. Tapi, kini hal itu terjadi padaku. Aku ingat, dulu aku sangat amat membenci Deeka. Dia sering tiba-tiba menjewer telingaku, memukul kepalaku pakai pulpen, memanggil aku beruang dan semacamnya. Saat kelas sepuluh, aku sangat kesal diganggu olehnya. Tapi, seiring waktu berlalu, dan setelah mengenalnya hampir tiga tahun, aku malah merasa aneh jika dia tidak menggangguku. Rasanya seperti ada sesuatu yang kurang.
Seperti... hari ini.
Deeka memasuki kelas dengan lesu, dan langsung duduk di kursinya sambil menghela napas. Dia terlihat tidak sehat. Bahkan, dia sampai lupa untuk menyapaku. Aku sengaja menoleh ke belakang, menunggunya melihat ke arahku. Tapi, dia malah terus asyik mengobrol dengan Roni, teman sebangkunya sekaligus sahabatnya sejak SMP.
Iya, Sandra menyukai sahabat baiknya Deeka. Bayangkan jika Sandra dan Roni berhasil pacaran, begitupula aku dan Deeka. Mungkin akan sangat menyenangkan. Kami bisa melakukan kencan ganda seperti yang ada di drama Korea yang pernah aku tonton.
Namun, bukankah itu mustahil?
Deeka dan aku pacaran? Sepertinya tidak mungkin.
“Ra, Deeka kenapa keliatan lesu banget, ya?” tanya Sandra di sebelahku.
“Nggak tahu,” jawabku ikut lemas.
“Lo nggak mau nyamperin dia, Ra?”
“Memangnya, gue ada hak apa buat nyamperin dia?”
“Bukannya lo suka sama dia?”
“Nggak.”
“Hah? Terus?”
“Cinta.”
Sandra mencubit pinggangku. “Apalagi cinta. Sana, lo harus samperin dia dan nanya kondisinya. Dia keliatan kurang sehat.”
“Nggak, ah. Gue malu.” Aku kembali menoleh ke belakang, melihat Deeka menaruh kepalanya di lipatan tangannya. “Mungkin dia cuma kurang tidur.”
“Kenapa dia kurang tidur? Lo nggak penasaran, Ra?” Sandra terus memancingku, agar aku menghampiri Deeka. Tapi, tetap saja aku memilih diam di kursiku dan tidak mau mengganggunya.
“Paling nonton bola,” tebakku asal.
“Kalau bukan, gimana?”
“Maksud lo?”
“Ih, lo nggak khawatir?”
Khawatir?
“Iya, gue bakal nanya. Tapi, nanti.”
“Awasa aja kalau lo bohong.”
“Iya, Nyonya.
Memang tidak biasanya Deeka terlihat lesu. Dia biasanya seperti orang yang memiliki batrei tiga kali lebih kuat dibanding yang lain. Suaranya tidak pernah habis mengoceh tentang sepak bola, tangannya tidak bisa diam lebih dari lima menit—ada saja tingkahnya, dan aku bahkan sempat curiga Deeka akan gatal-gatal jika terlalu lama diam.
Namun, ternyata kali ini Deeka bisa terlihat seperti anak pendiam. Wajahnya lesu, tubuhnya lemas, dan dia juga tidak banyak bicara seperti biasanya. Apa dia sakit? Sakit apa?
Ternyata benar, jika kita menyukai seseorang, apa pun yang terjadi pada orang tersebut akan menjadi hal yang penting bagi kita. Deeka, berhentilah membuatku khawatir.
Saat itu, aku hanya bisa diam dan menerka-nerka isi pikiranmu.
Aku menyesal! Aku seharusnya menghampirimu, dan langsung bertanya padamu.
"Apa kamu baik-baik saja?" Kenapa dulu aku sangat pengecut?