21: Kasihan

451 Kata

"Gue ngerti. Astaga, gue ngerti. Lo nggak perlu minta maaf." Aku memegang tangan Deeka dengan erat. "Dan kemarin... gue merasa jahat banget sama lo. Kenapa lo masih jenguk gue, sih? Lo harusnya berhenti, Ra. Gue udah berusaha bikin lo benci sama gue." "Gue nggak pernah benci sama lo, Deeka. Nggak akan." "Gue nggak bisa sembuh. Apa lo tahu itu? Buat apa lo tetap di sini?" Aku rasanya ingin menangis setiap mengingat fakta 'Deeka tidak bisa sembuh'. "Gue nggak tahu. Tapi, gue nggak mungkin ninggalin lo." "Lo kasihan sama gue?" "Nggak!” "Terus? Kenapa lo tetap di sini?” "Gue... cinta sama lo, Deeka. Bukannya lo udah tahu hal itu?" "Omong kosong." Deeka berdecak. "Kenapa lo nggak percaya? Apa karena gue jelek? Apa karena gue aneh?" "Stop! Lo nggak jelek!" Napas Deeka terengah. Ia men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN