23: Taman

472 Kata

Papa Deeka membantu memindahkan Deeka ke kursi roda. Papa Deeka adalah seorang pria yang murah senyum, sama seperti putranya. Aku sedikit terharu, melihat beliau terus tersenyum saat memindahkan Deeka ke kursi roda. "Bawa Deeka jalan-jalan ya, Nak. Tapi, jangan jauh-jauh. Kalau nyasar, Om yang repot." Aku mengangguk. "Oke, Om." "Pa, Deeka bukan anak kecil. Dan mana mungkin Nara bawa Deeka keluar dari lingkungan rumah sakit? Kita cuma mau ke taman." "Deeka, Papa lo tadi nggak serius." Aku berbisik pelan. "Oh, ya?" Deeka terkekeh. "Ya udahlah, ayo, ke taman." "Hati-hati, ya!" seru Papa Deeka. "Jangan pulang malem-malem." "Pa, kita cuma mau ke taman!" Deeka masih saja berujar kesal, saat aku mendorong kursi rodanya. "Deeka, gimana perasaan lo sekarang?" tanyaku, ketika kami sampai di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN