16: Dia mengubah hidupku

751 Kata
Cerpenku sudah masuk majalah, dan setiap orang di sekolahku memegang majalah itu. Aku juga bingung, bagaimana bisa mereka dengan kompak membeli majalah yang sama? Bahkan, teman-teman sekelasku, yang sedikit tidak menyukaiku, juga sedang memegang majalah itu. Ini benar-benar aneh, kan?             Aku bahkan melihat Siska memegang majalah itu, lalu meremasnya setelah melihat kedatanganku. Aku hanya menggeleng bingung dan duduk di kursiku. s**l, Sandra belum datang. Padahal, hanya dia yang bisa aku tanya. Aku lumayan takut bertanya dengan yang lain. Mereka tiba-tiba jadi menatapku dan membuatku seperti pusat perhatian. Well, aku sebenarnya tidak terlalu suka.                      Aku bahkan sebenarnya takut datang terlambat, karena tahu kalau terlambat pasti aku akan dilihat murid-murid lain dengan pandangan menilai. Aku benci tatapan itu. "Terkejut?" Deeka tiba-tiba berdiri di sebelahku, sambil menaik-naikkan kedua alisnya. "Lebih tepatnya, bingung." Aku mengoreksinya. "Kenapa semua orang bisa baca majalah yang sama, di waktu yang sama? Apa-apaan, nih?" "Semua orang, kecuali lo." Deeka menyengir, dan memberiku majalah yang dari tadi aku bicarakan. "Ini adalah majalah terakhir." "What?" Aku mengernyit, berusaha mencerna situasi yang sedang terjadi. "Lo yang bagi-bagiin majalah ke anak-anak?" "Dan para guru," tambah Deeka tersenyum. "Nggak usah bilang makasih, gue cuma iseng." "ISENG?" Aku memandangnya tak percaya. "Apa tujuan lo bagiin majalah ke semua orang? Gue nggak ngerti." "Gue cuma mau mereka baca cerpen yang lo buat." "WHY?" "Karena gue suka cerpen itu. Tapi, lo jahat! Kenapa nama gue disamarin jadi Raka?" "Itu bukan lo, astaga. Itu fiksi. Seratus persen fiksi." Aku memutar bola mataku. Mendengar itu, Deeka merebut majalah yang kupegang dan membuka halaman yang terdapat cerpenku. "Raka sangat jago bermain futsal, dia sering mengejekku, tapi aku tidak pernah merasa kesal." Dahiku mulai berkerut, karena Deeka malah membaca cerpenku dengan keras. "Berisik. Ngapain lo baca keras-keras?" "Gue tahu, ini kisah nyata. Nama gue disamarin. Gue nggak terima." Deeka mendengus. "Pede banget, sih. Raka itu cowok idaman gue...." Deeka memutar bola matanya. "Oke, gue percaya." Aku mengembuskan napas. "Good." "Maksud gue, gue percaya kalau cowok kayak RAKA itu memang idaman lo." Deeka mengacak rambutku, lalu pergi sambil terkekeh puas. Ah, dasar cowok aneh. “Heh, lo nggak kayak Raka! Jauh!” “Ya, gue nggak merasa kok. Selow, Beruang!” Aku tiba-tiba merasa gugup. Apa Deeka hanya bercanda atau dia memang serius? Bagaimana bisa dia tahu kalau Raka itu terinspirasi darinya? Padahal aku sudah berusaha membuat Raka lumayan berbeda darinya. Cih, atau mungkin dia hanya ingin menggodaku. Ya, bisa jadi. “Nara, Nara! Gue mau beli majalah yang ada cerpen lo itu, tapi masa di toko-toko deket sekolah kita pada habis, Ra! Siapa sih orang sinting yang ngeborong segitu banyak majalah? Nyebelin banget!” Sandra baru datang, dengan napas yang terengah-engah. Dia sepertinya berlari untuk memasuki kelas. Aku berdeham. “Lo mau tahu orang sinting yang ngeborong majalah itu siapa?” Sandra mengangguk semangat. “Lo kenal?” “Banget.” Aku pun meminta Sandra memajukan telinganya. “Yang ngeborong majalah itu … Deeka.” “APA?! WHY?!” Sandra sangat dramatis. Matanya bahkan melebar sempurna. Aku mengedikkan bahuku. “Katanya, cuma iseng.”             “Heh, mana mungkin iseng? Oke, gue tahu dia berasal dari keluarga yang sangat mampu. Tapi, hello? Kalau iseng, mana mau dia ngehabisin duit sampe kayak gitu? Mendingan buat beli yang lain, lah. Helikopter, gitu.”             Aku mendengus geli. “Gue sendiri nggak ngerti jala pikiran dia, San.”             “Ra, dia tuh possitif banget suka sama lo! Masa lo masih nggak peka, sih?”             “Gue cuma takut kalau berharap ketinggian, San. Kalau jatuh, pasti sakit.”             Sandra berdecak dan merangkulku. “Terus, sampai kapan lo mau memendam perasaan lo itu? Waktu terus berlalu, Ra. Kalau lo telat dikit, lo pasti akan menyesal.”             Menyesal?             “Sedikit lagi. Gue mau pastiin dulu, dia serius atau nggak.”             “Gimana cara lo tahu dia serius atau nggak?”             Aku menyengir. “Lihat aja nanti.”             “Oke, tapi buat sekarang, gue pinjem majalah punya lo, ya! Gue mau baca cerpen lo. Semanis apa sih Deeka di cerita lo? Cie.” Sandra merebut majalah punyaku dan duduk di kursinya dengan semangat.             “Kenapa lo ngomongnya nggak sekalian pakai toa masjid, San?” sarkasku menahan kesal. Untung saja kelas tidak terlalu ramai, dan semua terlihat sibuk masing-masing dengan ponsel.             “Nggak ada, duh.” Sandra terkekeh geli, mulai membaca cerpen buatanku. “Whoa, narasi lo berasa nyata, Ra.”             “Nyata?”             “Nggak banyak loh penulis yang bisa bikin narasi berasa nyata begini. Kayak, yang gue baca ini langsung ada gambaran adegannya di depan mata gue. Kayak nonton film! Lo belajar nulis novel di mana, sih, Ra?”             “Gue nggak belajar. Tapi, mungkin bakat bokap gue menurun ke gue.”             Sandra mengangguk mengerti. “Sorry, lo pasti jadi inget bokap, ya?”             Aku mengangguk. “Iya, tapi nggak masalah. Sekarang, gue udah nggak merasa sakit setiap inget bokap. Gue yakin, bokap gue senang karena putrinya mau jadi penulis lagi.”             Sandra tersenyum memandangku. “Pasti.”   Aku menyesal, tidak mengucapkan terima kasih pada Deeka saat itu. Dia benar-benar mengubah hidupku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN