17: Dia menghilang lagi

1095 Kata
Deeka hari ini tidak masuk. Aku benar-benar bingung dan penasaran. Namun, aku bisa apa? Aku sebenarnya bisa saja meneleponnya, tapi aku takut dia menganggapku berlebihan. Dia baru satu hari tidak masuk. Mungkin saja, dia hanya demam. Kemarin juga dia terlihat lumayan pucat, sih. "Mikirin apa, sih?" Roni menarik kursi dan duduk di sebelahku. "Mikirin cowok, ya?" "Apaan, sih? Gue nggak mikirin siapa-siapa,” jawabku sedikit ketus. Aku sebenarnya tidak marah dengan pertanyaan Roni, tapi aku memang reflek menjadi galak jika salah tingkah. "Deeka cuma demam, besok juga dia masuk," ujar Roni tersenyum kecil. Tanpa sadar, aku menatapnya dengan mata melebar. "Serius? Ah, udah gue duga dia cuma demam." Aku terkekeh, lalu Roni mendengus geli. "Dugaan gue juga bener. Lo tadi mikirin Deeka. Sampai bengong gitu." "Ih, sok tahu! Sana lo. Main bola, kek. Terserah! Sana pergi!" Aku mendorong-dorong lengannya, namun tenaga Roni cukup kuat. Oh, aku lupa dia rajin olahraga. "Nara, kalau lo suka sama Deeka, mendingan lo jujur ke dia secepatnya." Roni berucap tiba-tiba, membuatku berhenti mendorongnya. "Kenapa? Maksud gue, kenapa lo ngomong gitu?" Roni menghela napas berat. "Gue cuma takut, lo menyesal." Menyesal? Aku tidak mengerti maksud Roni, tapi perkataannya membuatku sedikit takut. “Kenapa menyesal?” tanyaku bingung. “Nanti juga lo tahu.” Roni bangkit berdiri dan menepuk kepalaku satu kali. “Heh, malah kabur!” Di saat aku sedang merengut kesal setelah Roni pergi, Siska tiba-tiba mendatangiku. Ia memandangku sinis seperti biasa. Aku tetap diam sampai dia memukul mejaku. “Apa lo merasa Deeka naksir berat sama lo?” Apa-apaan pertanyaannya itu? Aku menggeleng. “Nggak sampai naksir berat. Gue nggak senarsistik itu.” “Kemarin gue cukup bersabar, ya. Tapi ternyata lo makin besar kepala.” Siska mendengus kesal. Seperti banteng. “Gue nggak ngerti maksud lo, Siska.” “Jauhin Deeka, apa susahnya sih? Udah pernah gue suruh ngaca, kan? Apa kata-kata gue masih kurang jelas, Nara Cantika?” Tangannya menjepit pipiku. Aku bahkan terlalu malas untuk menepisnya. “HEH, SISKA!” Aku menahan senyum saat mendengar suara sahabatku. Aku menaikkan satu alisku, menyuruh Siska melepaskan pipiku, sebelum Sandra semakin mengamuk. “Jangan ikut campur, deh. Lo nggak capek apa jadi babunya Nara?” Siska berdecak malas, setelah melepaskanku. “Lo bahkan jadi nggak bisa jadian sama Roni, gara-gara dia. Apa lo nggak sadar?” “Diam kau, Nenek sihir.” Sandra menghampiri Siska dengan langkah yang begitu cepat. “Lo pikir, gue bakal terhasut kalau lo adu domba gitu?” “Apa salahnya nyoba? Toh, kata-kata gue nggak bohong.” Sandra dan aku sama-sama mengernyit. “Bagian mana yang nggak bohong?” tanya Sandra penasaran. “Roni suka sama dia, San. Lo masa nggak sadar, sih?” Hah? “Omong kosong macam apa ini?” Sandra terkekeh hambar. “Gue bahkan nggak bisa percaya sama lo walau hanya secuil, Sis. Lagian, yang suka sama Nara itu Deeka, bukan Roni. Lo kayaknya salah mendapat info, ya?” “Yes, both of them.” Siska tersenyum miring. “Selamat, Nara. Lo akan menghancurkan hubungan persahabatan mereka. Ah, dan mungkin persahabatan lo juga.” Aku terkekeh. “Bercanda lo nggak lucu, Sis. Dan asal lo tahu aja, persahabatan gue dan Sandra nggak selemah yang lo kira. Iya, kan, San?” Saat aku melirik Sandra, dia terlihat sempat terdiam memandangku. “Hah? I-iya! Mendingan lo pergi, deh, Sis.” “Nggak usah lo usir, gue juga emang mau pergi kali. Cih.” Siska pun pergi setelah menyibak rambut panjangnya. Harusnya terlihat elegan, tapi aku dan Sandra malah kesal melihatnya. “Are you okay?” tanyaku pada Sandra. “O-okay. Cuma … yang Siska bilang itu nggak bener, kan?” “Tentu aja dia cuma ngarang. Mana mungkin Roni suka sama gue?” “Kenapa nggak mungkin? Lo kan cantik, Ra.” Apa Sandra mulai percaya dnegan kata-kata Siska? Astaga, padahal semua yang Siska bilang sangat terdengar tidak masuk akal. “Lo jauuuhh lebih cantik, San. Masa lo lupa?” “He-he, lo emang nggak bisa bikin gue marah, Ra.” Sandra akhirnya menyengir, lau merangkulku. “Ayo ke kantin, gue traktir es teh.” “Cuma es teh? Mie ayam, dong.” “Oke oke, tapi satu mangkok aja, ya. Jangan ngelunjak.” Sandra tertawa, lalu kami berjalan bersama menuju kantin. Bahkan saat aku makan, tiba-tiba aku teringat Deeka. Apa dia sudah makan? Dia harus makan yang banyak agar cepat sembuh. Aku tidak suka melihatnya sakit.   *** Sehari, dua hari, tiga hari, hingga satu minggu... Deeka tidak masuk sekolah. Demam apa yang selama itu? Aku benar-benar khawatir. Deeka, kamu kenapa? Setiap aku bertanya pada Roni, dia selalu bilang, "Deeka baik-baik aja, Nara." "Roni, jangan bohong lagi. Deeka kenapa nggak masuk? Apa terjadi sesuatu?" "Lo bener-bener pantang menyerah, ya." Roni tersenyum miris sambil menggiring bola basket dan memasukkannya ke ring. Aku terus berdiri di sebelahnya, dari tadi aku mengikutinya. "Cepat jawab, Ron. Deeka kenapa?!" "Gue udah jawab berkali-kali, Ra. Deeka baik-baik aja." Roni terlihat mulai kesal karena pertanyaanku. "Gue nggak percaya!" Saat aku membentaknya, dia langsung memegang kedua pundakku sambil menatapku tajam. "Kenapa lo nggak percaya, sih?! Keras kepala banget." "Perasaan gue nggak enak. Gue yakin, Deeka nggak baik-baik aja." "Nara, gue ngerti perasaan lo. Tapi, gue udah janji untuk nggak ngasih tahu lo soal kondisi Deeka." Mataku melebar. "Apa?" "Deeka melarang gue untuk ngasih tahu lo. Dia nggak mau bikin lo sedih." "Sedih? Udah seminggu, dia bikin gue sedih, Ron! Apa bedanya?!" Roni menghela napas berat. "Oke, gue nggak bisa ngucapin secara langsung. Tapi, nanti setelah pulang sekolah, gue akan anterin lo ketemu Deeka." Aku akhirnya mengembuskan napas lega. "Makasih, Ron." "Tapi, ada satu syarat. Lo nggak boleh nangis saat lihat Deeka nanti." Apa?   *** Jantungku berdegup kencang. Kugenggam jaket Roni lebih erat, agar tidak terjatuh dari motor. Roni sepertinya sangat suka mengendarai motor dengan cepat. Saat motor Roni berhenti, aku menelan ludahku karena ternyata dugaanku benar. "Jadi, Deeka ada di rumah sakit?" Roni membuka helmnya, dan menatapku sendu. "Maaf, Ra." "Dia sakit apa?" "Mendingan lo langsung lihat kondisi Deeka aja." Aku mengangguk, berjalan bersama Roni dengan lemas. "Apa parah, Ron?" Roni hanya diam. Mulutnya malah tertutup rapat. Ia tidak mau memberitahuku. "Ini kamar Deeka." Roni membuka sebuah pintu. Mataku menyipit karena ternyata tidak ada orang di dalam kamar itu. Saat aku mau bertanya pada Roni, dia juga terlihat bingung. "Teman pasien kamar ini, ya? Pasien lagi di taman rumah sakit, katanya dia bosan di kamar," ujar seorang suster yang kebetulan lewat. Setelah mengucapkan 'terima kasih', Roni langsung menggandeng tanganku, dan mengajakku berlari ke taman. Sesampainya di taman, aku melihat seorang lelaki yang memakai topi kupluk sedang memandang air mancur dengan pandangan kosong.  Itu Deeka. Dia terlihat lebih kurus, dibanding terakhir kali aku melihatnya. Aku melangkah perlahan mendekati lelaki itu, sedangkan Roni tetap diam dan tidak menahanku. Ia membiarkanku mendekati Deeka. "Deeka," panggilku pelan. Lelaki itu menoleh, matanya melebar saat melihatku. "Beruang? Eh, maksud gue... Nara? Lo ngapain di sini?" "Gue cuma mau ketemu sama lo. Nggak boleh?" Aku tersenyum miris. Melihatnya menggunakan baju pasien, membuatku merasa sedih. "Pasti Roni, ya? Si kutu kupret itu memang nggak bisa jaga rahasia." Deeka terkekeh, lalu menepuk tempat di sebelahnya. "Duduk, Ra. Lo pasti capek." Aku duduk, dan sebenarnya merasa cukup heran. Tatapan mata Deeka tiba-tiba berubah. Tak lagi kosong, seperti saat dia memandang air mancur. "Deeka, apa kabar?" "Gue? Baik." Deeka tersenyum lebar, dan membenarkan topi kupluk di kepalanya. Baik? Kenapa kamu sangat suka berbohong, Deeka?   Aku menyesal, karena tidak bisa melihat luka di senyumanmu lebih cepat….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN