Deeka tidak berkata apa pun, tapi ia terus tersenyum. Suasana di sekitar kami terasa begitu dingin dan canggung. Mungkin, Deeka sama sepertiku. Bingung untuk mencari topik pembicaraan. Padahal ada begitu banyak yang harus dijelaskan, tapi kami sama-sama bingung untuk memulai.
Jika terus seperti ini, bisa-bisa kami hanya duduk hingga malam. Baiklah, aku akan mulai bertanya. Dimulai dengan pertanyaan yang paling dasar, tapi sangat ingin kuketahui.
"Deeka, lo sakit apa?" tanyaku pelan. Berusaha tersenyum, walau hatiku terasa patah melihatnya tidak sesehat biasanya.
"Lo lebih baik pulang, Ra. Udah sore." Suara Deeka terdengar sangat lembut, tapi kurasa ia menahan kesal.
Aku menggeleng. "Gue nggak mau pulang, sebelum gue tahu lo sakit apa."
Deeka menghela napas, lalu menunduk. "Apa pentingnya hal itu?"
"Tentu aja penting!"
"Buat nyebutin nama penyakit itu aja, mulut gue nggak sanggup, Ra." Deeka terkekeh, lalu bangkit berdiri. Namun, tiba-tiba dia jatuh.
"Deeka!" Aku ingin menolongnya, tapi Deeka menepis tanganku. Ia tertawa kencang, sambil memukul-mukul kakinya.
"Jalan! Dasar kaki s****n!"
Aku merasa sesak, melihat Deeka seperti itu. "Deeka…."
"Kaki nggak berguna! Jangan bikin gue malu di depan Nara!" Deeka terus memukul-mukul kakinya, dan nada bicaranya terdengar sangat marah.
Aku menyentuh pundak Deeka. "Gue ngerti. Maafin gue, Deeka."
"Ngerti?" Deeka tertawa lagi. "Ngerti apa? Ngerti, kalau gue ini cowok lemah yang penyakitan?!"
Aku menggeleng, lalu berlutut di sebelahnya. "Gue ngerti, kalau selama ini lo nutupin ini semua biar gue nggak sedih. Iya, kan?"
Deeka mengangguk, dan aku langsung memeluknya. "Lo akan baik-baik aja, Deeka. Gue yakin, lo akan baik-baik aja."
“Baik-baik aja? Lo yakin?” Suara Deeka terdengar gemetar. Aku sebenarnya belum mengerti apa penyakit yang menyerang Deeka. Aku hanya tahu, bahwa kakinya tidak bisa digerakkan. Dia … lumpuh. Tapi, kenapa? Kenapa Deeka bisa lumpuh? Aku tidak mengerti.
“Gue yakin.”
“Gimana kalau misalnya, penyakit gue nggak bisa disembuhkan?” pertanyaan Deeka membut tubuhku membeku. Tanganku yang tadinya mengusap punggung Deeka pun, tiba-tiba ikut terasa kaku. “Apa gue akan tetap baik-baik aja?”
Aku akhirnya memeluknya lebih erat. Aku bahkan menyembunyikan wajahku di pundaknya. “Ya, lo akan baik-baik aja. Jangan khawatir.”
“Makasih, mungkin saat ini, gue memang butuh pelukan yang tulus. Makasih, gue senang, karena lo mau meluk gue kayak gini.”
“Aneh, kali ini, gue sama sekali nggak merasa malu meluk lo.”
“Mungkin, karena gue lagi sakit. Dan, lo merasa kasihan.”
Kasihan?
“Bukan karena itu, Dee. Lo salah.” Aku melonggarkan pelukan kami, lalu menatap matanya yang kini sendu. “Apa lo buta, sampai nggak bisa lihat perasaan gue yang sebenarnya selama ini? Selama tiga tahun ini.”
Deeka sedikit tersenyum. “Gue nggak ngerti maksud lo, Ra.”
“Oh, ya? Gue rasa, lo cuma pura-pura nggak ngerti.” Aku tersenyum miris, perlahan melepaskan pelukannya. Namun, tangan Deeka kembali menarikku dan memelukku dengan hangat.
“Tiga menit lagi. Peluk gue tiga menit lagi, setelah itu, lo boleh pergi.”
“Lo … bener-bener, ya.” Aku mendengus pelan, tapi tidak menolak permintaannya. Aku kembali memeluknya. Sangat erat, hingga aku merasa hangat dan sesak di waktu yang sama.
***
Deeka dan aku mengobrolkan banyak hal. Aku juga meminjamkan catatanku, agar dia tidak ketinggalan pelajaran. Soalnya, sebentar lagi ada ujian.
"Ra, kayaknya nggak berguna deh kalau gue belajar."
Aku mengernyit. "Kenapa gitu? Lo nggak mau lulus?"
Deeka tersenyum. "Mau, tapi kayaknya nggak bisa."
Aku merasa nyeri, mendengarnya berkata begitu. Apa dia benar-benar tidak bisa sembuh? Ya Tuhan, kenapa dari sekian banyak manusia, harus Deeka?
"Deeka, lo pasti bisa lulus."
"Gue takut, Ra. Kata dokter, penyakit gue ini semakin parah. Sebelumnya kata dokter, waktu gue tuh masih lama. Lima sampai sepuluh tahun, mungkin. Tapi... seminggu yang lalu, saat kaki gue tiba-tiba nggak bisa bergerak dan gue jatuh dari tangga, dokter bilang—”
"Cukup." Aku memejamkan mata, dan menyentuh tangan Deeka. "Jangan diterusin."
"Apa lo menyesal, Ra?"
Saat aku membuka mata, Deeka menatapku dengan tatapan yang begitu membuatku merasa sakit. "Menyesal kenapa?"
"Menyesal, karena suka sama cowok yang nggak bisa hidup terlalu lama."
Aku benci mendengar ucapannya yang terdengar begitu jahat. Menyesal? Aku menyesal karena menyukai lelaki yang hidupnya tidak lama lagi?
"Deeka, lo pikir, otak gue sedangkal itu?"
Deeka tersenyum kecil. "Lo nggak terkejut, karena gue tahu perasaan lo?"
Astaga. Aku sampai melupakan fakta itu. "Oh, sejak kapan lo tahu?"
"Gue ini hebat, Beruang." Sekarang dia malah kembali narsis. Aku rasanya ingin memutar bola mataku, setiap dia mulai bersikap narsis.
"Jadi, apa perasaan gue ini memang hanya sepihak?" tanyaku berusaha berani menatapnya.
Deeka melepas topi kupluknya, lalu terkekeh tidak jelas. "Sepihak? Mungkin lo bener."
"A-apa?" Aku mengernyit bingung.
"Nara, gue nggak pernah suka sama lo. Cewek, pacaran, cinta... itu cuma omong kosong bagi gue. Lebih baik, lo cari cowok lain yang umurnya panjang. Itu pasti lebih menyenangkan, kan?" Deeka tersenyum jail, dan menepuk puncak kepalaku.
Menyenangkan? Apa menurutnya, cinta sebercanda itu?
***
Apa arti cinta bagi Deeka? Katanya, hanya omong kosong. Menurutku, dia sangat bodoh. Aku tidak setuju kalau cinta itu omong kosong. Cinta itu sesuatu yang murni. Aku tidak punya alasan khusus untuk bisa mencintai Deeka. Aku bahkan tidak tahu, kenapa hatiku jatuh ke orang sepertinya. Aku benar-benar tidak tahu.
Dia memang terlihat sempurna. Sampai sekarang, aku tetap menganggapnya sempurna.
Aku tidak peduli dengan penyakitnya, menurutku... penyakit itu tidak bisa mengubah perasaanku padanya. Aku tetap sama. Tetap keras kepala mencintai Deeka. Aku janji, aku tidak akan meninggalkannya.
"Pulang, gih. Udah sore." Deeka menghela napas, memintaku untuk pulang.
"Gue masih mau di sini."
"Apa gue tadi kurang jelas, Ra?"
Aku menaikkan satu alisku. "Apa?"
"Gue nggak suka sama lo. Gue nggak pernah suka sama lo. Percuma lo tetap di sini, karena gue nggak bisa balas perasan lo itu! Pergi!"
Ini pertama kalinya, Deeka membentakku. Tapi, aku tidak merasa takut. "Gue nggak mau pergi."
"Keras kepala banget, sih!"
"Memang."
Deeka mengacak rambutnya dengan kesal. "Pergi, Ra! Gue nggak mau lo dimarahin nyokap lo lagi, karena gue!"
"Gue udah izin."
"Nara!" Deeka menarik tanganku, wajahnya jadi berada begitu dekat denganku. "Jangan siksa gue..."
"Di sini, bukan cuma lo yang merasa tersiksa, Deeka."
Dia pikir, saat aku membentaknya juga, aku tidak merasa sakit?
Aku menghapus air mataku.
Mengingatmu, membuatku merasa sedih. Tapi, aku tidak bisa berhenti mengingatmu, Deeka. Aku sangat merindukanmu.