19: Aku tidak mau pergi

631 Kata
Percuma mengusirku, Deeka. Namaku Nara, dan aku adalah perempuan yang keras kepala. Kamu boleh mengusirku ratusan kali, tapi aku akan tetap berdiri dan tidak mau pergi. "Gue capek, Ra,” ujar Deeka lemas. Aku dan Roni mengantarnya ke kamar rawatnya beberapa waktu yang lalu. Yap, Roni yang menghentikan perdebatanku dan Deeka di taman. "Makanya istirahat, jangan marah-marah mulu." Aku menyelimutinya, dan terkekeh pelan. Dia tidak berhasil mengusirku. "Roni mana, sih? Ke toilet kok lama amat?" Aku mengedikkan bahu. Lalu, pintu tiba-tiba terbuka. "Maaf, lama. Toiletnya rame banget." "Ron, cepat seret Nara pulang." Aku memelotot. "Lo tadi udah nyerah ngusir gue, Deeka!" "Ini demi kebaikan lo juga. Kalau lo masih di sini, lo mau ngomong apa ke nyokap gue? Lo mau ngaku jadi pacar gue, gitu?" "IYA! Nggak boleh?" "Tentu aja nggak boleh. Sana pergi, nyokap gue bisa shock kalau tahu gue pacaran sama cewek aneh." Apa? "Deeka, stop. Nggak lucu." Roni menegur Deeka dengan tegas. "Apa? Lo mau belain Nara? Ya udah, sana bawa dia pergi." Deeka berbalik badan, dan menarik selimut hingga menutupi lehernya. "Oke, gue pulang." Aku menghela napas. "Tapi, besok gue akan dateng lagi." "Terserah."   *** Deeka bilang, aku aneh? Astaga, kenapa dia menghinaku seperti Siska dan yang lainnya? Apa maksud Deeka?             Dan, kenapa kali ini, aku sangat marah dihina olehnya. Biasanya dia mengejekku lebih parah dari ini. Apa karena aku merasa, kali ini dia tidak sedang bercanda seperti biasanya? "Jangan dipikirin semua perkataan Deeka, Ra." Aku tersenyum, dan mengembalikan helm Roni. Dia mengantarku sampai rumah. "Iya, dia suka nggak jelas." Roni tertawa pelan. "Jangan menyerah." "Tenang aja, gue nggak nyerah. Besok kita jenguk Deeka lagi, kan?" Roni sempat mengatupkan mulutnya, sebelum menjawab, "Ra, sebenernya Deeka nggak suka kalau lo lihat dia dalam keadaan yang lemah. Makanya, dia berusaha bikin lo kesal." "I knew it." Aku tersenyum. "Makanya, gue nggak marah tadi. Gue ngerti, kok." "Jadi, lo ngerti juga, alasan Deeka nolak lo? Maaf, gue tadi sempat nguping." Aku mengembuskan napas. "Nggak terlalu ngerti, sih. Dia bilang, dia nggak pernah suka sama gue. Miris, ya?" Roni mengerutkan alisnya. "Dan lo langsung percaya?" Aku mengangguk. "Wajar kalau dia nggak suka sama gue. Dari awal, gue juga udah merasa kalau cinta gue cuma sepihak." "Lo terlalu pesimis." "Gue cuma realistis." Aku mengedikkan bahu. "Ya udah, terserah. Gue harap, lo cepat sadar." "Sadar apa?" "Sadar, kalau lo itu layak untuk dicintai siapa pun. Termasuk Deeka...." Roni tersenyum sangat tulus. Seketika aku merasa sangat tenang mendengar kata-kata Roni. “Thanks.” “Kenapa? Gue nggak muji lo, kok. Gue cuma ngasih tahu lo, kalau lo itu berharga. Setidaknya, lo harus tahu itu.”             “Kenapa? Apa lo merasa gue terlalu rendah diri?”             Roni mengangguk tanpa takut. “Iya, makanya gue khawatir.”             “Kenapa lo khawatir?” Aku mengernyit. Dan tiba-tiba saja Roni jadi batuk.             “Memangnya nggak boleh? Kita kan teman, Ra.”             “Hmm, gitu.”             “Ya udah, gue pamit, ya.”             “Hati-hati.”             “Tentu aja.” Roni tersenyum manis. “Oh iya, Ra. Kalau lo mau nyari tahu soal penyakit Deeka, lo bisa cari penjelasannya di google. Nama penyakitnya … Spinocerebellar Degeneration.”             Panjang sekali nama penyakitnya. Aku harap, itu bukanlah penyakit yang serius. *** Spinocerebellar Degeneration atau biasa disebut Ataxia. Itulah nama penyakit Deeka. Aku tahu dari Roni, karena Deeka terlihat tidak mau memberitahuku soal nama penyakitnya itu. Setelah mengetahuinya, aku langsung mencarinya di internet, sebelum aku tidur. Aku kira, penyakit itu bisa sembuh. Aku sempat berpikir, Deeka pasti bisa sembuh. Tapi, ternyata… "Penyakit Ataxia adalah penyakit langka dan sampai sekarang belum ada satu pasien pun yang bisa dinyatakan sembuh," gumamku pelan sambil membaca informasi dari internet. Air mataku langsung mengalir, dan semua duniaku terasa berguncang. "Astaga, Deeka...." Aku kembali membaca cara pengobatan penyakit itu. Untuk saat ini, para penderita hanya melakukan terapi sesuai gejala yang dialami Aku menangis semakin histeris. Terapi, katanya?! Untuk apa terapi, jika hal itu tidak bisa membuat pasien sembuh? Deeka harus sembuh. Ya Tuhan, kenapa harus Deeka yang mendapat penyakit semengerikan itu? Deeka orang yang baik, dan selalu membuat semua orang di sekitarnya bahagia. Apa salah Deeka? Saat itu, aku merasa dunia begitu tidak adil. Benar-benar tidak adil. Tapi, tidak seharusnya aku menyalahkan Tuhan.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN