bc

SENGAT MADHUMATI : cerita horor

book_age16+
577
IKUTI
2.4K
BACA
revenge
drama
tragedy
twisted
sweet
mystery
demon
supernatural
horror
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

Alisa merasa cukup puas, ternyata pusaka yang ditanam di tubuhnya bisa memberikan dia keuntungan. Walaupun dia tahu itu salah, tetapi akumulasi amarahnya lebih besar daripada rasa belas kasihannya. Sudah dari awal Sisel selalu mengganggu hubungan Alisa dan Johni. Jadi ini saat yang tepat untuk menghentikan aksinya.

# # #

Lalu mereka berdua bertangisan karena rasa penyesalan atas perbuatan masing–masing. Tadinya dia hanya mengira paling Sisel akan menjerit–jerit ketakutan, lalu terpeleset jatuh atau terbentur tembok. Sekedar lelucon–lelucon kecil seperti itu.

Tapi ternyata dia salah telah bermain–main dengan kekuatan gelap itu. Bahkan kini dia menjadi takut mengaku bahwa dia yang telah mencelakakan Sisel. Termasuk kepada nenek, dia tidak mau melaporkan apa yang terjadi dengan Sisel.

Tusuk Madhumati telah mempengaruhinya. Kali ini dia menangis karena telah membuat seseorang menjadi cacat. Walaupun Sisel akhirnya meminta maaf darinya dan mengaku kalah, tapi Alisa termenung apakah hasil seperti ini yang dia inginkan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : Selentingan Kampung Cisagara
Alisa menatap ke arah luar kaca jendela minibus merek Mitsubishi L300 tahun 2018 itu. Tempat duduknya di deretan sebelah kiri sehingga dia bisa melihat dengan jelas tebing curam yang menganga.  Seakan jurang itu sudah siap menelan kalau pak supir tidak piawai mengendalikan kendaraannya. Jalan berkelok – kelok, kadang menanjak, dan kadang menurun mengitari sebuah gunung. Tidak terlihat satu pun rumah, hanya pohon – pohon cemara hutan yang menutupi dasar tebing. Tetapi di balik hijaunya pepohonan itu menyimpan cerita kelam dari jiwa–jiwa korban yang pernah jatuh ke sana. Ah, apa yang sedang dipikirkannya. Seharusnya perjalanan ini menyenangkan sambil menikmati alam. Bukannya malah memikirkan sesuatu hal yang membuat ngeri. Tetapi sampai di sini, Alisa menyadari betapa pelosoknya petualangannya kali ini. Ibunya, Sumira, menggenggam tangan putri semata wayangnya itu. Sambil melemparkan senyuman, dia mencoba meyakinkan Alisa tidak akan terjadi apa–apa. “Sa, dua jam lagi kita sampai. Kamu tidur saja dulu kalau bosan.” “Iya, Ma.” Tidak banyak pembicaraan di dalam minibus berisi penuh tujuh penumpang itu. Duduk saja sudah berdesakan tidak ada jarak. Pak supir sudah menyalakan AC sampai mentok supaya para penumpangnya tidak gelisah berujung komplain.  Dalam suasana kedinginan, biasanya penumpang tetap tenang tidak banyak bicara. Dia bisa lebih fokus menyetir tanpa harus mendengar ibu–ibu bergosip. Walaupun sudah belasan tahun lelaki setengah abad itu mengantar ribuan penumpang, tetapi kini dia menyadari usianya sudah tidak muda lagi. Dia harus ekstra hati–hati. Apalagi minggu lalu, baru saja dia mendengar rombongan rekan seprofesinya yang seumuran, jatuh terperosok di kelok KM 14, dikenal dengan Kelokan Setan. Ada kepercayaan untuk membunyikan klakson di tikungan paling tajam itu. Tetapi kali itu rekannya sedang sial karena menghindari truk dari arah berlawanan. Untungnya tidak ada korban jiwa, hanya korban luka termasuk si pengendara minibus. Pak supir membayangkan dia tidak mau nanti pensiun duduk di atas kursi roda seperti temannya itu. Sekalian tanggung jawab moral mengantar Alisa dan ibunya sampai terminal dengan selamat. Setelah total delapan jam perjalanan dari Jakarta, akhirnya mereka sampai di terminal pada sore hari. Ibunya bergegas mencari mobil sewaan lain yang mau mengantar mereka berdua sampai di tujuan akhir. “Sa, Kamu tunggu di sini ya. Mama mau menawar angkot dulu.” “Iya, Ma.” Alisa memilih berdiri di depan sebuah toko kelontong yang sepi dan agak gelap. Alisa bertugas menjaga dua koper besar berisi pakaian mereka. Ditambah satu tas jinjing berwarna hitam ukuran sedang. Barang–barang plastik berukuran kecil digantung di deretan depan. Entah maksudnya mungkin untuk menutupi sengatan matahari. Sisanya yang berukuran besar berbaris melintang dari depan ke belakang. Kelihatannya yang jaga toko sembunyi atau mungkin tertutup gelapnya ruangan. “Sini agak masuk saja biar adem tunggunya. Di luar hari ini cuacanya agak panas. Mau pulang kemana, Neng?” Tiba–tiba ada pertanyaan mengagetkan dari arah belakang. Seseorang sudah mengawasi gerak gerik Alisa dan ibunya dari tadi. Alisa menoleh ke arah dalam toko terlihat satu ibu tua berkain kebaya sudah berdiri di belakangnya. Perasaan Alisa, dia tidak berdiri dekat dengan etalase sehingga seharusnya ibu itu tahu dia tidak berniat membeli sesuatu. Tetapi ternyata si ibu tua pemilik toko yang sengaja datang menghampiri dirinya. Di Jakarta biasanya orang cuek saja, tetapi pikirnya mungkin ini di kampung jadi banyak orang ramah bercampur rasa kepo ingin tahu. “Ke rumah nenek, Bu.” “Oh, rumah nenek Neng dimana? Deket sini? Siapa tahu ibu kenal,” sambar ibu itu dengan pertanyaan selanjutnya. Ibu itu juga membantu Alisa menyeret satu koper yang berat agak ke dalam. Alisa mulai berpikir kasih tahu atau bohongi saja. Maklum di Jakarta jangan sembarangan kasih alamat kita kepada orang tidak dikenal. Tetapi dia juga sadar dia tidak tahu daerah sini, jadi kalau bohong pasti ketahuan oleh ibu itu. Dan tentunya Si Ibu bisa saja tersinggung dan curiga kepada pendatang seperti dirinya. Ah, pikirnya daripada baru datang sudah membuat masalah dengan warga sini lebih baik membalas keramahan mereka dengan tulus. “Desa Cisagara, Bu.” Alisa lebih baik menjawab sekenanya, daripada tidak menjawab sama sekali. Tiba–tiba apakah salah ucap, ibu itu terdiam sejenak, baik mulut maupun langkahnya. Tapi Alisa merasa lega karena dia tidak dicecar lebih detail lagi. Walau kini dia bingung menerka–nerka apakah si ibu marah. Mata ibu itu mencoba mengamati diri Alisa dari atas ke bawah. Walaupun si ibu masih menunduk, tetapi Alisa bisa menyadari gelagatnya. Alisa merasa tidak enak, tetapi tidak berani menatap sorotan tajam dari ibu itu yang berubah menjadi dingin. Alisa melepas tangannya untuk meletakkan kopernya. “Saya tunggu di sini saja, Bu.”  Kali ini Alisa yang mencoba memecah keheningan di antara mereka. “Oh iya, Neng,” balas ibu itu mencoba tetap ramah, tapi dia sudah tidak banyak bicara. “Ibu masuk dulu ya, Neng,” pinta si ibu lalu Alisa menyetujuinya. Alisa melihat mama di seberang sana belum juga berhasil menawar angkot lalu berpindah ke angkot di belakangnya. Sepuluh menit sepertinya berasa setengah jam. Padahal Alisa sudah tidak sabar ingin beranjak dari toko itu karena sepertinya dia sudah membuat masalah. Tapi apakah yang salah dengan menyebut kata nama desa itu kepada warga sini. Mungkin ibu pemilik toko  punya masalah dengan orang kampung situ pikirnya. Semoga saja bukan dengan neneknya. Anehnya ibu itu keluar lagi dengan ekspresi pucat dan agak takut. Entah apa yang mau diperbuatnya kali ini. “Neng, jangan marah ya. Ibu cuma mau bilangi saja.” Kali ini Alisa jadi terbawa perasaan takut melihat ibu itu berbicara serius dengan dirinya. “Iya, Bu.” Tidak banyak lagi kata yang bisa diungkapkan oleh Alisa. “Neng hati – hati ya. Selalu berdoa supaya dijaga Tuhan, jangan terjadi apa – apa.” Ah, kenapa bibir Alisa tiba – tiba  kelu tidak bisa menanyakan ada cerita apa. Dia hanya bisa menjawab, “Iya, Bu.” Bersamaan mama sudah mau menyeberangi jalan untuk menjemput Alisa, si ibu aneh itu masuk ke dalam seperti tidak mau bertemu dengan tamu lainnya. “Loh, mana tadi ibu yang berbicara sama Kamu, Sa?” tanya mama. Rupanya sekilas mobil lewat menghalangi pandangan mama, sekejap pula ibu pemilik toko itu sudah menghilang di balik kegelapan. “Nggak ada, Ma. Sudah masuk lagi ke dalam.” “Apa Sa yang bisa dibeli? Kita nunggu kelamaan di sini, nggak enak sama ibunya.” Mama mulai melongok melihat barang–barang di etalase. “Nggak usah,  Ma. Kita pergi saja entar keburu malam.” Alisa mencoba mengalihkan perhatian ibunya. “Iya juga, Sa. Kamu bawa koper Kamu ke angkot yang biru itu ya. mama bawa yang ini,” perintah mama. Koper itu berat juga mungkin isinya saja bisa 15 - 20kg. Walaupun ada roda agak susah juga menyeret menyeberangi jalan. Untungnya mungkin sudah sore sehingga tidak banyak motor berlalu lalang di tengah jalan. Sampai di seberang sudah menunggu supir angkot mungkin seumuran mama yang berbeda tabiat dengan supir tadi pagi. Apakah mama menawar harga dengan kejam sampai supir itu terlihat tidak acuh dengan kesusahan mereka. Soalnya agak menyebalkan, supir angkot itu tidak mau membantu para wanita itu. Si bapak supir akhirnya baru turun tangan ketika melihat mereka berdua kesulitan mengangkat koper–koper melewati celah pintu angkot yang sempit. Mungkin supir itu juga takut pintunya terbentur, bukannya memikirkan koper mereka berdua yang lecet. Alisa dan Mama memutuskan duduk berdua di belakang bersama koper mereka. Rupanya Mama juga sudah berasa supir itu tidak ramah kepada mereka sehingga malas duduk berderet di depan. Mau mengobrol juga serba salah, jadi mereka semua memutuskan diam saja sepanjang perjalanan. Kali ini tanpa AC, tetapi hanya dinginnya embusan angin malam yang menjalar di kulit mereka. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook