Nenek membuka pintu lebar. Pandangannya seperti menghitung siapa saja tamunya yang datang berkunjung.
“Alisa?” Nenek malah menjawab salam mama dengan nama cucunya.
Tapi Nenek juga kelihatan ragu mau menghampiri Alisa. Maklum Alisa sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Tubuhnya tinggi langsing dengan rambut hitam legam menjuntai lurus seperti model iklan shampo.
“Iya Oma, ini Alisa. Cucu kesayangan Oma.” Alisa percaya diri mengatakannya.
“Alisa, kamu sekarang sudah besar. Oma kangen sama Kamu.” Suara nenek sedikit bergetar karena terharu bercampur rasa gembira.
Mama sepertinya sadar nenek dan cucunya sama–sama ingin melepas kangen, maka dia bergerak ke samping.
“Alisa, Oma sudah lama ingin peluk Kamu.”
“Alisa juga kangen sama Oma,” balas Alisa.
Akhirnya mereka berdua bisa berpelukan setelah sekian belas tahun terpisah tanpa ada kabar. Nenek memeluk cucunya erat sekali. Jadi Alisa hanya berdiri diam saja. Dia tidak perlu membalas pelukan itu karena begini saja Alisa sudah susah bernapas.
Sesekali tangan nenek mengusap tubuh Alisa. Aduh, Alisa berpikir dia bukan anak kecil lagi, tapi nenek masih memperlakukannya seperti waktu kecil. Alisa tidak menyangka pertemuan mereka akan sedramatis ini. Akhirnya setelah satu menitan, Alisa mengambil inisiatif melepaskan diri dan masuk ke dalam rumah.
“Sum, Kamu bawa masuk dulu saja kopernya ke kamar,” perintah nenek.
“Iya Bun,” jawab mama seperti sudah tahu akan diusir.
“Kalau mau apa-apa Kamu sudah tahu tempatnya. Bunda mau mengobrol dulu sama Alisa.”
Oh jadi Alisa tidak ikut ke kamar bersama mama, tapi menemani nenek berbincang.
“Nggak apa-apa, Sa. Koper Kamu biar mama yang beresi. Mama sekalian mau mandi. Kamu juga jangan lupa mandi dulu sebelum tidur.”
“Iya, Ma. Nanti Alisa beresin koper Alisa sendiri saja.” Alisa menawarkan bantuan.
“Ya sudah. Kalau begitu mama taruh koper Alisa di kamar dulu. Nanti baju–baju Alisa masuki ke lemari.”
“Ayo, Sa. Kita ke ruang tengah,” ajak nenek.
Mereka bertiga sepakat dengan acara masing–masing.
# # #
“Ha... Ha... Ha...” Nenek dan cucu sama–sama tertawa.
“Bentar, Sa. Oma isi lagi dulu air panas biar kita nggak kehausan.” Nenek mengangkat poci berisi teh gula batu sambil beranjak ke dalam dapur.
Alisa merasa nyaman duduk di sofa empuk. Televisi dibiarkan menyala, tetapi tanpa suara supaya tidak menganggu obrolan dua wanita itu. Alisa mencicipi peyek ikan teri yang disimpan dalam toples di atas meja. Hmmm rasanya enak, asinnya berasal dari ikan laut yang digoreng. Perlahan Alisa bisa memuaskan nafsu kulinernya dengan makanan daerah asalnya.
Dipandangnya neneknya sungguh orang kaya. Sofa ini saja sudah mahal, apalagi ditambah ongkos kirimnya dari kota. Belum lagi furniture lain seperti meja dan lemari televisi yang terbuat dari kayu jati berukiran. Lemari pajangan berisi bebatuan berharga, patung porselen, serta alat makan yang semuanya import dari luar negeri.
Entah nenek punya koneksi dengan siapa, sehingga bisa membeli dan membawanya ke daerah terpencil ini. Di sudut ruangan berdiri dengan gagah jam lemari Junghans yang antik. Bandulnya masih bergerak dan gong sudah berbunyi tadi pas jam delapan malam.
“Nggak ada yang berubah, Sa. Sejak Kamu dibawa pergi ibu Kamu dari sini.” Nenek sudah balik. Dia seperti bisa membaca mata Alisa yang sedang mengamati sekeliling.
“Iya,Oma.” Alisa sedikit mengeryitkan dahi. Walaupun dia tidak tahu masalah yang terjadi antara mama dan nenek, tetapi sepertinya nenek agak menghakimi mama. Ah, mama juga tidak mau cerita jadi Alisa tidak bisa ikut campur urusan mereka berdua.
“Sudah gitu, ibu Kamu ngelarang oma ketemu Kamu. Tapi Kamu juga nggak mau cari oma?” tanya nenek agak menusuk.
“Eh... Alisa mau kok, tapi mama nggak kasih tahu,” bela Alisa.
“Betul kan. Mama Kamu orangnya begitu. Nggak nurut sama oma. Oma jadi capai.”
Alisa jadi bingung menjawabnya. Dia buru–buru mengganti topik.
“Oh iya Oma katanya sakit ya? Alisa dengarnya begitu. Jadi mama dan Alisa buru-buru kemari.”
“Eh... iya.” Kali ini nenek yang terlihat kikuk.
“Oma kan sudah tua. Sudah 70 lebih. Banyaklah penyakit. Minggu lalu waktu Yuli telepon ibu Kamu, oma memang sudah tiga hari nggak bisa bangun. Di ranjang terus sendirian. Jadi oma sempat pikir apa oma sudah mau mati,” lanjut nenek lirih.
“Wah, Tante Sani kemana Oma? Terus Oma nggak ada pembantu?” tanya Alisa penasaran.
“Eh...” Nenek sempat diam sejenak.
“Tante Kamu ada, tapi juga lagi sakit. Pembantu juga kasihan. Dia sibuk ngurusi rumah dan tante Kamu saja,” jawab nenek.
Kurang puas dengan jawaban nenek, Alisa bertanya lebih detail lagi.
“Tante sakit apa Oma? Kok kayanya sampai repot benar.”
“Eh begitu... sakit ya sakit. Dia tinggal di kamar terus, di lorong sebelah,” kata nenek.
“Sudahlah bahas cerita yang senang-senang saja,” kata nenek lagi. Kali ini nenek yang merasa dipojokkan langsung meminta ganti topik. Hmmm, Alisa penasaran apakah sakit bibinya lumayan parah sampai tidak bisa beranjak dari kamar. Ah, tapi tidak buru–buru toh. Dia masih punya waktu sekitar dua minggu mengeksplorasi sendiri cerita tentang rumah nenek.
“Sa, Kamu sudah punya pacar?” Tanya nenek dengan topik baru.
DEG. Jantung Alisa seketika terhenyak dengan pertanyaan semacam itu. Malu juga mau jujur atau bohong saja ya. Ah, tapi kan nenek sangat sayang sama dirinya, Alisa jadi tidak tega membohongi neneknya.
“Ada Oma. Tapi baru beberapa bulan saja pacaran,” jawab Alisa malu–malu.
“Orangnya bagaimana Sa? Cerita sama oma.” Nenek semakin mendekatkan diri ke tempat sofa Alisa duduk.
Aduh, kenapa topiknya harus ini ya. Biasanya topik ini yang paling dihindari oleh Alisa. Tapi dari tadi sudah ganti topik, nanti kehabisan pembahasan lagi.
“Teman kampus, Oma. Orangnya ya baik.” Mulut Alisa tiba–tiba tidak lancar bercerita.
“Saleh?” tanya nenek lagi dengan tatapan tajam.
Aduh, jujurnya Johni bukan orang saleh. Alisa tidak pernah melihat Johni berdoa, apalagi mengajaknya berdoa. Johni orang yang sekuler mungkin bisa juga dikatakan ateis karena lebih percaya keilmuan daripada hal–hal supranatural yang tidak bisa dijelaskan. Apakah nenek akan marah kalau Alisa jawab itu. Ah, jawab tengah–tengah sajalah.
“Nggak saleh amat, Oma. Tapi dia orangnya baik.” Alisa menegaskan lagi supaya nenek tidak keberatan.
“Oh, nggak apa–apa, Sa. Sekarang juga banyak orang beragama tapi hidupnya nggak benar juga.” Nenek menambahkan pernyataan Alisa.
“Iya, Oma.” Alisa mengangguk setuju. Banyak teman kampusnya yang memakai aksesoris agama seperti ingin menunjukkan identitasnya, tetapi perkataan dan perbuatannya malah menyakiti orang lain.
“Tapi Kamu masih perawan kan?”
DEG. Kok nenek bertanya begitu. Apakah karena Johni bukan orang saleh jadi nenek menuduh mereka berbuat yang melanggar norma agama. Hmmm, rasanya hal menjijikan itu jauh dari pikiran Alisa sampai saat ini.
“Ini penting loh, Sa.” Kata nenek menegaskan.
Tatapan nenek kelihatan serius menunggu jawaban cucu perempuannya. Alisa harus cepat–cepat menjawab supaya tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.
“Oma... masa iya Alisa berbuat jijik gitu.” Alisa agak keberatan dengan pertanyaan neneknya.
“Ya paling dia cuma pegang–pegang tanganku saja. Ciuman saja belom pernah. Suer deh Oma,” kata Alisa agak kesal.
“Oma tanya yang lain saja deh. Oma kaya polisi saja,” ucap Alisa lagi.
“Nggak. Oma cuma mau Kamu nggak kaya ibu Kamu,” kata nenek.
Ternyata seperti itu pikir Alisa.