Bab 9 : Janji ke Mama

1329 Kata
Suapan terakhir nasi goreng ikan asin sudah masuk ke mulut Alisa. Nah, ini baru masakan yang diharapkan oleh Alisa karena sesuai dengan tema pantai. Si mbok memang pintar masak, rasanya cukup pas dari aroma ikan asin dan nasi yang beraroma agak gosong. Mama masih duduk dengan tenang di meja makan, seperti mau membicarakan sesuatu dengan Alisa. Dia menunggu Alisa menyeruput habis jus jeruknya. “Sa, mama mau ngomong sesuatu sama Kamu,” pinta mama. “Iya, Ma. Ada apa?” tanya Alisa sambil meletakkan gelas kosong itu. “Kemarin sepupu Kamu nggak ngapa–apai kan?” tanya mama to the point. Mama ini bagiamana pikirnya, kenapa pertanyaannya sama. Apa beliau tidak percaya sama penjelasan Alisa kemarin. Tapi malu juga mengakui dadanya dipegang–pegang oleh entah mahluk halus apa yang merasuki kedua sepupunya. “Nggak, Ma. Mereka nggak ganggu Alisa. Mereka kesurupan cuma garuk–garuk lantai. Terus ketawa cekikikan saja.” Dia sengaja melewatkan bagian saat terbangun dari tidurnya. “Soalnya mama agak khawatir kalau begitu terus,” balas mama kelihatan cemas. “Nggak apa–apa kok, Ma. Kan kita juga cuma sebentar di sini,” timpal Alisa langsung. Lagipula dalam hatinya dia merasa aman karena sudah dipasangi susuk penjaga oleh nenek. Dia percaya susuk itu manjur karena nenek sudah puluhan tahun memakainya, tapi kelihatan baik–baik saja. Tapi mama malah terdiam. “Justru itu, Sa,” kata mama singkat. Lalu terdiam lagi. “Mama?” tanya Alisa tidak mengerti. “Mama kayanya putusi jual apartemen kita di Jakarta. Jadi mama tinggal di sini,” lanjut Mama. DEG. Jantung Alisa berdegup kencang. Tidak terbayang oleh Alisa kalau harus meninggalkan tempat tinggalnya selama ini. Padahal apartemen itu setahu Alisa baru lunas tiga tahun lalu setelah sepuluh tahun mama mencicil dengan hasil keringatnya. Tipe 2 kamar tidur, tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman buat ditinggali. “MAMAA ...” teriak Alisa terkejut. “Masa iya, Ma? Kenapa bisa begitu?” tanya Alisa lagi. “Aduh, Mama juga nggak tahu harus memulai menjelaskan dari mana, Sa.” Mama kelihatan bingung. “Memangnya kita nggak ada uang lagi, Ma?” tanya Alisa curiga. “Ada Sa, tapi nggak banyak,” jawab mama pelan. “Atau gara–gara oma sakit? Jadi kita mesti temani,” protes Alisa. “Ya itu alasan nomor dua, Sa. Sebenarnya mama juga nggak mau tinggal di sini.” “Terus kenapa MAA?” tanya Alisa merengek ingin tahu. Perasaan Alisa jadi tidak enak. Perasaan mama selalu menghindari nenek. Contohnya dari dulu saja nenek suka telepon ke nomor handphone mama, tetapi mereka tidak pernah mengobrol panjang lebar. Semakin ke sini, sepertinya nenek malas telepon. Akan tetapi lama–lama Alisa curiga mama yang sengaja tidak pernah mau angkat telepon lagi dari nenek. Sayangnya juga handphone mama di-password jadi Alisa tidak bisa menyalin nomor handphone nenek. “Nomor tidak dikenal Sa,” jawab mama kalau ditanya. Padahal ekspresi muka mama kaya bimbang begitu, seperti mau angkat atau tidak. Sesudah itu, mama kelihatan uring–uringan, mungkin merasa bersalah. Sampai terakhir pakai perantara untuk mengabari mama kalau nenek sedang sakit. Ya, warga kampung situ, kalau tidak salah dengar namanya (Tante) Yuli. Dialah mata – mata mama untuk mengawasi nenek dari jauh. Sampai di sini, mama mulai sedih harus menjelaskan rahasianya kepada Alisa. “Mama kena penyakit Sa,” kata mama sedih. “Mama kena penyakit? Apaan, Ma?” tanya Alisa mulai cemas. Kok mama serius begitu. Kayanya masalah besar sekali sampai harus jual apartemen mereka. “Kanker, Sa. Kanker perut, Hiks.” Mama mulai menangis. “Mama sudah ke dokter?” tanya Alisa cepat. Mama hanya mengangguk pelan. Kata – katanya sudah tidak keluar. “MAMA... Nggak mau!” jerit Alisa. Tubuhnya langsung lemas. Seperti disambar petir di siang bolong mendengar kabar tersebut. Ya walaupun dia tidak tahu macam–macam penyakit kanker, tetapi dia tahunya penyakit itu mematikan. Ada teman SMA-nya yang sudah yatim piatu gara–gara bapaknya sakit kanker paru–paru dan ibunya kena kanker hati. Sudah beberapa tahun berobat, tetapi nyawanya tidak tertolong juga. Bapaknya duluan meninggal, baru setahun kemudian ibunya menyusul. Waktu itu dia dan teman-teman lain hanya bisa bilang ikhlasi saja. Tapi ternyata bertindak kadang tidak semudah bicara. Apakah sekarang dia juga bisa ikhlas kalau mama sampai pergi selamanya. Tiba–tiba pikiran Alisa jadi kosong. Dia merasa suasana ruang makan itu seketika menjadi muram di kelilingi tembok–tembok berwarna pucat. Keduanya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka menangis bersama. Walau sekedar air mata, tapi itu sudah cukup bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan masing–masing. Lima belas menit kemudian baru Alisa berkata lagi. “Hiks. Terus Mama sekarang bagaimana?” tanya Alisa lembut. Mama menarik napas panjang untuk coba menahan luapan emosinya. Lalu dia mengambil tissue di meja makan dan menyeka air di mata Alisa. “Kamu harus kuat ya, Sa. Anak mama tersayang,” kata mama menyemangati. “Mama juga... Hiks,” sambil mengambil tissue itu dari tangan mama dan menyeka matanya sendiri. Dia sekarang harus mulai mandiri dan tidak mau merepotkan mama lagi. “Kata dokter apa, Ma?” tanya Alisa berharap mendengar suatu keajaiban. “Paling setahun lagi Sa,” kata mama lirih. Air mata Alisa sepertinya sudah habis untuk pagi itu. “Mama ...” Mama hanya mengangguk–angguk sambil sesugukan. Apa yang dia rasakan lebih pedih daripada yang Alisa rasakan. Dirinya hanya akan ada di dunia ini setahun lagi. Dia tidak bisa menolak takdir. Dia mungkin tidak akan melihat Alisa lulus kuliah, menikah, sampai punya anak. Padahal dia selama ini juga tidak pernah membayangkan melihat cucunya bertambah besar, kuliah, menikah, dan seterusnya. Satu keinginannya hanya melihat anak satu–satunya itu hidup bahagia sampai tua nanti. Tetapi takdir bekata beda, sekarang mama hanya bisa berharap mukjizat datang dari Sang Maha Kuasa. Tadinya Alisa masih pusing memikirkan bagaimana nanti dia kuliah di Jakarta. Apakah akan cari kost dekat kampus. Tapi sekarang semuanya sirna. Saat ini Alisa hanya ingin dekat mama menemaninya sampai akhir hayat. Ah, kenapa Alisa bisa tidak curiga dengan penyakit mama. Apakah selama ini dia terlalu antusias baru saja masuk tahun pertama kuliah. Dia memang belakangan ini sesekali melihat mama muntah di kamar mandi. Tapi kata mama masuk angin biasa saja. Tante Niar, teman sekantor mama, juga tidak cerita banyak. Dia hanya menemani mama sampai pintu depan apartemen karena harus buru–buru pulang. Dia juga takut dimarahi suaminya. Kasihan mama sebagai orang tua single, dari jam tujuh pagi sudah harus berangkat kantor. Malamnya baru sampai rumah jam tujuh malam. Itu pun lanjut dengan menyiapkan bahan–bahan masakan sehingga besok Alisa pulang kampus tinggal menyalakan api kompor dan lempar–lempar bahan ke dalam panci. Untung pakaian bisa dibawa ke laundry di kios apartemen, tinggal pencet tombol lift turun ke bawah. Sedangkan urusan bersih–bersih debu menjadi tanggung jawab Alisa. Pembantu sudah diberhentikan sejak Alisa duduk di bangku SMA. Kata mama biar bisa menghemat uang. “Mama minta tolong sahabat Mama, Niar, yang urus semuanya,” kata mama bicara soal apartemen. “Nanti dia mau kabari kalau sudah laku. Jadi kita bisa siap–siap pindahan. Kamu simpan ya nomor HP Tante Niar,” lanjut mama. “Iya, Ma,” jawab Alisa lirih. Sepertinya dia akan lebih banyak berhubungan dengan Tante Niar sebagai orang kepercayaan mama di Jakarta. Ah, tapi Alisa juga tidak mau merepotkan Tante Niar. Secara dia sudah besar harus bisa mandiri. Dia juga berpikir tidak bisa membalas semua kebaikan Tante Niar nantinya. Walaupun Tante Niar mungkin tidak keberatan di depannya. “Sa, mama sebenarnya ingin lihat Kamu lulus, diwisuda, berkarir dan menikah. Tapi kayanya ...,” kata mama sambil mendesah. “Ma, jangan bilang begitu. Mungkin masih ada mukjizat,” hibur Alisa. “Tapi Kamu janji sama mama satu hal ya, Sa.” “Mama mau apa? Kalau Alisa bisa, Alisa bakal penuhi,” janji Alisa. “Mama nggak minta aneh–aneh. Mama cuma mau Kamu hidup lurus, jangan menyimpang,” kata mama. “Iya, Ma. Kalau itu Alisa pasti penuhi,” kata Alisa yakin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN