Ingin Menjadi Matamu

2014 Kata

                  Hujan deras masih mendera kota sejak satu jam yang lalu. Kopi panas dan juga sepiring pisang cokelat menemani pemuda itu yang tengah memandang jauh ke luar jendela. Tatapannya sayu dengan helaan napas yang entah sudah berapa kali ia hembuskan kasar. Ia ingin mencoba melupakan apa yang terjadi beberapa hari ini, namun sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Erisa ia tidak akan bisa semudah itu mengacuhkannya. Apalagi Erisa masih belum ada kabar sampai sekarang, entah dimana keberadaan gadis itu. “Gue paling gak suka perasaan begini,” gumamnya kembali mengembuskan napasnya samar. “Erisa, lo dimana sih?” “Yang pasti di tempat dimana bos gak ada,” sahut Yunna yang mendekat, membersihkan meja di samping meja Erlangga yang masih mode galau. “Ck, gak usah bikin mood gue t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN