Erisa masih duduk melamun di atas tempat tidurnya dengan matanya yang masih terlihat sembab karena sedari tadi menangis. Gadis itu mengerjapkan matanya sayu, menolehkan kepalanya ke arah pintu yang sudah hening. Hanya terdengar suara derasnya air hujan, suara serak Erlangga tidak terdengar lagi kini, mungkin pemuda itu sudah pergi karena kelelahan berteriak memangil Erisa yang enggan untuk membuka pintu. Pandangannya jatuh pada kedua kakinya yang sudah tidak bisa menapak lantai seperti biasa membuat dadanya kembali merasa sesak. Apalagi kini ia benar-benar merasa sendirian, tidak ada satu pun orang yang tulus bertahan bersamanya. Teman-temannya hanya sekedar teman yang tidak setiap waktu menemaninya di saat suka atau pun duka begini. Ia tahu, mereka mungkin sekarang masih sibuk dengan ma

