Kedua pemuda itu masih duduk di depan rumah dengan ransel mereka yang sudah tergeletak di atas rumput. Sama-sama enggan untuk melangkah masuk ke dalam rumah, apalagi setelah kejadian barusan membuat keduanya masih kepikiran. Syahid berusaha meredam emosinya dengan menggigit rahangnya kasar sampai menonjol pada tulang pipinya. Pemuda itu makin mengepalkan tangannya erat saat mengingat kejadian tadi di kampus. Syahir berdehem samar, berusaha terlihat biasa saja agar setidaknya menenangkan amarah Syahid sekarang. "Gue beneran gakpapa, jangan cerita sama Syaqila soal tadi." Ujarnya dengan merunduk dalam. "Emang gue gila sampai harus ceritain hal menyedihkan seperti tadi ke Syaqila?" Balas Syahid dengan rahang mengeras. Syahir tersenyum masam, menautkan kedua tangannya dengan perasaan gusar

