bc

My Baby

book_age4+
3
IKUTI
1K
BACA
family
pregnant
drama
comedy
sweet
humorous
realistic earth
childhood crush
slice of life
husband
like
intro-logo
Uraian

Nabil adalah dunia Radit dan Mei. Kehidupan pernikahan mereka menjadi lebih berwarna sejak kehadiran putra pertama mereka. Hanya segelintir cerita tentang asam manis menjadi orang tua muda.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Papa Muda
Ketika anaknya lahir, Radit tidak berkedip menatap paras menawan yang tertidur dalam dekapan Mei, istrinya. Wajah yang biasanya selalu tanpa ekspresi kini dihiasi senyum tipis, menandakan kebahagiaan tak terkira atas kelahiran anak pertamanya. Siapa yang tidak bahagia saat anaknya terlahir begitu menawan? Laki-laki, tiga koma tiga kilogram, empat puluh empat sentimeter. Rambutnya sehalus bulu kelinci, sepasang bola mata yang bahkan jauh lebih berkilau dari permata sekalipun (walau dalam hal ini Mei menganggap Radit agak berlebihan). Bibir tipisnya mengecap-ngecap mencari s**u sementara jemari mungilnya menggenggam telunjuk Radit. Mereka sepakat menamainya Nabil Arfadhia Shabira yang berarti laki-laki pintar yang tinggi derajatnya dan memiliki kesabaran yang besar. Tentu saja nama ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan berbagai pertimbangan penuh . Belum lama lahir ke dunia, Nabil sudah menjadi kesayangan orang-orang. Seperti halnya Radit, semuanya terpesona dengan wajah malaikat Nabil. Si cilik kesayangan semua orang. Bahkan ayahnya yang biasa menampilkan wajah si tua jutek pemarah kini malah tersenyum sambil menatap Nabil, berkata bahwa si cilik tampan ini akan ia didik menjadi pewaris perusahaan keluarga mereka yang paling sempurna dengan segala disiplin serta tindak terpuji. Daffa beda lagi. Saudara angkat istrinya itu malah sibuk menghapus air matanya dengan sapu tangan. Terharu dengan kelahiran keponakan pertamanya yang penuh dengan adegan menebarkan bak film action. Ia ingat belum lama ini ia harus berjuang menahan jambakan di rambutnya yang penuh dengan rasa ketidakmanusiaan oleh Mei, padahal ia sedang menyetir tapi Mei tetap saja menjambak rambut indah Daffa, tidak peduli akan resiko kecelakaan yang mungkin terjadi. Daffa sebenarnya memaklumi kalau Mei sengaja menjambak rambutnya guna pengalihan rasa sakit akibat kontraksi di perut, tapi tetap saja dengan Radit, suami Mei sendiri, yang duduk di sampingnya , jadi kenapa Daffa yang duduk di kemudi depan untuk menyetir malah yang menjadi sasarannya. "Gua kan nggak mungkin menyakiti suami gua sendiri, Daff!" Kata Mei, berteriak menjawab ketika Mei menyerukan protes akibat remasan di rambutnya yang sakitnya tidak main-main. Daffa yakin kalau beberapa helai rambutnya rontok akibat ulah Mei. Sialan memang bocah setan satu itu! Untungnya, setelah menjadi supir ugal-ugalan dadakan, menyalip kendaraan dengan gaya kesetanan dan pengorbanan atas beberapa helai rambut yang rontok, Daffa akhirnya bisa bertemu dengan keponakan yang selama sembilan bulan ini dinantikan oleh seluruh keluarga. Apalagi anaknya manis begini, semoga kelakukan setan ibunya tidak menurun. Daffa tidak bisa untuk tidak terharu. "Daff, jangan nangis dong! Malu sama Nabil kali!" ledek Mei yang kemudian dihadiahi tatapan sengit dari Daffa. "Siapa yang menangis, s****n!" Daffa memberi tatapan paling seram yang dia bisa tapi itu tidak menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terus itu kenapa matanya merah?" "Aku kelilipan tadi!" Elak Daffa yang lalu disambut tawa oleh seluruh orang yang ada di ruangan. "Sudah, jangan bertengkar. Kalian ini sudah dewasa loh," kata Vina, kakak Daffa, menengahi. Senyumnya mengembang ketika dia menatap Nabil dalam gendongan Mei. "Boleh aku menggendongnya, Mei?" "Tentu boleh, Kak!" Mei menyerahkan Nabil dengan hati-hati pada kakak angkatnya itu. Vina menimangnya lembut, mencium pipinya yang kemerahan. Ketika Nabil membuka matanya suara Ooo kecil langsung memenuhi ruangan. Semuanya nyaris memekik sangking gemasnya, bahkan Radit bisa melihat Daffa membuat gerakan-gerakan aneh pada tangannya, Radir tahu Daffa sedang menahan diri untuk tidak mencubit gemas kedua pipi Nabil. Yuli, ibu angkat Mei, masih terus mendikte Mei bagaimana cara merawat bayi yang benar dan tentu saja ayahnya Radit juga beberapa kali ikut menyela tentang betapa pentingnya pendidikan moral karakter sejak dini. Para Om dan Tante Nabil sibuk mengambil perhatian dan mencoba membuatnya tersenyum. Beberapa usaha mereka bahkan berhasil membuat bayi itu tersenyum samar. Radit mengucap syukur kepada Tuhan. Semua orang menyayangi Nabil, bayi kecilnya begitu menggemaskan hingga menarik perhatian setiap orang. Ini adalah hadiah terhebat yang Radit dapatkan. "Radit, kamu mau coba menggendongnya?" Mei bertanya, seluruh pandangan kini berbalik menatapnya. Radit tidak menjawab, justru menatap sang putra yang kini berada dalam gendongan Vina. Dia ragu. Bagaimana kalau dia salah menggendongnya dan justru membuat Nabil terluka? "Nggak papa, asal berhati-hati kamu nggak akan melukai Nabil," kata Raka, kakak Radit, membaca raut khawatir di wajah datar sang adik. Vina menyerahkan Nabil ke dalam gendongan Radit. Wanita cantik itu memberikan beberapa saran agar Radit tidak terlalu kaku menggendongnya. Vina tersenyum menatap si ayah muda yang sedang berusaha keras untuk menggendong putranya untuk pertama kali. "Tuh kan, kamu bisa, Ra!" Kata Mei sambil tertawa kecil. "Mn." Radit menjawab singkat dengan gumaman tidak jelas, masih berusaha fokus menggendong Nabil yang terasa begitu kecil dan rapuh di tangannya. Mata bulat Nabil menatap sang ayah yang kemudian, belum ada dua menit dia di timang, matanya sudah mulai berkaca-kaca dan detik-detik berikutnya suara tangisan kencang memenuhi ruangan . Nabil menangis ketika menatap wajah ayahnya. Radit panik tapi karena minimnya kosa kata serta ekspresi wajahnya, Radit hanya bisa menatap Mei dan Nabil bergantian. "Aku ... Mei..." "Ha-ha-ha, berikan padaku Ra, jangan khawatir Nabil mungkin cuma lapar," kata Mei, segera mengambil anaknya yang kini tangisannya terdengar semakin pilu. "Atau mungkin Nabil takut pada mata ayahnya makanya dia sampai menangis, hahaha," kata Daffa, bercanda. Nabil takut pada mata ayahnya ... Nabil takut pada ayahnya ... Nabil takut padanya .... Radit terpekur, wajahnya pucat. Hati si ayah muda hancur berkeping-keping begitu tahu putra kecil kesayangannya takut padanya. Radit sudah gagal menjadi ayah. "Ra, Daffa hanya bercanda," kata Raka, sadar akan perubahan tak kentara dari raut wajah Radit yang selalu saja datar. "Bercanda?" Kata Radit. "Ya ampun, Ra! Daffa hanya bercanda! Nabil nggak mungkin takut pada ayahnya sendiri!" Mei ikut mendukung perkataan Raka. "Lihat, coba saja kamu gendong lagi dia, Nabil pasti nggak akan nangis!" Tapi Nabil tetap saja menangis ketika Radit menggendongnya. Suara hati yang patah secara imajiner terdengar di telinga Radit. Hati si ayah muda hancur begitu ditolak oleh si kecil dengan tangisannya. Mei malah menertawakan ekspresi kaku Radit yang menurutnya menggemaskan. . . . "Ayo coba digendong, Nabil pasti mau bermain dengan ayahnya juga!" Radit tidak menjawab. Pun dia hanya menatap Nabil yang kini balik menatapnya. Nabil kini berusia enam bulan, dia sudah mulai mengoceh hal-hal tidak jelas juga tengkurap. Selama itu pula Radit selalu menjaga jarak dengan Nabil, dia takut Nabil akan menangis ketika dia terlalu dekat dengannya. Tentu saja ia tetap menggendong dan bermain dengan Nabil walau harus dengan bujukan Mei yang menyakinkan dirinya jika Nabil tidak akan menangis dan ingin bermain dengan ayahnya. "Ra!" Mei sedikit memaksa, gemas juga melihat suaminya masih ragu untuk menggendong putranya sendiri. "Mei, nanti nangis," kata Radit cemas. Mei menghela napas lelah. "Nggak bakal nangis asal kamu nggak melotot padanya." "Nggak melotot." Radit mengulang perkataan Mei. "Hm. Benar! Nabil nggak akan nangis. Daffa saja bisa menggendong Nabil, masa ku yang ayahnya nggak bisa. Memang ku mau saat besar nanti Nabil malah memanggil Daffa dengan sebutan ayah?" Celoteh Mei. "Aku ayahnya." Kedua alis Radit tertaut tidak suka. "Makanya gendong dan coba bermain dengan Nabil. Dia anaknya tidak rewel kok. Yang penting jangan melotot padanya dan berusaha melucu padanya." "Melucu?" "Iya, melucu, seperti membuat wajah-wajah konyol dan membuat Nabil tertawa. Seperti ini." Mei mempraktekkan, membuat Nabil tertawa sembari memamerkan gigi kelincinya yang baru saja tumbuh. Radit terdiam. "Aku nggak bisa." Tentu saja, bagaimana mungkin seorang Radit, si pengusaha sukses yang terkenal dingin dan tanpa ekspresi bisa membuat tampang t***l seperti itu? Apa yang mau dikata dunia? Tapi Mei tidak mau tahu. Dengan suara optimisme yang penuh delusi ia menyemangati suami tersayang. "Ayo, kamu pasti bisa, Ayah!" Radit langsung semangat ketika Mei menyebutnya ayah. Benar, dia adalah ayah sekarang. Sudah menjadi kewajibannya membuat Nabil bahagia. Dan tugas pertama Radit adalah untuk membuat putra kecilnya itu tertawa. Radit menghela napas. Ia tidak terlalu akrab dengan anak kecil pun dengan urusan lawak melawak. Dirinya adalah seorang kaku yang tidak punya jiwa komedi. Dia tidak tahu cara membuat seorang bayi tertawa namun ia ingat ketika Vina datang kemari dan membuat Nabil kecil mereka tertawa. Radit dengan segenap jiwa dan raga memutuskan untuk meniru tingkah Vina saat itu. "Ciluk Baaa." Tawa Mei menggelegar. Tidak menyangka jika suaminya bakal meniru tingkah Vina dengan nada dan ekspresi datar seperti itu. Meskipun demi anaknya Radit rela bertingkah konyol, tapi Radit tetaplah Radir, sangat sulit untuk membuatnya keluar dari karakter asli yang biasanya. Melihat Mei tertawa, Radit tahu dia sudah gagal pun malah jadi malu karena ditertawakan sedemikian rupa oleh kekasihnya. Telinga Radit memerah karenanya. "Mei ...," Radit menegurnya karena tidak kunjung berhenti tertawa. Sementara Nabil hanya menatap ibunya tidak mengerti sembari menggigit kepala boneka zombie yang dipegangnya. "Maaf ... tapi Ra ... sungguh kamu ... aduuh muka kamu tadi konyol banget!" Mei mencoba berhenti tertawa. Radit memalingkan wajahnya. Gurat kekesalan terpancar di wajahnya. Rupanya Mei hanya ingin mengerjainya saja. "Mukaku nggak sekonyol itu!" Kata Radit kesal. "Ra, jangan marah dong. Nabil, lihat Ayah marah hanya karena hal kecil!" Mei menarik Nabil ke dalam pangkuan. Tanpa di sangka Nabil malah tertawa dan dengan nada menggemaskan dan pelafalan yang masih terbilang buruk ia memanggil Radit. "Yah!" Radit menoleh, menatap anaknya dengan ekspresi terkejut yang tergambar tipis di wajah tampannya. Sedang Nabil balas menatapnya sambil tersenyum lebar. Kedua tangan kecil dan gemuknya terulur, hendak menggapai Radit. "Yah!" Katanya dengan menggemaskannya. Mei terpekik girang. Senang bukan main ketika mendengar anaknya memanggil Radit dengan sebutan Ayah. Meski mungkin cuman kebetulan saja. "Aiyooo! Ia bahkan belum bisa memanggilku Ibu tapi sudah memanggilmu Ayah duluan? Hmm, Ra,bukan kah ini tidak adil? Kesannya Nabil lebih sayang ayahnya dari pada aku ibunya sendiri." Mei berkata dengan nada sok muram, tapi Radit terlampau senang untuk meladeni Mei. "Nabil sayang padaku?" Radit masih setengah tidak percaya. "Tentu saja. Kamu kan ayahnya. Nabil sayang pada Ayah kan?" Mei tersenyum. Seakan-akan mengerti ucapan ibunya, Nabil tertawa, senyum lebar tidak lepas dari wajah mungilnya. "Yah!" Tangan mungilnya terulur ke arah Radit. Radit meraup tubuh mungil Nabil, tersenyum tipis. "Mn. Ayah juga sayang Nabil." Sejak saat itu Radit tidak lagi takut menggendong Nabil. . . . Nabil adalah dunia Radit. Radit sangat menyayangi Nabil dan rela menyebrangi neraka demi bisa membuatnya bahagia. Tapi bisakah kali ini saja, Nabil sedikit berbaik hati dan membiarkan dirinya berduaan dengan istrinya sehari saja? Terdengar kekanakan memang, tapi semenjak mereka memiliki Nabil, kebersamaan mereka hampir terkikis habis, terkuras untuk mengurus si kecil kesayangan mereka. Bahkan janji "Bermain Setiap Hari" yang dulu selalu Mei penuhi kini tidak pernah lagi terlaksana. Terhitung sejak kandungan Mei sudah mulai membesar (Radit terlalu takut menyakiti si kecil di dalam perut dan lagi sulit bermanuver dengan perut sebesar bola basket) dan ketika Nabil lahir mereka disibukkan untuk mengurusi Nabil yang sering terjaga di tengah malam karena haus. Bukannya Radit membenci peran barunya sebagai ayah, sungguh Radit sangat bahagia dengan kehadiran Nabil. Ia bahkan rela menukarkan apapun demi melihat tawa dan senyuman Nabil. Hanya saja, setidaknya malam ini ia ingin sedikit menikmati waktu berduanya dengan Mei. Mereka baru saja menerima steak yang mereka pesan ketika Daffa menelepon mereka dengan nada yang begitu nelangsa. "Woy, Mei! Gimana ini, si Nabil dari tadi ... Aaaaa jangan nangis, Om lagi telepon Ibu aaa, jangan jambak rambut Om. Pokoknya, Mei, cepet pulang ...," suara Daffa begitu nelangsa bercampur jengkel di akhir percakapan telepon. Mei tertawa garing. Hancur sudah kencan spesial mereka. Mereka bahkan baru mau mulai makan malam tapi sudah gagal duluan. Mei menatap suaminya sambil tersenyum kecut. "Ra, maaf, tapi Nabil nangis dan kita harus pulang." "Mn. Nggak apa-apa." Radit mengecup singkat bibir manis milik pria dihadapannya ini. Lagipula mana bisa Radit marah? Ia juga tidak tega mendengar tangisan Nabil. Ketika mereka pulang, Daffa menyambut mereka dengan kelegaan yang luar biasa. Nabil masih menangis kencang, suaranya bahkan sampai serak. Padahal Nabil bukan tipe bayi yang gampang menangis. Nabil juga sudah tertidur lelap dan perut yang kenyang ketika mereka menitipkannya pada Daffa. Tapi tiba-tiba saja Nabil terbangun dan menangis tanpa sebab. Ketika Radit mengambil alih Nabil dari gendongan Daffa secara ajaib tangisnya langsung berhenti. Lengan mungil Nabil memeluk leher Radit, menyembunyikan pipinya yang basah diceruk leher Radit. Radit menepuk-nepuk punggung si kecil dengan sayang. Nabil tidak lapar dan haus, tidak juga mengalami demam. Mungkin dia menangis karena sadar ditinggalkan sendiri oleh ayah dan ibunya untuk bermesraan. Nabil mungkin marah karena tidak diajak. Memikirkan itu Radit menjadi merasa bersalah. Tidak seharusnya dia egois akan keinginannya sendiri. Saat ini ia telah menjadi seorang ayah, sudah sewajarnya Radit selalu mengutamakan kepentingan anaknya di atas kepentingannya sendiri. "Benar-benar pengganggu kecil, tidak bisa melihat ayah dan ibunya bermesraan sebentar saja." Mei terkekeh, mencium gemas ujung hidung mancung putranya. Nabil sudah terlelap kembali dengan pulasnya dan Daffa sudah pulang sejak empat jam yang lalu. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari tapi mereka baru saja selesai menidurkan Nabil dan bersiap-siap pergi tidur. Radit menatap wajah damai putranya. Sejak Nabil lahir ke dunia, dunia Radit dan Mei jauh lebih berwarna. Radit baru saja akan berbaring ketika Mei mencium bibirnya dengan lembut, menimbulkan warna kemerahan di telinga Radit. Mei tersenyum lebar. "Selamat tidur Ayah!" Radit tertegun, tapi itu tidak lama karena kemudian dia langsung meraih tengkuk istrinya, mengecap manis bibir Mei dengan rasa yang tidak pernah pudar. Radit tersenyum tipis ketika ciuman keduanya terputus. "Mn. Terima kasih juga telah memberi Nabil sebagai hadiah terbaik untukku." Radit tidak terbiasa berbicara lebih dari dua atau tiga kata, tapi untuk kali ini izinkan dia untuk berkata lebih guna menyalurkan seluruh ungkapan syukurnya atas kelahiran Nabil. Radit kembali mengecup singkat dahi anaknya disusul dengan Mei yang bergantian mengecup putra kesayangannya. Nabil tersenyum disela tidur nyenyaknya. Perjalanan sebagai ayah baru saja dimulai. . . . Tbc . . . Catatan Penulis: Haii!!! Ini cerita pertamaku. Hanya berisi cerita tentang perjuangan Radit sebagai Papa Muda. Selamat menikmati dan jangan lupa tinggalkan vote dan komen yaaa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook