Cindy duduk bersandar di ranjang tidurnya dengan pandangan kosong menatap ke arah depan hampir dua jam. Meskipun dirinya terus meyakinkan hati untuk tak peduli dengan apa yang dia baca tadi pagi, namun rupanya semua itu sia-sia. Sedari tadi perasaannya menjadi kacau balau, Cindy tak mengerti kenapa dirinya sangat amat khawatir dengan apa yang terjadi sekarang. Bertanya pada Heri, agar mengetahui bahwa itu asli atau bukan? Cih, yang ada hanya akan mendengar ucapan menyebalkan dari lelaki dispenser itu. "Oh may... Kenapa jadi gelisah gini sih." rengeknya. "Kalo emang tu pria gila menikah dengan gadis lain. Seharusnya aku seneng kan? Secara aku sudah nggak perlu sembunyi lagi dan menjauh darinya. Kenapa malah rasanya ada yang nusuk-nusuk di sini." ujarnya lagi sambil menekan dadanya yang t

