Jebol **

1607 Kata
William yang baru saja turun dari mobilnya, tersentak dengan lengan kecil yang langsung memeluknya dari belakang. "Akhirnya kamu beneran datang sayang." pekiknya riang tapi William risih dan memaksa untuk mengurai pelukan dari makhluk astral itu. "Apa yang lo pakai itu? Lo nggak takut masuk anjeeng?" ujar William mencemooh penampilannya. Tapi dasarnya makhluk astral, di katain seperti apapun tak akan merasa sakit hati. "Iiihhhh~" desahnya mendayu sengaja menempelkan asetnya berharga dua lima juta di lengan William. "Masak anjiing sih." "Maunya itu di masukin kamu sayang..." ujarnya sambil mencolek dagu William dan semakin gelendotan seperti penari striptis. "Terserah lo sajalah." William sudah tak bisa berfikir lagi menghadapi dia, ia mendorong pelan wanita itu dan berjalan masuk ke club malam itu. "Sendirian lagi bos?" tanya Roy. "Iya... Kasih gue yang biasa Roy." bartender itu dengan lihai membuatkan cocktail favorit William. "Ini bos." "Thanks..." Roy melakukan gerakan hormat lantas melayani pelanggan lain. Bagi kalian yang biasa gila kerja dan menanti hari libur adalah sebuah kemerdekaan tersendiri. Tapi malam ini tidak bagi William, niat awal ingin menggunakan masa weekend untuk hibernasi harus terganggu oleh wanita yang pernah menjadi partner ONS dia. William bukan lelaki sombong yang lalu berlagak tak kenal bila lain waktu harus di pertemukan lagi dengan salah satu dari mereka. Hanya saja, haram baginya melakukan dua kali untuk satu wanita bila ia sudah pernah menikmati malam berdua bersama mereka. Dia terlalu ribet, hidupnya sangat selektif. Hanya demi menyalurkan hasratnya, dirinya harus benar-benar tahu bahwa wanita itu sehat dan tak penyakitan. Ya mungkin karena dirinya adalah seorang dokter, tapi lupakan. Kenapa ia malam ini mau menuruti ajakan bertemu dengan wanita yang pernah menjadi partner ONS sebelumnya, itu bukan semata karena ia menginginkannya lagi, hanya saja itu kesalahan dirinya karena pernah memberikan kartu namanya dengan kedok lain urusan bisnis. Sial, William kecolongan. Maka dari itu, ia ingin menuntaskan urusannya dan membasmi hama kecil seperti mereka. "Sayang~...." nah kan, makhluk astral itu muncul lagi. Dengan d**a implannya menempel di lengan William, ia sengaja menggoda lelaki itu tapi sayangnya sang dokter muda nan tampan itu terlihat tak peduli dengannya. "Kamu kenapa sih... Aku kan udah pesen disana." protesnya, berusaha mencari perhatian William agar mengikuti langkahnya di room VIP. drrtt... "Halo..." "....." "Maaf pak sebentar, di sini sedikit berisik." "....." "Nanti saya hubungi anda setelah saya pergi ke tempat sepi." "....." "Baik, pak." Tanpa menoleh ke arah wanita itu, William menyeringai. Tipis sangat tipis, hingga siapapun tak menyadari itu. Dan sekarang dirinya masih berlagak angkuh dan meminta bartender membuatkan minuman lagi untuknya. "Sayang~ , aku keluar sebentar yaaaahh." meski tak ada jawaban apapun dari pria itu, ia seolah merasa Willam peduli padanya. "Nanti aku ke sini lagi, kamu jangan kemana-mana. Okay!?" akhirnya makhluk astral itu menjauh dari William, ia sedikit menunduk untuk menyembunyikan tawa kemenangan dari orang lain. "Akhirnya gue bebas dari tu cewek gila." batinnya. Sudah hampir beberapa menit dirinya duduk sendiri dan tak menggubris belaian wanita-w*************a yang mampir merayunya. Tiba-tiba ada satu makhluk aneh lagi yang datang menghampirinya dalam keadaan setengah sadar alias mabok. "Hey you...!" dengan tubuh sempoyongan mendekatinya. "Apa kau tak tertarik padaku juga?" ujarnya dengan nada suara sensual. William bukan berarti tak tertarik dengan mereka, hanya saja malam ini dia sedang malas bermain-main di bawah selimut bersama mereka yang rela ngangkang untuknya. "Ck, kau pasti pria penyuka pisang." Pruuutttt..... "What?" ujarnya lirih sangat lirih saat menyemburkan minumannya karena terkejut mendengar olokan dari perempuan asing yang tertawa terbahak-bahak dan merebut gelasnya tadi yang masih sisa sedikit, lalu menghabiskannya berniat langsung pergi begitu saja. Rahang William mengeras menatap punggung gadis bodoh dan sok tahu menilai dirinya. "Jangan main-main denganku nona!" desisnya di sela-sela gigi, tangannya mencengkram lengan perempuan asing itu tak peduli dengan tatapan orang yang silir berganti lalu lalang di dekatnya. "Kalo begitu bermainlah denganku tuan." "What?" ujar William meski tak mengeluarkan suara, ia melongo menatap tingkah Cindy dengan gerakan memaksa mengedipkan satu mata ke arahnya, lalu berbalik meninggalkan William yang merasa terhina dengan perilakunya. "Hahaha, gadis itu benar-benar menggemaskan." William meliriknya tak suka lantas kembali ke tempat duduknya. "Apanya? Jangan ketawa lo Roy, atau lo kehilangan pekerjaan lo setelah malam ini." "Haha jangan lah bos, hanya saja sedari tadi tu anak perhatiin anda." William mengangkat satu alisnya lantas menoleh ke arah gadis yang berusaha berjalan tegap menuju pintu keluar club. "Apa maksudnya?" "Sepertinya dia tertarik pada anda bos." "Ck, itu sudah hal biasa lah Roy." ujarnya merasa percaya diri. "Tapi dia beda bos, kayaknya masih rapet deh." Lagi-lagi William mengangkat satu alisnya dan kembali menatap gadis itu. "Lepasin...!" ujar gadis itu mencoba berontak karena seseorang nampak ingin menggodanya. "Bermainlah denganku nona manis." Cuih... Cindy meludah ke wajah seseorang yang tak kunjung melepaskan genggaman tangannya di lengannya, ia lantas menginjak kakinya dan berusaha lari dari p****************g tersebut. "Mau kemana lo brengsek..." ujarnya marah yang sudah menjambak rambut Cailey tak terima dengan sikapnya yang lancang. "Aaahhh... Sakitt..." "Sakit? Ini pantas buat lo, dasar sok suci jalaang murahan...!" pria itu tergelak melihat tak keberdayaan Cindy. "Ahh.. Ah.. Ah... Sakit, sakit." serunya saat seseorang memelintir lengannya dan akhirnya melepaskan cengkramannya di rambut Cindy. "Dia bukan jalaang tuan." ujar seseorang dingin padanya. "Siapa lo? Lepasin gue..." "Sakit?" "Iya sakit bego, aaaaarrggghhh..." sepertinya tangannya patah, tengkorak kepalanya retak karena William membenturkannya pada tembok di depannya. "Itu untuk pecundang yang berani menyakiti wanita lemah." ujarnya lantas berdiri dan menggendong Cindy yang sudah pingsan mungkin terlalu mabuk. Entahlah, William benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri. Kenapa dia harus membawa Cindy pulang ke apartemennya, siapa dia...? Arrrgghhh... William menggeram, matanya menatap gadis yang sudah tertidur di ranjangnya. "Kenapa juga, gue bawa dia kesini?" Ia berjalan mondar mandir di dekat ranjangnya sambil berkacak pinggang memandanginya yang terlelap. William pusing, ia akhirnya memutuskan mandi karena dirinya paling risih membawa kuman dari luar sana. Setelah selesai dengan ritualnya, dirinya tak langsung memakai baju hanya membiarkan tubuh kekarnya tertutup dengan bathrobe. William duduk di dekat jendela kaca kamarnya, ia mencoba mengecek email masuk dan meletakan kembali ponsel serta laptopnya di atas nakas. "Haaahhh...." ia duduk bermalasan di sofa tunggal memejamkan mata sejenak dengan kepala menyandar dan setengah mendongak. Akhir-akhir ini banyak kerjaan yang harus dia urus. Selain menjadi ahli dokter bedah, dirinya juga satu-satunya pewaris Tjandradjaya group yang terdiri berbagai sistem kesehatan juga pemilik universitas kedokteran terbesar pertama di Asia Tenggara. William bukan putra tunggal, dia masih memiliki kakak perempuan yang tinggal di Amsterdarm ikut bersama suaminya. Yang juga mengurus beberapa klinik kesehatan terapi pasien kanker di sana. Tak mudah menjalani semua ini sendiri setelah daddy nya memutuskan pensiun dini dan menikmati masa tuanya dengan traveling keliling dunia bersama istri keduanya. Karena ibu kandung William meninggal saat dia masih berusia enam tahun, tapi bukan berarti hubungannya dengan sang ibu sambung tak harmonis. William sangat menyayangi ibu sambungnya dan itu sebaliknya, karena itu mereka seolah menganggap ibu mereka seperti hidup kembali. "Hey tampan..." sebuah tangan merayap di d**a bidangnya. "Apa-apaan kamu?" ujar William terkejut sambil memegangi pinggang seorang gadis yang sudah duduk ngangkang menghadapnya di pangkuan. "Kenapa? Apa kecantikanku benar-benar tak membuatmu tertarik?" William geram bukan main, jemari Cindy melakukan gerakan tak jelas di kulit dadanya. "Menyingkir dari pangkuan saya nona." perintah William, dan itu hanya perintah. Karena bisa saja dirinya mendorongnya agar terjatuh. Tapi ini lain, William bahkan menikmati sentuhan gadis itu dan ikut merasakan hangatnya organ intimnya yang duduk tepat di pusakanya. "Aku penasaran apa benar kamu tak tertarik dengan lawan jenis." Cindy turun dari pangkuan William, dia melepas semua kain yang menempel di tubuhnya hingga membuat William lupa akan berkedip saat menatap pemandangan indah di depannya. "Cium aku." "What?" Cindy berdecak dan membingkai wajah William, ia lantas mencium bibir pria itu meski William tahu bahwa ini adalah ciuman pertama untuknya. "Gimana? Apa aku masih tak membuatmu tertarik tampan?" William mengangkat satu alisnya menunggu kejutan apa yang akan gadis itu lakukan. Dan benar saja, gadis itu mencondongkan tubuhnya memaksa William menyusu padanya. "Nikmati ini, agar kamu tau bahwa dengan lawan jenis lebih menyenangkan." ujarnya yang membuat William akhirnya paham bahwa gadis itu masih menganggapnya seorang gay. Baiklah karena itu keinginan gadis itu, William pun menggendongnya lantas merebahkannya di ranjang. "Masih berniat menggodaku nona?" ujar William mengejek saat tahu bahwa Cindy mulai ketakutan mengetahui William sudah melepaskn bathrobenya dan tampil polos di atasnya. "Ya... Karena lelaki tampan sangat di sayangkan bila penyuka pisang." Sialan...! William emosi mendengarnya, ia lantas meraup bibir manis Cindy dengan tangan meraba seluruh tubuhnya. "Ck, belum apa-apa sudah basah saja." ejeknya. William mencumbu leher lalu turun ke dadanya, mengecupi kedua gundukan itu dan menyusu layaknya bayi. Aaahhh... Cindy tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya, ia gelinjangan bergerak tak nyaman saat mulut William menggoda putingnya bersamaan jemarinya yang bergerak memutar di ujung kacangnya. "Apaaahhh iniihhh, aaaahhh..." William menyeringai, ia tak membiarkan Cindy mendapatkan pelepasannya dengan memposisikan dirinya di tengah-tengah dan mengarahkan pusakanya di lubang yang sudah sangat basah itu. "Akan sakit sebentar nona, setelahnya kau akan menikmatinya." bisik William sambil mendorong paksa miliknya yang di cengkram kuat, karena sangat sempit. "Aaah, saakkkiiiitt." seru Cindy yang mencoba bergerak mundur menghindari milik William memaksa memasukinya. William memegangi pinggangnya terus berusaha menjebol dinding kewanitaan milik Cindy itu, dan. Aaarrggghhh erangnya saat miliknya sudah berhasil masuk semua sambil melihat Cindy menitikan air matanya. William menyeringai, ia seolah tak mempedulikan gadis yang sudah berganti status wanita itu kesakitan karena William sangat menikmati rasa cengkaraman kuat di miliknya. Willam mulai mendorong pinggulnya bergerak maju mundur meskipun itu sangat sempit. Aahhh, ahhh, ahhh... Nikmat ini sangat nikmat, ia terus menerus menumbuk milik Cindy yang sangat basah dan sempit itu. Dirinya sangat menikmati ekspresi Cindy, penuh dengan birahii yang nampaknya sudah mulai terbiasa dan merasakan nikmatnya setelah miliknya di jebol oleh pria dewasa yang di anggapnya gay.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN