Rasa-rasanya dirinya ingin menggetok kepala pria tampan di sebelahnya, nafas Cindy memburu menatapnya begitu garang.
William yang sadar di perhatikan dari tadi hanya meliriknya di ujung mata.
Senyum seringai tipis terukir di bibir William, begitu lihai dirinya melajukan mobilnya dan sekarang parkir di tempat tinggalnya.
"Turunlah."
"Ogah..." sahut Cindy yang langsung duduk memunggunginya.
William hanya mengendikan kedua bahunya, ia pun turun dan tak mempedulikan gadis yang tampaknya sedang ngambek padanya.
"Hiks...." tangisnya akhirnya pecah, suasana hatinya kacau setelah menyadari hal yang menimpanya tadi pagi. Bisa-bisanya dia bertingkah seperti jalaang.
Ia menutup mata menggunakan kedua tangannya. Gadis itu tak tahu harus berbuat apalagi, mahkota yang ia jaga selama dua puluh enam tahun ternyata di berikan cuma-cuma kepada pria asing.
Dunia Cindy seperti runtuh dan hancur berkeping-keping. Oh God.... Apa yang harus ia lakukan saat bertemu dengan sang mama, papa dan juga adiknya nanti. Dia bahkah sering mewanti-wanti adiknya agar hati-hati dalam bergaul. Tapi dia? Apa ini...?
Cindy meraung menangis keras sendiri di dalam mobil William, dengan nafas tercekat ia memutuskan untuk pulang tak peduli bila nanti William bingung mencarinya.
*****
Setelah kejadian itu, Cindy menjalani aktifitas normal lagi. Ia sekarang bahkan sibuk mengatur semua keperluan untuk pernikahan mantan calon suaminya itu.
Cindy seorang WO, dia menekuni usaha ini sebagaimana sebuah hobi.
Dari kecil Cindy sangat senang bila memandang apapun yang ada di sekitar hal yang berhubungan mendekor serta suasana ramai pernikahan.
"Mbak, ada yang nyariin tuh." ujar Tere salah satu karyawannya yang bertanggung jawab di bidang karangan bunga serta mengatur jadwal Cindy, ya dengan kata lain asistennya.
Cindy yang sedang sibuk menggores pensil di atas kertas putih, melukis sebuah sketsa gambar yang nantinya akan di pilih oleh tante Mira sebagai acara pernikahan putra sulungnya itu menoleh ke arah Tere. "Siapa?"
"Katanya kekasih mbak."
Cindy mengerutkan kedua alisnya, ia dapat menangkap sebuah nada bicara Tere yang sedang menggodanya.
Gadis itu pun meletakan pensilnya asal di atas meja, dan berjalan menghampiri Tere.
Matanya menyipit menatap wanita bertubuh mungil unik dan serba bisa, Cindy menjitak kepalanya hingga karyawannyan itu memekik kesakitan.
"Woah sakit buk..." gerutunya mengusap puncak kepalanya.
Cindy mendecak, "Rasain... Salah siapa meledekku, mau di pecat!?" ancamnya membuat Tere meringis sambil gelayutan di lengan bos mudanya.
"Jangan donk mbak..." ujarnya, tapi Cindy malah menyingkirkan kepala Tere hingga ia hampir saja terjungkal.
"Loh kok duduk lagi?" Tere menatapnya heran, "Mbak nggak nemuin dia dulu?"
"Jangan bercanda deh Re, aku lagi sibuk sekarang."
Tere menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Apa yang salah dengan hidupnya?
"Tapi orangnya udah nunggu dari tadi." ujarnya polos.
Cindy menelisik raut wajah Tere begitu intens, ia bangkit dari duduknya lantas menengok ke arah depan meskipun tak terlihat sebab ruangannya terhalang tembok pembatas.
"Siapa sih?" ujarnya lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri.
Cindy memutuskan menemuinya ke depan, mengikuti langkah Tere yang menunjukan bahwa orang tersebut sedang menunggunya di ruang tunggu.
"Tuh, kalo nggak percaya." ujar Tere greget sambil menunjuk sosok lelaki yang duduk membelakangi mereka.
"Hmm, siapa dia?"
Setelah Tere pamit undur diri, Cindy melangkah ragu menghampiri orang itu.
Tapi, alarm dalam dirinya berbunyi saat indra penciumannya menghirup aroma citrus dan woody maskulin yang sepertinya pernah ia jumpai.
Entah kenapa tubuh Cindy melangkah mundur secara perlahan, hingga ia tak menyadari bahwa di belakangnya terdapat pot bunga yang terletak di atas meja.
Pyaarrr....
Pecah. Bunga hidup yang di hias tersusun rapi dalam pot itu jatuh hingga airnya tumpah kemana-mana.
Semua mata sontak menatap ke arahnya, tak terkecuali sosok lelaki itu. Lelaki yang katanya ingin menemuinya dan mengaku sebagai kekasihnya.
"Cindy..." ia bangkit dari duduknya, menatap gadis itu dengan senyum lebar lantas memeluk tubuh Cindy yang membeku menerima perlakuan itu.
"Apa kabar sayang?" ujarnya sambil membingkai wajah Cindy yang mulai memucat.
Sekujur tubuh Cindy mendadak lemas kakinya tak bertenaga bak berubah menjadi jelly, andai saja lengan kekar lelaki yang berdiri di hadapannya tak merengkuhnya dengan kuat.
"Kamu nggak papa?" lelaki itu nampak khawatir, ia langsung memapah Cindy untuk duduk di sofa dimana dia duduk tadi.
"Aku ambilin minum ya..."
Cindy langsung menangkap lengan lelaki itu yang hendak beranjak dari tempat duduknya di samping Cindy. Gadis itu menatap wajahnya penuh intens tak lama kemudian air mata yang harusnya sebuah kerinduan itu berubah menjadi pahit dan begitu perih.
"Kenapa kamu kembali lagi?" lelaki itu tak langsung menjawab, mereka diam dalam sesaat, dan detik berikutnya buyar karena Tere datang membawa ember dan kain pel.
"Mbak Cindy, ajak mas nya masuk ke ruangan mbk. Di sini biar aku pel dulu lantainya." selanya yang tak merasa canggung sama sekali.
Cindy menghela nafas panjang, memejamkan mata sesaat hingga akhirnya dia berdiri dan berucap. "Pulanglah, Mario..." lelaki itu terkejut ia menangkap jemari Cindy dan ikut beranjak dari duduknya.
"Kenapa? Apa aku tak punya kesempatan lagi Ndy, aku sayang kamu?" ujarnya lirih, ia tak ingin menjadi pusat perhatian meskipun sekarang ia sedang mencari sebuah perhatian dari gadis itu.
"Aku tau aku salah, tapi kumohon beri aku kesempatan lagi." pintanya.
Cindy menyentak gengaman tangannya, ia mendongakan kepala untuk menghalau airmata yang tanpa permisi akan tertumpahkan lagi.
"Sejak hari itu, kita bukan siapa-siapa lagi. Jadi tak ada alasan untukmu agar aku memberi sebuah kesempatan itu."
Ia beranjak dari hadapan Mario.
Itu sakit, hatinya sakit. Lelaki itu kembali hanya ingin menggores luka lama, Cindy tak inginkan itu.
Gadis yang dulu sangat mencintai sosok lelaki yang sekarang berdiri terpaku menatap punggungnya pergi dari hadapannya.
Gadis yang tak pernah menuntut apapun darinya.
Gadis yang selalu menaruh rasa percaya, hingga ia sendiri menyaksikan seorang yang dulu menjadi kekasihnya b******u di mobil milik kekasihnya saat Cindy baru pulang dari acara pernikahan salah satu kliennya.
Rasanya ia ingin menolak kenyataan itu dan kembali lagi padanya. Tapi, hatinya terlalu sakit bila mengingat sebuah fakta yang memaksanya harus melepaskan Mario.
Lelaki itu berselingkuh darinya...
Bukan...!
Cindylah seorang selingkuhan, karena Mario ternyata seorang lelaki yang memiliki istri.
Lelaki itu bahkan menyembunyikan status pernikahannya hanya karena ia mencintai Cindy sejak SMA. Kalau boleh jujur, andai saja dia tak beristri. Mungkin Cindy dengan mudahnya menerima pinangan darinya.
Cindy menutup ruang kerjanya rapat-rapat, ia bahkan mengunci pintunya lantas menutup semua jendela agar tak ada celah apapun bagi siapa yang ingin mengintipnya dari luar.
Gadis itu menangis, terisak sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Kenapa hidupnya terlalu banyak drama, apa karena itu karma karena sang mama terlalu sering mendorongnya agar cepat-cepat menikah lantaran dirinya sudah cukup umur untuk menjadi seorang pengantin dan istri dari lelaki yang akan di jodohkan kepadanya.
Sementara itu di luar sana.
"Jangan mengganggunya lagi...!"
"Anda siapa?" tanya Mario heran, orang asing yang tiba-tiba berdiri menghadangnya dengan wajah datar mengatakan hal yang tak masuk akal.
"Saya calon suaminya." terkejut mendengar itu, Mario hampir saja menjatuhkan cangkir teh yang hendak ia minum.
"Maaf, candaan anda benar-benar lucu." ujarnya terkekeh pelan setelah menguasai rasa terkejutnya, Mario meletakan kembali cangkir tehnya dan menatap orang asing itu ramah.
"Ini kartu nama saya, saya tidak sedang bercanda. Jadi saya harap anda mengerti dengan apa yang saya katakan baru saja." ujar lelaki itu begitu dingin kepadanya.
Mario tercengang, tangannya gemetar menerima sebuah kartu yang berwarna hitam, lalu membaca semua yang tertera disana.
Rahangnya mengeras, hatinya terasa panas. Kalau memang benar Mario tak akan membiarkan itu, ia meremas kartu nama yang di berikan lelaki asing tadi dan membantingnya asal.
Mario bangkit dari duduk, ia berdiri menatap orang asing itu penuh permusuhan. "I don't f*****g care, who you are. Tapi mengatakan untuk berhenti mengganggunya?" Mario menyeringai menatapnya remeh lantas memasukan tangannya ke dalam saku celana.
"Jangan harap itu terjadi." ia lantas beranjak dari hadapan orang asing itu, emosinya mencuat tapi ia tak akan bertengkar di sana hanya karena bualan orang yang tak di kenalnya.
Ia membanting pintu mobilnya setelah duduk di balik kemudi.
"Fuuckoff...." umpatnya, ia pun melajukan kendaraan meninggalkan tempat dimana Cindy bekerja dengan perasaan marah.