Esok harinya meskipun terasa canggung, Cindy tetap menjalankan kehidupannya layaknya seorang istri melayani suami. Ia bangun lebih awal, membiarkan William dengan gaya kebiasaan tidurnya yang aneh untuk menyiapkan sarapan mereka berdua. Cindy sempat tak menyadari bahwa sedari tadi sepasang mata memperhatikannya, ia begitu lihai dan luwesnya menyiapkan sarapan yaitu panekuk serta secangkir kopi hangat untuk lelaki yang katanya berstatus suaminya. "Duduklah, jangan berdiri saja di situ." ujarnya tanpa berniat menatapnya. William mendeham, ia melangkah menghampirinya lantas duduk di salah satu kursi meja makan itu. "Aku tak tau apa yang biasa kau minum." William mengerutkan alis tak senang mendengar gaya bicara Cindy yang terdengar asing baginya. "Biasanya aku minum kopi itu di saat ke

