Calon Mantu

1139 Kata
"Assalammualaikum, Pak Su," sapa Adelia saat melihat Ayah Tita sedang sibuk di warungnya. Pak Surya atau biasa dipanggil Pak Su itu adalah orang tua tunggal untuk Tita sekarang. Istri sekaligus ibu Tita sudah meninggal semenjak gadis itu duduk di kelas empat sekolah dasar. Untuk menghidupi dirinya dan Tita, Pak Su membuka sebuah warung di samping rumahnya. Selain berisi kebutuhan pokok, Pak Su juga membuka sebuah warung kopi yang dia jaga sendiri. Awalnya, Pak Su adalah seorang kepala gudang pada sebuah pabrik kayu yang cukup terkenal di kota itu. Enam tahun lalu, sebuah kecelakaan motor membuat sebelah kakinya cidera parah. Pak Su harus melakukan operasi sebanyak tiga kali untuk pemasangan platina di kakinya, dan itulah yang mengakibatkan kakinya pincang sebelah. Kondisi tersebut membuat Pak Su diberhentikan sepihak dari pabrik tempatnya bekerja. Mereka beralasan dengan keadaan seperti itu, kinerja lelaki paruh baya itu pasti tidak akan maksimal. Berbekal uang pesangon, Pak Su dan Tita sepakat untuk membuka sebuah warung untuk kelangsungan hidup mereka. Meskipun tak terlalu besar, paling tidak warung itu bisa membiayai sekolah Tita hingga sekarang. Setelah turun dari mobil, Tita langsung menyeret Adel dari kakaknya yang sibuk mencari parkiran. Sesampainya di rumah, Tita meluncur masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu ingin segera memberikan catatan kepada Adel dan menjauh dari kakak sahabatnya itu. Siang yang panas, ternyata tak sepanas hatinya sekarang. Selama di perjalanan tadi, Shaka terus saja meledeknya, benar-benar menguji kewarasan. "Eh, Adel. Ayo masuk dulu. Tita itu gimana, ada tamu kok dianggurin di luar." Pak Su membuka pintu rumahnya, menyuruh Adel yang sedari tadi berdiri di luar untuk masuk dan mengambil tempat duduk di kursi ruang tamunya. "Pak Su apa kabar, pasti sehat dong? Makin ganteng aja ih, Pak Su ini." Adel tersenyum nyengir, mencoba menggoda ayah dari sahabatnya itu. Pak Su menatap penuh selidik kepada Adel. Dia teringat akan ucapan Tita semalam, jangan-jangan ucapan manis gadis itu karena ada maunya. "Kamu ke sini mau ngomongin bisnis kamu yang baru ya?" tanyanya to the point. Adel yang sebelumnya masih mesam-mesem gak jelas, mendadak melongo dan menautkan dua alisnya karena bingung. "Bisnis apaan, Pak?" "Kata Tita kamu sekarang usaha jual beli cabe, kan?" Tita yang baru keluar dari kamar sedikit syok mendengar ucapan bapaknya. "Eh, Del. Ini bukunya! Udah, pulang sana. Kasihan si pejantan lapuk pasti nungguin." Tita menyerahkan bukunya begitu saja, menarik sebelah tangan gadis itu dan menyeretnya keluar. "Eh, tunggu! Aku lagi ngobrol sama Pak Su." Adel masih berusaha menoleh ke belakang, tapi lagi-lagi Tita menahannya dengan sebelah telapak tangannya. "Tita! Gak sopan banget sih sama tamu." Pak Su bangkit dari kursinya, menatap heran pada tingkah aneh putrinya itu. "Adel lagi buru-buru, Pak. Ditungguin kakaknya di mobil," teriak Tita saat berhasil mendorong Adel keluar. "Pak Su, aku balik dulu, ya? Lain kali kita ngobrol lagi," sahut Adel dari luar. Dari dalam Pak Su hanya melambaikan tangan menanggapi pamitan dari Adel. "Ta, kamu cerita apa ke Pak Su? Kok dia bilang aku punya bisnis baru?" Adel dan Tita kini beriringan menuju parkir mobil Shaka. Rumah Tita memang terletak di dalam sebuah gang sempit, hanya sepeda motor yang bisa masuk ke dalamnya sedangkan untuk mobil ada tempat parkir khusus di depan lapangan gang tersebut. "Bisnis anaconda," jawab Tita singkat. "Hah! Sinting! Orang tua dibohongin, kutuk jadi Lisa Blackpink baru tahu rasa!" "Yang jogetnya begini bukan?" Tita bergoyang, bukan dance ala Blackpink yang dia tirukan tapi justru goyang ngebor si Inul Darahtinggi. Sebuah jitakan di kepala membuyarkan aksi goyang ngebor Tita. "Bukan begitu, bocah! Gini loh." Kini gantian Adel yang bergoyang. Setali tiga uang dengan Tita, lagi-lagi bukan dance Blckpink yang muncul, Adel justru melenggak-lenggokan pinggulnya bagaikan penari jaipong. Kedua sahabat itu sejenak saling tatap, hingga akhirnya sebuah gelak tawa keluar dari bibir keduanya. Siapa yang menyangka, Adelia Hapsari, gadis dari salah satu keluarga ternama justru mau bersahabat dengan Tsabita Ayundia, gadis dari kalangan biasa yang bahkan bapaknya hanya seorang panjaga warung klontong. Mereka memang bersekolah di sekolah yang sama, hanya saja pada kelas XII ini mereka baru dipertemukan. Sifat tulus Tita bersambut dengan sikap Adel yang apa adanya. Latar belakang berbeda justru membuat mereka punya segala cerita dan pengalaman baru. Hingga akhirnya di sinilah mereka sekarang, menyatukan dua rasa menjadi satu yang lantas mereka beri nama, persahabatan. Saat Tita dan Adel sedang asyik dalam obrolannya, Shaka datang dengan tergopoh-gopoh mendekat ke arah mereka. "Eh, Onta. Numpang kamar mandi dong," ujar Shaka seraya menatap Tita dengan tampang orang yang benar-benar menahan kencing. "Apaan? Onta? Namaku Tita! Tsabita! Bukan Onta!" sungut Tita dengan menatap tajam. "Duh, terserah deh. Mau Tita, Tsabita, Sarita atau gurita juga terserah. Ayo, buru!" "Gak ada yang gratis!" "Aku bayar, berapapun yang kamu minta! Adel, jagaian mobil abang, jangan sampai lecet!" Merasa sudah di ujung tanduk, Shaka tak memedulikan Tita dan adiknya lagi. Pemuda itu berlari begitu saja menuju rumah Tita, meskipun sebenarnya dia sendiri tak tahu rumah gadis tersebut. "Dasar sok sultan! Kenapa gak sekalian aja beli toilet keliling, biar bisa dibawa kemana-mana." Shaka yang clingak_clinguk karena tak menemukan rumah Tita menjadi pemandangan yang lucu bagi gadis yang masih memakai seragam lengkap itu. Merasa kasihan melihat muka Shaka yang sudah tak karu-karuan akhirnya Tita memanggil Shaka yang justru sudah kelewatan dua rumah dari rumahnya. "Woe, Pejantan kadaluarsa! Rumahnya kelewatan!" Tita menunjuk rumah yang tepat berada di hadapannya. Shaka menoleh mendengar suara cempreng Tita, sebenarnya ingin sekali dia marah mendengar julukan gadis itu untuknya, tapi karena dia sedang dalam keadaan darurat dia lebih memilih diam dan langsung masuk ke dalam rumah Tita tanpa permisi. Melihat orang asing yang tiba-tiba nyelonong ke dalam rumahnya, Pak Su buru-buru berlari ke dalam rumah dan memeriksa keadaan. "Ta, siapa tadi?" tanyanya kepada Tita yang berdiri di depan pintu masuk. "Abangnya Adel numpang ke toilet." "Oh." Pak Su yang sudah siap-siap mengambil sapu kembali membatalkan niatnya. Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan wajah Shaka yang sepertinya baru saja cuci muka. Melihat Pak Su dan Tita yang sedang menatapnya, Shaka buru-buru mendekat dan meraih tangan Pak Su. "Pak, maaf saya tadi langsung nyelonong saja, kebelet," jelas Shaka dengan tersenyum manis. Tita memandang aneh kepada pemuda berambut gondrong itu. Selama ini, dia hanya tahu Shaka itu lelaki yang menyebalkan, ternyata dia bisa manis dan sopan juga pada orang tua. "Ah, gak papa. Ketimbang ngompol di celana kan?" goda Pak Su yang membuat Shaka mengangguk kikuk. Pak Su menatap Shaka dari atas hingga bawah. Lelaki paruh baya itu menelisik lebih dalam penampilan Shaka siang ini. Celana jeans dipadu dengan kemeja flanel kotak-kotak dengan rambut gondrong yang terurai. Cukup tampan menurut Pak Su, gak tau kalau Mas Anang. "Bayar woe!" sahut Tita cepat. "Tenang, aku bayar." "Eh, Tita! Gak sopan, Nak," sela Pak Su sembari menatap anak gadisnya. "Biarin, Pak. Toilet umum di mana-mana bayar loh." "Aku bayar sesuai janjiku tadi." Shaka mengeluarkan dompet dari celananya, saat hendak mengambil uang, Pak Su lebih dulu menutup dompet Shaka dengan telapak tangannya. "Kalau bayarnya dengan jadi mantu bapak, mau?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN