bc

Istriku Bocah SMA

book_age16+
2.0K
IKUTI
16.0K
BACA
goodgirl
drama
comedy
sweet
humorous
brilliant
first love
school
chubby
like
intro-logo
Uraian

Rayshaka, pemuda matang, tampan dan kaya. Sekali lirik saja, gadis mana pun akan bertekuk lutut padanya. Hanya saja, kisah pahit di masa lalu membuatnya tak berminat mendekati wanita. Hingga tak salah jika akhirnya dia mendapat julukan dari sahabat adiknya dengan sebutan, Si Pejantan Kadaluarsa.

Tita merasa hidupnya selalu sial sejak bertemu Shaka. Lelaki menyebalkan itu selalu membuat tensi darahnya naik. Beberapa kali kencan yang dia nantikan bersama sang pujaan hati harus gagal karena tingkah semena-mena Shaka.

Takdir yang lucu serta kerja sama yang konyol membuat Tita mau tak mau selalu ada di samping Shaka. Hubungan yang selalu diwarnai dengan perseteruan itu membuat beberapa orang yang melihat menyumpahi mereka agar berjodoh. Terwujudkah doa mata dan kuping orang-orang yang teraniaya oleh sikap Shaka dan Tita itu?

Ini bukan kisah film FTV yang berawal dari benci tiba-tiba menjadi bucin. Bukan pula cerita dongeng Cinderella di mana si Upik Abu mendadak cantik dan dicintai sang pangeran. Ini hanya kisah Shaka dan Tita, di mana dua kutub yang berbeda itu tak pernah bersatu dalam sebuah kata damai.

"Kalau tahun ini aku gak dapat istri, aku bakalan nikahin si Onta!"

"Jangan harap! Kalau kamu udah seganteng Lee Min Hoo baru akan aku pertimbangkan wahai, Bujang karatan!"

chap-preview
Pratinjau gratis
Dia, Rayshaka
Shaka menyipitkan mata, memandang heran kepada gadis yang sedang sibuk menggoyangkan badan di balkon kamar adiknya. Gadis itu tampak merekam aksinya dengan kamera handphone yang terpasang di depannya. Gadis yang masih memakai seragam sekolah lengkap itu terus saja bergoyang. Sebentar-sebentar dia berhenti untuk memastikan gerakannya benar. Di lain kesempatan dia membenarkan rambutnya yang menjuntai ke depan. Sungguh pemandangan yang lucu bagi Shaka. Shaka yang awalnya berniat untuk bersantai dan menikmati segelas kopi s**u merasa terganggu di seberang kamarnya itu. Beberapa menit berlalu, gadis itu masih belum sadar dengan kehadiran Shaka, hingga akhirnya pandangan mereka bertemu . Gadis itu menghentikan aksinya. Lalu tersenyum kikuk. Shaka hanya memandangnya datar, membuat si gadis makin salah tingkah. "Hai, Om!" sapanya dengan melambaikan tangan. Bukannya menanggapi, Shaka justru melangkah masuk ke kamarnya. Gadis berkuncir kuda itu melotot tak terima. "Dasar sempak Firaun! Belagu!" umpatnya sebelum akhirnya memutuskan ikut masuk. *** Prang!! Shaka menatap tajam saat melihat beberapa gelas yang hancur berserakan di depannya. Untung saja tadi dia dengan sigap mundur beberapa langkah. Kalau tidak, mungkin kakinya juga akan menjadi korban dari ketajaman pecahan-pecahan kaca itu. "Aduh maaf, Om. Aku gak sengaja, beneran deh." Gadis itu menunduk, mencoba memunguti serpihan kaca yang sudah berserakan. Shaka masih diam di tempat dengan pandangan yang tak lepas dari gadis tersebut. Tadi gadis itu sudah menganggu waktu santainya sekarang dia bikin rusuh lagi. Dan manggil apa dia tadi? Om? Apa Shaka setua itu hingga pantas dipanggil om? "Duh, baru namu sehari aja udah bikin kacau begini. Pasti ini gelas mahal, uang jajan setahun juga gak bisa bakalan bisa ganti ini." Sembari tetap membersihkan kotoran akibat ulahnya, gadis berkuncir kuda itu bergumam sendiri. Dia tak sadar saja sedari tadi Shaka tak sedikit pun melepas pandangan darinya. "Mangkanya jalan itu pakai mata!" Akhirnya Shaka tak tahan untuk tak buka suara. Gadis itu mendongak, menatap Shaka yang berdiri menjulang di hadapannya. "Eh, Om. Kirain udah pergi. Maaf, ya, Om sudah bikin kerusuhan. Semua aman, kan, Om?" tanyanya dengan sebuah cengiran tanpa dosa. "Loh, Ta. Ngapain?" Shaka dan gadis tersebut langsung menoleh ke sumber suara. Adelia–adik Shaka–menatap heran ke arah Shaka dan temannya itu. "Del, Sorry gelasnya pecah." Adelia mendekat, dia memperhatikan gelas yang sudah tak berbentuk itu. "Ya, sudah, Ta. Gak papa, ayo bangun! Biar nanti di beresin Mbak Min aja," ucap Adel sembari menarik tangan temannya itu untuk berdiri. "Gak papa, Del. Kan aku yang bikin kacau, aku aja yang beresin." "Ya, udah, ayo! Aku bantuin juga." Adelia merendahkan tubuhnya. Dia melirik Shaka yang masih terdiam di tempatnya. "Lihatin doang, Bantuin napa!" pintanya yang justru mendapat cibiran Shaka. "Gak minat!" "Udah, gak papa, Del. Aku aja. Lagian aku yang salah udah nabrak om kamu tadi." Adelia menyipitkan mata. Dia mencerna ucapan temannya itu sebelum akhirnya terbahak. "Om? Maksud kamu dia?" tanyanya dengan menunjuk ke arah Shaka. "Iya." Adel makin terbahak mendengar jawaban polos gadis di hadapannya itu, sedang Shaka menatap adiknya tajam. "Ta, dia bukan om aku, kenalin dia Bang Shaka, kakakku." "Hah?" Gadis bernama Tita itu melongo di tempat, untung saja pecahan gelas yang sudah dia bereskan itu tidak jatuh kesekian kali karena kaget. "Selama ini dia emang gak tinggal di sini. Dan sekarang, karena dia baru buka cabang distro baru dekat sini, mangkanya dia pulang," urai Adel sambil merapatkan bibir Tita yang sedari tadi masih melongo. "Duh, maaf, ya, Om. Eh, Mas. Aku gak tau," ucap Tita sembari menggaruk keteknya yang setengah basah. "Tadi om, sekarang mas, ck!" Shaka menggerutu, teman adiknya ini benar-benar memporak porandakan wibawanya. "Panggil dia abang, Ta. Biar sama kayak aku." Tita menaikkan sebelah alisnya. 'Dipanggil mas gak mau, ini malah dipanggil abang, udah berasa kayak kang kredit pancing langganan bapak' gerutu Tita dalam batinnya. "Kenalin, Bang. Namaku Tsabita, Orang-orang biasa manggil aku Tita, boleh juga Bita. Asal jangan doa iftitah apalagi cinta, takut baper!" urai Tita dengan cengiran khas orang nahan pup. Tita membersihkan telapak tangannya terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengulurkan tangan tepat di depan Shaka. Pemuda berkuncir itu menaikkan sebelah alisnya, menatap aneh pada gadis berseragam SMA di depannya itu. "Gak tanya, Bocah!" Dengan telunjuk tangannya, pemuda itu mendorong Tita mundur. Tanpa berkata apa-apa lagi pemuda berkuncir itu melenggang pergi meninggalkan Adel, Tita dan bibir monyongnya. Sepeninggal Shaka itu, Adel dan Tita saling berpandangan, sesaat kemudian Adel menggidikkan bahu, gadis itu ikut berlalu dan kembali ke kamarnya. "Dasar om-om belagu. Untung cakep! Doain naksir aku baru tahu rasa!" omel Tita sebelum akhirnya membuntuti Adel. *** "Abaaang! Itu kan punya Adel!" Bukannya berhenti setelah mendengarkan teriakan sang adik, Shaka justru makin asik melahap mie instan yang ada di tangannya. "Abang laper, Del. Mama pergi gak masak dulu." Adel yang sedari tadi sudah berkacak pinggang tak tahan untuk tidak memukul lengan kakaknya itu. "Makanya abang buruan kawin! Kawin! Biar ada yang ngurus!" Adel sengaja menekankan dua kali kata kawin, selain untuk menyindir, tentu saja ini menjadi kesempatan yang baik untuknya mengolok-olok sang kakak. "Kalau cuma kawin doang sih, gampang Del. Abang tinggal kedip doang, tuh cewek-cewek pasti dengan senang hati nangkring depan Abang," celoteh Shaka dengan terus menikmati mie instannya yang sudah tinggal setengah. Rayshaka, pemuda tampan, mapan dan menawan. Siapapun pasti akan jatuh hati jika melihat senyum pemuda itu. Selain dikenal dengan kharismatiknya, Shaka juga dikenal dengan kemapanannya. Di usia yang masih muda, Shaka mampu meraih sukses lewat usaha distronya. Beberapa cabang telah berhasil dia dirikan, dan sekarang dia sudah bersiap untuk merintis cabang ke empat. Sayangnya, ada satu hal yang belum bisa Shaka raih, daftar namanya di KUA dan buku nikah. Usianya yang sudah mencapai angka tiga puluh satu membuat orang tua serta adiknya selalu sibuk mempertanyakan hal yang sama, kapan nikah? Benar-benar mengusik jiwa kejomloan seorang Rayshaka. "Halah ... sama dengan keperjakaan, kegantengan abang juga masih di pertanyakan. Orang yang ngaku ganteng itu pacarnya banyak, atau paling gak minimal punya. Lah, abang? Semua masih dalam penerawangan!" Adel tergelak dengan ucapannya sendiri. Shaka mengangkat mangkok yang masih menyisahkan kuah mie instan itu. Dengan sekali tengak, makanan itu tandas tak bersisa. "Berisik! Kamu udah mirip ibu-ibu PKK yang lagi goyang tingting." Shaka berdiri dari tempatnya. "Makasih, ya? Lain kali bolehlah diulang." Shaka mengedipkan mata sebelum akhirnya berlalu dari sana. "Dasar kakak durhaka!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook