2 | Objek Pelunas Utang

1023 Kata
“Bu, apa nggak ada cara lain? Selain pernikahan?” Widya yang tadinya sudah bersiap untuk berbalik, kembali menoleh. Ia menatap Evan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada ketegasan, tapi terselip kilatan keinginan yang dingin. Ia menggeleng lemah, seperti sedang menolak permintaan seorang anak kecil yang meminta permen. “Pilihannya hanya dua, Evan. Ibumu meringkuk di balik jeruji besi, menanggung malu karena utang yang menggunung, atau kamu menggantikan pengantin pria untuk saya di altar minggu depan,” jawabnya. “Tapi ini soal masa depan, Bu. Mana bisa memutuskan menikah begitu saja? Ini acara sakral yang nggak seharusnya dijadikan mainan atau transaksi bisnis seperti ini,” ucap Evan dengan nada suara yang sedikit meninggi. Pria itu mencoba mempertahankan akal sehatnya di tengah situasi yang mendadak tidak masuk akal ini. Widya membuang napas kasar. Ia merapikan lipatan blazer mahalnya dengan perlajan. Sikap yang menunjukkan bahwa ia tidak punya waktu untuk berdebat soal moralitas. Kesabarannya memang setipis tisu. Ia sudah muak dengan drama Sandra, dan ia tidak berniat menambah durasi penderitaan batinnya dengan mendengar keluhan seorang pemuda naif. “Saya nggak punya banyak waktu untuk bernegosiasi, Evan. Saya bukan sedang mencari pasangan hidup yang romantis, saya butuh seseorang yang bisa berdiri di samping saya untuk menutupi aib akibat pengkhianatan pria itu. Putuskan sekarang juga, atau saya akan menelepon polisi untuk segera membawa ibumu,” ancamnya. Evan terdiam. Di dalam benaknya, sebuah pertempuran hebat sedang terjadi. Di satu sisi, ia adalah pria yang memegang teguh prinsip. Pernikahan adalah janji suci, bukan sarana pelunasan utang. Namun, di sisi lain, ia melihat ibunya yang sudah pucat pasi, menggigil di sudut teras rumah mereka yang tampak lusuh. Jika Sandra masuk penjara, Evan tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia terjepit di antara prinsip dan tanggung jawab yang memuakkan. Sandra yang menangkap keraguan di wajah putranya, melihat celah. Ia segera mendekati Evan dengan gerakan yang terburu-buru. Mengabaikan rasa bangga yang seharusnya ia jaga. Ia mengusap lengan Evan, memaksakan senyum yang justru tampak menyedihkan. “Van, bantu Mama. Mama benar-benar nggak bisa kalau harus di penjara. Kamu tahu kan, Mama nggak kuat kalau harus hidup di tempat sempit dan kotor seperti itu?” Sandra mulai merengek. Ia memasang wajah memelas yang selama ini selalu berhasil meluluhkan hati Evan. “Mama janji, setelah ini Mama akan berubah. Mama akan jadi lebih hemat, Mama akan lebih perhatian sama kamu. Tolong bantu Mama kali ini aja. Widya ini orang baik, dia sukses, cantik, mapan. Mama yakin kamu nggak akan menyesal menikah dengannya. Ini justru keberuntungan buat kamu, Van!” imbuhnya. Evan menatap ibu tirinya itu dengan nanar. Rasa iba bercampur dengan rasa muak yang perlahan merayap di dadanya. Sepuluh tahun hidup bersama setelah kepergian ayahnya, ia selalu berusaha menghormati Sandra. Namun, melihat betapa egonya wanita ini, hati Evan terasa perih. Ia bukan objek yang bisa digadaikan untuk gaya hidup mewah seorang wanita yang bahkan tidak memberinya kasih sayang layaknya anak kandung. Evan menunduk. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia membayangkan hidupnya yang tenang sebagai pekerja keras yang tiba-tiba akan terikat dengan seorang wanita yang punya kuasa besar dan tuntutan yang tidak ia ketahui. Akhirnya, setelah keheningan panjang yang mencekam, ia mendongak. Keputusannya sudah bulat, meski hatinya menjerit menolak. “Oke, Bu. Aku mau,” katanya lirih. Suaranya terdengar seperti bisikan yang membawa kehancuran bagi dirinya sendiri. Widya tersenyum kecil. Senyum puas seorang kolektor yang baru saja mendapatkan barang berharga yang ia inginkan. Ia mengangguk lemah, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk mundur. “Bagus. Saya akan urus semuanya, detail teknis hingga urusan dokumen. Kamu tinggal siapkan diri saja. Jangan buat saya malu di depan tamu undangan saya nanti,” ucap Widya dengan nada yang memerintah. Evan hanya mengangguk lemah. Pikirannya kosong. Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang dipasung oleh nominal lima ratus juta yang kini tertulis di atas kontrak pernikahan bayangan ini. Sementara itu, di sampingnya, Sandra tersenyum lega. Beban berat yang tadinya menghimpit dadanya seolah menguap. Ia tidak jadi ditahan, dan yang lebih menggembirakan lagi menurut pikirannya yang dangkal, ia sebentar lagi akan mendapatkan menantu kaya raya. “Evan sudah mau, jadi utangku sama kamu lunas, ya, Wid,” ucap Sandra dengan nada ceria yang sangat kontras dengan situasi sebelumnya, sesaat sebelum Widya hendak melangkah pergi. Widya berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, lalu tertawa renyah. Tawa yang terdengar sangat meremehkan. Seakan-akan baru saja mendengar lelucon paling konyol yang pernah ada di dunia. Ia menatap Sandra dari atas sampai ke bawah dengan tatapan yang menghina. “Lunas? Kamu pikir pernikahan ini seperti cicilan barang yang langsung lunas setelah bayar DP? Jangan bermimpi, San. Sampai pernikahan itu benar-benar sah terjadi di mata hukum dan agama, aku masih anggap utangmu belum lunas sepeser pun. Paham!” Widya berlalu setelah menuntaskan ucapannya, meninggalkan keheningan yang tajam. Sandra mendengkus kasar, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Namun ia tidak berani membantah. Ia tahu, melawan Widya berarti ia langsung diangkut polisi saat ini juga. Jadi, yang harus ia lakukan sekarang adalah memastikan pemeran utamanya, Evan, tidak kabur. “Dengar itu, Van!” Sandra berbalik pada putranya dengan wajah yang kembali berubah menjadi penuh tuntutan. “Pokoknya kamu harus menikah sama Widya seminggu lagi. Jangan sampai kamu bikin ulah, jangan sampai kamu mempermalukan Mama. Ini kesempatan bagus, Van. Kapan lagi kamu punya kesempatan menikahi wanita super kaya seperti Widya? Hidupmu akan terjamin, dan utang Mama pun beres. Jangan sampai gagal!” katanya. Setelah memberikan perintah itu, Sandra melenggang pergi menuju kamarnya, meninggalkan Evan sendirian di teras. Evan hanya bisa membuang napas dengan kasar. Ia berdiri di sana, mematung dengan perasaan yang terpecah belah. Ia menunduk, menatap sepatu kusamnya, lalu menggeleng lemah. Ia baru saja menjual kebebasannya demi sebuah janji manis yang belum tentu berujung bahagia. Di usia semuda ini, ia harus terjebak dalam skema rumit seorang wanita yang bahkan tidak ia kenal hatinya. Evan sadar, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri. Ia hanyalah sebuah objek, alat pelunas utang bagi wanita yang seharusnya ia panggil Ibu. Namun kini justru menjadi orang asing yang paling berbahaya dalam hidupnya. Masa depannya baru saja tergadai, dan ia tidak tahu bagaimana cara menebusnya kembali. “Apa aku beneran harus ngelakuin ini?” bisiknya pada diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN