bc

Dinikahi Teman Mama

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
family
HE
age gap
stepfather
bxg
waitress
substitute
like
intro-logo
Uraian

"Nikahi aku dan utang Mamamu kuanggap lunas!"Evan tidak menyangka jika syarat untuk membebaskan Mamanya dari utang adalah menikahi seorang yang lebih tua darinya, yaitu Widya. Wanita sosialita yang terpaksa menawarkan pernikahan pada pria yang dua belas tahun lebih muda darinya, anak dari temannya, karena baru saja dikhianati kekasihnya. Lantas, bagaimana kehidupan pernikahan mereka ketika syarat memiliki anak menjadi pertimbangan? Akankah Evan dan Widya bisa melanjutkannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 | Nikahi Aku
“Ngertiin aku, Wid. Plis,” ucap Sandra mengiba. Ia sedang bersimpuh di hadapan Widya, wanita yang selama ini ia anggap sebagai teman sosialita sekaligus bank pribadinya. Kini, wanita itu berdiri dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada lagi tawa basa-basi saat mereka berburu tas bermerek. Yang ada hanyalah perhitungan bisnis yang kejam. “Tolong kasih waktu aku sebulan lagi, Wid. Aku pasti bayar. Kamu nggak percaya sama aku? Kita, kan, teman,” rintih Sandra. Suaranya parau karena ketakutan. Ia menggenggam ujung blus sutranya yang kini terasa tak ada harganya di depan ancaman penjara. Widya tertawa kecil. Tawa pendek yang menusuk telinga sang rekan. “Teman nggak ada yang memanfaatkan, San. Persahabatan kita itu sudah hangus. Nggak bisa. Waktumu sudah habis. Ini sudah yang kesekian kalinya kamu meminta perpanjangan,” sahut Widya cepat, tanpa sedikitpun keraguan. Widya lantas menoleh pada dua pria berbadan tegap yang berdiri di belakangnya. Dengan dagu terangkat, ia memberikan titah yang membuat jantung Sandra serasa berhenti berdetak. “Cepat bawa wanita ini ke kantor polisi!” “Siap, Bu.” Sandra histeris. Ia meronta saat tangan-tangan kekar itu mulai mencengkeram lengannya. “Wid, jangan! Aku mohon! Aku nggak mau ke penjara!” ucap Sandra. Ia membayangkan sel yang sempit dan bau. Sangat kontras dengan kamar tidurnya yang ber-AC dan penuh koleksi kosmetik mahal. Ia memang hedonis. Baginya, pengakuan sosial adalah segalanya. Sialnya, gaya hidup itu bak lubang tanpa dasar yang telah melahap seluruh harta peninggalan almarhum suaminya hingga tak bersisa. Tepat saat kedua anak buah Widya hendak menyeret Sandra menuju mobil hitam yang terparkir di depan gerbang, deru mesin motor terdengar mendekat. Sebuah motor sport tua berhenti mendadak di depan rumah. Evan, putra tiri Sandra, buru-buru turun dari motornya. Helmnya bahkan belum sempat ia lepas dengan benar saat melihat sang ibu hendak dibawa paksa. “Eh, apa-apaan kalian? Lepasin Mama!” teriak Evan. Ia berlari menghadang. Memasang badan di depan Sandra. “Van, tolongin Mama! Mama mau dibawa ke kantor polisi sama mereka!” rengek Sandra. Wanita itu langsung bersembunyi di balik punggung kurus tapi tegap milik anak tirinya itu. Sandra tahu, Evan adalah satu-satunya kartu as yang ia miliki, meski selama ini ia kerap mengabaikan pemuda itu demi kesenangannya sendiri. “Kantor polisi? Kenapa, Ma? Ada masalah apa sebenarnya?” tanya Evan seraya menatap ibunya dan kedua pria asing itu bergantian, bingung sekaligus cemas. Widya, yang sejak tadi hanya menonton dengan tangan bersedekap, maju selangkah. Dialah yang menjawab rasa penasaran Evan dengan nada bicara yang datar tapi penuh penekanan. “Dia punya utang banyak sama saya. Dan sesuai perjanjian tertulis, jika tidak bisa melunasi, jalur hukum adalah solusinya,” jelasnya. “Utang? Berapa? Biar aku yang bayar. Tolong jangan bawa Mama,” ucap Evan dengan polosnya. Ia merogoh saku celana jeans-nya, mengeluarkan dompet kulit yang sudah mulai menipis. Di matanya, masalah utang-piutang pasti bisa diselesaikan dengan cicilan atau negosiasi yang baik. Namun, Widya malah tersenyum miring. Ia melihat dompet itu, lalu melirik motor tua di pinggir jalan. Lantas beralih ke wajah Evan yang tampak tulus. Senyum itu adalah senyum penghinaan bagi kemiskinan yang mencoba menjadi pahlawan. Widya sangat sadar jika pria di hadapannya ini tak akan pernah punya uang yang cukup untuk menutupi lubang yang digali oleh ibunya yang gila belanja. “Lima ratus juta rupiah. Itu pokoknya saja, belum termasuk bunga penalti yang kamu tahu sendiri berapa nilainya. Apa kamu punya uang sebanyak itu di dalam dompet kusammu itu?” ucap Widya. Evan mematung. Tangannya yang memegang dompet gemetar pelan sebelum akhirnya lunglai ke samping tubuh. Nominal itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Lima ratus juta? Bahkan jika ia menjual ginjalnya dan bekerja seumur hidup sebagai karyawan kafe, ia tak yakin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tatapannya mendadak kosong, membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Ia kemudian menoleh ke arah Sandra yang saat ini menunduk pasrah, tak berani menatap mata Evan. “Ma … uang sebanyak itu … buat apa?” tanya Evan lirih. Suaranya mengandung kepedihan yang dalam. Ia teringat bagaimana ia harus mengirit uang makan setiap hari demi membantu biaya kuliahnya sendiri, sedangkan ibunya ternyata bermain-main dengan api. Sandra membuang napas dengan kasar. Rasa malu sesaat itu berganti dengan pembelaan diri yang manipulatif. Dengan sisa harga dirinya, dia mendongak dan menatap anak tirinya itu dengan mata yang sengaja dibasahi air mata. “Buat kesenangan Mama, Van! Kamu pikir harta Papa kamu yang sedikit itu bisa bikin hidup Mama bahagia? Papa kamu mati cuma ninggalin banyak utang, dan Mama yang harus menanggung semuanya!” alibi Sandra berapi-api. Evan terdiam. Ia tahu itu bohong. Ia tahu ayahnya meninggalkan aset yang cukup jika saja Sandra tidak menjualnya satu per satu demi tas desainer dan arisan mewah. Namun, Evan adalah pemuda yang terlalu baik. Rasa hormatnya pada sosok ibu, walaupun hanya ibu tiri, membuatnya tidak sanggup membiarkan wanita itu mendekam di balik jeruji besi. Evan mendongak, menatap Widya dengan sorot mata yang kini penuh dengan kesadaran. “Biar saya yang gantikan Mama di penjara,” katanya mantap. Widya mengernyit. Ia tidak menyangka pemuda ini akan sebodoh atau semulia itu. Ia melepaskan sedekap tangannya, menunggu penjelasan lebih lanjut dengan rasa tertarik yang mulai muncul. “Saya akan gantikan posisi Mama saya, Bu. Saya yang akan menanggung hukumannya. Tolong jangan bawa Mama saya. Dia tidak akan kuat di sana,” lanjut Evan. Suaranya tidak lagi bergetar. Widya terdiam sejenak. Ia memperhatikan penampilan Evan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meski berpakaian sederhana dengan kaos polos dan jeans, Evan memiliki postur yang bagus. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas. Ia menunjukkan kejujuran yang jarang ditemukan Widya di lingkaran sosialitanya yang penuh topeng. Sebuah ide gila tiba-tiba terlintas di benak Widya. Sebuah ide yang mungkin akan menyelesaikan dua masalahnya sekaligus, uang yang hilang dan harga diri yang hancur. Wanita itu maju selangkah, lalu mulai bicara. “Penjara itu terlalu mudah buat kamu, dan tidak akan mengembalikan uang saya,” ucap Widya pelan. Suaranya berubah menjadi lebih lembut tapi penuh muslihat. “Tapi, saya punya penawaran lain. Oke, kalau kamu mau gantikan Mama kamu, kamu harus turuti semua kemauan saya,” imbuhnya. “Apa pun, Bu. Saya akan lakukan apa pun agar Mama saya dibebaskan. Kerja kasar, jadi sopir, apa pun!” sahut Evan yakin. Widya mengangguk lemah. Senyum misterius tersungging di bibirnya. Ia merogoh tas tangan mewahnya, mengeluarkan sebuah benda yang tampak kontras dengan suasana tegang di sana. Sebuah undangan pernikahan. Undangan itu dicetak sangat indah dengan kertas tebal bertekstur. Dihiasi tinta emas yang berkilauan tertimpa cahaya sore. Di sampulnya, nama Widya Kirana tercetak jelas, bersanding dengan seorang pria bernama Januar. Evan menerima undangan itu dengan tangan gemetar. Ia membaca tanggal dan jamnya sekilas. Acara itu akan digelar tepat sepekan lagi. “Harusnya sepekan lagi aku menikah dengan pria yang namanya ada di undangan itu. Tapi karena pria itu mengkhianatiku, jadi aku tidak bisa melanjutkan acara pernikahan itu dengannya,” jelas Widya. Ada nada kemarahan yang tertahan di balik suaranya yang tenang. Widya menjeda ucapannya, melangkah mendekati Evan hingga aroma parfum mahalnya memenuhi indra penciuman pemuda itu. Ia menatap lurus ke dalam mata Evan yang kecokelatan. “Aku tidak mau menanggung malu. Semua persiapan sudah seratus persen. Undangan sudah tersebar ke kolega bisnis dan keluarga besar. Aku butuh pengantin pria, sekarang juga,” jelasnya. Evan terhenyak. Bibirnya terbuka. Napasnya seolah-olah tertahan di tenggorokan. “Maksud … maksud Ibu?” “Saya mau kamu menggantikannya. Saya mau kamu menggantikan Januar menjadi suami saya. Dengan begitu, utang lima ratus juta ibumu saya anggap lunas seketika. Bagaimana, Evan? Penjara untuk ibumu, atau pelaminan untukmu?” tawar Widya. Evan terhenyak. Menikah? Dengan teman ibunya sendiri? Dengan wanita yang nyaris memenjarakan keluarganya? Evan menoleh ke arah Sandra yang kini menatapnya dengan binar harapan. Harapan agar anaknya berkorban demi kebebasannya. “Apa? Nikah?” Hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Evan, sedangkan Widya menunggu jawaban dengan tatapan seorang pemenang dalam permainannya. “Iya, nikahi aku, Evan,” ucapnya lirih.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
654.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
892.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
314.7K
bc

Not just, the Beta

read
320.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook