Cookies 10

1780 Kata
"Ngga, bantu Ibu masak, donk. Biar nanti dapet suami bisa sayang sama kamu, kalo nanti udah nikah kamu bisa masakin makanan yang enak untuk suamimu, bisa menyenangkan perutnya, lelaki itu walaupun kita perempuan ini gak cantik, tapi kalo kita pinter memuaskan mulut dan perutnya kamu pasti disayang sama suamimu. Dan walopun gak bisa beberes rumah, minimal bisa masak lah, karena kalo bisa masak, cuma ada beras di rumah pun, bisa diolah jadi masakan. Gak hanya suami yang sayang sama kamu, ipar, mertua juga pasti bangga punya mantu dan ipar yang pinter masak, kalo gak ada pekerjaan yang bisa dibanggakan, minimal ada masakanmu yang bisa diandalkan." Baru juga jegrek buka pintu, udah disambut begitu, disambut dengan nyanyian merdu suara Ibu, bagaimana kalo kalian jadi aku, nyawa belom juga kumpul sepenuhnya, udah diomelin bermacam-macam rupa, segala nanti kalo udah menikah, urusan sama ipar lah, mertua lah, entah apa-apa aja yang diomongin. Nasib ya nasib. Belom lama kelar Ibu nasehatin di pagi buta nan mendung ini, tiba-tiba Bapak keluar kamar, "Ngga, Bapak mau arisan sama temen-temen sekolah Bapak dulu, sekalian juga ada reunion, minta uang sih, Ngga. Dua ratus ribu aja, eh … tambahin lah lima puluh untuk bensin dan pegangan Bapak. Nanti kalo gak dipake juga Bapak balikin, ada, kan?” kalo kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan, menolak dan bilang gak ada uang dengan resiko bakal diperengutin dan disajikan wajah tidak menyenangkan selama berhari-hari atau kasih uang yang Bapak minta dan pasti uang tersebut berujung tidak akan dikembalikan mau dipakai atau enggak, tapi aku bakal dibaek-baekin dan bakal dikasih senyuman? “Tenang aja, jangan takut, nanti kalo proyek-proyek Bapak goal dan sukses, pasti Bapak ganti, masa gak percaya sih, sama bapak sendiri." Begitu kelanjutan dari ucapan Bapak tadi, kalo sudah begitu aku tidak akan punya pilihan lain, kan? Maka dengan berat hari aku berikan uang dua ratus lima puluh ribu ke Bapak. Mau gak mau, kan, pasti dikasih. Jangan ditanya darimana uang tersebut, ya, sudah pasti dari Mas Pri, kemarin. Bukan, bukan yang sejuta pertama kali Mas Pri kirim, tapi ini adalah sisa dari pesan hotel semalam. Yang sejuta pertama? Ya habis. Dikira banyak, kali, uang sejuta. Aku hanya menghembuskan nafas, bisa apa? "Nih, Pak." Aku menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan ditambah lima puluh ribu satu lembar, "Sekalian, Ngga, minta uang receh, buat naek ojek." Dan sudah bisa dipastikan keluar lah lagi uang selembar warna biru lainnya. Ya, begini, orang tuaku, mana mereka mau tau, itu uang darimana? Yang penting ketika mereka butuh, aku harus ada. Gak pernah bertanya aku kerja apa, kerja di mana? Kok setiap minta pasti ada uang? Gak akan pernah ada pertanyaan seperti itu, justru pertanyaan-pertanyaan yang sering keluar dari mulut kedua orang tuaku ini justru pertanyaan dan permintaan-permintaan yang menyedihkan, paling tidak untukku "Ngga, ada uang? Gas habis." Atau "Ngga, PAM belum dibayar, urunan, yuk. Bapak ada uang seratus lima puluh ribu, total tagihannya empat ratus ribu, nanti sisanya kamu yang tambahin, ya." Yah, begitulah, this is home, baby. Maka mana bisa aku menutup mata di saat kebutuhan rumah harus dibeli, dibayar? Tidak ada yang murah apalagi gratis, TIDAK ADA. Maka hal pertama yang pasti aku pikirkan ketika aku membuka mata adalah bagaimana caranya hari ini aku menghasilkan uang, darimana aku bisa mendapatkan uang. Urusan halal atau haram itu belakangan, bukan sok-sokan nantangin tuhan, tapi dalam kondisi seperti ini uang haram aja tidak mudah aku dapatkan apalagi yang halal. Sesak, jengah. Mau pergi, kemana? Ketika sedang melihat buku-buku di rak kamar, ada pesan WA masuk, "Ngga, sayang. Mas udah landing, Ngga siap-siap, ya. Kita ketemu di hotel. Bawa baju, ya, sayang, kita nginep." ya, Mas Pri ini adalah salah satu celah harapan dan cahaya untukku keluar dari lubang kegelapan ini. Walaupun sebenarnya aku enggan, enggan untuk menanggapinya, karena jujur saja, gimana ceritanya, laki-laki sama perempuan dalam satu kamar, bukan muhrim, cuma ngobrol doank? GAK MUNGKIN! Maka dengan nada bicara yang aku rangkai agar tidak menyakiti hatinya atau mengecewakannya, aku membalas pesan tersebut, "Aku nemenin Mas check-in aja, ya, habis itu kita jalan, ke luar. Atau kita ngobrol di kafe yang ada di hotel. Aku enggan dan risih kalo harus berduaan di kamar hotel dengan Mas aja, aku gak mau di kamar hotel, bukan muhrim." Lama tidak ada balasan, aku deg-degan, apa Mas Pri marah, aku mencoba untuk membaca lagi pesan yang barusan aku baca lalu menyesal, kenapa gak aku iya-kan saja, toh nanti kalo udah ketemu nolaknya malah lebih enak, karena bisa bicara langsung jadi gak salah persepsi, ketika sedang berperang antara otak dan hati yang gak pernah singkron ini, tiba-tiba ada panggilan masuk, Mas Pri, aku melonjak kegirangan, “Syukurlah, dia gak marah. Aman sumber uangku.” Begitu ucapku tanpa sadar, "Ngga, Mas capek. Kayaknya gak mungkin kalo keluar jalan-jalan. Ngobrol ajalah ya, di hotel. Di restonya aja deh, kalo kamu takut Mas apa-apain. Lagian udah gede gitu, masih takut aja diapa-apain. Kalo Mas apa-apain juga pasti enak, kok, Jingga kan udah gede, Mas juga pasti bakal tanggung jawab kalo terjadi hal-hal yang diinginkan.” Aku cuma ketawa, "Ya takut, loh, Mas. Laki-laki sama perempuan dalam satu kamar, gak mungkin lah cuma ngobrol." Dia balik ketawa, "Emang kalo gak ngobrol, ngapain, Ngga?" Mas Pri selalu memancing obrolan dan menggiring obrolan kami ke arah yang sensitif, aku merasa tegoda juga untuk meladeninya, karena jujur saja, ini baru pertama kalinya aku ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat dewasa seperti ini dengan lawan jenis. Entah kenapa kok rasanya tidak aneh atau sungkan ketika ngobrolin ini dengan Mas Pri, aku justru merasa nyaman, apalagi ketika dia bertanya mengenai apakah aku menyukai hal-hal intim seperti dipeluk, digenggam tangannya ketika berjalan, atau apakah aku suka dikecup di kening, di pipi atau di bibir, aku dengan leluasa bilang kalo aku belum pernah mendapatkan kecupan di bibir, “Wah, masa sih, Ngga, kamu belum pernah ngelakuinnya?” aku tersenyum, “Pernah, sih, Mas, tapi gak ada yang berkesan.” Dan dia justru menimpali ucapanku tersebut dengan tidak kalah menimbulkan penasaran, “Nanti Mas kasih kecupan di bibir yang pasti bikin kamu kelimpungan.” Aku tertawa tanpa sadar dan bertanya ke Mas Pri, “Kecupan yang bikin kelimpungan itu, gimana, Mas?” yang di ujung telepon menjawab pertanyaanku dengan teka-teki penuh rahasia dan bikin aku penasaran, “Yang pasti kecupannya gak bisa dilakukan di kafe atau tempat umum, makanya Mas ajak kamu ngobrol di kamar. Mau, kan?” otakku yang sudah tidak bisa berpikir jernih, dengan tanpa sadar meng-iya-kan pertanyaan tersebut, “Iya deh iya.” Mas Pri yang mendengar jawabanku bicara seperti berbisik di telingaku, “Ngga, kamu bikin Mas kembali merasakan indahnya memiliki kekasih. Jingga sayangnya Mas mau, kan jadi pacar Mas?” sudah bukan terbang ke bulan lagi ketika ditanya seperti itu, tapi seperti terbang ke langit ke tujuh, “Nanti deh, kalo Mas udah liat aku dan kita ketemu baru bisa diputuskan. Aku malah khawatir Mas gak suka sama aku setelah melihat fisik dan penampilanku.” Mas Pri menjawab ucapanku dengan percaya diri, “Apa pun yang Mas lihat nanti ketika ketemu sama kamu, gak akan mengubah perasaan Mas sama kamu, Jingga sayang.” Dan begitulah, selanjutnya kami meneruskan ngobrol, sambil aku siap-siap. Hanya selang lima belas menit, aku siap dan sudah menunggu mobil yang aku pesan online, Ibu dari dapur ngomong, "Ngga, pulangnya beliin oleh-oleh, ya. Udah lama gak makan sate, tadi Bapak pesen, kalo kamu keluar, Bapak minta dibeliin bolu red velvet itu, Ngga, yang di toko roti Breadchat itu." Bisa apa kalo Ibu atau Bapak sudah bertitah seperti itu, cuma jawab "Iya, Bu." Dan aku pamitan pergi ke Ibu. Mas Pri, satu-satunya harapanku bisa pergi dari rumah itu, agar aku tetap bisa memenuhi kebutuhan Ibu dan Bapak. Perjalanan dari rumah ke hotel aku lalui dengan deg-degan yang luar biasa, ada sensasi gelenyar aneh yang aku rasakan, apalagi ketika mengingat semua percakapan kami tadi, aku semakin penasaran, “Mas akan bikin kamu klepek-klepek deh kalo udah dikecup bibirnya.” Ucapan itu nempel banget di kepalaku. Sesampainya di hotel, aku turun dan langsung menuju ke lobi hotel, aku melihat di sekelilingku, karena tadi Mas Pri bilang mau menjemputku di lobi hotel, sekitar lima menit kemudian aku melihatnya, lelaki umur empat puluh lima tahunan. Tapi bergaya dan berpakaian modis, keren. Dan aku memberanikan diri untuk menyapanya, “Mas Pri, ya?” dia berbalik dan melihat aku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan berbinar, dia lalu mengambil tanganku menggenggamnya, “Akhirnya Mas ketemu juga sama sayangnya Mas.” Lalu dia menuntunku masuk ke dalam lift, dia memencet tombol delapan belas, setauku lantai delapan belas di hotel ini hanya untuk pengunjung suite room, dan di lantai ini hanya tersedia lima kamar suite room. Mungkin Mas Pri sadar kalo aku seperti bertanya kenapa harus ke lantai delapan belas, “Biar nanti kalo Jingga berisik gak ada yang mendengar.” Aku yang mendengar ucapannya mengernyitkan dahi, “Berisik? Emang aku mau jerit-jerit gitu sampe berisik ganggu tetangga?” Mas Pri tertawa mendengar pertanyaanku, “Bisa jadi, nanti Mas bikin Jingga jerit-jerit.” Aku memasang tampang aneh, lalu Mas Pri kembali bicara, “Gak ah, Mas bercanda. Lantai delapan belas kan dekat dengan kafe rooftop di hotel ini, jadi gak jauh dari kamar kita, sayang.” Setelah sampai di depan kamar, Mas Pri bilang mau ke kamar taruh koper, "Aku langsung ke restonya, ya, Mas." Tapi dia mencegahku, “Katanya mau nemenin Mas di kamar? Mas hanya narok tas dan kita bisa langsung keluar ke kafe, temenin Mas sebentar, ya.” aku menggeleng, “Aku langsung ke kafe aja, ya, Mas. Nanti aja kalo memang udah santai dan aku udah nyaman ngobrol sama Mas, baru aku temenin Mas ngobrol di kamar.” Ada gurat kekecewaan di wajah Mas Pri, tapi aku tidak peduli. Karena aku bersikeras untuk langsung ke kafe rooftop hotel ini, maka Mas Pri mengalah, dengan menganggukkan kepala, “Iya, deh kalo gitu. Tapi itu kecupan yang tadi Mas bilang, yang kita obrolin di telepon tadi, gak mau kamu rasain dulu?” aku menggeleng, tapi terlambat, Mas Pri sudah mengambil posisi tepat di depanku, dan dengan tiba-tiba, Mas Pri sudah menghilangkan jarak di antara kami, Mas Pri berinisiatif mempertemukan kedua bibir kami. Anehnya, aku belum pernah merasakan sensasi ini. Rasa yang belum pernah aku cicipi sebelumnya, tapi kemudian aku seperti ditarik dan dipaksa sadar dari mimpi yang menyenangkan, reflek aku mendorong tubuh Mas lalu bilang ke dia, “Mas, malu. Nanti ada yang ngeliat.” Mas Pri yang tubuhnya tiba-tiba aku dorong seperti itu wajahnya berubah lesu, “Mas lagi menikmati loh momen kita tadi, sayang, kenapa kamu dorong Mas begitu?” aku merasa bersalah dengan membuat orang yang baik hatinya ini seperti itu, “Maafkan aku, Mas. Aku tadi terkejut, aku belum siap, dan takut dilihat orang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN