Setelah insiden kecil tadi, akhirnya Mas Pri memutuskan untuk masuk ke kamar dan aku menuju ke kafe, “Ya udah, kalo kamu memang takut Mas apa-apain, kamu ke kafe aja. Hanya saja Mas kecewa, ternyata kamu belum percaya sama Mas, ya, sayang?” begitu pertanyaan Mas Pri, aku menggeleng cepat, “Enggak, Mas. Bukan aku gak percaya sama Mas, aku hanya risih kalo harus melakukannya di ruangan terbuka begitu, aku sungkan.” Dan Mas Pri pamit untuk masuk ke kamar, “Ya udah, Mas masuk dulu. Kalo udah selesai mandi dan ganti baju Mas susul kamu ke kafe, ya. Ini bawa kartu debit Mas, pesan aja apa yang kamu mau, ini gak pake pin atau sandi apa pun, pakai sepuasnya, ya.” dia mengusap kepalaku lalu masuk ke dalam kamar. Ada perasaan bersalah dalam hatiku, padahal Mas Pri sudah sebaik ini tapi aku memperlakukannya tidak baik. Setelah sampai di kafe, aku memilih tempat yang agak di pojok agar kami bisa ngobrol dengan leluasa. Lima belas menit kemudian Mas Pri masuk ke kafe dan aku melambaikan tangan ke arahnya, “Di sebelah sini Mas.” Lalu dia mengambil tempat di depanku, “Kok di sini, sih. Kita ke VIP room aja, biar lebih leluasa ngobrolnya.” Aku mengangguk, mengikuti Mas Pri yang meminta ke pramusaji di kafe itu untuk pindah ke ruangan VIP room. Ketika masuk ke ruangan tersebut, aku merasa senang sekali, ruangannya tidak besar, hanya tersedia dua kursi yang ditata saling berhadapan, ketika sudah memesan makanan, Mas Pri menyetel instrumen-instrumen yang lembut, tidak besar tapi sopan masuk ke telinga, membuatku rileks. Kami memulai obrolan santai, sebatas berapa umurku, apa kegiatanku, dan begitu juga sebaliknya, di sela-sela obrolan kami, Mas Pri meminta izin kepadaku, “Mas izin, kalo Jingga memperbolehkan, Mas mau genggang tanganmu, mulai sekarang sampai nanti, boleh? Tapi kalo Jingga gak memperbolehkan Mas genggam tangan sayangnya Mas, ya, gak apa-apa, Mas bisa ngerti mungkin Jingga masih butuh menyesuaikan semua keadaan ini.” Tanpa menjawab pertanyaan Mas Pri, aku langsung memberikan tanganku untuk digenggamnya. Alunan instrumen menyenangkan, minuman yang menyegarkan, dan makanan yang lezat membuatku merasa seperti aku sedang berada di negeri dongeng, aku tidak mau semua ini berakhir dan kembali ke keadaan yang tidak menyenangkan. Ketika aku memejamkan mata, karena merasakan ketentraman yang menyenangkan, aku bisa merasakan kehadiran Mas Pri di sebelahku dan membisikkan kata-kata, “Mas izin kecup bibirmu lagi, ya, sayang. Kali ini Mas jangan didorong seperti tadi, ya.” Aku tersenyum dan mengangguk, ketika aku membuka mata, Mas Pri melarang, “Tutup matamu, sayang. Tugasmu hanya menikmati apa yang Mas berikan, sisanya adalah tugas Mas untuk membuatmu bahagia.” Lalu bibirnya sudah mendarat lembut di bibirku. Kali ini lebih dalam, lebih tenang, dan lebih intens. Lima menit kami berada dalam posisi seperti itu, aku benar-benar dibuat mabuk olehnya. Bahkan ketika Mas Pri mau melepaskannya, aku mencegahnya, aku tidak ingin ini berakhir, maka kami meneruskan keadaan yang menyenangkan ini. Kecupan kami berakhir ketika pintu ruangan diketuk oleh pramusaji, mereka membawakan hidangan pencuci mulut, “Ah, masnya ganggu aja nih.” Begitu ucap Mas Pri, aku hanya tersenyum. Lalu Mas Pri kembali ke tempat duduknya, aku menyendokkan es krim rasa stroberi yang manis dan ada sedikit sentuhan asam dan Mas Pri bertanya, “Manisan mana es krim ini atau bibir Mas?” aku tertawa, “Manisnya beda. Masing-masing bikin candu.” Begitu ucapku. Mas Pri tergelak, “Kamu bahagia, sayang?” aku mengangguk. Ketika sedang menikmati hidangan pencuci mulut kami, Mas Pri izin ke kamar, “Handphone dan tas Mas tertinggal di kamar, Mas ke kamar dulu, ya.” aku mengangguk. tapi sepuluh menit kemudian Mas Pri nelpon, "Ngga, tas kecil Mas ternyata ketinggalan di meja resepsionis, tadi pas Mas ngeluarin dompet nyari KTP, tolong ambil, ya, Ngga. Anter ke kamar, ada handphone kecil untuk Mas nelpon klien, soalnya. Minta kunci duplikat aja, langsung masuk, Mas lagi di toilet, nih, nanggung." Ragu, benar-benar sempat ragu. Awalnya aku tidak mau ke kamar, menghindari untuk berada di kamar berduaan saja dengan Mas Pri. Tapi aku tidak punya pilihan lain, kan? Jadi, ya sudah, mau gimana, toh dia memang baik, aku yakin dia gak akan berbuat jahat, sejauh kami makan malam tadi, ngobrol banyak mengenai dirinya, aku tidak menemukan gelagat aneh dari Mas Pri. Jadi aku langsung menuju ke resepsionis, dan setelah mengambil tas dan minta kunci duplikat di resepsionis, aku naik ke lantai delapan belas, menuju kamar Mas Pri. Aku masuk dan aku mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, rupanya benar dia sedang berada di kamar mandi. Aku menaruh tas Mas Pri di atas nakas yang ada di sisi sebelah kanan ranjang dan aku berniat keluar dari kamar tersebut, ketika tanpa sengaja kami berpapasan di depan toilet, dengan Mas Pri yang tiba-tiba muncul dari sana. Terkejut, karena dia hanya pakai celana santai, "Loh, mau kemana, sayang. Tunggu di sini aja, Ngga. Bentar kok Mas ganti bajunya. Tenang, gak mas apa-apain." Sambil dia menjawil hidungku, dan mengusap pucuk kepalaku, aku terkesiap. Ada hangat menjalar ke seluruh tubuh. Entah rasa apa ini. Deg-degan, sungguh. Terkesiap dan tak menduga bahwa Mas Pri mengusap kepalaku seperti itu, setiap gerakan yang Mas Pri lakukan, mengusap rambutku, mengecup kedua pipiku, menjawil hidungku, bahkan sekedar kulit kami yang saling bersentuhan, semuanya membuatku merasakan perasaan yang menyenangkan. Entah harus merasa bagaimana, di sebagian otakku merespon ikuti saja, toh ini bagian dari bukti cinta, sebagian lagi berontak, menolak, menyuruhku untuk keluar dari ruangan ini secepatnya. "Ngga, kok ngelamun? Mas istirahat bentar, ya. Kamu di sini aja, nonton televisi aja, Ngga. Bentar aja, sepuluh menit deh Mas merem sebentar, ya. Pegel banget, Ngga. Abis itu kita balik lagi ke restoran." Aku terkesiap, demi melihat Mas Pri sudah rebahan di ranjang. Tuhan, aku harus bagaimana, badanku kaku seketika, gak bisa bergerak, melangkah pun, bingung mau ke arah mana, maju, duduk di kursi itu, meraih remot dan nonton televisi atau keluar, sekarang juga sebelum terjadi hal-hal ngaco. Dan di tengah kegalauan itu, handphone-ku berdering, "Bapak calling" tulisan di layar, saved by the bell, pikirku. Jadi buru-buru aku keluar kamar dan mengangkat telpon dari Bapak. "Assalamualaikum, Pak. Kenapa, Pak?" tanyaku ke Bapak, takut ada apa-apa, "Ngga, transfer ke rekening Bapak, ya, sekarang. Barusan ada pemberitahuan rekening Bapak masuk masa tenggang. Udah lama rekeningnya gak diisi, dua ratus ribu aja, Ngga." Aku terdiam, uang lagi. Uang terus, ATM banget aku bagi Bapak dan Ibu. "Ngga gak ada uang, Pak. Ini adanya uang cash. Udah jam segini juga, gak ada bank buka jam segini, aku gak tau ATM yang bisa setor tunai, di mana. Aku lagi di tempat temen, Pak. Besok bisa, ya, Pak." Sewaktu bicara dengan Bapak, aku tidak menyadari, ternyata Mas Pri sudah di belakangku, sambil memberi isyarat bicara tanpa suara, "Aku yang transfer aja ke rekening Bapak." Aku menggeleng, tanda gak setuju. Dia memaksa, dengan menganggukkan kepala dan meraih tanganku, menggenggamnya, dengan suara seperti berbisik, “Gak apa-apa, sayang.” Maka akhirnya aku mengalah, "Iya, iya. Ngga transfer sekarang. Apa? Ngga di rumah temen, nginep di sini dua hari kayaknya. Iya, ini mau ditransfer, ntar Ngga kabarin kalo udah ditransfer. Waalaikumsalam." Padahal aku gak ada niat mau nginep sama sekali, setelah dari sini aku berniat untuk menyewa hotel yang murah untuk menenangkan diri dan melamar ke beberapa kantor yang sudah aku incar sebelumnya. Aku berbalik, menatap wajah di depanku. "Mas, udah banyak uang yang Mas kasih. Aku jadi gak enak, nanti aku ganti, ya. Atau ini, aku ada uang cash, uang yang Mas transfer aku ganti cash aja, ya, biar ..." Tiba-tiba telunjuknya sudah di bibirku, tanda untuk diam dan tidak bicara lagi. "Mas udah bilang berkali-kali, untuk kamu, apa pun. Masuk, yuk. Mana nomor rekening Bapak?" dia menggandeng tanganku, membawaku masuk ke kamar dan aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, mengikuti Mas Pri masuk lagi ke dalam kamar. Mau gak mau, gak ada pilihan, kan? Setelah aku berikan nomor rekening Bapak, hanya dalam hitungan menit, dia sudah selesai mentransfer uang ke Bapak, dan memberikan bukti transfer ke aku, aku membelalakan mata, keheranan “Mas, aku kan hanya minta ditransfer dua ratus ribu, kok Mas transfer lima ratus ribu, kebanyakan banget, Mas. Aku gantinya pake apa?” Aku menangis, entah, lelah rasanya. Dia hanya menggenggam tanganku, sambil satu tangannya memencet tombol resepsionis, "Pesan dua nasi goreng sea food, dua ayam bakar madu bagian d**a, dan dua coffee late. Tolong antar ke kamar saya, ya." Aku terkejut, baru sadar, dia mengajak lebih lama di kamar. Tapi ... Ya sudahlah, aku udah males pulang. Lama-lama di sini juga toh gak ada yang nyariin. Yang Bapak sama Ibu cari dan butuh cuma uang ku, bukan badan apalagi keberadaanku. “Udah, jangan nangis. Itulah gunanya tuhan hadirkan Mas di kehidupanmu, sayang. Agar Mas meringankan bebanmu.” Dia merangkul tubuhku, memelukku erat tapi lembut, membuatku nyaman, "Nginep, kan? Mas mintain extra bed, ya." Begitu tanyanya, tapi kemudian aku menggeleng, mana bisa begitu, masa iya aku tidur sekamar sama orang yang gak dikenal, well ... Baru pertama kali aku kenal, lebih tepatnya, “Enggak, Mas. Aku pulang habis ini. Besok kan kita bisa ketemu lagi.” Dia mengernyitkan dahinya, “Loh, tadi kamu bilang di telepon sama Bapak kamu nginep dua hari, kan?” aku tertunduk, lalu Mas Pri mengangkat daguku, “Sayang. Mas tulus sayang sama kamu. Tadi kamu bilang, Mas harus liat kamu dulu, kan, baru memutuskan apakah Mas tetap sayang sama kamu setelah bertemu, dan jawabannya, iya. Mas akan meneruskan sayang dan cinta ini untukmu.” Aku merasa tersanjung dengan ucapan Mas Pri. "Mas gak akan ngapa-ngapain kamu, sayang. Mas cuma kita ngobrol, lebih lama lagi, mas pengen tau kamu secara utuh. Mas ingin jadi bagian dari dirimu.” Aku masih bimbang, “Oo ... Ya, masuk, gak, uangnya? Tadi setelah transfer ke Bapak, Mas transfer ke rekening mu juga. Tiga juta dulu, ya." Buru-buru aku mengambil handphoneku dan memeriksa mutasi di rekeningku, benar saja ada saldo tiga juta masuk, aku yang terkejut, sedikit berteriak, “Mas, apa-apaan, sih. Kok aku ditransfer terus, aku kan gak minta, aku …” dan kata-kataku dibungkam Mas Pri dengan lembut bibirnya, kami mengulangi interaksi dua bibir kami yang kembali bertemu, tanpa sadar aku meremas rambut Mas Pri, di tengah-tengah aktifitas tersebut, Mas Pri kembali bertanya, “Jadi, nginep, ya, sayang.” Aku mengangguk, apa salahnya mengikuti kemauan Mas Pri, dia udah baik banget, masa dia cuma ngobrol aja aku tolak, ya, kan. Lalu dia tersenyum dan melanjutkan kegiatan kami, entah apa yang ada di kepalaku, suara-suara lembut keluar dari mulutku, tanpa aku sadari, “Mas, kok yang ini lebih nikmat, ya?” tanpa aba-aba Mas Pri seperti tidak mau melepaskanku sedetikpun.