Setelah ciuman menyenangkan yang diberikan bertubi-tubi oleh Mas Pri untukku, hanya dengan hitungan menit aku sudah dibuat bertekuk lutut di depannya, dia membuatku merasakan perasaan yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Mas Pri tidak hanya membuatku terbang oleh kecupannya, tapi Mas Pri juga membuatku serasa menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi ini, dari ujung rambut dia membelaiku, lalu tangannya turun ke area leherku dan bermain-main dengan jari-jarinya di sana, kemudian dia menyentuh dengan lembut leher bagian belakangku, tengkukku, bagian paling sensitif di tubuhku, lalu dia memelukku erat, dan kemudian dia menuntunku ke ranjang, merebahkanku di atasnya, lalu aku tidak bisa lagi mengendalikan apa yang Mas Pri lakukan atas tubuhku, awalnya aku berusaha untuk menolak, “Mas, aku belum pernah. Aku takut ini jadi dosa untukku.” Tapi kemudian Mas Pri meyakinkanku bahwa apa pun yang nanti akan terjadi dia akan bertanggung jawab, “Kamu gak percaya sama Mas, Dik? Mas akan melakukan apa pun untukmu, bahkan kalo diharuskan menikah denganmu malam ini juga akan Mas lakukan. Please, nurut sama Mas, sekali ini aja, Mas janji akan memperlakukanmu dengan lembut. Kita coba dulu, ya, sekali aja. Kalo setelah ini kamu merasa tidak enak, tidak nyaman, Mas gak akan pernah melakukannya lagi.” Sejenak aku bimbang, tapi kemudian Mas Pri sudah mengambil posisi di atas tubuhku, aku merasakan gelenyar aneh, otakku berkata ini salah, tapi hatiku meminta Mas Pri melakukan lebih, aku justru menantikan apa lagi yang akan Mas Pri lakukan, kejutan apa lagi yang akan dia lakukan terhadap tubuhku ini, karena sejak awal tadi, tidak ada satupun tindakannya yang menyakiti atau melukaiku, maka dengan menyerah aku mengangguk, “Baik, Mas. Aku nurut sama Mas, tapi janji, ya, jangan tinggalin aku.” Mas Pri mengangguk, lalu dia kembali bermain-main dengan seluruh jengkal tubuhku, dia menjelajahinya setiap incinya, tanpa ada yang terlewat sedikit pun, dan aku merasakan tubuhku senang, entah kenapa kesumpekan yang tadi aku rasakan karena menerima telepon dari Bapak dan kesal karena Bapak meminta uang, menguar hilang begitu saja. Dan hal terakhir yang aku ingat adalah Mas Pri sudah berada di bawah, di antara kedua kakiku, aku tidak bisa lagi menjelaskannya dengan kata-kata, sisanya hanya ada sahut-sahutan halus suaraku dan Mas Pri. Satu jam kemudian aku baru bisa membuka mataku, lalu melihat Mas Pri ada di sebelahku, “Hai, sayang. Nyenyak banget tidurnya.” Aku tersenyum melihat wajah manis Mas Pri, “Mas lagi apa?” tanyaku ketika aku melihatnya sedang memainkan jarinya di tuts handphone, “Ada pekerjaan yang seharusnya daritadi Mas bereskan, tapi ada kegiatan lain yang ternyata lebih membutuhkan perhatian Mas, kegiatan yang lebih menyenangkan dibandingkan harus melihat deretan angka-angka ini.” Ucapnya seraya mengerlingkan matanya ke arahku, aku menutup wajahku dengan bantal, “Ih, Mas, jangan gitu. Aku jadi malu banget ini.” Aku bisa mendengar suara Mas Pri, “Tadi pagi Mas bilang, kan, Mas sengaja memilih lantai delapan belas ini sebagai bentuk antisipasi kalo-kalo kamu berisik. Benar, kan, dugaan Mas. Kamu emang berisik banget.” Aku semakin menenggelamkan wajahku di bantal, “Berisik yang merdu di telinga Mas.” Lalu dia memelukku, “Sayang, liat Mas donk.” Begitu pintanya, aku dengan malu-malu menampakkan wajahku, “Kenapa, Mas?” tanyaku pada Mas Pri, “Mas boleh tanya?” aku mengangguk, “Mas mau tanya apa?” sejenak dia diam, “Yang Mas lakukan ke kamu tadi tidak ada yang menyakitimu, kan?” aku menggeleng, “Gak, Mas. Hanya di awal-awal saja tadi, tapi setelahnya …” aku tidak bisa meneruskan kata-kata itu, bingung untuk mendeskripsikan perasaan yang aku rasakan, baik di hati maupun di setiap sisi tubuhku yang dijamah jemari Mas Pri, “Setelahnya, apa? kok menggantung banget itu ucapan.” Aku menggeleng, “Aku bingung gimana cara menggambarkannya,” Mas Pri tertawa lembut, “Enak?” aku mengangguk, “Bikin ketagihan?” aku mengangguk lagi, “Menyenangkan?” dan lagi-lagi aku mengangguk, tidak bisa menampikkan perasaan tersebut, dan Mas Pri kemudian bertanya lagi, “Mau mengulangi yang tadi lagi? Mas masih mau banget.” Dan aku, si perempuan paling munafik yang ada di atas muka bumi, tadi aku bilang malu, bersikeras tidak mau menginap dan berada berduaan saja dengan Mas Pri di kamar ini, sekarang justru mendambakan lagi Mas Pri untuk mengulangi kejadian tadi, “Kali ini Mas akan bikin kamu tambah berisik.” Dan setelahnya, aku dan Mas Pri kembali larut dalam kubangan menyenangkan itu lagi. Sekitar jam setengah enam sore, kami menuntaskan apa yang menjadi kegiatan kami ini, setelah membersihkan diri, aku mau pamit saja untuk pulang, "Mas, aku pulang aja, ya. Aku gak bawa baju ganti, lagian gak enak, takut ada yang kenal sama aku, terus liat aku ada di sini, sekamar sama laki-laki." Aku berusaha untuk tidak mengikuti keinginan Mas Pri, tapi kemudian aku bisa melihat rona kecewa di wajahny, aku tau, mungkin memang tidak ada pikiran buruk atau rencana jahat, "Kan yang dikhawatirkan terjadi memang sudah benar-benar terjadi, Dik. Terus kenapa kita harus berjauhan semalam ini demi untuk bertemu lagi besok? Rasanya Mas belum puas untuk memandang wajah cantikmu, senyum indahmu, dan suara berisikmu. Nginep aja, ya, sayang. Mas ingin menghabiskan waktu Mas di Lampung hanya berada di dalam kamar ini berdua denganmu.” Aku terkesiap mendengar ucapannya, duh ... "Oke, iya ... Iya, aku akan nginep.” Dan wajah Mas Pri berubah tiga ratus enam puluh derajat. Yang tadinya murung, bermuram durja, berubah jadi cerah, dia kemudian memelukku, dan mengucapkan terima kasih kepadaku, “Terima kasih sayang.” Dan dia mengecupku. Tidak berapa lama, room boy membawa pesanan makanan yang rupanya tadi sudah dipesan oleh Mas Pri, “Sayang, extra bednya gak jadi, kan?” begitu tanyanya untuk menggodaku, aku memasang wajah cemberut, lalu dia tertawa, “Udah-udah, Mas minta maaf. Hanya bercanda, sayang.” Dan setelahnya kami menyantap makanan sambil ngobrol, ngalor ngidul, semua diceritakan olehnya. Dan obrolan kami terhenti ketika gawainya berdering, dia izin nerima telepon, "Bentar, ya. Dari rekanan." Aku hanya mengangguk, lima menit, sepuluh menit, aku heran juga, kok Mas Pri gak balik-balik? Penasaran, aku keluar, dan melihat dia ada di depan lift, di ujung kamar, membelakangi kamar, sehingga dia tidak akan tau jika ada aku di situ, "Iya, Ma. Papa cuma cek kerjaan di sini. Paling beberapa hari. Mau dibawain apa? Keripik pisang coklat pesanan Mama udah aku pesan sama pegawai di sini. Apalagi, sayang? Iya ... Papa juga kangen," Aku kaget, benar-benar kaget. Mama? Papa? Gak mungkin, kan, itu emaknya? Pasti itu istrinya, ya, kan? Aku putar balik, tergesa, karena ingin segera ke kamar, mengambil semua barang-barangku, dan pergi. Pergi jauh dari lelaki ini. Sudah semua, di tas, gawaiku, charger, dan aku bergegas keluar, seraya berlari, memutar agar tidak ketemu dengannya. Buruk banget nasibku, kenapa kejadian sial selalu menimpaku. Naasnya, Dia melihatku dan mengejarku hingga mengikutiku sampai masuk ke kamar "Ngga, Jingga. Mau kemana? Kenapa bawa tas? Kamu janji mau nginep, kan? Temenin Mas?" Aku tidak bisa membendung air mataku, "Mas bohong. Mas bilang Mas gak ada istri, Mas jomlo. Itu, tadi siapa? Mas panggil dia Mama? Siapa dia?" Seketika, dia menarik tubuhku, mendekapnya, aku gelagapan, "Ngga, maafin Mas. Iya, Mas salah, Mas gak bilang ini ke kamu. Tapi sayang dengarkan dulu penjelasan Mas.” Aku berontak, mencoba untuk melepaskan pelukannya, “Lepasin aku. Mas sudah melakukan hal itu terhadapku, terhadap tubuhku, Mas orang pertama yang melakukannya, aku percaya sama Mas, tapi kenapa Mas bohong sama aku, KENAPA?” jeritku di depan wajahnya, “Sayang, dengarkan ini. Kamu tenang dulu, Mas akan jelaskan, tapi tolong kamu tenang dulu.” Setelah berpikir sejenak, aku merasa tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa jika tetap bersikap seperti ini, maka aku mencoba untuk menata hatiku, aku menarik napas panjang, dan bilang ke Mas Pri, “Jelaskan yang jujur, se-jujur-jujurnya. Jangan ada lagi yang ditutup-tutupi.” Mas Pri mengangguk, lalu memulai penjelasannya, “Sayang. Iya, Mas mengaku salah. Tidak jujur sama sayang kalo Mas sudah menikah. Dengar dulu. Mas tulus, beneran sayang sama kamu. Dan perihal perkataan Mas di awal kalo Mas akan menikahimu, ini serius, karena Mas memang lagi cari istri. Karena istri Mas sakit, gak bisa lagi melayani Mas. Istri Mas mengidap penyakit kanker Rahim stadium akhir, sudah tiga tahun ini Mas berusaha untuk setia dan menjaga diri Mas dari interaksi dengan lawan jenis. Tapi ketika melihatmu beberapa waktu lalu, Mas tidak bisa menahannya lagi. Perasaan suka dan kagum Mas ke kamu itu serius. Jangan pergi, ya, Ngga." Wajahnya, berubah, dari yang aku lihat beberapa waktu tadi. Sinis, seperti tidak ada iba di sana. Mas Pri mencengkram tanganku, lalu melemparku ke ranjang, dia membuka sabuk yang ada di celana panjang yang dipakainya, lalu dengan memaksaku, mengikat kedua tanganku dengan sabuknya, Sakit, tanganku benar-benar sakit, lalu kaki kanan dan kiriku dibentangkannya, masing-masing diikat di ujung ranjang. Tidak hanya tanganku yang kesakitan, sekarang kedua kakiku juga sakti. Aku menangis, berteriak, Mas Pri melakukan hal itu lagi, anehnya, aku yang awalnya ketakutan, justru bisa merasakan sesuatu yang menyenangkan, aku bisa menikmati ini. Tapi kemudian aku sadar, ini salah. Gak seharusnya aku merasakan hal ini. Entah sudah berapa lama dia bermain-main dengan tubuhku, sampai seluruh sendi yang ada terasa ngilu, terutama bagian yang ada di bawah sana. Setelah selesai dengan hajatnya, dia turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, membiarkanku dengan kondisi yang masih terikat dan tanpa busana sehelai pun menutupinya. Aku hanya bisa menangis, mencoba untuk membuka ikatan yang ada di tangan dan kakiku, sia-sia. Semakin keras aku berusaha, semakin sakit pergelangan tangan dan kakiku. Tidak berapa lama Mas Pri keluar dari kamar mandi, dia duduk di kursi yang dibawanya mendekat ke arahku, “Tolong jangan paksa aku untuk terus berbuat kasar ke kamu, sayang. Tolong nurut sama aku, biar aku bisa lepaskan ikatan di kedua kaki dan tanganmu, ya.” aku menjerit, “KAMU LELAKI PALING JAHAT YANG PERNAH AKU TEMUI!” teriakku kepadanya. Aku bisa melihat dia mengusap wajahnya kasar, dia menelungkupkan kedua tangannya ke wajah tersebut, dan kemudian aku bisa mendengar isak tangisnya, “Jangan tinggalin Mas. Mas tidak pernah merasakan suka, sayang, dan cinta sebesar ini terhadap lawan jenis. Mas juga gak akan berpaling dari istri Mas, jika saja dia masih bisa melayani Mas di atas ranjang. Tolong mengerti posisi Mas, Mas terpaksa melakukan ini. Kamu tau, kan, kebutuhan pria normal itu seperti apa, Mas beruntung bisa bertemu denganmu. Perempuan baik-baik yang rela meluangkan waktumu untuk Mas, jadi tolong jangan tinggalin Mas." Aku terdiam melihat apa yang terjadi, pemandangan di depanku ini berubah-ubah sesuai dengan mood yang ada pada pemiliknya, tadi dia bersikap kasar terhadapku, lalu kemudian berubah menjadi melankolis seperti ini, aku benar-benar bingung dibuatnya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, dia terus memandangiku dari tempatnya duduk, “Tolong percaya sama Mas, sayang.” Itu ucapan terakhir yang dia ucapkan, sebelum dia menyodorkan gelas berisi air mineral yang disuguhkan untukku, “Minum, sayang. Aku tau kamu haus, setelah pertempuran panjang kita tadi.” Aku tidak bisa menolak, karena mulutku sudah dibuka paksa olehnya, satu atau dua menit kemudian aku tidak tau lagi apa yang terjadi, pandanganku buram dan tiba-tiba gelap.