Cookies 13

1880 Kata
Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencoba untuk membuka mataku yang terasa berat sekali. Aku tidak mendengar suara apa pun kecuali napasku sendiri. Ketika membuka mata aku masih berada di kamar hotel ini, bedanya sekarang ada beberapa orang yang juga hadir di tempat ini, “Kalian siapa?” begitu tanyaku. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Sekali lagi aku mengulangi pertanyaanku, “Jawab saya, kalian siapa, KALIAN SIAPA? DI MANA PRI, LELAKI JAHAT ITU?” aku berteriak di depan mereka semua, dan nihil. Benar-benar tidak ada yang bersuara, untung saja aku sudah berpakaian lengkap. Ketika aku berusaha untuk mencoba sekali lagi untuk membuka semua ikatan di kedua kaki dan tanganku, muncul seorang perempuan paruh baya menggunakan baju hitam putih, seperti seragam house keeping di hotel ini, “Bu Jingga, saya diperintahkan oleh Pak Pri untuk memberitahukan kalo Pak Pri ada keperluan sebentar di luar. Selama Bapak di luar, body guard yang ada di sini memang sengaja dikerahkan oleh Pak Pri untuk menjaga keselamatan Bu Jingga, dan saya ada di sini siap melayani Bu Jingga. Silakan katakan apa saja yang Bu Jingga butuhkan akan saya bantu sediakan.” Aku berteriak lagi ke pelayan perempuan itu, “Saya gak butuh apa-apa, BUKA IKATAN DI KAKI DAN TANGAN SAYA, ITU SUDAH CUKUP!” dan perempuan itu bergeming, hanya berjalan menjauh dari ranjangku dan berdiri di pojok ruang, seperti robot yang hanya bergerak jika diperintahkan oleh majikannya. Aku sudah pesimis, usahaku yang sia-sia untuk melepaskan diri dari situasi ini akhirnya membuatku menyerah, aku hanya akan menunggu saja apa yang akan dilakukan Mas Pri terhadapku. Sekitar satu jam kemudian pintu kamar terbuka, aku bisa melihatnya masuk ke kamar ini dan berjalan ke arah ranjangku, “Kalian boleh keluar.” Begitu titahnya kepada body guard yang lelaki, “Siapkan makan malam untuk saya dan Bu Jingga.” Titahnya kepada pelayan perempuan tadi. Dan setelah semuanya keluar dari kamar ini, Mas Pri mendekatiku, “Sayang, gimana kabarmu?” aku mendecih, dia menarik wajahku kasar dan sekarang wajah kami berhadap-hadapan, “Jangan berlaku seperti itu, aku bisa menghukummu. Kamu mau aku lepaskan ikatan ini?” tanyanya padaku, aku yang sudah kehabisan tenaga akhirnya hanya bisa mengangguk lemah, “Aku akan melepaskannya, hanya dengan tiga syarat, kamu mau tau apa syaratnya?” aku mengangguk, “Syarat pertama, tanda tangani surat perjanjian ini, yang berisi bahwa selama aku hidup, kamu tidak bisa menjalin hubungan dengan lelaki manapun, karena tubuhmu adalah milikku,” aku membelalakkan mata dia tersenyum sini, “Syarat yang kedua, jika aku berada di Lampung dan aku memanggilmu untuk menemuiku, maka kamu harus, aku ulangi lagi HARUS segera datang menemuiku,” aku semakin merasa aneh dengan syarat-syarat ini, “Dan syarat yang terakhir adalah, kamu akan menuruti semua yang aku perintahkan, termasuk cara berpakaianmu, sepatu yang kamu pakai, hingga posisi tubuhmu di ranjang.” Aku kehabisan kata-kata, “Dan imbalan atas semua itu adalah, setiap kali aku melakukannya denganmu, maka aku akan mentransfer uang sebesar tiga juta rupiah. Bayangkan, jika dalam kurun waktu satu hari satu malam aku melakukannya lima sampai tujuh kali, berapa banyak uang yang akan kamu dapatkan.” Aku mulai mengkalkulasi semua pemasukan yang aku dapatkan, “Termasuk apa yang kamu lakukan tadi? Sejak pertama kita melakukannya?” dia tertawa, “Malam ini spesial. Aku akan melipatgandakan bayaranmu,” lalu dia mengambil handphonenya dan memperlihatkan bukti transfer, “Aku sudah mentransfer uang sebesar dua puluh lima juta ke rekeningmu.” Aku terbelalak, terkejut, “Apa motif dari semua hal yang kamu lakukan ini?” pertanyaan itu tidak bisa tidak aku tanyakan, “Tidak usah banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan.” Aku diam, “Kamu gak usah repot-repot mikir, ini bukan tawaran tapi perintah. Kamu tidak bisa menolak atau mempertimbangkan, ini sudah jadi keputusanku.” Aku menghembuskan napas kasar, “Oh, iya. Terima kasih perawan yang kamu berikan untukku, seprei ini jadi saksinya.” Aku bisa melihat ada tanda di sana, tanda yang semua gadis akan pertahankan sampai akhir hayatnya, tanda yang hanya akan ditunjukkan oleh istri ke suaminya, tapi tidak dalam kasusku, tanda itu aku berikan ke lelaki ini, yang merenggutnya, tanpa aku sadar ada kepicikan di dalam otaknya. “Kamu tidak akan bisa lari dariku, jadi jangan coba-coba untuk lari. Ketika aku butuh, ketika aku panggil kamu, kamu harus segera datang, ya.” aku tidak punya pilihan, kan, selain mengangguk. Justru sekarang aku merasa bahwa aku tidak perlu lagi untuk bersusah payah mencari uang. Mas Pri toh sudah berjanji akan membayarku setiap dia menikmati tubuh ini. Maka dengan terpaksa tapi butuh, mulai hari ini aku sudah ditasbihkannya menjadi b***k untuk memenuhi semua kebutuhan raganya. Aku yang berharap lelaki ini bisa menjadi suamiku kelak, orang yang bisa menyelamatkanku untuk keluar dari gelapnya kehidupan di rumah, justru membuatku semakin terperosok jauh ke dasar jurang, tapi tidak apa-apa, toh tubuhku akhirnya ada gunanya juga, walaupun aku bukan pegawai negeri yang bisa membuat Bapak bangga, walaupun aku tidak menikah dengan anak walikota atau gubernur seperti saudara-saudara Ibu, minimal aku bisa menghasilkan uang untuk mereka, paling tidak aku bisa memenuhi semua keinginan mereka ketika mereka minta uang kepadaku. Dan Mas Pri akhirnya melepaskan semua ikatan yang ada di kedua tangan dan kakiku, “Janji ya, kamu gak akan berteriak apalagi sampai membuatku susah harus mengikatmu seperti ini lagi?” aku mengangguk, “Setelah aku buka ikatan ini kamu akan langsung menandatangani surat yang ada di atas meja itu?” dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk, “Jika kamu melanggar semua perjanjian kita ini, konsekuensi dari semua ini adalah aku akan memberitahukan ke Bapak dan Ibumu, ke teman-temanmu, bahkan ke semua tetanggamu bahwa kamu sudah menjual tubuhmu ke aku, paham?” ucapnya seraya membeliakkan matanya ke arahku, dan seperti tidak berdaya, lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. setelah semua ikatan dilepas, dia menuntunku untuk duduk di di kursi yang di atas meja di depannya sudah ada kertas perjanjian dan juga pena, “Tanda tangani.” Dan aku menggoreskan tanda tanganku di atas kertas tersebut, “Sekarang kamu sah jadi milikku, kamu budakku.” Dia menjambak rambutku, aku berteriak, kemudian Mas Pri melepaskannya, lalu dia menjambak rambutku lagi, aku berteriak lagi, dan aku bisa mendengar tawanya yang membahana di sela-sela teriakanku. Lalu melepaskannya lagi. Ketika aku masih kesakitan, dia mengambil handphonenya, entah apa yang dia ketikkan, tidak berapa lama, dia kembali menjambak rambutku, seraya memperlihatkan bukti transfer, “Lihat, aku sudah mentransfer uang lagi ke rekeningmu, tiga puluh juta, apa itu artinya?” aku yang tidak bisa berpikir di antara sakitnya kepalaku seperti kulit-kulit kepala ini mau terlepas, “Artinya kamu akan melayaniku sepuluh kali lagi, mulai sekarang, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Persiapkan dirimu.” Lalu Mas Pri kembali bermain-main dengan semua anggota tubuhku. Aku hanya bisa mengikutinya, di kepalaku sekarang adalah ada uang sebesar tiga puluh lima juta di sana. Setelah pulang dari sini aku akan membelikan Bapak motor, agar Bapak tidak perlu lagi jalan kaki kalo mau ke mana-mana, lalu aku juga akan mengisikan pulsa listrik sebanyak lima ratus ribu, biar Ibu tidak repot lagi harus minta setiap tiga hari sekali. Beras, kopi, gula, semua kebutuhan dapur sudah ada catatannya di kepalaku. Sedang asyiknya aku menghitung berapa pengeluaranku untuk membeli semua itu, aku bisa merasakan cairan hangat di bawah sana, baru satu kali, masih ada sembilan kali lagi waktuku melayani pria ini, artinya masih banyak waktuku untuk menghitung dan merencanakan lagi apa yang akan aku gunakan dengan uang yang aku punya, terlintas di kepalaku, “Buka kafe, sepertinya oke juga nih. Kalo aku bisa minta Mas Pri untuk membelikanku ruko, seumur hidup aku harus mengabdi padanya juga aku gak akan menolak. Jika kalian berpikir aku wanita murah, ya, aku terima. Aku sudah tidak peduli lagi dengan ucapan yang akan kalian tujukan untukku, aku sudah tidak ambil pusing lagi dengan berbagai tuduhan kasar yang akan dialamatkan kepadaku, yang penting Bapak dan Ibu, dan kebutuhan di rumah terpenuhi. Di sela-sela Mas Pri yang sibuk bermain dengan leherku yang sejak tadi dia tekan lalu dia lepaskan, dia tekan lagi sampai aku kehilangan napas, lalu dia tekan lagi, aku bilang ke dia, “Mas, aku mau handphone baru, ya. Handphone keluaran terbaru.” Dia mencium ujung hidungku, “Iya, sayang. Boleh, donk. Aaku dapet bonus berapa lama, nih?” tanyanya, “Terserah Mas aja, mau berapa lama juga. Tapi aku mau, satu jam dari sekarang handphone itu sudah ada di sini dan siap aku pakai.” Dia lalu merambet handphonenya, memencet beberapa tombol, dan terdengar sepertinya dia sedang menyebutkan handphone tipe terbaru dan memerintahkan seseorang untuk membelinya, “Setengah jam dari sekarang barang itu sudah harus ada di kamarku atau nyawamu taruhannya.” Aku tertawa, lalu mengecup pipinya, “Makasih Mas sayang.” Dan dibalas dengan jambakan lagi tangannya di rambutku. Aneh, awalnya aku merasakan ini sakit, tapi lama kelamaan kok seperti biasa saja, ya. Sakit, sih, tapi tidak separah tadi, apa mungkin aku yang sudah mulai terbiasa atau aku yang sudah mati rasa. Ketika untuk kedua kalinya Mas Pri mengerang di bawah sana, yang menandakan bahwa dia telah menyelesaikan dua ronde permainannya, handphonenya kembali berdering, dia menyerahkan handphone tersebut kepadaku, “Jawab panggilan ini, bilang kalo kamu adalah Joya, sekretaris pribadiku. Bilang aku sedang ada rapat penting dan tertutup dengan kolega bisnisku, nanti setelah rapat akan aku telepon balik.” Awalnya aku menggeleng, aku menolak, tapi kemudian Mas Pri menekan leherku, mencengkramnya, “Ingat, kan, perjanjian kita tadi.” Maka aku hanya bisa mengangguk dan mengambil handphone tersebut dari tangan Mas Pri, “Selamat siang, dengan saya Joya, sekertaris pribadi Pak Pri. Iya, Bu. Saat ini Pak Pri sedang ada di ruangan meeting dengan seorang kolega, maaf, Bu. Saya gak berani mengganggu Bapak, soalnya rapatnya tertutup dan hanya dihadiri orang-orang tertentu. Baik, setelah Bapak selesai rapat akan saya sampaikan agar Bapak segera menghubungi Ibu, baik, Bu.” Dan sambungan telepong diputus. “Good job. You are such a great woman. Bisa aku andalkan di ranjang, juga bisa aku andalkan untuk memuluskan langkahku agar bisa menikmati kamu.” Lalu dia bangkit dari ranjang, menuju kamar mandi, setelah sebelumnya berpesan kepadaku, “Jangan bergerak dari posisi ini, ingat kata-kataku, JANGAN BERGERAK, NGERTI?” aku mengangguk, tidak mau banyak membantah apalagi bertanya dan adu argument, percuma. Setelahnya dia keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa yang ada di depan televisi. Dia memutar beberapa channel dan akhirnya berhenti di channel yang menyiarkan program musik-musik tahun delapan puluhan, “Ingetin lagu ini, ini akan menjadi lagu romantis kita, jika aku harus hidup di dunia ini tanpamu, maka dunia akan sangat-sangat sepi, hatiku akan hancur …” dan dia bersenandung, sementara tubuhku hampir mati rasa, tepat ketika bel pintu kamar berbunyi, “Pakai bajumu.” Itu perintahnya dan aku bergegas masuk ke kamar mandi dan mandi untuk membersihkan keringat yang menempel sejak tadi. Setelah keluar, aku mendapati handphone keluaran terbaru yang ada di tangannya, “Handphone ini, kan, yang kamu maksud, sayang?” aku mengangguk, “Sini, ambil donk.” Aku berjalan ke arahnya, lalu dia menyodorkan handphone tersebut kepadaku, “Mulai hari ini, jangan pernah berani-berani menghubungiku sebelum aku yang menghubungimu duluan, mengerti?” aku hanya mengangguk, karena aku sedang sibuk membukan handphone terbaru yang tadi dibelikan, “Setelah ini apa ada lagi yang kamu mau, sayang?” begitu tawaran yang diberikan oleh Mas Pri, seketika mataku berbinar-binar ketika mendengar tawaran menggiurkan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN