"Hari ini saya mau cek Onehotel, ya. Bilang sama semua manager di sana, pukul empat sore habis ashar, saya tiba. Yang paling penting harus hadir, manager keuangan, manager HRD, dan manager marketing." Ucapku pada Nania, sekretaris pribadinya. Nania yang menerima perintah seperti itu mengetikkan semua apa yang diucapkan Raditya, “Lalu panggil Agus, bilang sama dia aku menunggu laporannya untuk mencari perempuan yang sudah seminggu yang lalu itu aku minta dia mencari informasinya, bilang sama dia kalo hari ini gak ada juga kabar mengenai perempuan itu, dia akan aku kembalikan ke lorong sampah tempat pertama kali aku memungutnya kemarin, oh iya … Kamu, jadi nikah taun ini, Nania? Bulan apa? Biar saya minta ke bagian HRD untuk mencarikan penggantimu sementara selama kamu cuti, setelah menikah kamu akan kembali bekerja lagi, kan di kantor ini?” Raditya bertanya ke Nania, "Bulan November, Pak. Saya izin ambil cuti tahunan, sekalian, ya, Pak." Aku hanya mengangguk, banyak sekali urusan yang menyita pikirannya, belum lagi, dia, di mana dia? Perempuan yang sudah beberapa belas tahun terakhir ini selalu menyita pikiranku, aku tidak munafik, selama ini aku ini aku tetap menjalin hubungan dengan wanita lain, selain memang aku adalah lelaki dewasa yang memiliki kebutuhan ragaku, menjalin hubungan dengan beberapa wanita lain juga adalah salah satu caraku untuk mengalihkan isi kepalaku dari memikirkan perempuan itu. Ketika Raditya sedang mendengarkan laporan dari hasil apa yang tadi dia sampaikan, tiba-tiba pintu ruanganku terbuka lebar, wanita ini muncul lagi, “Hai, Raditya sayang, aku tau kamu pasti sudah menantikanku dari tadi.” Andrea, wanita yang sudah sejak sepuluh tahun lalu muncul di dalam kehidupanku sebagai teman kuliah, lalu aku memutuskan untuk menjalin hubungan “Casual” dengannya, dalam arti aku tidak mau terikat hubungan yang serius dengannya, aku membebaskan dia untuk mencari pria lain atau menjalin hubungan dengan siapa pun, tapi ketika kami sama-sama saling membutuhkan, maka kami akan langsung janjian untuk bertemu dan kami akan menuntaskan kebutuhan raga kami, sampai tuntas, sepuasnya, lalu dia akan pergi tanpa meninggalkan kabar apa pun, begitu juga aku tidak akan pernah mencarinya sampai aku membutuhkannya untuk penyaluranku, Nania yang terkejut, bangkit dari duduknya dan mengambil jarak dari mejaku, "Tolong jangan datang tiba-tiba seperti ini. Ini kantor, gak enak kalo diliat orang dan stafku." Ucapku padanya, Nania yang mengetahui situasi ini dengan sangat baik, memutuskan untuk undur diri dan pamit keluar dari ruanganku, “Saya pamit dulu, Pak. Nanti saya kembali lagi untuk memberikan laporan yang Bapak minta tadi.” Aku mengangguk, tapi kemudian Andrea menyela, “Salah. Kamu tidak bisa masuk ke dalam ruangan ini sebelum urusan kami selesai, nanti Pak Raditya yang akan menghubungimu, jangan coba-coba untuk masuk ke sini sebelum kamu melihat saya keluar dari sini, paham?” Nania hanya menganggukkan kepala, berjalan keluar ke arah pintu, dan menutup pintu ruanganku, “Kamu gak berhak memerintah anak buahku seperti itu, ingat, hubungan kita hanya sebatas karena kita saling butuh, jangan coba-coba masuk ke ranah yang tidak seharusnya kamu masuki, paham?” ucapku pada Andrea, dia tidak menjawab apa yang aku ucapkan, hanya bergerak memutari kursiku, dan mengambil tempat tepat di pangkuanku, “Paham, sayang. Aku lagi mau, nih, kamu, mau, kan?” tanpa banyak ba-bi-bu, aku melumat bibirnya, membawanya ke balik lemari perpustakaan yang ada di ruangan ini, dan menuntunnya masuk ke kamar tersembunyi yang memang sengaja aku persiapkan untuk aktivitas istimewaku ini dengan Andrea, bukan, tidak hanya dengan Andrea, tapi dengan beberapa lagi perempuan yang tadinya melamar pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaanku, tapi kemudian membutuhkan uang cepat, mereka menawarkan dirinya untuk ditukar dengan sejumlah uang, dan aku memanfaatkan kesempatan ini. Tidak ada pembicaraan sedikit pun dalam aktivitas yang kami lakukan, kami benar-benar tenggelam dalam nikmatnya, “Jangan terlalu berisik, khawatir banyak anak buahnya di balik dinding ruangan ini bisa mendengar suaramu jeritanmu itu, bisa aja mereka nguping.” Tapi seperti biasa, Andrea hanya tersenyum, kembali menggoda Raditya, dan mereka meneruskan kegiatan yang membuat mereka seperti terbang ke langit tidak menjejakkan lagi kakinya ke tanah.
Pesona Andrea tidak pernah pudar bahkan sejak mereka di bangku kuliah dulu. Raditya inget banget, pacar pertamanya dilabrak Andrea hanya karena dia merasa bahwa Raditya itu punya dia, miliknya seorang. Ingatannya melayang ke beberapa tahun lalu, ketika pacar yang baru resmi dipacarinya berumur lima hari, tiba-tiba nangis dan minta putus, "Tadi Andrea melabrakku, katanya dia pacarmu, jelaskan sama aku apa benar dia pacarmu?” begitu tuntut mantan pacarku itu, aku hanya terdiam, bingung untuk menjelaskannya, “Andrea bilang seperti ini ke aku ‘Cukup satu kali ini gw ngomong ke lu, Raditya emang gak ada status pacaran sama gw, tapi Raditya akan selalu jadi milik gw, gimana pun caranya. Jadi sebelum ada apa-apa terjadi sama lu, baiknya gak usah deket-deket Raditya lagi. Perlu uang berapa, biar lu pergi dari Raditya, bahkan pindah dari kampus ini.’ Memangnya se-kaya apa sih, dia sampai bisa dan berani mengusirku seperti itu, hubungan apa yang kalian miliki, tidak pacaran tapi dia berani melabrakku seperti itu?” akhirnya demi terciptanya kedamaian di muka bumi ini, aku memilih untuk putus dengan pacarku itu dan sekali lagi, bukan, berkali-kali lagi aku akan kembali ke Andrea, bertekuk lutut di bawah kakinya, dan anehnya aku tidak menyesali hal tersebut. Tapi kemudian Raditya inget banget, malam hari, ketika sang pacar minta putus, dan Raditya memutuskan pacarnya tersebut tanpa alasan jelas, kemudian mendatangi Andrea dan memberikan peringatan terhadapnya, “Jangan pernah lagi kamu ikut campur urusanku dengan pacar-pacarku, tadi siang, pacarku ngadu ke aku kalo kamu mengancamnya, ingat Andrea, hubungan kita ini tanpa status, apa hakmu bicara dan bertindak seperti itu?” Tapi Andrea justru dengan enteng banget, menjawab, "Dasar tukang ngadu, perempuan lemah. Kamu bertanya apa alasanku bertindak seperti itu? Karena aku jodohmu. Titik." Demi meredam kesalnya, dia memilih diam. Dan berniat pindah kuliah ke Amerika atau Eropa, Prancis, mungkin. Entah, yang pasti selesai semester tiga ini dia mengajukan pindah kuliah ke jurusan. "Aku udah punya orang lain yang kucinta, Andrea. Jadi, plis, jangan lagi datang. Udah cukup apa yang kita perbuat selama ini, aku ingin mengakhirinya." Raditya masih ingat, dia bilang ke Andrea untuk tidak lagi datang ke kehidupannya, setelah mereka menuntaskan kegiatan yang biasa mereka kerjakan, tapi Andrea hanya tersenyum mengejek sambil membereskan pakaian dan mengemas tas dan mematut diri di cermin sambil bilang ke Raditya, "Jangan munafik. Dari dulu, kamu selalu bilang gitu. Jauh, pergi ke Australia, pindah ke Amerika, sampe menetap di Prancis, tapi begitu ketemu aku, digoda dikit aja, gak bisa nolak, kan?" iya, Raditya dan Andrea memang sudah sejauh itu lengketnya, mereka memang tidak pernah bisa dipisahkan, Andrea sang penggoda ulung dan Raditya yang memang suka digoda, pasangan yang klop sekali. Sekitar satu jam kemudian, Andrea dan Raditya sama-sama sudah selesai melakukan kegiatan itu, sama-sama sudah mereguk nikmatnya, lalu Andrea bangkit, ke kamar mandi untuk merapikan riasannya, dan Andrea keluar dari kantor Raditya biasa aja, seperti tidak terjadi apa-apa. Nania, sekretaris Raditya masuk sedikit terburu-buru ketika melihat bosnya selesai dengan urusan pribadinya, "Pak, bagian HRD menginformasikan akan membuka lowongan karena dua orang di bagian administrasi mengundurkan diri. Sinta melahirkan dan Dewi diminta suaminya resign." Raditya mengurut keningnya, rasanya baru lima menit tadi dia mereguk nikmatnya dunia, sekarang dia harus dihadapkan kembali dengan rutinitas kantor yang tidak ada habisnya seperti ini. Bukan apa-apa, gonta-ganti formasi karyawan ini bakal membuat sistem kerja akan butuh penyesuaian lagi, walaupun SOP sudah ada, tapi penyesuaian karyawan baru dengan peraturan kantor bakal jadi tantangan. "Bilang sama kepala HRD laporkan setiap step by step penerimaan staf administrasi kali ini. Saya mau dilibatkan dari proses seleksi berkasnya, proses psikotesnya, proses wawancara hingga berkas-berkasnya juga saya minta diletakkan di meja ini, jika pendaftaran sudah ditutup, saya mau liat siapa aja kandidatnya." Setelah sekretarisnya keluar dari ruangan, Raditya menyandarkan tubuhnya di kursi dan menutup matanya sejenak, terdengar suara tarhim dari pengeras suara di masjid yang ada di halaman kantornya, dia baru teringat kalo ini ternyata hari Jumat, maka dia bergegas untuk mandi wajib, mempersiapkan dirinya untuk ikut salat Jumat di kantor bareng dengan karyawan dan staf lainnya. Ketika selesai mandi, dia duduk di kursinya dan menyenderkan kepalanya yang sakit sejak tadi, lalu memejamkan matanya, "Allah ...” kalimat itu yang keluar dari mulutnya, “Ampuni dosaku. Tolong pertemukan aku dengan perempuan itu, aku janji setelahnya aku tidak akan melakukan hal-hal seperti ini lagi, aku akan memutuskan hubunganku dengan Andrea, dan aku akan hidup lurus tanpa belok-belok lagi.” Ikrarku pada Allah, Zat yang tidak pernah membencinya, Zat yang selalu menolongnya, tidak peduli berapa banyak dosanya, berapa besar kesalahannya. Entah kenapa air matanya menetes setelah mengucapkan dan memanggil nama Agung itu.
Sekitar satu jam salat Jumat diadakan, aku kembali ke ruanganku dan menemukan Agus berada di dalamnya, mungkin dia menungguku, “Maaf, Pak, baru sekarang menghadap Bapak. Karena saya baru mendapatkan informasi yang sedikit yang bisa saya sampaikan. Perempuan yang Bapak minta saya untuk mencarinya itu ada di Bandar Lampung, saat ini dia sedang mencari pekerjaan, dan rumah keluarganya ada di wilayah Sukarame.” Aku mendengarkan dengan seksama semua informasi yang disampaikan oleh Agus, “Lalu, kamu sudah melacak dan memastikan alamat tersebut, apakah benar itu rumahnya?” Agus diam, dia menunduk dalam, aku yang tidak sabar menggebrak mejaku, “JAWAB! Kenapa hanya diam?” kemudian Agus menyampaikan jawaban yang membuatku semakin naik pitam, “Sudah saya periksa, Pak. Sayangnya, ternyata alamat yang saya dapat itu adalah alamat rumah yang sudah lama ditinggalkan oleh keluarga mereka, Jingga nama perempuan itu, Pak. Maaf, hanya itu informasi yang bisa saya berikan, saya janji akan mencoba menggali lagi lebih dalam untuk mendapatkan informasi lainnya, tolong beri saya waktu, Pak.” Aku mengangguk, “Oke, satu minggu waktu yang saya kasih untukmu, tapi, jika dalam waktu satu minggu ini kamu tidak mendapatkan informasi apa pun, silakan angkat kaki dari kantor ini dan kembali ke lorong tempat sampah, tempat yang memang pantas untukmu tinggal, tempat sampah yang memang pantas ditinggali orang-orang tidak berguna macam kamu ini, KELUAR DARI SINI!” dan Agus bergegas keluar setengah berlari, mungkin karena takut dengan ancamanku. Setelah Agus keluar dari ruanganku, aku mencoba untuk menenangkan diri, karena setelah ini ada tiga meeting dengan klien yang harus aku hadiri, “Nania, ke ruangan saya.” Begitu panggilku pada Nania, setelah aku merasa sudah tenang. “Janji Bapak dengan pemilik restoran Lima Rasa yang ada di Pluit akan diadakan pukul setengah tiga, setelah itu Bapak akan bertemu dengan para petani pemasok sayur-sayuran untuk semua restoran kita yang ada di wilayah JABODETABEK, yang terakhir, pukul lima sore, Bapak akan bertemu dengan Priandono, konsultan hukum, agenda yang akan dibicarakan adalah membahas mengenai pembebasan lahan untuk hotel kita yang ada di Bandar Lampung, Pak.” Aku mengangguk, lalu meminta Nania untuk menyiapkan makan siangku, “Saya mau makan siang dulu. Tolong siapkan salad sayur, isinya kamu sudah tau, kan, jagung manis, selada yang sudah dingin, kubis ungu, telor yang dihancurkan, macaroni, dengan dressing mayones wijen.” Nania keluar dari ruanganku untuk mempersiapkan kebutuhan makan siangku tersebut.